Melatih Anak Menceritakan Kembali Cerita dari Guru

Anggun Paud - Bercerita merupakan kemampuan seseorang dalam mengungkapkan bahasa yang tumbuh dan berkembang sejak anak usia dini. kemampuan anak dalam bercerita tentunya tidak lepas dari peran guru, karena masa anak-anak pada umumnya akan meniru orang-orang disekitarnya dalam berbicara.

Pada masa inilah anak-anak mulai mencoba kemampuannya dalam bercerita melalui apa yang di dengar dan di lihatnya. Kemampuan anak dalam mendengarkan dan menceritakan kembali cerita secara urut merupakan suatu aspek pengembangan kemampuan berbahasa yang ada di pendidikan anak usia dini dengan tujuan agar anak dapat mendengarkan dan memahami kata dari kalimat sederhana dan dapat mengkomunikasikannya.

Berbicara merupakan salah satu kemampuan berbahasa pada anak untuk menyampaikan suatu keinginan kepada orang lain. Setiap anak mempunyai perkembangan yang berbeda-beda dalam berbicara dan berkomunikasi. Berbicara dapat diartikan sebagai salah satu keterampilan berbahasa dalam bentuk lisan.

Berbicara yaitu mengeluarkan suatu bunyi artikulasi atau kata untuk menyampaikan suatu hal kepada orang lain. Mendengarkan cerita bagi anak usia dini merupakan kegiatan yang menarik minat anak dan sangat di sukai. Namun kemampuan mendengarkan dan dapat menceritakan kembali cerita pada anak-anak perlu di latih sejak usia dini, sebab tidak semua anak mampu untuk mendengarkan dan menceritakan kembali cerita secara urut.

Melatih anak agar dapat bercerita di hadapan teman-temannya , dapat kita latih sejak usia dini. Berikut ini ada beberapa tips yang dapat dilakukan orangtua atau guru agar anak termotivasi dan percaya diri untuk mendengarkan dan menceritakan kembali cerita yang didengar.

Pertama, Bantu anak agar dapat memilih cerita yang akan kita bawakan. Guru/orang tua dapat memberikan alternatif dari dua buah cerita dengan bantuan media berupa buku atau gambar seri dan anak diminta untuk memilih satu diantara dua cerita yang kita sediakan. Dengan memilih cerita yang akan diceritakan diharapkan anak akan dengan antusias menyimak cerita yang akan kita bawakan.

Kedua, Guru mengatur suasana tempat dimana akan bercerita. Guru dapat memilih tempat dengan suasana dimana anak dapat dengan nyaman mendengarkan cerita yang akan kita bawakan. Hal ini bisa dilakukan guru dengan setting tempat duduk melingkar tidak jauh dari orangtua/guru yang akan membawakan cerita.

Ketiga, Sampaikan maksud dan tujuan guru bercerita. Agar anak mengetahui apa yang akan diceritakan guru harus di dengarkan dan di simak. Anakpun akan lebih antusias untuk mendengarkan cerita dari Guru. cerita yang menarik sebelumnya disiapkan guru untuk cerita yang didalamnya ada tokoh cerita, ada setting atau tempat terjadinya peristiwa, ada dialog yang terjadi antar karakter dalam cerita da nada plot cerita atau alur cerita yang menarik.

Keempat, Guru mengawali cerita dengan suasana senang sehingga anak mau menyimak apa yang akan guru ceritakan. Guru dapat mengajak anak bercakap-cakap di awal cerita dengan mengkaitkan cerita yang akan diceritakan dengan kehidupan nyata yang ada disekitar mereka. Misalnya, “Anak-anak hari ini ibu akan bercerita tentang ayam”, “siapa yang memelihara ayam dirumah?” Guru dan anak mengajak bercakap-cakap terlebih dahulu dan buat suasana senang.

Kelima, Sebelum masuk ke inti, guru bisa memberi reward. Agar anak antusias mendengarkan dan menyimak cerita yang akan kita bawakan. Misalnya, “Anak-anak, siapa yang mau mendengarkan cerita guru sampai selesai dan dapat menceritakan kembali cerita bu guru, akan bu guru kasih hadiah!” jadi sekarang dengarkan bu guru baik-baik ya!” ajak bu guru.

Keenam, Bawakan cerita dengan bahasa yang jelas dan intonasi suara menarik. Guru bisa mencontohkan gerak tubuh yang ekpresif, Guru menguasai bahasa yang bervariasi dan dapat masuk ke dalam berbagai peran dalam cerita yang dibawakan. Misalnya cerita tentang Kelinci dan Kucing, Berarti guru harus bisa memerankan kucing dan kelinci dengan suara yang berbeda. Bahasa yang jelas bisa berupa kalimat yang pendek dan berulang. Guru dapat menggunakan alat peraga baik buku cerita berseri, maupun alat peraga boneka atau benda-benda yang bisa digunakan untuk bercerita, sehingga anak senang mendengarkan dan menyimak cerita kita.

]Ketujuh, Lakukan sesekali kontak mata dengan anak. Upayakan untuk selalu memusatkan perhatian anak kepada apa yang kita ceritakan. Atur waktu bercerita agar tidak terlalu lama. Terlalu lama waktu bercerita dengan alur yang tidak jelas akan membosankan bagi anak, karena konsentrasi anak tidak lebih dari sepuluh menit.

Kedelapan, Diakhir cerita sampakan pesan-pesan moral. Pesan moral yang bisa dikaitkan dengan kehidupan sosial anak sehingga anak dapat mengambil pesan dari cerita yang kita sampaikan.

Kesembilan, Ajak anak untuk mengulang cerita yang sudah di dengar dengan bernyanyi. Guru bisa merangkai kalimat dalam buku cerita dengan nada irama. Karena dengan bernyanyi, akan mempermudah anak untuk dapat menceritakan kembali cerita dari guru. Kesepuluh, Ajak anak untuk menyimpulkan cerita guru dengan mengetahui bagian awal, bagian tengah/inti dan bagian akhir dari cerita dengan menggunakan alat peraga yang ditempel dipapan planel atau boneka dari stik es krim. Bisa juga dengan membuat catatan temple yang berisi ringkasan cerita di bagian awal, tengah dan bagian akhir.

Kesebelas, Guru dapat mendorong anak untuk menjawab pertanyaan tentang apa judul cerita tadi? Siapa saja tokoh yang ada dalam cerita? Apa yang dilakukan sang tokoh? Bagaimana cerita itu dan kapan cerita berlangsung? Dengan memberikan pertanyaan – pertanyaan itu dapat mendorong anak untuk mengingat kembali cerita yang baru di dengarnya.

Keduabelas, Guru dapat memberikan kesempatan kepada anak untuk dapat mengemukakan pendapat. Biarkan anak mengemukakan tentang cerita yang ia dengar dan menghargai pendapat anak agar anak bisa tampil percaya diri saat bercerita di depan teman-temannya. Disamping cara-cara di atas peran orangtua dirumah dalam lingkungan keseharian juga penting untuk dapat melatih anak pandai bercerita. Hal ini bisa dilakukan orangtua dirumah dengan sering mengajak anak bertanya jawab tentang keseharian anak di sekolah. Misalnya orangtua bisa menanyakan kepada anak setiap pulang sekolah, “Apa yang Ade kerjakan di sekolah tadi ?”. Dengan menanyakan hal tersebut dapat meningkatkan daya ingat anak dan melatih anak untuk dapat bercerita.

Jangan ragu untuk mengoreksi kalimat yang anak ucapkan apabila dalam mengungkapkan kalimat masih belum benar. Perbaiki kalimat yang diucapkan dan minta anak untuk mengulang kalimat yang benar dari kalimat yang diucapkan anak. Selamat Mencoba !*

*Siti Munfarijah, M.Pd Kepala TK Diponegoro 146 Purwokerto Komunitas Penulis Wadas Kelir

sumber gambar : https://www.123rf.com/photo_7334659_girl-telling-stories-in-the-park.html

Bagikan Artikel Ini

Komentar (1)

  • Endang Yanuartini Rahayu

    Terima kasih artikel ini sangat membantu dalam cara mengajar anak usia dini ...

    2019-09-10 23:44:00

Silahkan Login untuk memberi komentar