Alasan Tidak Memukul Anak

AnggunPaud - Sore itu Rafi datang dengan muka murung. Ia langsung masuk kamar dengan kaki kotornya seusai bermain sepak bola. Tiba-tiba seorang tetangga datang marah-marah. Karena Rafi telah memecahkan kaca rumahnya saat bermain bola. Sebagai orang tua, kejadian ini pasti sangat membuat kesal. Rasanya ingin memarahinya supaya anak bisa sadar bahwa ia salah dan tak mengulanginya. Bahkan tak jarang kegeraman ini membuat tangan kita ingin maju. 

Akhirnya karena terlalu emosi dan gegabah tak terasa kita telah memukul anak karena berharap bisa membuatnya jera. Namun, keesokan harinya bukannya anak tambah baik, palah tambah membandel. Mungkin sewaktu kecil kita pernah mengalaminya dipukul oleh orang tua kita sebagai bentuk pendisiplinan. Dan kita berpikir bahwa cara ini adalah yang baik sehingga melakukannya juga pada anak kita. Namun, sebelum kita terburu emosi dan bertindak gegabah memukul anak, pikirkan kembali hal-hal berikut ini.

Mengarah kepada kekerasan yang lebih parah Awalnya mungkin kita hanya ingin memberikan efek jera kepada anak. Tetapi saat anak melakukan kesalahan yang berulang-ulang, hukuman ringan yang kita berikan tidak akan mempan atau membuat anak tidak jera. Lalu, hukuman apalagi yang akan kita gunakan? Banyak situasi di saat orang tua tidak bisa mengontrol emosinya dan menjadi keterusan. Bahkan yang awalnya hanya memukul tidak keras bisa jadi akan bertambah dengan menampar, menendang, dan bentuk kekerasan lainnya yang dapat mengancam nyawa anak.

Solusinya yaitu, janganlah pernah menghukum anak pada saat kita sedang marah. Tenangkanlah diri kita terlebih dahulu, maka kita bisa mendisiplinkan anak dengan cara yang bijak. Membuat anak merasa tidak berdaya dan merusak harga dirinya Saat orang tua berkata, “Kalau nangis terus bunda pukul kamu lagi loh!”. Anak akan bertanya-tanya kepada dirinya sendiri, “Di mana salahku?” dan ia akan mengecap dirinya dengan “Aku anak nakal.”

Bahkan karena tindakan pukulan kita yang sering ini akan membuat anak merasa tak disayang dan tak berharga lagi untuk kita, “Ayah sama bunda nggak sayang sama aku, apa-apa aku selalu salah.” Jika kita mencintai anak kita tanpa syarat seharusnya melindungi dan mencintainya. Saat anak sedang emosional, menangis adalah cara mereka untuk mengatasi luka hatinya.

Butuh waktu untuk menenangkan diri anak. Beberapa orang tua berpikir bahwa dengan memukul anak, akan membuatnya berhenti menangis. Namun yang terjadi adalah saat kita melarangnya menangis yang sesungguhnya anak sedang butuh bantuan. Justru anak akan merasa dikhianati dan tak dipedulikan. Sehingga semakin dipukul, akan membuat anak semakin merasa lemah dan tidak bisa membela diri. Jika kita ingin anak-anak menjadi tumbuh menjadi seorang yang bijak dan sukses, ingatlah bahwa harga diri adalah salah satu faktor yang sangat menentukannya.

Mengajarkan perilaku agresif Anak yang terbiasa dipukul di rumah, cenderung untuk melakukan hal yang sama di luar. Usia anak-anak adalah masa dimana ia akan meniru tingkah laku orang lain dengan mudahnya. Terutama orang yang terdekat dan dicintainya seperti keluarga, tanpa mengerti alasan apa dari perilaku tersebut. Anak-anak yang tumbuh di keluarga yang penuh kekerasan dalam mendidiknya, ia cenderung melakukan kekerasan pada lingkungannya. Misalnya ia akan dengan ringan tangan memukul teman dan bahkan saat marah ia akan tantrum yang sulit di atasi.

Memukul anak hanya akan mendemonstrasikan bahwa tidak apa-apa memukul orang lain. Orang yang lebih besar boleh memukul orang yang lebih kecil, dan orang yang lebih kuat boleh memukul orang yang lebih lemah.

Dapat mengarah kepada perilaku menyimpang lainnya Memukul hanya bekerja dan efektif, saat itu juga karena anak merasa ketakutan. Efeknya instan, tetapi mereka akan mencoba mecari cara untuk kabur dari amarah dan stress yang mereka rasakan. Anak bukannya kapok dan instropeksi diri dari kesalahannya, tetapi justru malah merasa diperlakukan dengan tidak adil. Sebuah studi membuktikan bahwa semakin dipukul, anak akan semakin memberontak dan hukuman yang diberikan juga akan semakin keras, dan akhirnya hanya akan menjadi lingkaran setan. Rusaknya hubungan orang tua dan anak.

Hukuman fisik hanya akan membangun tembok di antara orang tua dan anak. Saat kita dilukai oleh seseorang, sulit untuk menghormati orang tersebut bukan? Orang tua seharusnya menjadi pendengar, pembimbing, pendukung, dan pendorong semangat. Bukannya melukai anak. Karena saat dipukul anak akan merasa ketakutan dan tak merasa dihargai sehingga merusak keharmonisan hubungan anak dan orang tua.

Bisa jadi ia menjadi anak penurut di depan kita karena ia merasa takut, namun saat tak ada kita, justru mereka melakukan hal-hal sebaliknya sebagai penentangannya. Meskipun kita percaya bahwa anak akan selalu baik karena di depan kita baik, namun kekerasan kitalah yang menghancurkan kepercayaan mereka. Orang tua akan dirundung perasaan bersalah Banyak orang tua yang merasa menyesal dan bersalah karena telah memukul anak. Jika memang cara ini membuat kita merasa bersalah, maka carilah teknik pendisiplinan yang lebih baik.

Banyak orang tua yang memukul karena tidak tahu harus berbuat apa terhadap anak yang membandel tetapi merasa cara ini juga mengganjal di hati. Oleh karena itu, jadilah orang tua yang disegani namun bersahabat bagi anak bukan malah ditakuti. Apa gunanya memiliki hubungan yang didasari oleh ketakutan anak? Memukul hanya anak membuat kedua pihak sama-sama kalah.

Anak akan kehilangan rasa hormat terhadap orang tuanya, dan orang tua pun akan kehilangan hubungan yang berharga dengan anak. Dampak yang akan terus berlanjut dalam jangka panjang Orang-orang dewasa yang didiagnosa bermasalah dengan kesehatan jiwanya, cenderung mengalami insiden kekerasan dimasa kecilnya.

Memberi hukuman fisik dengan berlebihan berdampak negatif dalam jangka panjang. Sudah banyak sekali hasil studi yang membuktikannya.

- Anak-anak yang dibesarkan dengan menerima banyak hukuman fisik, cenderung menjadi anti sosial dan egosentris ketika mereka menginjak usia remaja dan dewasa.

- Anak-anak yang terbiasa dipukul saat kecil dan menerima tindakan ini sebagai teknik pendisiplinan yang tepat, pada akhirnya memberi hukuman fisik juga kepada pasangan dan anak-anak mereka.

- Sebuah studi mengatakan bahwa kebanyakan penghuni penjara tumbuh di lingkungan rumah tangga yang penuh dengan kekerasan.

- Orang-orang yang memiliki riwayat kriminal seperti perampok, pembunuh, dll pernah menerima hukuman fisik yang berlebihan di masa kecilnya. Kita semakin sadar bahwa untuk mendisiplinkan anak tidak melulu dengan tindakan fisik.

Karena yang terjadi justru semakin banyak hukuman fisik yang diterima anak, semakin ia akan bersifat agresif dan ia juga akan melakukan kekerasan pada lingkungan sekitar hingga keluarganya kelak. Bahkan bisa menimbulkan tindakan yang lebih serius yaitu kriminalitas.

Sekarang kita semakin tahu bahwa menggunakan kekerasan tidak efektif untuk membuat anak belajar dari kesalahannya. Namun, jadilah orang tua yang bijak dengan menjadi teladan yang baik, penyayang, dan saat anak melakukan kesalahan ajaklah ia untuk berdiskusi sesaat setelah ia tenang dari masalahnya.*

*(MUNASIROH, Relawan Pustaka Wadas Kelir dan Guru SD NU Master Sokaraja)

sumber gambar : https://www.netmarkers.com/tag/do-not-hit-your-child/

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar