Mengenal Sistem Memori bagi Pertumbuhan Anak

AnggunPaud - “Ayah itu apa ya?” tanya adik. “Itu namanya pompa angin, alat untuk membantu manghasilkan angin untuk ban atau lainnya. Ayah sepertinya sudah memberitahunya kemarin.” Barang kali sering di antara kita mendengar anak kecil mengulang-ulang pertanyaannya. Dan anehnya kita merasa sudah pernah memberitahukan kepada anak tersebut. Namun, tidak lama ternyata anak lupa tentang hal tersebut.

Guru yang mengajar pun mungkin demikian sering menjumpai anak-anak peserta didiknya sering lupa tentang materi yang sudah diajarkan. Bagaimana pun, anak-anak adalah konsumen yang masih membutuhkan pelajaran-pelajaran. Orang tua atau guru adalah produsen yang akan mentransfer materi dan pengajaran kepada anak. Anak-anak masih belum memiliki daya kreativitas agar apa yang disampaikan mudah diingat seperti berinisiatif untuk mengulang-ulang pemahaman yang memang harus ia ingat.

Kebutuhan belajar anak inilah yang mungkin harus direspon orang tua atau guru untuk dapat meningkat dan berkembang baik. Peningkatan memori berkaitan erat dengan bagaimana anak dapat belajar dengan baik. Di sinilah salah satu inti perkembangan kognitif adalah memori. Memori memungkinkan anak menyimpan informasi sepanjang waktu.

Tanpa memori, mustahil individu dapat merefleksikan dirinya sendiri, pemahaman diri sangat bergantung pada kesadaran yang berkisanmbungan yang hanya terlaksana dengan adanya memori. Memori terus bekerja dengan ditunjukkan dari aktivitas yang dilakukan, diucapkan dan diutarakan. Apa itu memori?

Suharnan menyebutkan bahwa memori adalah ingatan yang menunjuk pada proses penyimpanan atau pemeliharaan informasi sepanjang waktu. Sedikit lebih baik dari apa yang didefinisikan oleh Santrock yang memberikan pengertian memori sebagai retensi (ingatan) informasi dari waktu ke waktu, dengan melibatkan encoding (pengkodean), storage (penyimpanan), dan retrieval (pengambilan kembali).

Demikian besarnya peranan memori bagi kehidupan manusia, maka tidak berlebihan kalau sejumlah besar ahli psikologi menempatkan memori sebagai aspek yang sangat penting dalam proses kognitif manusia. Dalam model yang dikemukakan Atkinson dan Shifrin, bahwa setidaknya manusia memiliki tiga tipe sistem memori, yaitu memori indrawi (sensory memory), memori jangka pendek (short-term memory), dan memori jangka panjang (long-term memory).

Pertama, memori indrawi (sensory memory). Manusia memiliki komponen sistem indrawi seperti melihat, mendengar, merasakan dan mencium. Aktivitas komponen inilah yang kemudian mencatat secara indrawi dengan hanya tempo sekitar seperempat detik. Meskipun begitu, sebenarnya kita memiliki kesempatan dalam menyeleksi informasi guna pemrosesan lebih lanjut. Dengan singkatnya pencatatatan indrawi ini maka kita perlu memaknai, mengorganisasikan dan mempersepsikan. Anak-anak dalam perkembangannya dasarnya tentu masih menggunakan memori indrawi dalam proses interaksinya. Perhatian anak belum memiliki fokus utama. Di sinilah atensi anak masih patuh terhadap orang tua. Anak-anak kecil pada umumnya tentu belum dapat mengorganisasikan atau mempersepsi makna yang didapatnya baik dari penglihatan, pendengaran dan lainnya. Memori indrawi anak masih didasarkan pada pengalaman yang dilihatnya oleh orang tua di dalam keluarga.

Kedua, memori jangka pendek. Memori jangka pendek memiliki kapasitas yang lebih banyak dengan tempo sekitar 30 detik., kecuali informasi tersebut diulangi atau diproses lebih lanjut sehingga dapat bertahan lama. Di sinilah sebenarnya, proses atensi mulai berjalan dengan baik. memori indrawi yang dilakukan anak perlu mendapat atensi dan filter dengan dilakukan proses memilah informasi yang paling baik bagi anak.

Ketiga, memori jangka panjang. Kemampuan memori jangka panjang banyak dilakukan dengan proses latihan dan strategi yang cukup terelaborasi. Tidak heran, beberapa anak kecil ada yang dapat menghafal Al-Qur’an hingga 30 Juz dan sebagian lagi hanya 5-10 Juz bahkan ada yang belum dapat menghafalnya. Pada memori jangka panjang inilah atensi cukup besar diberikan pada hal tertentu dan menfokuskannya dengan baik. Di sinilah pentingnya orang tua dalam membimbing anak untuk meningkatkan memorinya sejak kecil. Interaksi yang dilakukan anak tentulah mula-mula berkat ingatan indrawi yang dilakukannya di dalam keluarga. Itulah sebabnya karakter dan kepribadian anak juga melibatkan memori yang didapatkan pada anak. Pengalaman anak atas apa yang diberikan orang tua menjadi bekalnya dalam menghadapi beragam persoalan hidup anak. Memori yang baik tentu dapat memilah untuk memunculkan sikap dan tindakan yang baik. Orang tua tentu menginginkan agar anaknya dapat belajar dengan efektif. Dengan menumbuhkan memori jangka panjang. Hal ini sangat bermanfaat bagi anak.

Proses informasi yang masuk dalam dunia anak terjadi dengan beberapa tahap yang memungkinkan pemrosesan tersebut menjadi aktivitas atau tindakan. Tentu hal ini sangat bermanfaat bagi anak. Menurut Robert Siegler (1998) ada tiga karakteristik utama dari pendekatan pemrosesan informasi

Pertama, proses berpikir. Informasi yang menekankan daya kognitif masuk ke dalam pikiran. Di sinilah anak mendapatkan tahap awal dalam mendapatkan pengetahuan yang kompleks. Pemrosesan informasi ini akan memberikan banyak pengalaman berpikir dan proses berpikir ini membuat anak banyak memiliki pertimbangan atau keputusan yang sesuai dengan keinginan.

Kedua, mekanisme pengubah. Data informasi yang tersimpan dalam diri anak memberikan pertimbangan khusus bagi anak. Anak memiliki daya kontrol lebih dari apa yang diperolehnya dari data informasi yang dimiliki. Di sini anak mulai mengembangkan kapasitas informasi dengan kemampuan membangun kombinasi-kombinasi pengetahuan yang ada.

Ketiga, modifikasi diri. Anak tentu bukanlah mesin yang dapat memberikan respon terhadap stimulus secara otomatis. Sebaliknya, bagi anak informasi atau stimulus harus terlebih dahulu melewati serangkaian proses kognitif yang kompleks yang melibatkan seluruh dimensi kepribadiannya. Pentingnya mengenal sistem memori bagi pertumbuhan anak memberikan petunjuk bagi orang tua agar dapat mengarahkan anak pada kondisi dan pilihan terbaik.

Orang tua sebagai orang dewasa bertanggung jawab dalam memberikan dan mengarahkan untuk memperoleh pengalaman dan pelajaran yang baik. Aktivitas belajar yang dilakukan anak setiap hari dengan pendampingan orang tua mesti memberikan dampak positif bagi anak. Memori sebagai salah satu perkembangan inti anak memberikan kesempatan bagi orang tua untuk membangun pengalaman-pengalaman positif untuk anak.

Pengalaman-pengalaman positif anak ini akan menjadi kombinasi-kombinasi pengetahuan yang memungkinkan dapat dimunculkan kembali sebagai bekal pertumbuhan kepribadian bagi anak. Pertumbuhan kepribadian ini turut didorong dari memori yang tersimpan di dalam diri anak. Di sinilah orang tua sebaiknya memastikan anak menyimpan memori yang memiliki dampak positif untuk kepribadian anak.

sumber gambar :https://mommybites.com

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar