Tips dan Manfaat toilet training

AnggunPaud - Toilet Training istilah tersebut tidak asing bagi bunda yang memiliki anak usia diatas dua tahun. Toilet Training atau mengajarkan anak untuk Buang Air Kecil (BAK) maupun Buang Air Besar (BAB) di kamar mandi juga menjadi salah satu tugas wajib untuk orang tua. Bukan hal yang mudah untuk melatih anak usia dini belajar menggunakan toilet dengan baik. Tentu akan ada banyak tantangan tersendiri bagi masing - masing orang tua.

Terampil menggunakan toilet juga perlu dipelajari setiap anak. Sama halnya seperti anak belajar tengkurap, merangkak, duduk dan berjalan. Melatih anak untuk dapat menggunakan toilet perlu dilatih dengan telaten. Masing - masing orang tua pasti akan dihadapkan dengan proses toilet training yang bervariasi. Berikut ini beberapa tips untuk Ayah - Bunda yang ingin melatih anak menggunakan toilet.

Pertama, kesepakatan dari kedua orang tua. Semua hal dalam mendidik anak dan mendampingi tumbuh kembangnya peran kedua orang tua tentu lebih dominan. Alangkah baiknya jika dalam mendidik anak dilakukan dengan kesepakatan antara Ayah - Bunda terlebih dahulu. Salah satunya sebelum melatih anak menggunakan toilet, maka Ayah - Bunda harus sepakat untuk melatih bersama - sama. Pengalaman yang saya alami saat ingin melatih anak menggunakan toilet adalah kurangnya respon positif dari suami. Suami masih menganggap anak masih membutuhkan diapers setiap harinya. Padahal usia anak kami sudah menginjak 3 tahun. Di usia anak kami ini, dia sudah lancar berbicara. Sudah bisa memberi tahu ketika ingin BAB. Anak kami pun sudah bisa mengutarakan ketidaknyamanannya dengan diapers. Sehingga saat itu saya putuskan sendiri untuk melatih anak ke toilet. Memang pada awalnya suami saya kurang setuju, namun saya jelaskan alasan mengapa saya melatih anak untuk ke toilet. Sehingga membuat suami saya pun ikut mendukung anak kami untuk belajar menggunakan toilet.

Kedua, dukungan lingkungan sekitar anak. Selain pentingnya kesepakatan antara kedua orang tua, dukungan dari lingkungan sekitar anak juga perlu diperhatikan. Misalnya dukungan dari kakek dan nenek anak kita. Kita sebagai orang tua sebaiknya menjelaskan dan mengutarakan jika memang anak kita sedang belajar menggunakan toilet kepada kakek dan neneknya. Tujuannya agar kakek dan nenek dari anak kita juga ikut membantu si anak dalam belajar menggunakan toilet.

Ketiga, buat kebiasaan rutin. Tujuan hal ini agar anak mengenali tanda - tanda jika dia ingin BAB maupun BAK. Saat mulai melatih anak ke toilet, Ayah - Bunda bisa membuat jadwal rutin ke toilet setiap satu atau dua jam sekali. Dari kebiasaan ini lambat laun anak akan mengenali dirinya saat ingin ke toilet.

Keempat, jangan bosan untuk mengingatkan anak. Sama halnya saat melatih anak berjalan. Saat anak mulai berjalan lalu jatuh, maka Ayah-Bunda tentu tidak akan bosan untuk terus melatinya berjalan kembali. Sama halnya dengan melatih anak ke toilet. Awalnya tentu anak sesekali akan "ngompol". Tugas Ayah - Bunda adalah selalu mengingakannya dengan kata - kata lembut, misalnya "Kalau mau pipis bilang ya!". Saya yakin lama kelamaan anak akan mengerti.

Kelima, ajak anak ke toilet sesuai "gender". Jika anak kita laki - laki, maka yang lebih dominan untuk melatih anak menggunakan toilet adalah sosok ayah. Ayah-lah yang berperan pertama kali bagi anak laki - laki dalam belajar menggunakan toilet. Jika anak sudah terbiasa, barulah bunda dapat ikut turun tangan dalam melatihnya. Begitu juga sebaliknya, jika anak kita perempuan maka sosok ibu yang lebih tepat untuk mengajarkan anak dalam menggunakan toilet. Toilet training tidak semata - mata dilakukan hanya untuk melatih anak menggunakan toilet saja.

Dengan melatih anak untuk bisa menggunakan toilet, maka akan ada hal - hal kecil yang bisa dipelajari bagi si anak. Dari hal kecil tersebut bisa timbul manfaat positif yang akan muncul dari diri anak saat dilatih menggunakan toilet. Manfaat tersebut antara lain.

Pertama, kemandirian anak semakin terasah. Salah satu manfaat yang jelas terasa ketika melatih anak ke toilet yaitu anak semakin mandiri dalam melakukan sesuatu. Ayah - Bunda cukup memberikan contoh yang benar. Setelah itu biarkan anak mencobanya sendiri sembari kita dampingi. Ingatkan lagi jika yang dilakukanya masih kurang tepat. Tapi juga jangan lupa memberikan pujian jika yang dia lakukan sudah lebih baik.

Kedua, anak belajar bertanggung jawab terhadap dirinya. Membiarkan anak belajar menggunakan toilet dapat pula berpengaruh terhadap rasa tanggung jawab dalam dirinya. Anak belajar bertanggung jawab untuk membersihkan toilet usai digunakan. Anak belajar bertanggung jawab untuk mengisi air di toilet. Anak juga belajar bertanggung jawab atas kebersihan dirinya usai menggunakan toilet. Maka mengajarkan anak menggunakan toilet dengan benar adalah kewajiban mutlak bagi orangtua.

Ketiga, rasa percaya diri anak semakin terpupuk. Saat diberi kesempatan untuk melakukan sesuatu hal dengan kemauan sendiri, seorang anak usia dini akan merasa bahwa orang tuanya percaya jika dia mampu melakukanya. Demikian pula ketika anak belajar menggunakan toilet sendiri. Mulai melepas pakaian, membersihkan diri hingga membersihkan toilet usai digunakan jika dilakukan sendiri oleh anak kita maka secara tidak langsung rasa percaya dirinya semakin meningkat. Jangan lupa Ayah - Bunda berikan pujian jika anak mampu melakukanya dengan baik dan benar.

Keempat, melatih anak untuk disiplin. Melatih anak menggunakan toilet awalnya tentu tidak mudah. Meskipun anak sudah mampu berbicara, namun belum tentu sepenuhnya anak selalu ijin jika ingin ke toilet. Sesekali pasti anak akan mengompol. Dalam hal ini yang dapat Ayah - Bunda lakukan adalah mengajak anak rutin ke toilet setiap 1 atau 2 jam sekali. Dari kebiasaannya ini secara tak langsung Ayah - Bunda juga melatihnya dalam disiplin waktu. Mendisiplinkan anak ke toilet sejak dini akan menjadikan anak lebih memahami tanda - tanda jika anak ingin BAK maupun BAB.

 

sumber gambar : http://activebabiessmartkids.com.au

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar