Tips untuk Meningkatkan Optimisme pada Anak

Anggunpaud – Mengajarkan anak untuk selalu optimis adalah mengajak anak untuk selalu berfikir positif dalam menghadapi kehidupan, namun seringkali kita sendiri ragu dan berfikir negative dalam menghadapi kehidupan padahal untuk mendidik anak menjadi optimis diawali dengan sikap kita sebagai orang tua untuk optimis juga dalam mendidik anak.

Hal ini sangat penting untuk meningkatkan perkembangan sosial dan emosional anak yang nantinya sangat berpengaruh juga untuk meningkatkan aspek- aspek perkembangan nilai agama, moral, bahasa, kognitif, fisik motorik dan seni yang sangat dibutuhkan dalam pendidikan anak usia dini. Menjadi seseorang yang selalu optimistis sangat penting dilakukan sejak anak usia dini.

Sikap optimisme sangat penting kita ajarkan kepada anak, karena dengan menanamkan jiwa yang selalu optimistis rasa percaya diri anak akan terbentuk dan akan mempermudah segala kegiatan dan aktifitas dalam menatap masa depan dan hari esok yang penuh dengan tantangan untuk menjadi lebih baik.

Ada beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk meningkatkan optimisme pada anak usia dini antara lain :

Pertama, Ajak Anak untuk selalu berfikir positif dan berhentilah untuk mengeluh atau berfikir negatif. Misalnya saat orangtua melihat anaknya sedang latihan naik sepeda dan belum bisa naik sepeda, stop untuk berkata, “kamu tidak akan pernah bisa naik sepeda” atau saat anak tidak mau makan sayur, “kamu itu selalu muntah kalau makan sayur.” Fokus pada pikiran negatif akan membentuk sikap pesimis yang sangat berbahaya bagi pertumbuhan dan perkembangan anak.

Semakin kita banyak mengeluh tentang kehidupan kita semakin besar kemungkinan anak-anak akan belajar dari sikap yang kita lakukan. Dorong anak untuk berfikir positif dengan cara selalu memberikan semangat. Misalnya, “Ayo terus berlatih naik sepeda, sebentar lagi pasti kamu bisa!” dan saat anak tidak mau makan sayur, berikan anak-anak kita motivasi, “Coba kue buatan bunda dari sayur ini, katanya Aira pengin cepat tinggi.” Anak-anak biasanya akan termotivasi bila kita selalu memberikan harapan dan solusi atas segala kegiatan yang membuat mereka kurang percaya diri.

Kedua, Mengajak anak mengenal tanggung jawab. Bimbing anak untuk bisa melakukan dan dapat membuktikan kalau mereka bisa bertanggung jawab. Misalnya dengan mengajak anak untuk membuat daftar tugas rutinitas sehari-hari di rumah. Misalnya sepulang sekolah buat daftar pekerjaan yang ditempel di tembok kamar mereka mengingatkan mereka untuk merapikan kamar, meletakkan tas, sepatu dan pakaian pada tempatnya.

“Mereka tidak diizinkan makan sampai mereka menyelesaikan semua pekerjaan mereka.” Hal ini selain dapat meringankan beban kerja kita sebagai orang tua juga dapat berakibat baik dan membuat anak bangga saat anak bisa melakukannya. Menurut Tamar Chansky, Ph.D., seorang psikolog anak dan penulis buku Freeing Your From From Negative Thinking, ”Mempercayakan anak-anak untuk menyelesaikan tugas membuat mereka merasa mampu.”

Pekerjaan harus sesuai usia, karena intinya adalah agar anak-anak berhasil. Seorang anak berusia 2 tahun dapat mengambil mainannya, seorang anak berusia 3 tahun dapat menaruh pakaian kotor di keranjang, seorang anak berusia 4 tahun dapat membawa piring ke wastafel, seorang anak berusia 5 tahun dapat mengosongkan keranjang sampah, dan seorang anak berusia 6 tahun dapat memilah cucian.

Ketiga, Dorong anak untuk berani mengambil risiko yang wajar. Biarkan anak kita bermain memilih permainan yang sudah disediakan tanpa kita sebagai pendamping. Seiring waktu, bangun risiko yang lebih besar, seperti berjalan di atas papan titian yang panjang atau pergi tidur sendiri dikamarnya. Dukung anak untuk tidak takut mencoba hal-hal baru.

Keempat, Beri kesempatan kepada anak untuk dapat menyelesaikan masalahnya sendiri. Saat kita mendengar sendiri anak diejek teman-temannya dengan julukan “Si hitam”, atau “Si Gendut” misalnya, biarkan anak untuk menyelesaikan sendiri dulu masalahnya. Bila anak terlihat sedih, beri pengertian kepada anak untuk bersikap biasa saja dan tidak menyuruh anak untuk membalas ejekannya. Tanamkan pada diri anak sikap tangguh dan tidak mudah terpengaruh dengan ejekan teman, karena dimanapun kita berada bisa saja akan terjadi suasana anak yang tidak baik, dan lain sebagainya.

Motivasi anak untuk bersikap biasa saja dan santun, tidak membalas ejekan teman. Bunda bisa membimbing anak untuk membalas perbuatan orang lain yang tidak baik kepada kita untuk dibalas dengan kebaikan. Yakinkan anak kalau Tuhan akan menambah setiap kebaikan yang kita berikan untuk orang lain dengan kebaikan yang lebih banyak lagi.

Kelima, Dukung usaha dan kerja keras anak kita. Ketika anak kita berkata “Aku tidak bisa menggambar bunda!”, “aku tidak bisa …” Cobalah untuk mengubah perspektif anak anda dengan berkata, “Menggambar sulit dipelajari pada awalnya,” atau “Bunda tahu, Ade belum bisa menggambar ” tapi dengan belajar untuk mencoba pada saatnya nanti akan bisa menggambar” dan biarkan dia tahu bahwa dia bukan satu-satunya yang belum bisa. Bantu dia tetap berharap dengan menyebutkan kelebihan lain yang bisa dia kerjakan

Keenam, Tetap nyata, ukur anak sesuai dengan kemampuannya. Tanamkan dalam diri anak untuk mau berjuang apabila ingin mendapatkan sesuatu. Tidak ada sang juara tanpa perjuangan, dan tanpa belajar setiap hari. Ketika suatu hari anak mengalami kegagalan, jangan biarkan dia larut dalam kesedihan atau lebih buruk lagi menyalahkan diri sendiri. Berikan motivasi dan semangat pada anak untuk memperbaiki kegagalan yang sudah berlalu dengan belajar untuk memperbaiki kesalahan. Tanamkan kepada anak kalau kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda. Ketujuh, Motivasi anak dengan kata-kata positif. Biasakanlah untuk memotivasi anak dengan kata-kata positif. Misalnya, “Ayo nak, kamu pasti bisa!”, “Akan selalu ada jalan, kalau mau berusaha!” “Semua butuh proses!” , “Tidak ada kata menyerah, lakukan!”, “Tuhan akan menolong hamba yang selalu bersungguh-sungguh dan berusaha keras”.

Kedelapan, Ajari anak untuk mengenal Tuhan lebih dekat. Mendidik anak untuk mengenal Tuhan lebih dekat dapat membuat anak mempunyai jiwa yang optimistis. Hal ini dapat dilakukan orang tua dengan mengajak anak untuk rajin beribadah, tanamkan keyakinan kepada Anak kalau Tuhan akan selalu bersama orang-orang yang selalu optimistis dan akan memudahkan orang-orang yang selalu optimistis dan bersemangat dalam kehidupan.

Demikianlah ayah bunda, beberapa hal di atas untuk meningkatkan optimisme pada anak dapat kita coba lakukan untuk anak-anak kita. dan yang terpenting adalah Semua hal di atas hendaknya kita lakukan dulu pada diri sendiri, karena sebagai orangtua, kita adalah teladan dan panutan untuk anak-anak kita. Mari kita siapkan anak-anak kita menjadi pribadi yang optimis menghadapi masa depan.*

*Siti Munfarijah, M.Pd Guru TK Diponegoro 146 Purwokerto Barat, Komunitas Penulis dari Wadas Kelir, Owner di TBM Mekar Ilmu Purwokerto Barat

sumber gambar : https://blog.compassion.com

Bagikan Artikel Ini

Komentar (1)

  • Hindun

    Luar biasa tulisan bu siti munfarijah

    2019-08-16 04:20:00

Silahkan Login untuk memberi komentar