Ajari Anak Peduli Lingkungan

AnggunPaud - Menanamkan rasa empati pada anak tidak hanya sebatas berempati kepada orang lain saja. Menanamkan rasa empati terhadap sesama makhluk ciptaan Tuhan juga penting dijadikan sebagai pondasi pada diri anak kita. Setiap orangtua tentu ingin anaknya memiliki rasa dan sikap peduli baik kepada sesama manusia maupun kepada sesama makhluk ciptaan Tuhan.

Dalam hal ini orang tua berperan penting agar rasa cinta terhadap lingkungan bisa tertanam di dalam diri anak kita. Rasa cinta terhadap lingkungan tidak akan tumbuh begitu saja dalam diri anak tanpa ada pengenalan dari orang tuanya. Anak tidak akan tahu jika membuang sampah di tempatnya adalah hal yang baik jika orang tua tidak memberikan contoh terlebih dahulu. Tak hanya memberi contoh saja, melibatkan anak dalam aktivitas kita sehari-hari juga bisa menjadi tempat belajar anak mencintai lingkungannya, khususnya lingkungan tempat tinggal.

Berikut ini beberapa aktivitas yang dapat dilakukan bersama anak dalam rangka melatih anak peduli lingkungan.

Membiarkan Anak Ikut Membereskan Rumah. Rumah sebagai tempat tinggal bersama akan lebih nyaman jika dalam keadaan bersih dan rapi. Setiap pagi saya berusaha untuk selalu menyapu dan mengepel rumah agar saya dan anak saya nyaman saat bermain di lantai. Saat menyapu, saya selalu mengambil dua buah sapu. Satu sapu saya gunakan sendiri dan satu sapu yang lain saya berikan pada anak saya yang masih berusia dua tahun. Saya merasa senang saat anak saya ikut - ikutan menyapu dan bergaya seperti saya. Meskipun terkadang harus membuat saya bekerja dua kali karena ada sampah yang tertinggal. Namun itu tidak membuat saya lelah. Karena saya melihat keceriaan serta antusiasme anak saya dalam menyapu.

Sesuai menyapu, saya kemudian mengepel lantai rumah. Itu pun saya lakukan bersama anak saya. Saya biasa menggendongnya karena menjaganya agar tidak terpeleset. Biasanya saya membiarkan anak saya memercikkan air pel, lalu saya yang akan mengeringkan dengan kain pel. Hampir setiap pagi saya melakukan aktivitas ini di rumah bersama anak saya. Tak hanya menyapu dan mengepel, hal sederhana lain yang bisa bunda dan ayah lakukan di rumah bersama anak misalnya mengelap jendela, merapikan kamar tidur, merapikan baju dalam lemari dan lain sebagainya. Dengan tujuan agar melatih anak kita untuk peduli terhadap lingkungan tempat tinggalnya.

Mengajak Anak Berkebun Berkebun umumnya dilakukan oleh orang dewasa. Namun tak ada salahnya anak - anak usia dini juga ikut andil melakukannya. Setiap sore ibu saya selalu mengajak anak saya menyiram beberapa tanaman dalam pot di samping rumah. Ibu saya membawa ember berisi air, sedangkan anak saya membawa dua gayung kecil dengan semangat. Lalu mereka bersama - sama menyirami semua tanaman dalam pot itu. Tak hanya menyiram tanaman, saya pun sering mengajak anak saya mencabuti rumput di halaman rumah kami. Bagi saya dan anak saya kegiatan ini sangat asyik untuk dilakukan.

Selain halaman rumah kami menjadi bersih, saya dan anak saya senang karena dapat bercanda tawa berdua. Dari kegiatan ini selain melatih anak saya untuk peduli terhadap lingkungan sekitar rumah, secara tak langsung pula telah mengajarkan anak saya untuk berlatih kerjasama. Melatih Anak Mengelompokkan Sampah Seperti yang kita tahu, sampah dikelompokkan dalam sampah organik dan non organik. Kita sebagai orang tua perlu memberi contoh pada anak agar dapat membedakannya. Misalnya kita sediakan dua tempat sampah. Tempat sampah pertama kita beri gambar daun sedangkan satu lagi kita beri gambar botol.

Anak usia dini sekali pun akan paham jika ia melihat gambar tersebut. Kemudian kita dapat katakan pada anak kita "Nak, tempat sampah yang bergambar botol itu untuk sampah berbahan plastik. Sampah plastik itu bisa kita gunakan untuk membuat mainan lho!" Dari kebiasaan ini diharapkan dapat melatih anak kita untuk bisa mengelompokkan dan mengolah sampah dengan baik. Sehingga kepedulian terhadap lingkungan sekitar tempat tinggalnya semakin terasah.

Menghabiskan waktu luang bersama anak tak harus dengan pergi keluar rumah. Kita juga bisa menghabiskan waktu libur bersama anak dengan membuat mainan. Setelah anak belajar mengelompokkan sampah, tentu akan terkumpul sampah - sampah non organik. Kita bisa gunakan sampah - sampah itu untuk membuat mainan bersama anak diwaktu luang. Misalnya kita bisa membuat celengan koin dari bekas botol sampo. Membuat mobil - mobilan dari botol bekas air mineral. Atau kita juga bisa membuat pot bunga dari kaleng minuman bekas. Selain dapat mengasah kreativitas anak, aktivitas ini juga menjadi ajang bagi anak untuk bisa peduli terhadap lingkungannya.

Pembiasaan Menghemat Listrik dan Air. Saya sudah membiasakan anak saya untuk berhemat listrik dan air. Setiap malam hari sebelum tidur, saya selalu meminta anak saya untuk menyalakan saklar listrik. Ketika pagi hari, saya pun meminta anak saya untuk mematikan saklar lamu kamar. Hal ini sebagai bentuk agar anak bisa berlatih peduli lingkungan dengan mengenalkan budaya menghemat listrik sejak usia dini. Tak hanya kebiasaan mematika saklar saja, saya juga membiasakan anak saya untuk menyalakan kran air sebelum mandi dan memintanya untuk mematika kran saat dia sudah selesai mandi. Ini saya lakukan rutin setiap saya hendak memandikan anak saya. Hal ini pula menjadi cara agar anak peduli lingkungan dengan menghemat air.

Ajak Anak Bermain Outbound Dalam permainan outbound yang dilakukan di luar ruangan, tentu dapat mengenalkan anak kita pada alam terbuka. Melakukan permainan di alam terbuka menjadi cara jitu untuk mengasah rasa cinta anak pada lingkungan yang lebih luas. Di alam terbuka anak - anak dapat mengenal berbagai macam tumbuhan mulai dari aneka pepohon, aneka bunga serta aneka satwa yang tidak mereka jumpai di sekitar rumah. Saat berada di alam terbuka, kita bisa meminta anak untuk mengumpulkan daun - daun kering yang jatuh di tanah. Dari kegiatan ini kita melatih anak kita untuk bisa menjaga alam mulai dari hal terkecil.

Ajak Anak Ikut Kerja Bakti Lingkungan Setiap satu bulan sekali, di tingkat RT selalu diadakan kerja bakti. Mulai dari membersihkan pos ronda, membersihkan saluran air dan membersihkan lingkungan sekitar tempat tinggal masing - masing. Terkadang saya mengajak anak saya untuk ikut dalam kerja bakti tersebut. Biasanya saya mengajak anak saya untuk mencabuti rumput atau memunguti sampah plastik yang berceceran di sekitar rumah. Meskipun saya tidak selalu mengajak anak saya ikut kerja bakti, namun itu cukup untuk mendidik anak saya agar bisa merawat lingkungan dengan baik.

Memberi Makanan Pada Hewan Di sekitar rumah saya banyak kucing liar. Setiap pagi kucing itu selalu duduk di depan pintu rumah saya. Jika ada tulang sisa makanan atau kepala ikan, saya selalu berikan pada kucing liar itu. Setiap memberikan makanan pada kucing, saya selalu menggendong anak saya yang berusia dua tahun itu. Tujuannya agar dia melihat dan tahu bahwa hewan pun butuh makan. Tak hanya pada kucing liar saja, saya pun suka memberi makan nasi sisa di rumah untuk ayam tetangga yang biasa berkeliaran di halaman rumah saya.

Saya juga mengajak anak saya untuk memberi makanan pada ayam - ayam itu. Dari raut wajah anak saya, ia terlihat senang melihat ayam - ayam yang makan dengan lahapnya. Memberi makan pada hewan juga bisa kita lakukan d saat berada di kebun binatang. Jika kita memiliki rezeki yang lebih, kita bisa sesekali mengajak anak untuk rekreasi. Salah satunya berekreasi ke kebun binatang. Biasanya di kebun binatang disediakan makanan untuk satwa yang ada. Kita bisa membeli makanan untuk satwa tersebut lalu meminta anak memberi makanan pada hewan yang ada di sana. Dalam aktivitas ini orang tua wajib mendampingi anak. Selain untuk belajar mengenal aneka satwa liar yang ada di hutan, anak juga bisa belajar untuk mengasihi sesama makhluk ciptaan Tuhan.

Menumbuhkan rasa peduli pada lingkungan di dalam diri seorang anak merupakan tanggung jawab kita sebagai orang tua. Tujuannya agar anak - anak kita kelak bisa tumbuh menjadi anak yang cinta lingkungan, cinta sesama makhluk ciptaan Tuhan dan bisa menjaga alam agar tetap asri.

 

sumber gambar : https://www.iamgreenwise.com/environment-and-kids/

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar