Meningkatkan Rasa Pemenuhan Diri Anak

AnggunPaud - Dafi bangun pagi sekali dan menghampiri ayahnya yang sedang menyiram tanaman di depan rumahnya. “Yah, jogging yuk?” pinta Dafi. “Yuk, ayah siap-siap dulu yah.” “Ayah, ayo cepetan. Dafi pengen tanding lari sama ayah.” tantang Dafi bersemangat. Tak biasanya Dafi mengajak ayahnya jogging di pagi hari. Bahkan ia mengajak ayahnya untuk tanding lari.

Baru beberapa meter ayah terlihat ngos-ngosan dan Dafi lari dengan gesitnya. Kini tiap pagi ayah selalu bangun gasik, dan mengajak ayah berlari sebelum beraktivitas. Sepulang ayah dari kantor Dafi menghampiri dan memeluk ayahnya. “Yah, tutup matanya yah, Dafi punya kejutan buat ayah.” “Taraaa.” Dafi menunjukkan piala juara 1 lomba lari. Ayah pun segera memeluk Dafi girang, “Ayah bangga padamu sayang.”Ayah baru sadar ternyata selama ini Dafi rajin mengajak ayahnya berlari karena ia sedang berlatih untuk lomba lari.

Dafi telah meraih keberhasilannya dengan memuaskan. Ia sangat bersemangat dan telaten untuk menjalani latihan lari selama ini dengan ayahnya. Rasa puas yang muncul dalam diri Dafi ketika menghabiskan waktu, energi, dan semangat untuk melakukan sesuatu tantangan dan berhasil mencapai target yang diinginkannya ini disebut sebagai rasa pemenuhan diri. Anak akan merasa bahagia dengan senyuman lebar karena ia telah melakukan pemenuhan dirinya. Namun, tak semua anak dapat merasakan kebahagiaan ini.

Banyak anak yang merasakan beban dalam menjalani hidupnya karena mencoba memenuhi tuntutan orang tuanya. Saat anak tak berhasil ia akan merasa takut dimarahi atau membuat kecewa orang tuanya. Akhirnya anak tumbuh dengan kecemasan. Orang tua perlu menanamkan keberanian untuk mencoba tantangan baru dan mendukungnya. Janganlah kita merasa khawatir ketika anak berbuat salah. Coba lakukan hal yang membantu anak tumbuh dengan merasakan pemenuhan diri dan mencapai kebahagiaan dalam hidupnya.

Dukunglah anak untuk mencoba tantangan baru. Rasa pemenuhan diri merupakan dorongan yang membuat anak mau mencoba tantangan baru baginya. Ajaklah anak untuk mencoba hal-hal baru sesuai passion-nya dan biarkan ia untuk menentukan targetnya sendiri. Saat minat anak pada kegiatan fisik. Tantangan ini bisa dimulai dari hal kecil, misalnya dengan mengajak anak menentukan target berlari mengelilingi lapangan 3 kali dalam waktu tertentu untuk melatih kekuatan fisiknya.

Mungkin saja pada awalnya anak tak langsung mencapai target. Namun, ajaklah anak untuk dapat berpikir bahwa kegagalan yang dilakukan dapat memberikan kesempatan kepada dirinya untuk belajar hal baru. Maka bantulah anak untuk merasakan kepuasan terhadap hal yang kecil dan membantunya membuat target berikutnya.

Dukunglah anak untuk mencoba tantangan baru dan jika mengalami kegagalan, jelaskan arah yang baru untuk menghadapi tantangan berikutnya. Berikan pendekatan terhadap proses bukan hasil Dalam usaha anak dalam mencoba sesuatu yang baru, hal terpenting bukanlah anak bisa melakukannya dengan baik atau tidak baik dan berhasil atau tidak berhasil. Namun, hal yang paling penting yaitu pengalaman yang didapatkan dari proses-proses selama anak memikirkan dan mencoba hal tersebut.

Pahamilah dan rasakan usaha yang telah dilakukan oleh anak. Walaupun hasilnya kurang baik. Berikanlah pujian terhadap sikap, ide, dan usaha yang ditunjukkan oleh anak, sehingga anak akan mengetahui bahwa proses itu lebih penting daripada hasil. “Kamu sudah berusaha dengan baik dan keren. Untuk menjadi pelari yang hebat seperti Kak Muhammad Zohri, kamu perlu berlatih lebih keras lagi yah sayang.”

Titik fokus bukan pada harapan orang tua melainkan pada ketertarikan anak Terkadang apa yang diharapkan oleh orang tua dapat berbeda dengan apa yang dilakukan oleh anak. Bahkan ada orang tua yang terlalu menekan dengan harapan-harapan besarnya pada anak. Misalnya, “Kamu harus bikin ayah dan bunda bangga yah, makanya belajar yang rajin supaya bisa ranking satu di kelas.”.

Tanpa disadari pasti ada beberapa orang tua yang ingin anaknya pintar mendapatkan ranking di kelasnya. Ada juga yang memaksakan cita-cita orang tua kepada anaknya, misalnya karena orang tuanya seorang dokter jadi anak harus jadi dokter. Atau dulu sewaktu muda orang tuanya ingin menjadi dokter sehingga sekarang ingin cita-citanya tercapai dengan menginginkan anaknya menjadi dokter. Namun, sadarkah kita kedua hal ini justru menekan anak karena belum tentu ketertarikan, potensi serta kemampuan anak sesuai dengan harapan orang tua.

Hal yang bisa terjadi saat anak gagal, justru ia akan merasakan stress karena tak dapat memenuhi keinginan orang tuanya. Sebagai orang tua kita juga perlu untuk mengetahui potensi apa yang ada dalam diri anak. Walaupun ketertarikan anak tidak sejalan dengan harapan orang tua, mulailah fokus pada apa yang menjadi ketertarikan anak dan amatilah terus-menerus perkembangannya.

Biarkan anak mandiri dan cukup berikan bantuan ketika diperlukan saja. Saat anak melakukan apa yang diinginkannya, anak akan lebih merasakan keseruan belajar dan juga merasakan pemenuhan diri atas kemampuannya yang semakin terlatih. Biarkan anak memikirkan dan mencoba sendiri, sehingga ia dapat merasakan kesenangan dan efektivitas dari hal yang telah dilakukannya.

Tunjukkan rasa percaya dan empati kepada anak Bangunlah kepercayaan keluarga kepada anak. Ketika keluarga selalu percaya, anak akan menunjukkan kepercayaan dirinya untuk bisa melakukan berbagai hal dan menunjukkan kesabaran dan kekuatan saat mengatasi kesulitan. Maka dari situ anak akan mendapatkan keberanian untuk berusaha mencoba tantangan sendiri. Dukunglah selalu hal-hal positif yang dilakukannya.

Bantulah agar anak dapat menunjukkan keberanian mencoba sendiri tantangan yang baru dan menghasilkan rasa pemenuhan diri. Misalnya ia ingin mencoba belajar sepeda sendiri, “Wah, senang sekali anak bunda mau belajar sepeda sendiri dengan semangat. Kamu pasti bisa sayang.” Kita pasti ingin anak-anak kita bisa hidup bahagia, penuh enerjik, dapat menikmati proses kehidupannya dengan baik dan bijak, serta berani mengambil tantangan di masa depannya.

Oleh karena itu, sebagai orang tua jadilah keluarga yang bersahabat yang selalu mendukung hal-hal positif baginya. Sehingga ia akan menikmati dan mengembangkan dirinya sesuai passion-nya. Dengan melakukan hal ini, kita telah menjadikan anak melalui proses pemenuhan dirinya. Sehingga harapan orang tua menjadikan anak hidup bahagia tercapai. Ia pun akan tumbuh menjadi anak yang hebat dan pemberani dalam menghadapi kehidupan di luar dan di masa mendatang.*

*(MUNASIROH, Relawan Pustaka Wadas Kelir)

sumber gambar : https://buildingstrongchildren.usu.edu/

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar