5 Jitu Kenalkan Sikap Kepedulian Pada Anak

AnggunPaud - ‘‘Rofi, bantu Ibu bawa makanan ke depan ruang tamu!’’ pinta Ibu. ‘‘Rofi, masih bermain Bu,’’ jawab Rofi. ‘‘Ibu minta tolong sebentar Nak!’’ ujar Ibu sambil melotot menghampiri. Rofi menganggukkan kepala. ‘‘Baik, Bu’’ Fenomena yang terjadi diatas bahwa anak tidak lepas dengan mainannya, namun saat anak diperintah Ibu, anak selalu mencari banyak alasan.

Hal ini membuktikan anak kurang sikap kepedulian dalam keluarga. Kepedulian menjadi upaya dalam memperhatikan kebutuhan orang lain baik secara materi maupun non materi, mau berbagi, dan mendengarkan orang lain. Maka dalam peraturan Menteri 58 tahun 2009 mengemukakan bahwa ‘‘5-6 tahun sudah dapat berperilaku mulia seperti berbagi, menolong dan membantu teman’’.

Direktorat Pembinaan Pendidikan Anak Usia Dini (2012:23), mengemukakan beberapa indikator kepedulian yang merupakan acuan undak dapat ditumbuhkan oleh pendidik yaitu: Anak bersimpati terhadap keadaan orang lain, anak bergembira bila mendengar berita meneyenangkan bersedih bila mendengar berita yang menyedihkan anak, anak bersedia membantu orang lain, dan mau berbagi dengan orang lain. Hal tersebut sangat penting dibiasakan sejak dini, agar dapat menyesuaikan diri dalam kehidupan sosial.

Pada era sekarang ini anak-anak perlu dikenalkan bahkan di ajarkan mengenai kepedulian sosial, agar pada suatu saat nanti anak mempunyai kepekaan terhadap orang yang membutuhkan, dengan dikenalkan sifat kepedulian tentunya anak akan mengenal dan memahami arti penting dari kepedulian terhadap sesama karena itu akan bermanfaat bagi anak-anak tersebut pada khususnya dan pada bangsa dan negara manakala itu di ajarkan secara serius. Anak-anak adalah kebanggaan bagi orang tuanya. Anak yang memiliki perilaku baik merupakan kebahagiaan bagi orang tua. Sebaliknya anak yang berperilaku buruk di masyarakat merupakan kegagalan bagi orang tua.

Orang tua tentu mengharapkan sang anak mampu bersosialisasi dengan baik serta memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Oleh karena itu sifat peduli terhadap sosial perlu ditanamkan sejak dini. Pengetahuan orang tua mengenai pentingnya menanamkan kepedulian sosial pada anak dapat menentukan sifat anak suatu saat nanti, apakah anak akan menjadi pribadi yang peduli terhadap lingkungan sosial atau menjadi pribadi yang acuh terhadap lingkungan sosial. Kepribadian anak setelah dewasa tidak bisa lepas dari bagaimana pola pendidikan yang diterapkan orang tua kepada anak di usia dini.

Dengan mengarahkannya semenjak usia dini, maka kemungkinan besar anak menjadi pribadi yang diharapkan oleh orang tua menjadi lebih besar, dan tentunya setiap orang tua menginginkan anaknya menjadi pribadi yang sebaik-baiknya bahkan lebih dari orang tuanya. Kepedulian anak dapat ditanamkan atau ditumbuhkan melalui lingkungan yang paling dekat dengan anak yaitu keluarga. Dalam menumbuhkan sikap kepedulian anak diperlukan peran guru dan orangtua yang berinteraksi dan berkomunikasi yang baik dan lingkungan yang melingkupinya. Maka, ada lima jitu mengenalkan sikap kepedulian pada anak dalam aktivitasnya.

Pertama, Berikan contoh dari kebiasaan baik. Biasanya anak akan mencontoh orang tua dalam melakukan segala hal, terutama perilaku yang baik. ibu untuk mengenalkan konsep berbagi pada anak, terlebih orang tua harus mencontohkan padanya bagaimana cara berbagi agar ia mengerti. Bisa dimulai dari saat anak melihat orangtua membagikan makanan yang ibu masak kepada tetangga. Anak-anak akan belajar kebiasaan orangtua yang contoh untuk ia praktikan. Dan contoh yang diberikan pun harus dilakukan secara kompak oleh ibu dan juga ayah. Jangan lupa saat ibu memberi contoh, orang tua menjelaskan bahwa yang dilakukan adalah bentuk peduli yang harus dilakukan oleh siapa saja termasuk anak.

Kedua, mulai mengajarkan anak menolong dan menawarkan bantuan kepada orang lain. Konsep kepedulian bisa dikenalkan dengan mengajarkan anak bagaimana tolong menolong. Kenalkan padanya bagaimana berempati pada orang lain. Ajak ia untuk peka terhadap lingkungan sekitar sehingga timbul kepedulian. Dan kepedulian akan menumbuhkan empati di dalam dirinya dengan cara merasakan apa yang orang lain rasakan. Seperti saat bertemu dengan orang yang sedang kehujanan tanpa menggunakan payung. Beritahu anak untuk menolongnya dengan berbagi payung bersama agar orang itu tidak kehujanan. Ajak ia untuk belajar berinteraksi dan menawarkan bantuan.

Ketiga, biasakan anak senang memberi dan tidak egois saat momen bersama keluarga. Kebiasaan berbagi juga bisa ditanamkan saat anak diajarkan untuk tidak egois dan mudah memberi. Orangtua bisa mulai saat momen makan bersama. Saat momen makan bersama dimulai, Ayah-Ibu bisa memancingnya dengan meminta makanan yang ia makan sambil mengatakan bahwa ia harus belajar memberi. Membagi makanan dan tidak egois dengan apa yang ia punya. Dengan begitu, ia akan belajar untuk senang memberi ketika bersama dengan teman-temannya dan tidak bersikap egois.

Keempat, ajak ia memberikan bantuan dan apresiasi usahanya lewat kegiatan sosial. Selanjutnya, orang tua bisa mulai memperkenalkan anak dalam kegiatan sosial. Katakan padanya bahwa ia bisa memberikan bantuan kepada orang yang terkena musibah. Misalnya, Ayah-Ibu bisa mengajaknya untuk menyumbangkan sebagian uang jajannya atau baju bekas layak pakai pada badan amal atau yayasan. Mengajak anak ikut serta dalam kegiatan tersebut bisa melatih kepeduliannya kepada sesama dan belajar memahami keadaan orang yang tertimpa musibah. Ketika ia sudah melakukannya, jangan lupa untuk mengapresiasi usahanya. Katakan padanya bahwa ia hebat sudah belajar berbagi kepada sesamanya.

Kelima, ajari lewat sosialisasi dan bermain dengan teman seusianya. Saat usia pra sekolah, penting bagi orangtua untuk mengajaknya sering bersosialisasi dan bermain bersama teman seusianya. Ini bisa melatih kepekaannya untuk bisa saling berbagi. Karena dengan bermain bersama, ia akan belajar berbagi, saat berbagi mainan dan juga buku bacaan. Jika kemudian anak rebutan bermain dengan orang lain, di sanalah kemudian orangtua menjelaskan tentang konsep berbagi, agar ia bisa belajar kepemilikan dan bermain bersama. Dari sinilah, anak-anak dapat mengenalkan lingkungan dari aktivitas orangtua sehari-hari. Baik kegiatan sederhana maupun kegiatan berat.

Dari lima poin yang dipaparkan, anak-anak akan menyempurnakan sikap yang berupa kepedulian terhadap keluarga, lingkungan, dan masyarakat melalui pembiasaan kegiatan orangtua dalam sehari-hari. Sebab, saat kita dekat wajah, anak pasti akan mencium, bukan menampar. Saat kita sodorkan tangan anak pasti akan menjabat bukan mencubit. Anak akan menyerap dan meniru dari berbagai indera yang ditangkap. *

*(Heru Kurniawan, praktisi parenting, 2018) Nur Hafidz mahasiswa Institut Agama Islam Negeri Purwokerto program studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini- Relawan Rumah Kreatif Wadas Kelir.

sumber gambar : https://mommybase.com/kids-giving-back/

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar