anak tertarik benda tajam? lakukan hal ini!

AnggunPaud - Menghabiskan waktu bersama anak sejatinya adalah hal yang lumrah bagi seorang ibu rumah tangga. Hampir di setiap aktivitas dalam rumah selalu dibuntuti oleh anak. Begitu pula dengan saya. Setiap saya menyapu lantai misalnya. Saya harus menyediakan dua buah sapu lantai. Satu saya gunakan sendiri dan yang satu lagi saya berikan pada putri kecil saya.

Aktivitas menyapu rumah bersama biasa kami lakukan setiap hari. Tak hanya menyapu saja, mengepel rumah pun kami lakukan berdua. Saya memegang gagang pel sambil menggendong putri saya, sedangkan putri saya memegang botol plastik berisi air yang siap dipercikan ke lantai untuk dipel. Tak cukup melakukan aktivitas menyapu dan mengepel bersama, memasak pun saya tetap dibuntuti oleh putri saya.

Sering sekali konsentrasi memasak saya buyar karena putri kecil saya tiba - tiba memegang benda tajam. Pisau, gunting, jarum dan sebagainya. Benda - benda tajam yang selalu menarik perhatian buah hati kita di rumah. Jika melihat anak kita tiba - tiba memegang pisau dapur karena kita mengajaknya ikut memasak di dapur, pasti kita selalu merespon dengan kata "Jangan! Bahaya, Nak!"

Tanpa kita sadari semakin kita melarang dan membentak anak kita saat itu, semakin ia penasaran dan tertarik untuk memainkan benda tajam tersebut. Pada dasarnya setiap anak memiliki naluri rasa penasaran dan ingin tahu yang amat menggebu - nggebu.

Mereka selalu ingin melakukan hal yang sama dengan orang tuanya. Jika tidak dituruti, pasti suatu saat diam - diam anak kita akan mencari tahu sendiri untuk memenuhi hasrat penasarannya itu. Mengambil benda tajam tanpa sepengetahuan ayah dan bunda. Akan tetapi berbeda keadaannya jika orang tua telah mengajarkan anak bagaimana cara menggunakan semua jenis benda tajam ini. Namun tetap dalam pengawasan orang tua serta memperingatkan anak kita akan bahaya benda tersebut. Jika anak diberi pengertian dengan baik akan bahaya benda tajam tersebut jika digunakan sembarangan, maka anak pun akan lebih berhati - hati.

Berikut ini beberapa cara untuk mengarahkan rasa penasaran anak kita terhadap benda tajam.

- Bermain potong - potongan dengan pisau Secemas - cemasnya kita melihat anak tiba - tiba mangambil sebuah pisau, alangkah baiknya jika kita mengarahkannya pada suatu kegiatan menggunakan pisau itu. Misalnya bermain potong - potong dengan pisau. Untuk langkah awal pengenalan, berikan pisau tumpul kepada anak kita. Sediakan bahan makanan yang lunak seperti tahu. Beri anak kita sepotong tahu. Tuntun tangan anak kita untuk memotong - motong tahu tersebut.

Kemudian biarkan dia, mencoba untuk memotong - motongnya sendiri. Beri arahan untuk tidak memotong terlalu kecil. Sehingga anak kita pun belajar mengasah motorik halusnya dengan bermain potong pisau.

Bermain mencocok gambar Kegiatan ini bertujuan memenuhi rasa penasaran anak terhadap paku. Kita bisa mengambil gambar hewan, buah, benda dan lain sebagainya dari koran bekas. Atau bisa juga kita mencetak gambar itu sendiri. Sediakan busa untuk bantalan kertas dan sebuah paku berukuran besar untuk melubangi tepi gambar. Ajak anak duduk di pangkuan ayah atau bunda. Lalu tunjukkan cara mencocok atau melubangi tepi masing - masing gambar. Lakukan kegiatan ini secara perlahan dan rapi.

Hasilnya bisa ayah dan bunda pajang di tembok sebagai bentuk apresiasi pada anak. Dari kegiatan ini selain bertujuan untuk memfasilitasi rasa penasaran anak, secara tak langsung kita juga melatih anak untuk lebih percaya diri melalui apresiasi yang kita lakukan.

Bermain menggunting bentuk Saya memiliki pengalaman tersendiri dengan hal menggunting. Saya memiliki seorang adik laki - laki yang jarak usianya dengan saya cukup jauh. Karena adik saya ini anak bungsu, saya merasa perlakuan orangtua saya kepada adik saya ini sedikit spesial. Kedua orang tua saya sering melarang ini dan itu. Termasuk melarang adik saya bermain - main dengan gunting saat usianya tiga tahunan. Setiap melihat adik saya ini memegang gunting, ayah atau ibu saya langsung merebutnya. Tanpa kedua orang tua saya sadari, ternyata tindakan merebut gunting tersebut justru membuat adik saya kehilangan kemampuan motorik halusnya. Terbukti saat ia memasuki usia Taman Kanak - kanak.

Setiap ada aktivitas menggunting gambar di sekolah, adik saya tidak bisa melakukannya sendiri. Ia tidak bisa menggunakan gunting dengan baik. Hal ini terus berlanjut hingga adik saya duduk di bangku kelas dua sekolah dasar. Setiap mendapat tugas prakarya yang mengharuskan adik saya untuk menggunting kertas, ia selalu meminta saya yang melakukannya. Dari pengalaman saya ini, usia tiga tahun menurut saya itu sudah cukup mampu untuk dilatih menggunakan gunting.

Kita bisa membuat pola - pola sederhana seperti bentuk segitiga, segi empat dan lingkaran sebagai pola dasar untuk melatih motorik halusnya dalam menggunakan gunting. Atau bisa juga dengan membiasakan anak kita untuk menggunting bungkus jajanan plstik yang ia beli. Dengan demikian anak kita semakin terasah kemampuan motorik halusnya.

Bermain jahit pola Ajak anak untuk bermain jahit menjahit bersama. Kita bisa membuat pola sederhana seperti pola garis, segitiga, segi empat, atau pola lainnya. Untuk kegiatan ini kita bisa membeli kain strimin, benang wol berwarna - warni dan jarum jahit yang berukuran besar. Tujuannya agar anak lebih mudah melakukan aktivitas menjahit ini. Kegiatan ini selain mengasah motorik halusnya dalam memegang benda yang kecil menggunakan dua jari, kegiatan ini juga dapat melatih anak untuk fokus dan berkonsentrasi.

Ayah dan bunda, melarang anak untuk mengenal benda - benda tajam di sekitarnya tak selamanya memberi dampak positif pada anak kita. Anak kita bisa saja kehilangan waktu emas untuk mengasah motorik halusnya. Dalam hal ini yang dibutuhkan anak kita adalah arahan yang tepat serta pengawasan yang terarah dari kita sebagai orang tua.

sumber gambar :https://www.knifepath.com/teach-a-child-to-use-a-knife/

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar