Kehebatan anak-anak yang dididik dalam keterbatasan

AnggunPaud - Barangkali Anda pernah membaca kisah tentang tokoh-tokoh terkenal atau berhasil di dunia ini? Tidak semua orang hebat itu berasal dari keluarga hebat. Ternyata banyak sekali tokoh penting dan para milyuner di dunia ini berasal dari keluarga miskin dan bahkan terlantar. Catatan menunjukkan beberapa kisah nyata kehidupan masa kecil para tokoh dan milyuner dunia. Mereka telah menunjukkan betapa menyedihkannya di masa kecilnya namun berakhir dengan kesuksesan yang luar biasa.

Sebut saja seorang Michael Jordan, seorang pebasket terkenal dunia. Dia kini menjadi bintang basket kaya raya dan sangat terkenal. Tetapi ketika menengok kisah hidup di masa kecilnya, benar-benar membuat kita meneteskan air mata. Betapa tidak, ia adalah anak seorang yang tidak mampu. Ketika kecil ia terpaksa harus membantu orangtuanya mencari nafkah dengan cara berjualan pakaian bekas dari satu tempat ke tempat lainnya.

Oprah Winfrey, sosok wanita Amereka Serikat yang begitu mempengaruhi dunia, juga bukan datang dari keluarga yang hebat. Meski dirinya menjadi pengusaha sukses dengan kekayaan 1,3 miliar dolar AS, ternyata dirinya memiliki masa kecil yang cukup memprihatinkan. Ia lahir dari pasangan seorang laki-laki dan perempuan yang belum menikah. Setiap hari ditinggal ibunya bekerja, hingga di usia 9 tahun ia harus mengalami pelecehan seksual. Penderitaannya tak kunjung usai. Ia diserahkan dan diasuh ayahnya dan hidup bersama ibu tirinya. Meski awalnya ia tak tahan menghadapi kedisiplinan ayahnya, namun akhirnya ia merasa bahwa apa yang dilakukan ayahnya adalah hal yang baik dan merupakan bentuk cinta kasih yang ia harapkan. Di usia 19 th Oprah direkrut sebuah stasiun televisi untuk menjadi wartawan dan penyiar berita dan selanjutnya terkenal dengan acaranya Oprah Winfrey Talk Show yang sangat disukai penonton.

Di luar itu, Steve Jobs, pria berkebangsaan Amerika yang sukses dengan perusahaan teknologi ternama di dunia semacam komputer, iPod, ponsel iPod yang merupakan hasil produk Aplle miliknya, ternyata juga memiliki kisah pahit. Ketika Steve Jobs masih kecil, terpaksa orang tuanya mencarikan orangtua asuh karena mereka merasa tidak sanggup menghidupi dan menyekolahkan Jobs dan saudara-saudaranya. Sayangnya orang tua angkatnya juga tak bernasib baik seperti yang diharapkan. Mereka juga hidup miskin. Oleh karena itu Jobs terpaksa harus mengumpulkan botol bekas coke kaca kemudian ditukar uang sekadar untuk bisa makan. Namun nasib berkata lain, kini ia sukses dan memiliki perusahaan teknologi Aplle yang sangat terkenal di dunia.

Barangkali Anda pernah membaca juga kisah John Paul De Jorio, pengusaha sukses bidang perawatan kecantikan rambut dan kepala. Jika pernah, tentu Anda akan berdecak. Kekayaannya memang hanya menembus angka 36 triliun, namun kisah kecilnya yang suram akan lebih menarik dibaca. De Jorio pernah hidup sebagai gelandangan atau tunawisma di usianya yang baru 19 tahun. Ia harus bekerja ke sana-sini pantang menyerah hingga harus memulung botol bekas. Tidak sekadar merasakan penderitaan untuk dirinya sendiri saja karena ia harus menanggung seorang anaknya yang masih kecil tanpa ibu. Untuk makan pun dia meminta-minta di sebuah restoran. Tidur seadanya. Kadang di mobil, di emperan toko, hingga memanfaatkan tempat apa saja yang bisa digunakan sekadar untuk melepas lelah. Bekerja tak tetap dan hidup sebagai tunawisma membuat tekat De Jorio ingin bangkit. Setelah cukup lama bekerja sebagi sales sampo dia pun mulai berpikir untuk mendirikan usaha kecil-kecilan bidang salon dan produk perawatan rambut. Dari tekatnya yang kuat itu akhirnya ia menjadi pengusaha produk perawatan rambut, kepala, dan salon-salon kecantikan ternama. Satu contoh lain, Larry Ellison, pria yang memiliki kekayaan 41 miliar dolar AS-498,6 triliun dolar AS.

Sebut saja Sudono Kalim, Eka Tjipta Wijaya, Dahlan Ihsan, Ciputra, Khoerul Tanjung, hingga Menteri kemaritiman Susi Pujiastuti. Mereka adalah orang-orang hebat yang memiliki kisah kelam saat mereka anak-anak karena terhimpit kemiskinan. Di dunia sana juga kita kenal Andrew Carnegie, Maria Das Gracas Silva Foster, JK Rowling, Howard Schultz, Abraham Lincoln, Harold Simmons, dan sejumlah tokoh hebat lainnya. Mereka adalah tokoh dan orang-orang hebat yang telah mengukir dunia dengan masa kecilnya yang tak begitu bahagia.

Keberuntungan masa kecilnya kurang dimiliki sabagai anak-anak yang mestinya hidup gembira. Mereka justeru harus bersusah payah, tidak bersekolah karena harus bekerja menghidupi diri dan juga keluarganya. Jika kemudian mereka bisa megubah dunia, apakah itu hanya kebetulan semata? Melihat kenyataan dan fakta tersebut lalu ada beberapa hal yang perlu kita cermati. Bahwa sebagian anak-anak yang hidup dalam kepahitan sesungguhnya memiliki kesempatan untuk melompat ke posisi atas hingga melejit menjadi bintang dalam berbagai sudut ruang. Mereka bisa menjadi politikus besar, menjadi pengusaha sukses, menjadi panglima besar, bisa menjadi tokoh penting, maupun menjadi atlit atau artis terkenal. Fakta itu tidak bisa dibantah lagi.

Kenyataan pahit memang sering membuat orang harus mencari pemanis. Ketika orang dalam kubangan lumpur maka ia akan berusaha untuk meloncat keluar. Dan bukan sekadar cukup untuk keluar saja, melainkan lebih dari itu mereka ingin melejit karena ia telah merasakan betapa sengsaranya berada dalam kubangan. Maka ia akan berusaha sekuat tenaga untuk menjadikan dirinya mulia seperti orang- orang lainnya. Dan usahanya itu bukanlah main-main. Bahkan ia lebih daripada usaha yang dilakukan orang lain yang tidak berada dalam kesengsaraan.

Maknanya, apa yang dia lakukan betul-betul serius ditekuninya demi kehidupan yang lebih baik. Lalu apa yang dilakukan mereka, anak-anak yang hidup dalam keterbatasan? Dengan mencermati kisah-kisah masa kecil tokoh di atas maka akan kita temukan beberapa poin penting yang menjadi benang merah keberhasilannya. Poin penting tersebut antara lain adalah adanya keinginan bertahan hidup, tekad yang kuat, dan keinginan mengubah nasib.

Bertahan hidup merupakan motivasi tertinggi bagi mereka. Sepanjang mereka masih ingin hidup maka berbagai usaha akan dilakukannya. Usaha mempertahankan hidup paling utama adalah memenuhi kebutuhan makan. Sebab dengan makan manusia akan dapat menjaga fisiknya untuk melakukan aktifitas lainnya. Oleh karena itu, hal pertama seseorang bertahan hidup adalah mencari makan. Setelah kebutuhan makan terpenuhi maka barulah mereka akan melakukan hal lainnya. Untuk memenuhi kebutuhan itu berbagai cara ditempuhnya. Ada yang melakukannya sesuai aturan, dengan cara positif, namun ada pula yang melakukannya dengan cara kurang baik. Dalam hal manusia dalam kondisi tak memungkinkan bisa saja mereka melakukan dengan cara yang tidak diperbolehkan.

Tekad yang kuat juga menjadi faktor pencapaian keberhasilan. Dengan tekat yang kuat mejadikan dirinya mau bekerja keras berusaha untuk mencapai sesuatu yang diinginkannya. Saat dia merasakan kebutuhan jasmani berupa isi perut, maka dirinya akan bertekad kuat bekerja keras untuk mendapat makanan sebagaimana dijelaskan di atas. Ketika ia membutuhkan pakaian untuk memenuhi kesehatan dan mengatasi rasa dingin maka ia berusaha kuat untuk mendapatkannya. Pada umumnya tekad itulah yang mengusir kuat rasa malas dan kepasrahannya. Dengan tekad yang kuat itu, mereka akan berusaha sekuatnya demi mendapatkan apa yang dibutuhkannya.

Motivasi berikutnya adalah keinginan mengubah nasib. Merasakan penderitaan yang berkepanjangan akan membuat orang berpikir untuk mengubahnya. Maka dengan mengolaborasikan dua faktor bertahan hidup dan tekat yang kuat, dirinya akan berusaha untuk mengubah nasib. Kenyataan hidup yang kurang menguntungkan bagi seseorang seringkali membuat dirinya tak mau berlama-lama mengenyamnya. Demikian pula saat dirinya telah mampu melewatinya, maka ia tak juga ingin mengulanginya. Orang-orang yang pernah menglami kepahitan maka ia akan memiliki keinginan dan motivasi yang kuat untuk melepaskan diri. 

Selain tiga faktor di atas, beberpa motivasi lain diantaranya adalah adanya kebosanan merasakan kepahitan. Kepahitan hidup memang bisa saja dialami oleh siapa pun. Banyak sekali orang yang mengalami hal itu. Sayangnya tidak semua orang akan bisa bangkit dan melepaskan diri dari kepahitan itu. Mereka memang merasa bosan, namun hanya orang-orang yang benar- benar merasa bosanlah yang akan berusaha untuk melepaskan diri. Ia akan berusaha bangkit dengan berbagai upaya.

Ada yang berusaha mengubah nasibnya dengan mencoba bereksperimen dengan cara alih profesi. Ada yang bangkit dengan semangat besar karena dirinya memang tak memiliki modal materi. Namun bukan tak berarti yang tak memiliki modal akan gagal. Bahkan fakta menunjukkan banyak orang yang sukses mengubah nasibnya dengan modal motivasi kuat. Demikian sebaliknya banyak yang gagal meskipun ia memiliki modal cukup. Semua lebih dikarenakan motivasi dan semangat yang kuat.

Faktor berikutnya yakni mereka ingin menjadi orang yang duduk setara dengan orang lain. Orang-orang miskin selain merasakan penderitaan secara materi, mereka juga banyak menderita batin. Selain harus merasakan rasa lapar, juga harus merasakan penderitaan batin karena tersisihkan dari status sosial. Tak sedikit darii mereka yang menjadi bahan ejekan dan dipandang tak berguna. Inilah yang menjadikan ketimpangan dalam strata sosial. Mereka dalam posisi bawah yang harus mendapat beban moral yang berat. Kondisi semacam itu banyak menimbulkan rasa keinginan untuk bisa bangkit dari kemiskinan. Ia akan berusaha keras agar bisa duduk setara dengan yang lain. 

Dan diantara mereka akan berhasil karena motivasi yang kuat dan pantang menyerah. Demikianlah beberapa faktor dan motivasi yang ada pada anak-anak yang mengalami himpitan ekonomi dan keterpurukan hidup pada keluarganya untuk bisa hidup dan akhirnya berhasil. Semua itu adalah bekal dan modal motivasi intrinsik yang sangat besar dalam mendukung sebuah keberhasilannya. Oleh karena itu tak jarang orang yang memiliki motivasi intrinsik semacam itu akan berhasil melompati garis normal hingga melejit meninggalkan orang lain yang justru tak kekurangan fasilitas.

 

sumber gambar :https://www.schoolentrancetests.com

 

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar