Melejitkan Kecerdasan Naturalistik Anak

AnggunPaud - “Ka Hamid, kita main rumah-rumah dari batu yuk?” “Ka Hamid, buat sapu-sapuan dari ranting pohon ini yuk?” “Ka Hamid, ini sudah sore ya?” Beberapa pertanyaan di atas sering kali dilontarkan murid sekolah literasi saya, Keyla, anak berusia tiga tahun.

Sehari-hari Keyla memang senang bermain dan suka mengamati lingkungan sekitarnya. Secara paralel mengajukan pertanyaan, yang sering kali bikin saya “menelan air ludah” untuk memberikan jawaban. Semuanya memang berhubungan dengan alam sekitar, dan ketika saya cari tahu lebih lanjut, ternyata benar, ini berkaitan erat dengan Naturalist Intellegence atau “Kecerdasan Naturalis.”

Mungkin istilah ini masih terdengar asing di telinga ayah bunda. Namun hal ini penting untuk diketahui bahwa kecerdasan ini merupakan salah satu kecerdasan dari sembilan kecerdasan yang diungkapkan dalam teorinya Howard Gardner, yang dikenal dengan teori multiple intelligence. Lalu apa yang dimaksud dengan kecerdasan naturalis itu sendiri? Kecerdasan naturalis merupakan salah satu kecerdasan yang dimiliki oleh seorang anak dalam mengenali, memahami, melihat perbedaan, menggolongkan, dan mengkategorikan apa yang ia lihat atau jumpai di alam atau lingkungan sekitarnya.

Kecerdasasn ini lekat dengan tumbuh kembang anak. Dalam praktiknya, otak anak akan bekerja untuk bertanggung jawab mengenali pola, menangkap persepsi sensor melalui seluruh panca inderanya dan melakakukan kategorisasi objek tertentu. Seperti halnya peristiwa yang saya ceritakan sebelumnya, Keyla mulai mengerti, bahwa ia mengenali benda-benda yang lekat yang berada di dalam rumah dan mampu membedakan antara pagi, siang, dan malam.

Dengan kecerdasan yang dimilikinya ini anak akan menjadi lebih peka terhadap hal-hal yang ada di sekitarnya dan mampu menidentifikasi tanda-tanda alam yang terjadi di lingkungannya. Misalnya saat anak merasakan ada getaran dari bumi, anak yang peka terhadap alam mampu mendeteksi bahwa akan terjadi peristiwa alam.

Selain itu, anak juga memiliki keingintahuan tinggi akan tingkah laku manusia, fenomena alam atau lingkungan, atau menunjukkan minat pada subjek yang tidak biasa seperti biologi, zoologi, botani, geologi, meteorologi, paleontologi atau astronomi. Dari sini, kecerdasan naturalistic menjadi penting untuk dirangsang sejak dini guna masa depan anak yang lebih baik. Sebab akan menjadi sia-sia jikalau anak memiliki prestasi akademik yang baik namun tidak bisa bersikap ramah terhadap alam dan sekitar, contoh sederhananya suka membuang sampah sembarang. Namun sebaliknya, anak yang jauh lebih peka terhadap alam, sekalipun prestasi akademiknya biasa-biasa saja, namun ini akan membuatnya lebih dihargai.

Lalu yang menjadi pertanyaan sekarang adalah bagaimana caranya agar kecerdasan naturalistic anak melejit? Sebetulnya sederhana saja, kita bisa melejitkan kecerdasan naturalis anak dengan beberapa cara berikut ini.

Pertama, biarkan anak bermain peran bersama teman sebayanya. Misalnya dahulu saat kita masih kecil mungkin sering sekali bermain rumah-rumahan dengan memanfaatkan benda-benda alam di sekitarnya. Menjejerkan batu-batu kecil untuk dijadikan sebagai tembok, menjadikan ranting pohon sebagai sapu atau penyekat ruangan, atau daun kelapa dijadikan sebagai keris, dan sebagainya. Nah, saat melihat anak sedang bermain demikian maka biarkanlah mereka asyik bermain, sebab saat bermain itu anak mampu mengidentifikasi bagian-bagian rumah beserta fungsinya, mampu memanfaatkan benda-benda alam untuk sesuai dengan imajinasinya.

Kedua, kita bisa memelihara hewan atau tanaman di rumah. Misalkan memelihara kucing, anjing, tanaman bunga atau buah-buahan. Di sinilah kemudian anak akan belajar merawat dan menghoramati alam, baik hewan maupun tumbuhan. Sehingga sikap peduli, penuh kasih sayang, suka merawat kebersihan dan keindahan ini melekat dalam diri anak sejak kecil. Saat dewasa nanti anak pun akan memperlakukan alam atau pun kepada sesama dengan perilaku yang baik pula.

Ketiga, ajak anak berwisata ke kebun binatang. Dengan kegiatan ini anak akan mengamati dan mengidentifikasi macam-macam binatang. Di sini orang tua bisa meminta anak untuk menceritakan hasil pengalaman berwisatanya sepulang dari kebun binatang. Tujuannya untuk me-recall pengetahuan dan melatih daya ingat anak. Selain itu jika ada yang kurang tepat, di sinilah orang tua kemudian berperan untuk meluruskan. Sehingga kegiatan berwisata ke kebun binatang ini bernilai edukatif.

Keempat, kita bisa mengajak anak untuk membuat kegiatan kemah literasi. Kegiatan ini tidak harus bertempat di bumi perkemahan, namun mendirikan tenda di sekitar lingkungan rumah juga sudah cukup. Kemudian dalam kegiatan berkemah itu, kita kemas dengan kegiatan literasi seperti read aloud atau bercerita nyaring tentang alam semesta kepada anak. Kegiatan ini dilakukan dengan tujuan untuk menigkatkan literasi pengetahuan anak perihal alam. Sehingga selain anak diajak untuk menyatu dengan alam, anak juga paham hakikat alam itu sendiri sesuai dengan kadar pengetahuan yang dimiliki.

Kelima, membiarkan atau meminta anak menggambar pemandangan. Ya, saat kita meminta anak untuk menggambar pasti yang akan digambar oleh anak adalah menggambar dua gunung, di tengahnya terdapat matahari dan dibawah gunung terdapat hamparan sawah yang hijau. Nah, saat melihat apa yang digambar anak demikian, orang tua terkadang protes, “coba cari gambar yang lain, Dik”.

Di sinilah sebenarnya orang tua alangkah lebih baik memotivasi anak dan membiarkan anak menggambar sesuai dengan imajinasinya. Sebab saat anak menggambar alam berarti ia telah mampu mengenali alam sekitar dan memiliki kecenderungan kecerdasan naturalistic.

Keenam, kita bisa mengajak anak untuk bermain pasaran. Dalam permainan ini anak diminta untuk memetik dedaunan, mencium dan meraba daun yang didapat, dan mengolah daun sesuai imajinasi. Dengan kegiatan ini, dalam praktiknya anak mampu membedakan aroma daun dan daun yang kasar dan halus, dan memanfaatkan daun sesuai dengan imajinasinya. Sehingga melalui kegiatan bermain pasaran ini anak mampu mengenali jenis-jenis tumbuhan dan segala yang berkaitan dengan tumbuhan.

Dari keenam cara di atas, orang tua bisa mulai menerapkannya satu persatu aktivitas bersama anak-anak untuk melejitkan kecerdasan naturalistiknya. Selanjutnya, bagi orang tua yang memiliki anak dengan kecenderungan kecerdasan yang berbeda (tidak dominan kecerdasan naturistiknya) sebab antara anak satu dengan lainnya memiliki potensi masing-masing yang beda maka orang tua mengusahakan untuk tetap memberikan stimulasi bagi anak agar lebih peduli pada lingkungannya, selain mendorong kegiatan mencintai alam bisa juga dengan aktivitas sederhana seperti membuang sampah pada tempatnya. Sebab sampah menjadi salah satu permasalahan yang harus diselesaikan bersama.

Hal ini dilakukan guna mewujudkan Indonesia yang bersih, aman, dan nyaman.

sumber gambar :https://mindwaretoys.wordpress.com/

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar