Empat Langkah Membentuk Karakter Anak

AnggunPaud - Sebagai guru les privat, saya mencoba untuk tidak sekadar mengajarkan materi pelajaran pada anak didik les saya. Akan tetapi saya berusaha pula untuk mendidik setiap anak yang belajar bersama saya. Pernah suatu sore salah satu anak didik saya bertindak kurang sopan, sehingga memancing saya untuk menegurnya.

Sore itu saya mengajar dua anak sekaligus dalam satu rumah. Kedua anak tersebut duduk di bangku sekolah dasar. Seorang anak perempuan dan seorang anak laki – laki. Sebut saja nama anak laki – laki itu Lio. ” Bu Wulan pinjam penghapus, Lio! “ Lio lalu merebut penghapus yang sedang digunakan saudara perempuannya. Kemudian Lio melemparkan penghapus tersebut kepada saya. Melihat perilaku Lio tersebut, spontan saya menegurnya. “ Bu Wulan tidak suka Lio memberikan penghapus dengan cara melempar! “ Lio terlihat malu dan merasa bersalah.

Dia kemudian mengambil penghapus yang dia lempar lalu menyerahkan pada saya dengan lebih sopan. Dari pengalaman ini, saya melihat saat ini anak – anak sering bertindak kasar dan tidak sopan. Di luar sana sering kita jumpai video yang beredar dari media sosial tentang siswa yang bertindak tidak sopan bahkan bertindak kasar pada gurunya sendiri.

Hal tersebut tentu tidak lepas dari peran orang tua sebagai pendidik utama anak di rumah dan guru sebagai pendidik yang menggantikan peran orang tua di sekolah. Mendapati anak yang senang berperilaku kasar di rumah terkadang membuat para orang tua merasa kewalahan dalam mendidik. Hingga mereka meminta bantuan para guru di sekolah untuk ikut mendidik anak mereka. Akan tetapi dalam mendidik anak di sekolah, guru dibatasi dengan undang – undang yang ada di negara ini.

Pada dasarnya kenakalan anak, sikap kasar dan tidak sopan yang diperbuat anak tentu tidak lepas dari tangan lembut kedua orang tuanya. Lingkungan keluarga lah yang menjadi sekolah pembentukkan karakter anak. Dalam membentuk karakter anak di rumah, orang tua dapat melakukan enam langkah sederhana di bawah ini.

- Sentuhlah Anak Setiap Hari Tak hanya anak usia dini saja yang membutuhkan sentuhan tangan orang tua. Anak yang sudah duduk di bangku sekolah dasar maupun sekolah menengah pun sangat perlu sentuhan tangan dari kedua orangtuanya. Misalnya sentuhan di pagi hari saat membangunkan anak, rangkulan orang tua saat anak merasa sedih atau tidak percaya diri, serta membiasakan anak berjabat tangan dan mencium tangan orangtua sebelum pergi ke sekolah. Dengan menerapkan kebiasaan demikian lambat laun anak akan tumbuh dengan jiwa kasih sayang dan peduli di dalam dirinya.

- Memberikan Penjelasan Dengan Santun Saat Anak Melakukan Kesalahan Saat saya kecil tepatnya saat saya masih di sekolah dasar. Tak jarang saya melakukan kesalahan yang tak sengaja maupun disengaja oleh saya. Misalnya berbohong saat mendapat nilai kurang dari KKM. Ayah saya tak pernah membentak maupun berkata kasar karena kebohongan saya. Beliau lebih sering mengajak saya duduk bersama, kemudian beliau mengingatkan bahwa tindakan saya yang telah berbohong adalah tindakan yang tidak tepat.

Ayah saya pun berkata bahwa beliau lebih bangga jika saya berterus terang dengan nilai yang saya peroleh di sekolah. Dari kebiasaan yang ayah saya terapkan tersebut, membuat saya merasa bahwa kedua orang tua saya memang sangat perhatian terhadap saya. Meskipun saya telah melakukan kesalahan, namun mereka tidak memperlakukan saya dengan kasar.

Memberikan Penghargaan Saat Anak Melakukan Hal Positif Hal ini sedang saya terapkan pada anak saya. Setiap anak saya melakukan kebaikan, sebagai contoh membuang bungkus jajannya ke dalam tempat sampah atau segera merapikan mainan setelah selesai bermain saya selalu berkata “Wah, Alifa hebat!” sembari mengacungkan jempol padanya. Saya merasakan betul dampak dari memberikan penghargaan sederhana ini. Anak saya yang masih usia dini tumbuh semakin percaya diri dan mandiri. Setiap hal baru selalu ingin ia coba sendiri. Dari pengalaman saya tersebut, saya menarik sebuah kesimpulan. Bahwa tak pernah ada ruginya memberikan penghargaan untuk anak yang telah menyelesaikan usahanya. Terlepas usaha yang telah anak lakukan itu berhasil atau tidak, penghargaan yang diberikan orangtua akan sangat berdampak pada pembentukan karakter anak kita.

Tak Pernah Jenuh Untuk Mengingatkan Anak Agar Berbuat Kebaikan Saat ini saya memiliki adik laki – laki yang duduk di sekolah menengah pertama. Dimana usianya yang masih sangat labil. Saat diberi nasehat oleh ayah atau ibu terkadang ia hanya diam. Namun tak jarang juga dia melawan dengan kata – kata yang dianggapnya benar. Meskipun demikian, kedua orangtua saya tak pernah jenuh untuk selalu mengingatkan adik laki – laki saya itu. Baik mengingatkan untuk pandai memilah teman dalam bergaul, mengingatkan untuk rajin dalam beribadah, maupun dalam hal belajar. Karena bagi kedua orang tua saya selalu mengingatkan anak adalah salah sat wujud kasih sayang dan perhatian kepada anak. Kedua orang tua saya berprinsip putus asa dalam menasehati anak sama saja orang tua masa bodoh dengan karakter anak di masa depan.

Memang tak mudah dalam mendidik dan membentuk karakter anak. Terlebih lagi di era digital saat ini dimana informasi apapun sangat mudah dijangkau bagi anak. Namun jika dalam membangun karakter anak tidak dimulai dari lingkungan keluarga, maka anak akan mengalami kesulitan bermasyarakat kelak setelah mereka dewasa.

sumber gambar : https://story.mamahood.com.sg/teach-first-rules-politeness/

 

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar