Orang tua Boleh Khawatir Asal Tidak Berlebihan

AnggunPaud - Plek-emplek ketepu; wong lanang goleka kayu, lamun golek aja dha menek; lamun menek aja dha mencit; lamun mencit aja dha tiba; lamun tiba aja nganti lara; lamun lara aja nganti mati. Kalimat-kalimat di atas adalah lirik yang terdapat dalam tembang dolanan anak Jawa “Emplek-Emplek Ketepu”.

Tertarik untuk meganalisisnya sehingga perlu saya menerjemahkan lebih dahulu ke dalam bahasa yang dapat kita pahami bersama. Lempengan katul; para lelaki, carilah kayu; kalau mencari jangan memanjat; kalau memanjat janganlah terlalu tinggi; kalau tinggi jangan sampai jatuh; kalau pun jatuh jangan sampai sakit; kalaupun sakit janganlah sampai mati. Sekilas isi lagu tersebut seperti sebuah larangan, namun ketika muncul kata ‘jikalau’ (lamun), hal itu menjadi sebuah peringatan saja. Peringatan agar kita senantiasa berhati-hati.

Meski awalnya tampak ada rasa kehawatiran yang cukup tinggi, namun akhirnya mereka menangkisnya dengan sikap kepasrahan kepada Yang Maha Kuasa tentunya. Maknanya mereka berserah diri dengan menerima risiko, namun dipilihnya resiko yang terkecil. Diawali dengan sikap melarang, jika memungkinkan tak dipilih maka orangtua berharap tak memilihnya.

“Hai para lelaki, carilah kayu, namun janganlah memanjat! Jika terpaksa harus memanjat, orangtua berpesan; jangan terlalu tinggi (lamun menek ja nganti mencit). Ketika mereka terpaksa harus memanjat tinggi, orangtua berpesan dengan kepasrahan dan doa jangan sampai jatuh (lamun mencit ja nganti tiba). Selanjutnya mereka juga berpesan jika sampai jatuh, pun agar tidak sakit ( lamun tiba ja nganti lara). Sebagai pesan akhir di tembang tersebut, orang tua memberikan kepasrahan tertinggi dengan nasihat ; kalaupun sakit jangan sampai mati (lamun lara ja nganti mati).

Itulah titik kulminasi dari kepasrahannya. Jika mencermati kandungan tembang dolanan tersebut ternyata ada pesan yang tersirat begitu dalam. Pesan yang tersirat yakni tentang kekhawatiran, nasehat, doa, harapan, dan sikap terhadap anak-anak yang patut diteladani orangtua masa kini. Hal semacam itu tampaknya disengaja.

Orang tua memberikan pendidikan kepada anak-anak dengan penuh kehalusan agar tercipta budi dan jiwa yang halus pula. Maknanya anak-anak sesungguhnya diberi pendidikan setiap saat dengan cara yang halus. Tidak terbuka dan fulgar seperti lazimnya orangtua jaman sekarang yang selalu mengajari anak-anak dengan terang-terangan dan membosankan. Melalui tembang tersebut orangtua sesungguhnya tengah mendidik anak-anak agar senantiasa waspada.

Namun demikian, bukan berarti melarang anak-anak untuk melakukan sesuatu yang semestinya harus dilakukan. Mereka hanya memberi peringatan yang sama seperti halnya yang dilakukan orang tua zaman sekarang. Bedanya, orang tua zaman dahulu menyampaikan pesan itu melalui tembang, kata kiasan, ungkapan, peribahasa, maupun melalui bahasa-bahasa yang tidak begitu fulgar. Mereka menyimpannya dalam tembang, dongeng, maupun mantera agar tetap hidup selamanya.

Berkait dengan makna tembang tersebut bahwa ada pesan yang harus diterjemahkan dan diteladani dalam hal mendidik anak-anak. Bahwa kepasrahan orang tua terhadap Yang Maha Kuasa ternyata harus dilakukan ketimbang menghidupkan sikap kekhawatiran itu sendiri. Itulah inti dari amanat tembang di atas. Satu hal penting yang dapat kita petik dari sebuah ajaran nenek moyang kita adalah agar para orang tua berani menyingkirkan kekhawatiran itu. Atau setidaknya kita harus sedikit mampu mengurangi kekhawatiran terhadap apa yang dilakukan oleh anak-anak kita.

Anak-anak memang menaati larangan itu dan kekhawatiran orang tua pun reda seketika, namun sadarkah bahwa dengan sikap seperti itu sesungguhnya ada proses pendidikan anak-anak yang telah tertunda? Sadarkah bahwa kelak bisa tercipta anak-anak yang kemudian tak mampu memanjat pohon atau atap rumah? Sadarkah kelak ada anak-anak yang tak memiliki nyali berada di ketinggian karena ia tak pernah belajar memanjat pohon saat kecil? Sadarkah ketika kelak ada anak-anak yang harus ditolak melamar bekerja pada sebuah proyek jaringan listrik karena tak punya nyali bekerja di ketinggian akibat dirinya tak pernah punya kesempatan mencoba memanjat saat kecil? Maka berbahagialah bagi Aries Susanti Rahayu dan Puji Lestari si atlet panjat tebing yang meraih medali emas dan medali perak di ajang Asian Games tahun 2018 karena kemampuan dan keberaniannya bergelayut di tali memanjat tebing yang cukup tinggi.

Tentu keterampilannya itu didukung oleh sikap orang tuanya yang tak pernah merasa khawatir berlebihan terhadap gadis kecilnya untuk belajar menaiki pohon atau bergelayutan di antara ranting karena hal itu menjadi modal besar atas prestasinya. Berbahagia pula bagi si Joni dari Atambua yang mampu menyelamatkan acara pengibaran bendera karena ia mampu menaiki tiang bendera saat insiden putusnya tali bendera pada upacara peringatan HUT RI tahun lalu.

Khawatiran-khawatiran itu memang bisa saja terjadi, tetapi bisa saja tidak terjadi. Khawatir akan meletusnya gunung karena munculnya tanda-tanda akan meletus bisa saja terjadi, namun bisa juga tak terjadi. Maka bukan membangun ketakutannya itu yang harus dilakukan orang tua, melainkan membangun pemikiran bagaimana menghadapi dan menyelamatkan diri yang harus dilakukan. Anak-anak di sekitar Merapi tentu akan merasa ketakutan sepanjang hidupnya ketika orang tua mereka terus membangun kekhawatiran akan meletusnya Merapi yang begitu dahsyat.

Mereka tidak akan sempat memikirkan bagaimana menghadapi masa depannya karena lebih memikirkan ketakutannya jika gunung itu meletus. Bukankah itu akan sangat merugikan anak-anak di sana? Padahal Don Joseph Goewey mengungkapkan hasil risetnya, bahwa 85 persen hal yang dikhawatirkan itu tidak terjadi. Dari 15 persen yang terjadi, sebesar 79 persen di antaranya dapat diatasi dengan baik dan dapat dijadikan hikmah dan pelajaran yang berarti.

Maknanya ia berpesan bahwa kekhawatiran itu harus disingkirkan karena memiliki kecenderungan tidak terjadi. Oleh karenanya orang tua lebih penting membangun pendidikan cara menanggulangi dan menghadapi jika sewaktu-waktu gunung itu meletus. Tidak bagus menghidupkan kekhawatiran yang berlebihan jika ingin masa depan anak-anak tidak terlantar oleh kekhawatiran tersebut.

Kini pertanyaannya adalah apa yang menyebabkan orangtua merasa terlalu khawatir? Berikut adalah alasan mengapa banyak orangtua yang berlebihan mengkhawatirkan kondisi anak-anaknya dan bagaimana sebaiknya mengatasinya.

Pertama, adanya ketidakpercayaan mereka terhadap kemampuan anak. Kekhawatiran orangtua terhadap anak muncul salah satunya kerena rasa ketidakpercayaan terhadap kemampuan anak. Anak-anak dianggap masih terlalu kecil, terlalu lemah, atau terlalu belum bisa melakukan apa yang akan dilakukan. Akibatnya orangtua merasa was-was dan ketakutan ketika si anak akan melakukan sesuatu tersebut. Mereka sangat khawatir kalau-kalau terjadi kecelakaan yang dapat menimpa anaknya. Oleh karena itu sebagian orang tua ada yang tak mau menghadapi kemungkinan itu. Akhirnya mereka lebih memilih untuk mengantarkannya setiap hari.

Berpikir bahwa anak-anak sudah mampu mengendarai sepeda, sudah memiliki pengetahuan berlalulintas sebenarnya dapat mengurangi ketakutan itu. Adanya peraturan tentang pengutamaan terhadap pengendara sepeda, ini pun dapat bermanfaat bagi orangtua untuk mengurangi rasa khawatir yang berlebihan. Maka yang lebih penting adalah membangun bekal pengetahuan yang lebih kepada anak sepanjang melakukan perjalanan ke sekolah.

Kedua, ketidakmampuan kita sendiri terhadap hal yang akan dihadapi anak. Kekhawatiran kedua lebih disebabkan oleh cerminan diri kita sendiri. Ketidakmampuan kita ketika menghadapi hal yang akan dihadapi anak-anak membuat kekhawatiran orangtua tumbuh makin besar. Sebagai contoh, ketika kita takut ular, kita tak mampu untuk menghilangkan anggapan bahwa ular adalah binatang yang mengerikan atau menakutkan. Imbasnya, ketika anak-anak hendak mencoba bersahabat dengan ular, kemudian kitalah yang merasa sangat khawatir. Dan pada saat-saat seperti itu, tanpa sadar kita akan membangun rasa ketakutan pula pada anak-anak. Diceritakannya bahwa ular itu berbisa dan berbahaya. Ular menjijikan dan mengerikan. Ini tidak lebih dari cerminan rasa ketakutan kita sendiri.

Padahal anak-anak tidak akan merasa takut ketika tidak ditakut-takuti. Kondisi seperti itu sangat merugikan anak-anak. Ketika mereka ketakutan menghadapi sesuatu maka akan merepotkan orang lain. Mengingat efek dari rasa ketakutan itu, maka hal yang terbaik bukanlah membangun ketakutan pada anak-anak kita, melainkan harus menyingkirkan rasa ketakutan kita dahulu. 

Ketiga, kita tak memiliki pengetahuan dan pengalaman tentang hal yang dilakukan anak. Kekhawatiran juga akan muncul disebabkan minimnya pengetahuan orangtua terhadap permasalahan yang akan dihadapi anak-anak. Orangtua melarang anak-anaknya bermain di sungai lebih disebabkan karena dirinya yang tak pernah bermain di sungai saat kecil. Akibatnya mereka menganggap bahwa sungai itu membahayakan. Apalagi ketika dirinya mendengar sungai banjir, atau peristiwa hanyutnya anak di sungai. Tentu kekhawatiran itu semakin meningkat. Berbeda dengan orang tua yang memiliki pengalaman cukup saat kecil terhadap sungai. Orang tua yang masa kecilnya akrab dengan sungai maka akan menganggap bahwa sungai adalah sahabat dan tempat bermainnya yang mengasyikan. Maka dirinya tidak terlalu mengkhawatirkan ketika anak-anaknya hendak bermain di sungai. Bahkan seringkali mereka mengajak anak-anak untuk bermain di sungai. 

Jangan terlalu banyak mencegah karena kekhawatiran kita. Satu hal yang lebih penting adalah terus mendampingi anak-anak yang akan mencoba sesuatu dan memberikan pengawasan dan kesiapan membantu mereka jika terjadi hal-hal yang memang harus mendapat bantuan orang dewasa. Jangan terlalu banyak menakuti mereka atas nama menjaga keselamatan mereka sebab itu hanya menghambat proses pemerolehan pengalaman dan keterampilan yang bermanfaat bagi kehidupan mereka kelak. Jadilah kita orangtua yang berpikir cermat dan bersikap bijak. *

Penulis : Riyadi, Pendidik di SD Negeri Pangebatan, Karanglewas, Banyumas, Pegiat literasi di Kompak.

sumber gambar : https://www.nationalpark-eifel.de/en/experience-national-park/

Bagikan Artikel Ini

Komentar (1)

  • Hupron Fadilah

    Terima kasih untuk artikelnya Sangat brmanfaat masfadhil.com

    2019-10-11 14:39:00

Silahkan Login untuk memberi komentar