Menyiapkan Anak Menjadi Pribadi Bertanggung Jawab

AnggunPaud - Semua orang tua menginginkan kelak anak-anak kita mampu memiliki kepribadian yang bertanggung jawab saat dewasa nanti.Karena saat anak tumbuh dewasa ia harus menjadi pribadi yang mandiri dan melakukan tugas-tugasnya dengan penuh tanggung jawab. Kelak anak-anak akan menjadi bagian dari masyarakat sosial yang dituntut untuk bekerja dengan tanggung jawab.

Semua hal baik ini tentu dimulai dari rumah kita. Tanamkan kepada anak bahwa tanggung jawab adalah sesuatu yang positif, bukan sebagai beban. Terapkanlah kebiasaan-kebiasaan ini dalam keseharian anak untuk membangun rasa tanggung jawabnya. Ajak anak membersihkan kembali kekacauan yang sudah dibuatnya.

Apa respon yang kita tunjukkan saat anak menumpahkan makanannya dil antai? Kebanyakan orang tua pasti akan marah-marah dan buru-buru membersihkannya. Tentu rasanya lebih mudah membereskannya sendiri daripada oleh anak bukan? Berhentilah mengkhawatirkannya bahwa ia tidak bisa membereskan kekacauannya sendiri. Dan stop menghakimi anak dengan menyalahkannya karena ia telah membuat makanannya tumpah berceceran.

Hal ini akan mengurangi perilaku defensifnya. Lain kail, cobalah berikan kain pel kepada anak. Ajaklah anak untuk membersihkan makanannya yang tumpah bersama-sama. “Nggak apa-apa makananmu tumpah, nanti kita ambil lagi, ya. Yuk, bersihkan makanannya yang tumbah bersama bunda.” Ia justru akan membersihkannya dengan senang hati, bukan sambil mengeluh.

Lakukanlah hal yang sama saat anak selesai bermain, pulang sekolah menemukan baju dan tasnya tidak ditaruh di tempatnya. Biarkan anak berpartisipasi dalam pekerjaan rumah tangga. Saat anak terbiasa ikut mengerjakan pekerjaan rumah tangga, biasanya ia akan dengan ringan tangan membantu pekerjaan lainnya. Hal ini tentu tidak mudah dan perlu proses. Tetapi kita bisa mengajarkan tanggung jawab sesuai perkembangannya.

Ajaklah anak usia 3 tahun untuk mencocokkan kaos kakinya sendiri. Anak usia 4 tahun untuk bisa menyiapkan peralatan makannya sendiri. Anak usia 5 tahun bisa merapikan tempat tidurnya sendiri. Dan saat anak berusia 6 tahun ia sudah bisa mencuci piringnya sendiri, dan seterusnya. Saat anak sudah berusaha namun belum bisa melakukan dengan baik, biarkanlah.

Berikan ia apresiasi verbal supaya apa ia merasa dihargai atas apa yang dilakukan. “Zaka hari ini telah merapikan tempat tidurmu dengan baik, meskipun belum selesai ya sayang. Besok pasti lebih baik lagi, karena Zaka juga bisa melipat selimut sendiri dengan rapi.” Tujuan utama bukanlah anak dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan sempurna, tetapi supaya anak mau bertanggung jawab atas dirinya.

Oleh karena itu, buatlah ia melakukan pekerjaannya dengan menyenangkan. Berikanlah dukungan dan motivasi agar ia terus melakukan tanggung jawabnya dengan baik. Gali nalar anak, ketimbang hanya menyuruhnya Sebelum berangkat sekolah biasanya kita akan meyuruh anak untuk menyiapkan peralatan sekolahnya. “Ayo cepat mandi! Tas dan bukunya disiapkan! Jangan lupa bekal dan minumnya dibawa!” Perkataan ini tentu akan membuat anak kesal dan alih-alih malas untuk berangkat sekolah. Daripada menyuruhnya lebih baik, bangunlah nalarnya. “Ayo, apa yang biasanya kamu persiapkan untuk sekolahmu sayang?”

Tujuannya adalah supaya membuat anak fokus terhadap hal-hal yang harus mereka siapkan sendiri. Untuk memudahkannya buatlah daftar hal-hal yang perlu dipersiapkan anak sekolah dengan menarik. Kita bisa menempel gambar karakter kesukaannya. Jika hal ini diterapkan secara berulang-ulang, suatu hari ia akan terbiasa melakukannya sendiri tanpa perlu diingatkan. Hiduplah dengan keseharian yang rutin dan teratur.

Biasakanlah dalam keluarga untuk melakukan hal-hal secara teratur. Mulai dari bangun kegiatan rutin bangun pagi pada jam 04.30 serta kegiatan yang melibatkan anak, misalnya anak harus membereskan semua mainannya seusai bermain dan saat bangun ia harus membereskan tempat tidurnya sendiri. Atau membangun kebiasaan anggota keluarga mencuci piringnya masing-masing seusai makan, serta kebiasaan baik lainnya. Jika diterapkan secara repetitif, maka anak akan mempelajari keterampilan hidupnya dengan sendirinya.

Ajarkan anak untuk bertanggung jawab atas perilakunya terhadap orang lain. Ajarkan anak untuk meminta maaf ketika ia melukai temannya. Jika suasana hati serta emosional anak sedang buruk sehingga tidak mau meminta maaf, janganlah memaksanya. Karena ia tak akan melakukannya dengan tulus. Berempatilah terlebih dahulu terhadap perasaannya. Peluklah ia dan berilah pengertian pada perasaannya “Bunda tau pasti Zaka masih merasa kesal dengan Nera ya. Ya sudah ditenangkan dulu yah sayang.”

Saat anak sudah merasa baik, tanyakanlah kepadanya apa yang terjadi dan apa yang harusnya ia lakukan untuk memperbaiki situasi. Siapa tahu anak sudah tenang dan mau meminta maaf pada temannya. Jika ia terlihat gengsi untuk berkata maaf, kita bisa mengajarkannya dengan cara lain, misalnya memberi temannya pelukan, meminjamkan mainan kesukaannya, dan sebagainya. Jangan terburu-buru menghindarkan anak dari situasi sulit.

Dampingilah anak, agar kita bisa menangani emosi dan rasa takutnya. Kita bisa membantunya untuk mencari jalan keluar, tetapi biarkan ia menjalani dan menyelesaikan masalahnya sendiri. Kita tidak perlu meminta maaf atas nama anak, biarlah anak yang melakukannya sendiri. Saat usia anak telah beranjak besar, jika ia merusak mainan teman atau memecahkan jendela saat bermain bola katakanlah ia harus menggantinya. Ia bisa menyisihkan uang sakunya.

Pada umumnya anak tidak akan melakukan kesalahannya kembali. Yang terpenting adalah mengajarkan anak bahwa perilaku mereka yang merugikan orang lain akan selalu memiliki akibat, dan ia harus bertanggung jawab terhadap akibat yang dibuatnya. Jadilah panutan anak untuk bersikap baik anak butuh teladan dari orang tuanya. Menepati janji adalah salah satu bentuk tanggung jawab. Kita biasanya menyepelekan janji yang telah dibuat untuk anak karena kesibukan kita dan mencari alasan terus menerus.

Saat kita tak bisa menepatinya untuk mengajaknya menonton film kesukaannya di bioskop misalnya bayangkan ia akan mengatakan “Jika ayah tidak bisa bertanggung jawab atas janji yang dibuatnya sendiri, buat apa aku menepati janji juga?” Menjadi panutan anak berlaku juga dalam kehidupan sehari-hari.

Bangunlah kepecayaannya dengan menjadi teladan yang baik baginya. Jangan harap anak tumbuh menjadi anak yang bertanggung jawab, jika kita pun tak menepati janjinya. Atau hal-hal kecil lainnya misalnya masih membuang sampah sembarangan. Maka tanpa sadar ia akan melakukan kebiasaan seperti kita setelah ia besar nanti.

Menanamkan tanggung jawab dapat dimulai dari hal-hal kecil, seperti membuang sampah ditempatnya sendiri. Namun, untuk melalui membangun kebiasaanya bertanggung jawab perlu sebuah proses. Dalam proses inilah anak membutuhkan figur yang baik dari sesosok keluarganya. Saat keluarga mampu menjadi figur kebaikan untuknya, ia akan tumbuh menjadi anak yang penuh tanggung jawab dan mengagumkan.*

*(MUNASIROH, Relawan Pustaka Wadas Kelir dan Guru SD NU Master Sokaraja)

sumber gambar : https://www.express.co.uk/life-style/life/598841/How-to-be-a-good-child

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar