Langkah Hebat Menyiapkan Anak Menjadi Pemimpin

AnggunPaud - Dalam setiap kelompok masyarakat, komunitas, maupun kelompok apa pun pasti terdapat seorang pemimpin. Pemimpin itu ada karena dipilih atau karena seleksi alam. Seseorang pemimpin terpilih karena usia, jenis kelamin, kekuatan fisik, kecerdasan, atau kharisma. Lepas dari bagaimana seorang pemimpin itu terpilih, yang pasti seorang pemimpin itu dibutuhkan, baik itu dalam sebuah kelompok kecil maupun kelompok besar.

Fungsi seorang pemimpin diantaranya adalah menjadi pelindung, pengatur, pencetus ide, penentu keputusan, dan berbagai fungsi lainnya. Tanpa pemimpin sebuah kelompok tidak akan bisa berjalan dan hidup. Oleh karena itu bagaimanapun lemahnya seorang pemimpin, tetap saja ia diperlukan keberadaannya.

Ada banyak teori tentang bagaimana seorang pemimpin itu terpilih. Namun pada dasarnya seorang pemimpin itu pun sesungguhnya sudah tersiapkan sejak awal. Tuhan telah memilihkan seorang pemimpin karena Tuhan tahu bahwa pemimpin adalah seorang yang dipilih karena kualitas. Oleh karena itu jika kita cermat mengamati, sesungguhnya ciri-ciri seorang pemimpin sudah tampak sejak anak-anak.

Cobalah sekali waktu kita amati anak-anak yang sedang bermain atau beraktifitas. Baik itu di kelas, di rumah, maupun di luar rumah saat bersama kelompok sebaya atau teman bermainnya. Ketika mereka tengah berkelompok, meskipun kelompok itu terbentuk secara spontanitas, namun tetap saja akan muncul seorang diantara mereka yang akan menjadi pemimpin. Artinya, secara alamiah seorang pemimpin akan muncul tanpa dirancang.

Munculnya pemimpin alamiah tersebut karena terpilih secara aklamasi tanpa proses berbelit yang dilakukan anak-anak lainnya. Terpilihnya pemimpin tersebut memang tampak secara cepat dan spontanitas, namun demikian tak berarti penentuan kepemimpinan itu dilakukan dengan tak berdasar. Sesungguhnya anggota kelompok akan memilih seorang pemimpin melalui pengamatan alamiahnya yang telah berlangsung cukup panjang.

Hanya saja proses pengamatan tersebut tak mereka sadari. Anak-anak yang dianggap memiliki penonjolan khusus itulah yang menjadikan teman-temannya mengikuti dirinya. Ada hal yang dianggap istimewa oleh anak-anak lain dari dirinya. Misalnya, dia pandai bicara, lebih kuat, lebih berani, cakap dalam memutuskan masalah, ramah, penyayang teman, baik hati, melindungi, dan penonjolan lainnya yang membuat anak lainnya suka atau percaya pada dirinya. Meski anak itu tak meminta untuk diikuti teman lainnya, namun tak tahu entah mengapa yang lainnya tetap terpengaruh.

Dalam kasus keseharian sering kita jumpai, ada seorang anak yang selalu dicari teman lainnya saat bermain. Mereka selalu tak bersemangat tanpa kehadiran anak tersebut. Oleh karenanya, anak itu selalu dicari. Mereka merasa senang ketika anak itu sudah ada dalam kelompoknya. Hal itu menjadikan dirinya selalu dibutuhkan keberadaannya dalam sebuah kelompok. Dan hal itu sesungguhnya merupakan indikasi kecil yang dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa anak tersebut berpotensi sebagi pemimpin.

Barangkali pernah juga kita jumpai ketika anak-anak sedang bermain. Ada seorang anak yang aktifitasnya selalu diikuti dan ditiru oleh teman lainnya. Bahkan ia selalu memiliki ide yang selalu diterima dan dilakukan oleh teman lainnya. Meski idenya itu sederhana namun tetap saja ia menjadi pengatur yang menonjol dibanding teman lainnya.

Inilah yang dimaksudkan kelebihan atau penonjolan secara alamiah yang dimiliki oleh seorang anak. Dan itulah yang sesungguhnya dapat disebut sebagai potensi. Meski tidak selamanya anak-anak yang memiliki penonjolan dalam kelompoknya kelak akan menjadi seorang pemimpin, namun demikian sesungguhnya sejak kecil anak-anak sudah berindikasi menjadi seorang pemimpin.

Demikian pula sebaliknya, tidak berarti anak-anak yang tak memiliki penonjolan tidak memiliki peluang untuk menjadi pemimpin. Semua anak memiliki peluang yang sama. Yang dibutuhkan adalah bimbingan dan pembinaan serta motivasi orangtua untuk mengembangkan jiwa kepemimpinan mereka. Kita tidak perlu berpikir terlalu jauh bahwa seorang pemimpin adalah mereka yang menjadi pejabat, melainkan berpikirlah bahwa setiap anak akan menjadi pemimpin dalam sekala sekecil apapun.

Lalu hal apa yang pelu kita lakukan untuk menyiapkan anak-anak menjadi seorang pemimpin? Berikut ini adalah hal yang perlu kita lakukan kepada anak-anak yang kelak akan menjadi pemimpin.

Pertama, amati potensi apa yang mereka miliki. Caranya bisa dengan mengamati perilaku kesehariannya baik di rumah ataupun di sekolah. Bagaimana sikapnya ketika mendapat tugas dari sekolah, dari orang lain, atau dari kita sendiri. Apa yang ia lakukan selama melaksanakan tugas dari kita? Bagaimana ia bisa membantu teman atau orang lain saat orang lain mengalami kesulitan. Ketika anak berada di rumah maka kita bisa mengamati sendiri secara langsung, tetapi saat mereka berada di sekolah, kita dapat meminta informasi kepada guru atau teman-temannya.

Kedua, kembangkan potensi yang dimilikinya itu. Jika kita sudah mengetahui potensi apa yang dimiliki anak-anak, maka tugas kita adalah membantu mengembangannya. Anak-anak yang kita ketahui memiliki kemampuan memimpin maka perlu kita arahkan mereka untuk menjadi seorang pemimpin. Tentu saja dengan pelatihan –pelatihan ringan. Kita tidak boleh melakukan latihan dan bimbingan terhadap potensi mereka dengan terlalu memaksakan. Sebab hal itu hanya akan menjadikan mereka tak nyaman atau bahkan mogok saja.

Ketiga, biasakan mereka diberi persoalan sederhana. Melatih anak untuk menjadi seorang pemimpin bukan berarti mereka akan mendapat gemblengan yang luar biasa. Membiasakan mereka bertanggungjawab selayaknya seorang pemimpin dimulai dari hal-hal sepele. Dengan memberikan persoalan-persoalan kecil dalam kehiduan sehari-hari bisa menjadikan anak-anak terlatih menjadi seorang pemimpin. Ajaklah anak-anak untuk berdiskusi, memecahkan persoalan sederhana, menangani masalah, atau mengambil keputusan. Ini sangat berguna bagi mereka untuk melatih diri menjadi seorang pemimpin. Ajaklah anak untuk membiasakan diri bertindak dan berlaku sebagaimana sifat-sifat seorang pemimpin yang baik agar mereka menjadi terbiasa.

Keempat, ceritakanlah tentang jiwa-jiwa kepemimpinan. Menceritakan jiwa-jiwa kepemimpinan kepada anak sangat perlu dilakukan. Anak-anak harus mengetahui jiwa dan sifat seorang pemimpin. Tujuannya adalah agar mereka tahu bagaimana seorang pemimpin harus memiliki perilaku dan sifat. Dari situ pula diharapkan anak akan kagum dan ingin menirunya.

Indra Zakaria dalam blognya (Indra Zakaria https//blog.talenta.co/development ) menuliskan ciri-ciri atau sifat pemimpin. Setidaknya ada empat ciri pemimpin yang bisa menjadi referensi pengamatan kita. Pertama seorang pemimpin umumnya mampu memimpin dirinya sendiri. Mungkin kita dapat memahami maknanya sendiri. Bahwa salah satu ciri pemimpin adalah bisa memimpin dirinya sendiri. Anak yang mampu melaksanakan tugasnya sendiri secara rutin dan disiplin dalam kegiatannya dapat dijadikan indikasi anak tersebut dapat memimpin sendiri.

Ciri berikutnya adalah anak kita bisa menjadi pendengar yang baik. Anak-anak yang taat dan perhatian ketika sedang dinasehati atau diberi pelajaran, mengindikasikan ada sifat kepemimpinan pada dirinya. Ketika anak bisa mendengarkan dengan sikap yang baik maka dia sesungguhnya tengah memimpin dirinya sekaligus belajar menjadi pemimpin bagi orang lain. 

Ciri yang lain yakni anak tersebut inovatif. Anak-anak yang memiliki jiwa kepemimpinan menurut Indra adalah memiliki ciri inovatif. . Anak-anak yang memiliki jiwa kepemimpinan biasanya lebih kreatif dan sering berinovasi dibandingkan dengan yang lain.

Indra juga menyebutkan ciri yang lain yakni; rendah hati. Jika perilaku rendah hati itu sudah tampak pada dirinya maka mungkin saja anak tersebut telah memiliki jiwa kepemimpinan yang baik. 

Kelima, berilah cerita/ kisah tentang para pemimpin besar. Menceritakan kisah para pemimpin besar baik yang ada di dunia, di negeri kita, bahkan di lingkungan sekitar mereka diyakini dapat memengaruhi pembentukan jiwa kepemimpinan pada anak-anak. Mereka yang biasa membaca buku atau mendengarkan kisah, sejarah, biografi, dan perihal para pemimpin, sesungguhnya secara tak langsung mereka tengah menyadap jiwa kepemimpinan itu. Setelah membaca, tentu ada hal yang dapat menarik mereka, sehingga ingin meneladaninya.

Dengan demikian maka usahakan anak-anak untuk dikenalkan dengan sejarah atau biografi para pemimpin. Melalui kegiatan membaca, mendengar, menonton film, atau kegiatan literasi para pemimpin dan tokoh, diharapkan anak-anak dapat membentuk jiwa kepemimpinan mereka.

Keenam, berikan motivasi kepadanya untuk menjadi pemimpin. Memang tidak menjadi keharusan anak-anak kita menjadi pemimpin, namun bukan berarti kita membiarkan mereka tumbuh seadanya. Tugas kita memang bukan untuk memaksakan mereka menjadi apa yang kita kehendaki. Tugas kita adalah mengetahui potensi mereka, mengembangkan dan mengarahkannya serta memotivasi. 

Dengan demikian anak-anak kita tetap bersemangat dan potensi mereka akan tumbuh secara optimal. Demikian beberapa hal yang perlu dilakukan orangtua terhadap anak-anak dalam hal memahami, menggali, mengembangkan dan memotivasi jiwa kepemimpinan anak-anak. Dengan memahami potensi mereka diharapkan dapat membantu mengoptimalkan pertumbuhan jiwa kepemimpinan mereka.*

*Penulis : Riyadi, Pendidik di SDN Pangebatan Kec Karanglewas, Banyumas, Penulis buku cerita anak dan parenting, Pegiat literasi di KOMPAK

sumber gambar :https://www.humanresourcesonline.net/children-can-teach-us-leadership

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar