Mengenal Perilaku Separation Anxiety Syndrome (SAD) pada Anak

AnggunPaud - “Ibu…di sini saja sama Azka. Jangan pergi kemana-mana!” rengek Azka pada ibunya. Sudah semester pertama ini di sekolah Azka terus merengek supaya ditunggu ibunya dan tak mau ditinggal. Bahkan ibunya disuruh ikut ke dalam kelas hingga pelajaran usai. Azka akan khawatir saat ibunya hilang dari pandangannya, bahkan hanya sekadar ibunya ingin ke kamar mandi.

Berbeda dengan anak lain seusianya yang telah mandiri sekolah tanpa ditunggu orang tua. Bagaimana Bunda? Apakah pernah mengalami momen si kecil nempel terus kaya perangko dan tidak bisa kehilangan pandang dari bunda sedetik pun? Perasaan sulit berpisah atau tak mau ditinggal ini dalam psikologi disebut Separation Anxiety.

Ternyata perasaan anak seperti ini dikatakan normal. Separation Anxiety merupakan tahapan dalam pertumbuhan si kecil. Biasanya, sikap ini akan muncul sejak bayi berumur kurang dari satu tahun dan bahkan akan terus ada atau muncul kembali diusianya yang keempat. Namun, setiap anak akan memiliki intensitas reaksi yang berbeda. Jadi tak heran jika anak kita berbeda dengan yang lainnya. Yang patut diwaspadai adalah Separation Anxiety yang tidak mau hilang meski sudah memasuki usia sekolah, meskipun kita sudah berusaha membuatnya mandiri. Jika Separation Anxiety ini sudah mengganggu kehidupan sekolah dan persahabatannya serta bertahan selama berbulan-bulan, kita perlu waspada apakah anak kita terdiagnosa Separation Anxiety Syndrome (SAD).

Berikut tips mengurangi Separation Anxiety Syndrome (SAD) pada anak usia sekolah.

Pertama, mintalah pengertian pada sekolah tentang SAD yang dialami si kecil. Saat anak mengalami SAD tentu bukan dengan cara kita langsung menyerahkan ke guru, karena bisa jadi anak palah badmood seharian di sekolah. Namun, mintalah pengertian sekolah atas sikap anak kita, misalnya dengan meminta izin untuk memberi waktu briefing perpisahan dengan anak. Atau jika orang tua tidak bisa mengantar, mintalah waktu untuk terlambat datang karena butuh waktu untuk anak berpisah dengan orang tuanya. Hal ini karena, sekolah merupakan dunia baru baginya. Guru yang belum di kenalnya serta teman-teman dan lingkungan yang ramai terkadang membuat anak kurang nyaman. Oleh karena itu, butuh waktu untuk anak mengenal lingkungan barunya di sekolah. Komunikasi orang tua yang baik dengan sekolah akan terjalin kerjas ama yang baik untuk perkembangan anak.

Kedua, Izinkan si kecil untuk menghubungi rumah atau keluarga. Saat level stress anak tinggi dan sampai mengalami tantrum dekati dan peluklah. Biarkan anak menangis dan alihkan pada hal yang anak sukai. Namun, jika anak terus menangis dan bahkan meminta pulang. Cobalah untuk menghubungi orang tuanya melalui telepon singkat. Mintalah orang tua anak untuk menenangkan dan memotivasinya untuk bisa tenang. Dengan komunikasi meski singkat ini akan membuat anak merasa aman.

Ketiga, Siapkan notes di dalam tasnya untuk si kecil. Saat si kecil sudah bisa membaca, orang tua bisa menyelipkan notes (catatan kecil) yang berisi motivasi untuk anak dapat mandiri dan menikmati suasana yang menyenangkan di sekolah. Pastikan notes-nya ditaruh ditempat yang mudah dilihat anak. Misalnya diselipkan di tempat makan anak, di tempat pensil, atau di buku tulisnya. Bisa juga dengan menggunakan notes yang bergambar lucu atau orang tua bisa mengkreasikan sendiri bentuk notesnya dengan berbagai karakter lucu. Hal ini bisa menjadi kesan tersendiri saat anak membacanya dan anak akan merasa tenang karena orang tuanya hadir dalam bentuk notes itu.

Keempat, lakukanlah refleksi. Sepulang anak sekolah, sembari ia beristirahat dan makan siang ajaklah anak untuk melakukan refleksi. Berilah pertanyaan sederhana, misalnya “tadi di sekolah kegiatannya apa? Apakah kamu bisa mengikutinya dengan baik hari ini?” Pertanyaan sederhana seperti ini dapat memancing anak untuk mengatakan perasaannya. Saat anak mengatakan ada masalah di sekolah coba diskusikan bagaimana masalahnya dan diskusikan solusinya bersama anak. Hal ini supaya anak memahami hubungan sebab akibat, kalau anak baik pasti ibu akan senang atau kalau anak baik pasti ibu guru dan teman-teman akan senang. lakukanlah refleksi setiap hari secara rutin saat anak pulang sekolah. Dengan refleksi, perlahan-lahan anak akan lebih memahami pentingnya kemandirian di sekolah dan mengurangi Separation Anxiety Syndrome (SAD).

Kelima Berikan hadiah atas usahanya. Hadiah tidak melulu soal materi. Tetapi orang tua bisa memberikan hadiah secara sederhana melalui pujian. Atau bisa juga dengan dikemas lebih menarik yaitu dengan stiker karater lucu yang anak sukai. Orang tua juga bisa membuat sendiri stikernya dengan kertas lipat yang dipotong gambar karakter atau dengan mencetak sendiri gambar yang bisa didownload di internet. Supaya lebih semangat, stiker bisa bernilai poin, misalnya saat anak bisa mandiri sekolah tanpa ditunggu dalam tiga hari bisa ditukar dengan hadiah yang menarik. Sistem poin stiker bisa dilakukan secara bertingkat, semakin lama anak mandiri semakin besar hadiahnya. Hal ini supaya anak terdorong untuk terus melakukannya.

Keenam. Lakukan permainan yang membutuhkan perpisahan. Misalnya permainan petak umpet dan mencari harta karun. Permainan ini mengharuskan anak mencari kita atau benda yang tersembunyi. Dari sinilah anak akan berpikir bahwa ternyata meskipun kita tidak kelihatan pun, anak tidak perlu merasa cemas. Karena sesungguhnya kita ada. Seiring berjalannya waktu, dengan alami kemandirian anak pun akan mulai berkembang. Mulailah dengan waktu yang pendek dulu, karena jika langsung memulai dengan waktu yang lama anak justru akan semakin cemas. Ketujuh. Seringlah mengajak anak bertemu dengan orang lain. Cobalah ajak anak untuk jalan-jalan santai di kompleks rumah, taman bermain, supermarket, pasar dan lain-lain. Ajaklah ia untuk mengamati kehidupan teman-teman sebayanya yang lebih independen. Cobalah untuk berdialog dengannya, “Azka, seru yang bisa bermain pasir sendiri di taman.”, namun yang perlu diingat adalah jangan mencoba untuk membandingkan anak dengan temannya.

Peran guru serta orang tua dalam memahami Separation Anxiety Syndrome (SAD) anak sangatlah penting. Dengan melakukan tips sederhana di atas dengan anak akan mandiri secara bertahap. Karena memang butuh waktu untuk anak dapat dengan mudah mengenal lingkungan sekolahnya yang serba baru dan berbeda dengan lingkungan rumah.*

*(MUNASIROH-Relawan Pustaka Wadas Kelir dan Guru di SD NU Master Sokaraja)

sumber gambar : https://www.whattoexpect.com

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar