Membiasakan Anak Shalat Tepat Waktu

AnggunPaud - Sepulang sekolah pukul 12.00, biasanya Dafi langsung makan siang sambil menonton film kartun kesayangannya. Terkadang Dafi lupa shalat Dhuhur karena terlalu asyik menonton. Ibunya sering mengingatkannya berkali-kali, tetapi dia tidak langsung melaksanakan shalat dan terus menerus mengulur-ngulur waktu.

“Sebentar Bu, ini film kartun kesukaan Dafi, nunggu iklan yah?” Tetapi, alhasil sudah iklan berkali-kali Dafi tidak pula melaksanakan shalat. Akhirnya, ibunya pun kesal dan mencoba tegas kepada Dafi. Bukannya nurut, Dafi malah marah dan tak mau shalat. Hal ini bukan saja terjadi pada shalat Dhuhur namun shalat lainnya. Apalagi Shubuh yang mengharuskan anak bangun lebih pagi. Padahal tak mudah untuk mengajak anak bangun gasik. Ada saja drama saat pagi hari, misalnya anak malas bangun atau emosinya belum stabil saat baru bangun. Beberapa orang tua pasti pernah merasakan anaknya susah untuk melaksanakan shalat. Padahal tanggung jawab orang tua dalam mendidik anaknya unt

uk shalat sangatlah besar. Sebagaimana Rasulullah bersabda, “Suruhlah anak-anak kecilmu melakukan shalat pada (usia) tujuh tahun, dan pukullah mereka (bila lalai) atasnya pada (usia) sepuluh tahun“. Oleh karena itu, berikut beberapa tips supaya anak dapat melaksanakan shalat tepat waktu.

Pertama, Latihlah anak untuk membuat jadwal kegiatan setiap harinya. Ajaklah anak untuk membuat jadwal kegiatan pada malam harinya secara bersama dan libatkan seluruh anggota keluarga. Tentukan kegiatan dan waktunya secara sederhana mulai dari kegiatan bangun pagi, sekolah, shalat, belajar, dan bermain. Dengan kegiatan ini, anak akan paham kapan ia harus shalat, belajar, bermain, dan istirahat. Sehingga anak mampu bertanggung jawab untuk melaksanakan shalat secara tepat waktu. Alangkah baiknya dalam membuat jadwal kegiatan ini juga melibatkan semua anggota keluarga. Supaya anak merasa dihargai dengan adanya teladan dari anggota keluarganya.

Kedua, Hentikan semua aktivitas keluarga. Penting untuk menghentikan aktivitas yang dilakukan ketika adzan berkumandang, supaya anak memahami sudah waktunya shalat. Hal ini perlu dukungan dari anggota keluarga, karena untuk kebiasaan yang baik anak perlu figur terutama dari orang tua. Hentikan semua aktivitas bahkan yang terasa tanggung pun. Dengan pembiasaan baik ini anak akan memahami menejemen waktu dengan baik. Sehingga kebiasaan mengulur-ulur waktu perlahan-lahan hilang.

Ketiga, Biasakan shalat jamaah dalam keluarga. Keluarga perlu membangun kegiatan shalat jamaah di rumah dan di masjid/mushola terdekat. Hal ini supaya anak terbiasa dengan iklim shalat tepat waktu. Laksanakanlah shalat jamaah secara rutin lima waktu, meski hanya ada ibu dan anak atau kakak dan adik di rumah. Contohkan anak bukan hanya di lingkungan rumah saja, namun harus secara konsisten. Misalnya saat dalam perjalanan, utamakan untuk berhenti sejenak melaksanakan shalat berjamaah di masjid terdekat.

Keempat, Gunakan teknik pertanyaan pilihan kepada si anak. Sepulang sekolah biasanya anak merasa lelah. Berikanlah anak waktu untuk istirahat dan makan siang. Namun, ketika anak sudah terlanjur asyik beristirahat sambil menonton televisi dan tidak segera melaksanakan shalat Dhuhur. Orang tua harus mengeluarkan jurus jitu yaitu pertanyaan pilihan. Misalnya “Dafi sayang, mau shalat jam 12.30 atau jam apa jam 13.00? Biasanya anak akan menjawab dengan pilihan terakhir. Hal yang perlu diingat dalam hal ini jangan berikan pilihan yang sulit. Misalnya “Dafi mau shalat pukul 12.30 atau pukul 12.50?” Pertanyaan ini akan terasa sulit karena mepet bagi film yang sudah jelas durasinya. Anak pasti akan mengeluhkan “Sebentar yang bu, 10 menit lagi?”. Namun, yang perlu diingat adalah dalam hal pilihan waktu ini ajarkan anak dengan konsekuensi. Misalnya, saat anak menunda 10 menit shalat, maka akan mengurangi jam menonton televisi 30 menit. Hal ini supaya melatih tanggung jawab anak pada waktunya.

Kelima, Ingatkan anak dalam waktu penantiannya. Ingatkan satu sampai dua kali ketika waktu sudah mendekati. ”Dafi, sekarang sudah jam 12.40, berarti 10 menit lagi yah?” Biasanya anak akan meng-iya-kan. Ingatkan kembali saat waktu kurang 5 menit. Hal ini bertujuan supaya anak segera bersiap-siap untuk melaksanakan shalat, dan tak melalaikan waktu. Karena saat tidak ada pengingat, biasanya anak akan lalai karena tengah konsentrasi asyik menonton televisi.

Keenam, Tegaskan kembali. Tegaskanlah jika waktu sudah menunjukkan waktu 13.00. “Dafi, sekarang sudah jam 13.00 loh. Tadi kan Dafi janjinya sholat jam 13.00. Ayo laksanakan.” Di tahap yang terakhir ini orang tua harus tegas lagi. Dekatilah anak dan berikanlah anak sentuhan kasih sayang misalnya dengan mengusap kepalanya. Dengan sentuhan inilah anak akan lebih luluh daripada hanya dengan sebuah perintah.

Ketujuh, Lakukanlah dengan konsisten. Orang tua seringkali melakukan shalat lebih awal, karena saat menunggu anak shalatnya akan tertunda. Misalnya saat shalat Shubuh orang tua biasanya bangun lebih gasik, sedangkan anak bangunnya lebih siang. Oleh karena itu, kegiatan shalat jamaah terasa susah dilakukan. Untuk menyiasatinya, janganlah sungkan orang tua mengajak anak shalat berjamaah meski dirinya telah melaksanakan shalat meskipun telah melewati waktu shalat. Hal ini akan melatih keteladanan yang kuat dan konsistensi anak dalam melakukan shalat berjamaah.

Kedelapan, berikanlah reward pada anak. Buatlah daftar shalat lima waktu dan waktunya. Berikan tanda centang atau bintang saat anak melaksanakan shalat dengan tepat waktu. Bintang yang anak peroleh bisa ditukarkan dengan hadiah yang bermanfaat bagi anak. Misalnya peralatan sekolah pada akhir minggu atau bulan sesuai kesepakatan target shalat anak. Target ini bisa disesuaikan dengan umur anak. Saat anak sudah memasuki umur 10 tahun target bisa ditambahkan dengan satu bulan penuh shalat lima waktu atau ditambahkan dengan poin plus pada shalat berjamaah. Untuk membangun kebiasaan baik dalam keluarga perlu dibangun sejak dini, terutama pembiasaan ibadah.

Orang tua sebagai figur dan teladan bagi anak harus memulainya terlebih dahulu. Libatkan anak dalam membuat aturan dan keputusan, hal ini supaya melatih tanggung jawab anak. Saat anak telah mampu untuk bertanggung jawab dalam mengelola waktunya, ia akan terbiasa untuk melaksanakan shalat tepat waktu dimanapun ia berada sehingga keinginan menjadikan anak yang soleh dan religius dapat terwujud .*

 

*(MUNASIROH-Relawan Pustaka Wadas Kelir dan Guru di SD NU Master Sokaraja)

sumber gambar : https://www.vectorstock.com/

Bagikan Artikel Ini

Komentar (1)

  • Suprihationo

    Masyaa Allah. Subhanallah Terima kasih semangat bermanfaat.

    2019-07-23 05:52:00

Silahkan Login untuk memberi komentar