Tradisi Leluhur Layak Diperkenalkan kepada Anak

AnggunPaud - “Nek maem kudu ditelasna, ben ayame ora pada mati!” (Kalau makan harus dihabiskan agar ayamnya tidak mati!) Aku masih ingat ungkapan itu selalu dilontarkan ibuku setiap kali menghidangkan makanan. Seringkali ibuku marah melihat masih ada sisa makanan di atas piring. Hal itu terkadang membuatku takut. Takut dimarahi dan takut tidak bisa menghabiskan makanan.

Peristiwa itu masih membekas dengan baik dalam memori ingatanku hingga sekarang. Sekalipun saat itu aku belum tahu benar apa maksud dari ungkapan itu, tapi aku berusaha untuk mendengarkan dan melakukan perintahnya dengan baik. Secara pendek akal, ungkapan itu barangkali terlihat sederhana dan tidak berlogika. Bagaimana hubungan makanan yang tidak habis dengan ayam mati? Atau manusia yang makan, tetapi kenapa imbasnya justru ayamnya yang mati? Hal-hal seperti ini tentu di luar nalar kita. Namun, satu hal yang harus kita akui bahwa ungkapan semacam ini sudah menjadi ajaran hidup yang melekat bagi masyarakat Jawa dan harus kita pahami sesuai dengan konsep-maknanya.

Bagi orang Jawa, ungkapan demikian dimaknai sebagai sebuah larangan untuk melakukan suatu tindakan yang kurang baik atau tidak sesuai dengan etika. Ungkapan ini ditunjukkan kepada anak-anak, remaja, hingga orang dewasa sebagai sebuah alarm atau pengingat terhadap suatu hal. Tidak hanya sebatas itu, ungkapan ini juga mengandung nasihat-nasihat atau pitutur luhur yang berisi tata karma, etika, budi pekerti, dan merupakan tuntunan untuk bersikap dan bertindak yang baik dalam kehidupan sehari-hari.

Hal senada juga diungkapkan Samingin dalam penelitiannya bahwa larangan atau ungkapan menjadi sebuah tradisi atau budaya yang unik yang masih berkembang hingga saat ini. Sebagai sebuah tradisi, larangan ini mengandung pesan moral dan nilai-nilai kebaikan atau nilai kearifan. Penggunaan ungkapan larangan ini dalam masyarakat Jawa diatur oleh nilai-nilai kebudayaan Jawa.

Bahasa yang digunakan pun merupakan bahasa ngoko atau bahasa yang disampaikan oleh orang tua kepada orang yang lebih muda. Dalam masyarakat Jawa, mengapa orang tua begitu memperhatikan tindak tunduk anaknya adalah karena sejatinya orang tua itu memiliki peran penting sebagai sosok guru bhakti. Guru bhakti ini dapat digambarkan pada tiga perannya, yakni sebagai guru rupaka, guru ngaji, dan guru teladan.

Guru rupaka merupakan orang tua sebagai sosok yang memiliki peran mengandung, melahirkan, memelihara dan mendidik anaknya dengan penuh kasih sayang. Dengan harapan sang anak dapat berbakti, selalu mematuhi segala nasihatnya, hormat, tidak berkata kasar, menyayangi dengan penuh kasih sayang.

Guru ngaji atau guru spiritual yaitu guru yang mengajari, membina, mendidik, dan membekali anaknya dengan pengetahuan yang suci (agama) agar anaknya memiliki pondasi yang kuat dan tidak mudah terpengaruh dengan hal-hal yang bersifat negatif. Sedangkan guru teladan dimaknai sebagai seorang sosok orang tua yang digugu dan ditiru sehingga harus memberikan contoh yang baik dalam bertindak di kehidupan sehari-harinya. Sebab anak merupakan cerminan dari orang tuanya.

Di sini peran orang tua adalah menjadi role model yang mampu menanamkan nilai-nilai kepemimpinan, berbudi pekerti luhur, bijaksana, dan karakter positif lainnya sehingga anak dapat hidup bahagia dan sejahtera. Di samping menjalankan perannya sebagai guru bhakti, para orang tua dalam masyarakat Jawa memiliki bermacam-macam bentuk ungkapan larangan yang ditunjukan kepada anak-anak, remaja, dan orang dewasa.

Salah satu ungkapan larangan yang menarik untuk dikaji adalah “Nek maem kudu ditelasna ben ayame ora pada mati” atau kalau makan harus dihabiskan agar ayamnya tidak mati. Secara verbal, ungkapan ini merupakan bentuk larangan untuk melakukan sesuatu yang kurang baik atau tidak sesuai dengan etika yaitu perilaku tidak menghabiskan makanan.

Bentuk larangan ini di dalamnya juga menyertakan sebuah akibat. Akibat yang akan diterima jika seorang anak melanggar larangan tersebut. Saat anak mendengar larangan demikian, dengan polosnya anak akan menuruti dan membayangkan ayam-ayam yang mati saat dirinya tidak menghabiskan makanan. Demikian ilustrasi setelah anak-anak dilarang orangtuanya untuk tidak menghabiskan makanan.

Ungkapan larangan ini mempunyai nilai kearifan yang menunjukkan bentuk pitutur luhur, pengajaran budi pekerti, pembentukan karakter, dan orientasi hidup.

Pertama, ungkapan “Nek maem kudu ditelasna ben ayame ora pada mati” sebagai pitutur luhur. Tindak tutur melarang dalam konstruksi budaya Jawa merupakan suatu perilaku positif yang dilakukan melalui kebiasaan. Artinya, seseorang diajarkan untuk berujar yang memenuhi prinsip kerjasama dari masa kecil sampai dewasa dan melalui mekanisme pewarisan yang tidak banyak mengalami perkembangan bentuk realisasi kebahasannya.

Saat anak berbuat salah, orang tua tidak henti-hentinya untuk mengingatkan dengan pitutur luhurnya. Sebab orang tua tahu bahwa anak butuh dukungan moral yang positif. Pola pikir anak yang masih belum stabil menjadi alasan penting bagi orang tua untuk selalu memberikan nasihat. Dengan cara ini, anak-anak secara kontinyu bisa membenahi kesalahannya dan berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Seperti menujukkan pribadi yang tidak menyia-nyiakan makanan misalnya.

Kedua, ungkapan “Nek maem kudu ditelasna ben ayame ora pada mati” sebagai bentuk pengajaran budi pekerti. Selain sebagai pitutur luhur, ungkapan ini juga dimaknai sebagai pengajaran budi pekerti. Menurut Komariyah budi pekerti merupakan suatu perilaku positif yang dilakukan melalui kebiasaan. Artinya, seseorang diajarkan melakukan hal yang baik mulai dari masa kecil sampai dewasa melalui latihan-latihan, misalnya cara berpakaian, cara berbicara, cara menghormati orang lain, cara makan dan minum, cara masuk dan keluar rumah dan sebagainya. Salah satu kebiasaan orang tua Jawa dalam menanamkan pengertian hal yang baik dan benar adalah menggunakan ungkapan “Nek maem kudu ditelasna ben ayame ora pada mati”.

Dalam ungkapan ini, secara tidak langsung menjadi salah satu cara yang arif untuk mengingatkan keluarganya untuk bersikap sopan, bertindak sesuai tata karma. Dengan tidak melanggar aturan ini, orang tua sudah memberikan pengajaran budi pekerti. Pengajaran ini dilakukan sebagai usaha untuk menyiapkan anak menjadi manusia sejati yang berbudi pekerti luhur dalam kehidupan saat ini dan di masa mendatang.

Ketiga, ungkapan “Nek maem kudu ditelasna ben ayame ora pada mati” sebagai pembentukan karakter anak. Dari ungkapan ini mengingatkan kepada kita bahwa kita tidak boleh menyia-nyiakan makanan, diarahkan untuk menghargai jerih payah orang tua dalam memenuhi kebutuhan keluarga, berlatih bertanggung jawab, merangsang pikiran anak lebih matang, dan mengajak kita untuk bersyukur masih bisa diberi nikmat untuk makan dibandingkan masih banyak yang kelaparan di luar sana.

Dari sini maka secara tidak langsung orang tua kita menanamkan karakter menghargai orang lain, pandai bersyukur, dan berbagi sejak kecil. Sehingga saat dewasa karakter social-religius anak terbentuk dengan baik karena sejak kecil sudah ditanamkan pondasi yang kuat.

Keempat, ungkapan “Nek maem kudu ditelasna ben ayame ora pada mati” sebagai orientasi hidup. Ungkapan yang adhiluhung ini mengandung nilai-nilai kearifan lokal yang relevan dengan nilai-nilai yang berkembang saat ini dan masa mendatang. Secara panjang akal, pitutur luhur diarahkan sebagai upaya pembentukan, pengembangan, peningkatan, pemeliharaan, dan perbaikan perilaku anak-anak agar mereka mampu melaksanakan tugas-tugas hidupnya secara selaras, serasi, dan seimbang.

Dengan pitutur luhur yang demikian diharapkan akan menjadi bekal bagi masa depan anak, sehingga dapat menjadi dasar dalam pengembangan kesantunan bermasyarakat. Sopan dalam bermasyarakat menunjukan tingkah laku yang berbudi. Santun dalam bermasyarakat menunjukkan tingkah laku yang beradab.*

*Mukhamad Hamid Samiaji – Pegiat Literasi, Mahasiswa S2 Pascasarjana Prodi PIAUD UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, & Penuli Buku Parenting dan Aktivitas Anak

 

sumber gambar : https://www.sittercity.com/parents/parenting-tips

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar