Mengatasi Kesulitan Berhitung pada Anak

AnggunPaud - “Kak, enam puluh lima ditambah empat puluh tujuh berapa?”, tanya Bimo pada Kakaknya, Rara. “Hayo, berapa?”, tanya Rara. “Ahh, susah”, keluh Bimo.

Matematika menjadi momok yang menakutkan bagi anak. Dalam kehidupan sehari hari, anak-anak sering mengalami kesulitan dalam berhitung. Sekalipun itu tentang penjumlahan dan pengurangan yang dapat dikategorikan mudah dan sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari.

“Susah banget, sih!” adalah kalimat yang sering kita dengar dari anak yang sedang menjumpai kesulitan dalam menjawab soal matematika. Hal ini menjadikan anak malas dan cenderung putus asa untuk mengerjakan soal tersebut. Kesulitan ini bisa jadi adalah warisan dari orang tua kita atau warisan dari orang-orang terdahulu yang mana mereka mengalami kesulitan, namun tidak mau mempelajari lebih dalam dan akhirnya mengakar dalam mindset anak.

Matematika itu sulit. Bahkan sampai ada anak yang sangat membenci dengan pelajaran matematika. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa matematika sulit untuk dipahami. Padahal, matematika itu hidup berdampingan dengan kita. Seharusnya kita mudah dalam memahami dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Matematika menjadi ilmu dasar dalam kehidupan sehari-hari. Semua ilmu tidak bisa lepas dari dari ilmu matematika. Orang yang pintar adalah orang yang bisa matematika. Hal ini menjadikan orang tua menuntut anaknya untuk pintar dalam matematika. Dengan pengetahuan yang kurang dan lemahnya konsep matematika hal ini menjadi beban bagi anak. Orang tua sangat membanggakan anaknya jika anaknya pintar matematika.

Konsep seperti ini sudah menjadi hal wajar dalam kehidupan masyarakat. Padahal, pintar tidak hanya tentang bisa matematika, bisa mengotak-atik angka saja. Tetapi, pintar dalam hubungan social dalam masyarakat juga penting. Dari persoalan di atas, kesulitan berhitung dapat ditangani dengan konsep belajar yang menyenangkan, penguatan konsep dasar dalam berhitung dan penerapan dalam kehidupan sehari-hari.

Pertama, Konsep belajar yang menyenangkan. Belajar adalah proses mengetahui sesuatu. Belajar bisa kita lakukan dimana saja, dengan siapa saja. Belajar tidak hanya kita dapatkan dalam bangku sekolah. Tetapi, kita juga bisa dapatkan dalam lingkungan kita. Karena memang pada awalnya apa yang kita ketahui berawal dari rumah. Tidak mungkin anak usia 3 tahun langsung ditempatkan dalam sekolah untuk belajar. Dalam hal ini peranan orang tua dalam mengajarkan anaknya pengetahuan dasar sangat penting, seperti angka, macam-macam bentuk, macam-macam warna, dan hal dasar lainnya. Ini menjadi dasar atau pengantar anak untuk memasuki sekolah. Sering kita jumpai dalam dunia pembelajaran, seorang guru mengajarkan suatu ilmu pengetahuan dengan konsep yang monoton. Sehingga, anak akan cepat bosan.

Ilmu yang disampaikan juga terkesan bertele-tele, sehingga anak susah untuk memahami ilmu yang disampaikan. Belajar juga seharusnya tidak terbatas pada waktu, karena otak kita mempunyai kapasitas untuk menangkap sebuah ilmu. Coba kita ingat pada saat kita masih kecil, kita diajari tentang angka oleh ibu kita dengan cara menghitung jumlah mainan kita satu persatu lalu memasukannya dalam keranjang. Hal ini dilakukan setiap ada waktu senggang atau setelah anaknya selesai bermain.

Mengapa angka-angka itu cepat masuk ke dalam pemahaman anak? Karena anak belajar dalam keadaan yang tidak tertekan terlebih lagi dalam keadaan yang senang. Hal ini dapat membuktikan jika seorang anak belajar saat keadaan hatinya sedang bahagia dan tidak tertekan ilmu yang disampaikan akan terserap dengan mudah ke dalam otaknya. Konsep belajar yang menyenangkan sangat penting untuk menunjang pemahaman anak. Hal ini bisa diterapkan melalu permainan, bernyanyi, kegiatan luar ruangan, dan lain sebagainya.

Kedua, penguatan konsep dasar dalam berhitung. Berhitung adalah proses mengerjakan hitungan (menjumlahkan, mengurangkan, dan sebagainya). Penjumlahan, pengurangan, pembagian, perkalian merupakan bagian dari berhitung. Penguatan konsep dasar sangat penting agar anak dapat mengerti bagaimana cara menjumlahkan, mengurangi, mengali, dan membagi.

Terkadang guru hanya menyampaikan konsep dasarnya saja. Pada saat pembelajaran mungkin saja anak dapat menjawab soal yang diberikan oleh guru. Tetapi pada saat anak pulang , atau melanjutkan aktifitasnya mereka akan lupa materi yang sudah diajarkan di sekolah. Atau ada juga yang sejak awal pembelajaran anak itu kurang memahami konsep tersebut. Hal ini yang menjadikan anak akan menarik kesimpulan bahwa apa yang mereka pelajari adalah sesuatu yang sulit. Dalam hal ini, konsep dasar menjadi kunci dari persoalan kesulitan yang dihadapi anak. Tidak hanya berhitung, tetapi dalam berbagai apapun.

Ketiga, penerapan dalam kehidupan sehari-hari. Pada dasarnya proses anak dalam memahami sesuatu berbeda-beda. Ada yang mudah, ada juga yang sulit. Sudah diterangkan secara mendetail tetap saja anak tesebut belum juga paham. Padahal, konsep dasar sudah diberikan. Hal ini bisa diatasi dengan menganalogikan dengan sesuatu yang kita terapkan dalam sehari-hari yang sesuai dengan ilmu yang sedang diberikan. Sebagai contohnya, anak tidak tahu bagaimana cara menjumlahkan. Terkadang anak juga anak susah memahami soal yang diberikan dalam bentuk kalimat matematika, sehingga anak mengalami kesulitan dalam mengerjakannya. Hal ini kalimat matematika akan dapat mudah dipahami jika dalam kalimat yang biasa mereka dengar. Seperti contohnya, dua ditambah dua bisa kita ubah menjadi dua apel ditambah dua apel, atau membuat soal tersebut menjadi soal cerita, contohnya “Jika kamu mempunyai dua apel lalu diberi lagi oleh ayah dua apel, maka berapa apel yang kamu punya?”.

Dengan metode tersebut diharapkan anak akan lebih memahami soal yang diberikan. Hal ini juga dapat ditunjang dengan latihan yang banyak sehingga pemahaman anak tentang berhitung dapat lebih dalam lagi. Kesulitan anak berbeda-beda. Jadi, dengan menerapkan apa yang telah dijelaskan diatas, kesulitan umum anak dalam berhitung dapat diatasi.

Hal ini bisa diterapkan oleh guru maupun orang tua. Guru berperan dalam menguatkan konsep dasar dan orang tua bisa beperan dalam penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Maka dari itu, sebenarnya anak tidak perlu diikutsertakan dalam bimbel jika orang tua juga bisa mengajarkan anaknya dalam penerapannya pada kehidupan sehari-hari. Yang paling utama adalah perubahan mindset tentang matematika sulit, matematika menakutkan, atau yang lain sebagainya harus diganti. Karena pada dasarnya semua ilmu tidak ada yang sulit. Matematika adalah teman kita. Matematika itu mudah dan semua orang bisa matematika.

sumber gambar : kappa_studio

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar