Kembangkan Karakter Lewat Pramuka Prasiaga PAUD

KEMENTERIAN Pendidikan dan Kebudayaan dalam Peringatan Hari Ulang Tahun Gerakan Pramuka Ke-58 tanggal 14 Agustus 2019,  bersama dengan Kwartir Nasional (Kwarnas) meluncurkan Pramuka Prasiaga PAUD sebagai upaya sejak usia dini menumbukan karakter, semangat nasionalisme, dan patriotisme generasi hebat anak Indonesia. Menurut rencana peresmian Pramuka Prasiaga akan dilakukan oleh Presiden Joko Widodo di Bumi Perkemahan Cibubur Jakarta Timur.

Pramuka Prasiaga PAUD merupakan salah satu konsep pendidikan yang berfungsi untuk membentuk siswa sebagai manusia Indonesia yang memiliki karakter yang  sangat baik diajarkan kepada  anak  sejak mereka berusia anak PAUD yaitu 3-7 tahun.  Kegiataan kepramukaan atau kepanduan tanah air didukung oleh pemerintah dengan dikeluarkannya Undang-Undang Pramuka tahun 2010 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tentang wajib pramuka dua jam per minggu. Pramuka juga sudah berdiri lama di Indonesia.

“Pramuka saat ini mulai berkembang seiring perkembangan zaman. Tingkatan awal pramuka yang mulanya hanya  empat tingkatan yaitu siaga, penggalang, penegak, dan pembina kini bertambah satu yaitu prasiaga. Prasiaga sesungguhnya sudah  diperkenalkan di Indonesia sejak tahun  2010 oleh Kwartir Nasional dan baru diterapkan di Jawa Barat sebagai uji coba. Kita harapkan Presiden dapat meresmikan Pramuka Prasiaga saat peringatan Hari Pramuka di Cibubur,” ujar Direktur Jenderal PAUD dan Dikmas, Ir. Harris Iskandar Ph.D.

Dalam peresmian nanti, sedikitnya 1000 anak PAUD dari Jabodetabek akan hadir di Cibubur bersuka ria bersama memperingati Hari Pramuka Nasional.  Target utama pramuka prasiaga adalah anak-anak di sekolah Pendidikan Anak Usia Dini dan Taman Kanak-Kanak. Tetapi dengan dukungan pemerintah saja ternyata bukan berarti materi pembelajaran yang diberikan dapat disampaikan dengan baik. Alat peraga yang seharusnya menjadi bagian dari proses pembelajaran bahkan tidak ada.

Padahal, alat peraga merupakan media pembelajaran yang baik dalam mengajarkan anak-anak terutama anak-anak di sekolah Pendidikan Anak Usia Dini atau Taman Kanak-kanak karena alat peraga dapat menarik perhatian dan minat mereka untuk belajar. Oleh karena itu, telah dipersiapkan adanya sebuah rancangan tentang media pembelajaran pramuka prasiaga, agar proses belajar mengajar menjadi lebih menyenangkan. 

Prinsip Dasar Kepramukaan 

Kepramukaan adalah proses pendidikan di luar lingkungan sekolah dan di luar lingkungan keluarga, dalam bentuk kegiatan menarik, menyenangkan, sehat, teratur, terarah, praktis, yang dilakukan di alam terbuka dengan prinsip dasar kepramukaan dan metode kepramukaan.   Direktur Jenderal PAUD dan Dikmas, Ir Harris Iskandar Ph.D. menjelaskan materi Pramuka Prasiaga PAUD yang diberikan untuk pramuka usia dini, berupa materi yang selayaknya diberikan untuk anak PAUD. Akan tetapi dalam hal ini, pemberi materi menyisipkan pengetahuan pramuka secara umum ke dalam materi yang biasa dilakukan. Misalnya sambil bermain  dengan mengajar anak menggambar, bertepuk tangan, bernyanyi, bermain kerjasama, dan media bermain lain yang dapat memperkenalkan anak pada pramuka. Pengenalan Pramuka pada anak usia dini yang meliputi sejumlah model ini ditujukan dalam memenuhi delapan kecerdasan anak usia dini dan perangsangan perkembangan motorik serta perkembangan kognitifi anak usia dini.

Metode pengenalan Pramuka dengan menggunakan lagu tentunya ditujukan untuk merangsang kecerdasan anak usia dini dalam menggunakan Bahasa pada setiap liriknya, merangsang kemampuan anak usia dini dalam menyanyikan lagu dan mendengarkan irama setiap liriknya, kemampuan dalam melakukan gerak tubuh yang dilakukan dengan gerak lagu, selain itu dalam lagu dapat diselipkan pengenalan angka pada lirik lagu.

 Pengenalan Pramuka dengan lagu dapat merangsang kecerdasan kognisi anak usia dini yang menirukan lirik lagu-lagu pramuka dan kemudian dapat tertanam pada anak usia dini tentang makna-makna lagu tersebut. Selain itu, perkembangan motorik kasar anak usia dini dapat terlatih ketika mendengarkan dan melakukan gerak lagu. Pengenalan Pramuka dengan menggunakan tepuk dapat merangsang kecerdasan gerak kinestetik anak melalui tepukan tangan yang berirama.

Tepuk Pramuka dapat pula menstimulasi  kecerdasan dalam mengenali angka. Selain itu, metode pengenalan dengan tepuk dapat merangsang perkembangan motorik kasar anak usia dini dan dapat mengembangkan kecerdasan kognitif melalui pola pikir yang statis.

Bentuk Karakter 

Gerakan Pramuka Indonesia adalah nama organisasi pendidikan nonformal yang menyelenggarakan pendidikan kepanduan di Indonesia. Kata "Pramuka" merupakan singkatan dari Praja Muda Karana, yang memiliki arti Jiwa Muda yang Suka Berkarya. Tapi sebelum singkatan ini ditetapkan, kata Pramuka asalnya diambil oleh Sultan Hamengkubuwono IX dari kata "Poromuko" yang berarti pasukan terdepan dalam perang.

Pramuka merupakan sebutan bagi anggota Gerakan Pramuka, yang meliputi; Pramuka Siaga (7-10 tahun), Pramuka Penggalang (11-15 tahun), Pramuka Penegak (16-20 tahun) dan Pramuka Pandega (21-25 tahun). Kelompok anggota yang lain yaitu Pembina Pramuka, Andalan Pramuka, Korps Pelatih Pramuka, Pamong Saka Pramuka, Staf Kwartir dan Majelis Pembimbing.

Pengembangan/pembentukan karakter bangsa merupakan fondasi bagi keberlanjutan hidup berbangsa dan bernegara dan harus dilakukan sedini mungkin. Secara empirik, Praja muda karana atau biasa disebut pramuka memiliki pengalaman yang cukup panjang dalam melaksanakan pendidikan karakter melalui pendekatan bermain.

Pendekatan tersebut sesuai dengan pendekatan pada pendidikan anak usia dini yang mengedepankan bermain sambil belajar dalam suasana yang menyenangkan. Oleh karena itu, sesungguhnya pembentukan karakter pada usia dini dapat dilakukan melalui pendekatan kepramukaan terhadap anak usia dini dalam bentuk Prasiaga.

Pengorganisasian  Prasiaga dalam rangka Penguatan Pendidikan Karakter bagi anak usia dini sekaligus menguatkan cinta tanah air, bangsa, dan bahasa Indonesia sejak usia dini. Diharapkan melalui pendidikan kepramukaan khususnya  prasiaga, anak-anak Indonesia pada saatnya akan menjadi warganegara Indonesia yang tangguh dan berbakti  pada nusa dan bangsa serta mampu menjadi duta persaudaraan dunia yang saling menguatkan dan saling menghormati  satu sama lain dalam pergaulan internasional.

Upaya sinergi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan Gerakan Pramuka, sudah dimulai  sejak  tahun  2013,  dengan  dibentuknya  Satuan  Karya  Widya  Budaya  BakTI pada  23 November 2013. Setelah pembentukan tersebut, kemudian dilanjutkan dengan penandatanganan Perjanjian Kerjasama antara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bersama dengan Gerakan Kwartir Nasional pada 6 Maret 2014.

Prasiaga merupakan solusi praktis bagi penyenggaraan Penguatan Pendidikan Karakter di satuan Pendidikan Anak Usia Dini dan di satuan komunitas Pramuka melalui pendekatan bermain. Hal ini sesuai dengan amanat PP No. 87 tahun 2017 pasal 1 butir 1 yang menyatakan bahwa Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) adalah gerakan pendidikan di bawah tanggung jawab satuan pendidikan untuk memperkuat karakter peserta didik melalui harmonisasi oleh hati, olah rasa, olah pikir, dan olah raga dengan pendekatan dan kerja sama antara satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat sebagai bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental. Selanjutnya PPK dilaksanakan dengan menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam pendidikan karakter terutama meliputi nilai-nilai religius, jujur, toleran, disiplin, bekerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan bertanggungjawab.

Pendidikan Anak Usia Dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir hingga usia enam tahun yang dilakukan melaui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak menjadi siap dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

Pendidikan anak usia dini diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar. Pendidikan anak usia dini diselenggarakan melalui jalur Pendidikan formal, nonformal, dan atau informal. Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal berbentuk Taman Kanak-kanak (TK), Raudatul Athfal (RA), atau bentuk lain yang sederajat.  Pendidikan anak usai dini pada jalur pendidikan nonformal berbentuk Kelompok Bermain (KB), Taman Penitipan Anak (TPA), atau bentuk lain yang sederajat. Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan informal berbentuk pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan.

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar