Mitos, kearifan lokal masih diperlukan membentuk karakter anak

AnggunPaud - Di masyarakat Melayu, orang tua seringkali menasehati anak dengan tamsil, peribahasa, dan kata kiasan lain ala Melayu. Demikian pula pada masyarakat Jawa, orang tua selalu menasehati anak dengan istilah ora ilok atau pantang. Mungkin di daerah lain demikian pula. Banyak istilah dan cara yang dilakukan oleh para leluhur kita dalam memberi nasehat anak-anak. Sebagai misal, orang Sunda menasehati dengan istilah pamali atau pantangan.

Bagaimana dengan masyarakat Bugis, Dayak, Sasak, Madura, Bali, dan lainnya? Tentu ada mitos-mitos tertentu yang dimanfaatkan orang tua untuk menasehati anak-anak. Jika mitos itu tak boleh disebut sebagai senjata pamungkas yang mengancam anak-anak, setidaknya kita bisa menyebutnya sebagai kalimat ‘lampu kuning’ yang cukup disegani anak-anak utamanya pada zaman dulu.

Lepas dari setuju atau tidak terhadap cara itu, tetap saja kita harus jujur mengakui bahwa nenek moyang kita ternyata sangat berhasil dalam menasehati sekaligus membentuk karakter anak-anak mereka di zamannya. Betapa tidak, anak-anak begitu menurutnya terhadap setiap nasehat orang tua. Mereka juga begitu santun kepada orang tua dan kepada orang yang lebih dituakan. Ini bukan masalah terbelakang atau modern, bodoh atau pandai, yang pasti keberhasilan nenek moyang kita pantas mendapat acungan jempol. Betapa telah berhasil membentuk karakter anak-anak mereka sehingga anak-anak menjadi manusia yang demikian beradabnya, takut melakukan kesalahan, dan takut disebut tak bermoral atau beretika.

Sungguh jauh perbedaannya kondisi anak-anak sekarang dibandingkan anak-anak di zaman nenek moyang dulu. Kalau kita mau jujur mengapa sekarang kita dianggap gagal membentuk karakter anak, maka ada baiknya kita singkirkan dahulu bermacam-macam alasan terkait dengan pengaruh teknologi, globalisasi, dan thethek-bengek lain yang mengatasnamakan modernisasi. Kita harus mengakui pada zaman dahulu pun tak akan lepas dari tantangan.

Hidup di zaman nenek moyang dulu pun sama memiliki tantangan yang berat pula. Keterbatasan teknologi di zamannya juga merupakan tantangan bagi mereka. Dengan hanya mengadalkan pengetahuan yang demikian minimal, orang tua harus menasehati dan mendidik anak-anaknya. Artinya keterbatasan teknologi sesungguhnya juga sebagai tantangan. Sehingga kemajuan teknologi tidak boleh dijadikan kambing hitam di zaman sekarang.

Perihal mendidik anak-anak dalam membentuk karakter mereka, kita tentu banyak yang masih ingat. Batapa anak-anak di kala itu begitu memiliki peradaban yang tinggi, budaya yang santun, beretika, dan bermoral yang demikian bagus. Lepas dari masalah adanya kejahatan yang terjadi di zamannya, kita tetap dapat mengatakan bahwa nenek moyang kita sangat berhasil dalam membentuk karakter anak-anak sehingga bangsa kita dikenal sebagai bangsa timur yang memiliki budaya ketimuran dan terkenal sebagai bangsa yang ramah-tamah dan sopan-santun tinggi.

Kita tak tahu lagi apakah budaya keramah-tamahan , budaya ketimuran kita masih dikenal dan diakui oleh bangsa lain di dunia atau tidak, yang pasti kita sendiri sudah mengakui bahwa budaya kita sudah tak lagi menunjukkan ketimurannya. Keramah-tamahan kita pun tak lagi bisa dipamerkan kepada bangsa lain sebagai budaya kebanggaan karena fenomena yang ada sekarang jauh dari apa yang diceritakan nenek moyang. 

Betapa kita setiap saat bisa menyaksikan anak-anak yang lebih muda akan membungkuk-bungkukkan badannya setiap hendak melewati siapa pun yang dianggap lebih tua atau lebih dihormati. Seraya mengucapkan kata’nuwun sewu, nderek langkung, punten’, atau kata lainnya yang bermakna permintaan maaf karena dirinya akan melewati di depan orang yang lebih tua tersebut.

Ini bukti bahwa anak-anak kita telah dibentuk oleh orangtua yang didukung oleh para pendidik sekaligus masyarakat. Betapa malu mereka dan orang tua mereka manakala disebut sebagai anak yang tak memiliki sopan santun saat melewati orang tua dengan perilaku tidak membungkukkan badan. Maka di sekolahnya pun ia akan terkena sanksi dari para guru mereka. Demikian pula di masyarakat, mereka akan dicap sebagai anak yang tak berpendidikan.

Apakah pemandangan seperti itu masih dapat kita jumpai di zaman modern sekarang? Sungguh, sekali pun saya tak pernah lagi menjumpainya. Padahal modernisasi tak pernah mengajarkan anak-anak untuk tidak melakukan hal itu bukan? Jadi di mana letak kekeliruannya? Orang tua tak pernah menegur anak-anak yang demikian. Sekolah juga sudah tak kebagian waktu untuk bicara masalah sepele semacam itu karena guru harus mengejar materi pelajaran Matematika yang masih belum dipahami anak-anak.

Masyarakat juga sudah tak ambil pusing karena menganggap banyak hal penting lain yang harus dipikirkan. Nenek moyang kita begitu rajinnya memelihara hal yang dianggap sebagai kebodohan dan keterbelakangan oleh manusi modern semacam sekarang. Kepercayaan nenek moyang kita yang kemudian disebut sebagai mitos dan dianggap sebagai hal yang menghambat kemajuan mereka telah dipercaya sepanjang zamannya. Bahkan pengaruhnya terhadap masyarakat modern pun sesungguhnya masih banyak tersisa hingga sekarang.

Adanya istilah ora ilok yang tumbuh berkembang di zaman kuno ada di masyarakat Jawa sekan menjadi lelucon yang boleh ditertawakan. Pernah kita dengar istilah ora ilok ; aja njagongi bantal. Nenek moyang kita menasehati untuk tidak menduduki bantal karena jika kita melanggarnya maka akibat mitosnya yang mengancam kita adalah bisul yang akan tumbuh di tubuh kita. Ini memang menjadi bodoh secara logika. Tidak ada keterkaitan antara bantal dan bisul jika diteliti secara logika.

Namun apakah kita pernah berpikir bahwa orang Jawa saat itu tengah memberi nasehat yang tak berbeda dengan orang Melayu? Orang Melayu akan menasehati anak-anaknya yang hendak dewasa; Kalau kau mau hidup, jangan kau takut ombak. Ini sebuah tamsil bahwa orang yang bisa sukses hidup adalah mereka yang berani melawan /menghadapi berbagai rintangan. Mengapa orang tua membuat tamsil ombak? Awalnya anak-anak tentu tak memahami mengapa orang tua menasehati itu? Jika dimaknai apa adanya, anak-anak Melayu tentu hanya akan belajar berenang jika mau berhasil hidupnya. Mereka akan melawan ombak di laut, menghadapinya hingga ia mampu melawan ombak itu. Tapi tentu banyak yang mati karena mereka takut.

Tamsil ini tentu akhirnya dipahami oleh anak-anak bahwa agar mereka bisa berhasil dalam hidupnya maka mereka harus berani menghadapi berbagai ritangan dan berusaha tak mengenal putus asa. Demikian pula hal yang sama, tentu harus dipahami oleh anak-anak di Jawa. Anak-anak tak boleh menduduki bantal bukan karena terancam bisulan tapi lebih jauh perlu dianalisis. Bahwa bantal merupakan simbol kehormatan manusia. Bantal digunakan sebagai alas tidur bagian yeng terhormat yakni kepala. Jika kita menduduki bantal maknanya kita telah menempatkan sesuatu yang terhormat di bagian yang paling tak terhormat, yakni pantat kita.

Jika mengaitkan dengan hilangnya etika dan sopan santun anak-anak kita, bukankan ini semua terkait dan menjadi indikasi hilangnya mitos njagongi bantal ora ilok? Anak-anak modern sudah sama sekali tak mempercayai ajaran itu. Bahkan banyak yang sengaja menduduki bantal untuk membuktikan ternyata tak ada akibat apapun dengan menduduki bantal tersebut. Namun mereka tak sadar bahwa sesungguhnya mereka telah menerima akibat dari mitos itu yakni tak lagi memiliki ketaatan dan sopan santun kepada orangtua.

Perilaku membungkukkan badan pertanda hormat kepada setiap orang yang hendak kita lewati adalah pengejawantahan dari tak menduduki bantal. Sedangkan anak-anak sekarang yang menaiki motor dengan seenaknya di depan kerumunan orang di depan jalan atau siswa yang lari seraya melompat-lompat di depan guru yang tengah duduk di sebuah kursi merupakan akibat mereka menduduki bantal.

Fenomena yang terbalik itu semua menjadi indikasi keberhasilan nenek moyang dulu sekaligus kegagalan kita di zaman modern dalam membentuk karakter. Sebagai contoh lain, ada pantangan ora ilok jika anak-anak gadis atau perjaka duduk di depan pintu. Ini mitos yang sangat terkenal diantara mitos lainnya. Nenek moyang kita mengajari agar anak-anak gadis atau perjaka tidak duduk atau berdiri di pintu. Apa akibat menurut mitos tersebut? Mereka akan menjadi gadis atau perjaka tua alias tak menemukan jodoh. Ini tentu sangat tak masuk akal. Namun demikian anak-anak pada zaman itu betul-betul menaatinya hingga tak seorang pun diantara mereka yang melawan mitos tersebut.

Sebaliknya anak-anak sekarang sudah sama sekali tak mempercayainya. Dengan penalaran dan logika dari berbagai disiplin ilmu mereka bahkan ingin membuktikannya. Dan sepanjang penelitiannya tentu tak akan terbuktikan bahwa duduk di depan pintu akan menyebabkan seorang gadis atau perjaka tak akan mendapatkan jodoh. Konon jodoh yang menentukan Tuhan. Tapi benarkah bahwa nenek moyang kita telah melakukan kesalahan sehingga membuat orang bodoh? Tentu harus terjawab. Berdasarkan ilmu semiotika yang memaknai perlambangan sebagai pesan, bahwa ada hal mendasar tentang mitos tersebut.

Anak gadis tidak boleh duduk di depan pintu menjadi perlambang bahwa dalam kehidupan manusia terbagi menjadi beberapa fase. Yakni alam kandungan, lahir, masa anak-anak, masa remaja, nikah, tua, dan akhirnya mati. Setiap fase itu memiliki batas yang disimbolkan oleh nenek moyang sebagai pintu. Dan di setiap batas fase kehidupan itu dipercaya menjadi waktu yang sangat rentan yang disebut dengan istilah krisisritten. Oleh karena pintu yang dijadikan simbol batas fase kehidupan hendaknya harus bersih, bebas, sehingga apa yang akan berpindah melewatinya tidak terhalang oleh apa pun.

Anak gadis atau perjaka yang berada di depan pintu menjadi simbol rintangan yang meghalangi segala yang akan masuk termasuk di dalam masa remaja menuju dewasa adalah jodoh. Jodoh akan terhalang masuk jika ada sesuatu di pintu tersebut. Dan setiap penghalang dianggap sebagai kejelekan. Maka anak gadis atau lajang hendaknya tidak menjadi sesuatu kejelekan yang dapat menghalangi jodohnya sendiri.

Itulah mengapa orang Jawa melarang anak-anak berdiri di depan pintu. Dari situlah kemudian terbentuk karakter anak-anak yang beretika, tidak mau duduk di depan pintu karena tidak sopan dan menghalangi lalu lintas. Meski pesan yang lebih jauh adalah agar anak tidak berperilaku jahat yang dapat menjadi nilai negatif bagi dirinya saat orang lain hendak meminangnya, setidaknya mitos itu telah berimbas baik mengubah karakter anak yang baik.

Kerinduan akan perilaku dan adab sopan dari bangsa ini sesungguhnya terlalu besar. Hilangnya perilaku yang mencerminkan karakter bangsa ini sungguh menjadi indikasi negatif. Orang masih ingat bagaimana nenek moyang kita melarang anak-anak makan sambil berdiri, sambil berbicara, sambil tiduran, sambil buang angin, makan ditopang, makan tidak berpindah-pindah, dan berbagai anjuran dan larangan terkait dengan perilaku kita saat makan.

Tak sekadar melarang dengan ora ilok saja, nenek moyang kita memberikan konsekuensi berupa akibat yang akan ditimbulkannya masing-masing juga. Dalam urusan perilaku lain, orang tak boleh menyapu tengah hari, tak boleh menyapu saat hajatan, tak boleh menggergaji tiang yang masih berdiri, tak boleh menanam buah asam di depan rumah, tak boleh memakai tudung di dalam rumah, tak boleh bersiul di dalam rumah, dan ribuan larangan lainnya.

Apalagi yang khusus ditujukan bagi orang yang tengah mengandung, berbagai larangan diberikan. Sesungguhnya semua mengandung nilai kebajikan dan nasehat bijak demi keselamatan dirinya, bayi, dan keluarganya. Hanya saja yang perlu dicermati bahwa semua larangan, perintah, anjuran itu tidak bisa diartikan sebagaimana bunyinya. Sebab semua merupakan simbol yang harus diterjemahkan dengan teliti, hati-hati, cermat dan bijak.

Ada banyak amanat dan nasehat di balik ora ilok tersebut karena setiap kalimat, frase, maupun kata, bahkan suku kata merupakan simbol atau perlambangan yang memiliki makna begitu agung. Nenek moyang kita tak mau mengungkapkan setiap nasehat secara vulgar kepada anak-anak dan orang lain akibat rasa pekewuh mereka. Akibatnya mereka menyampaikan nasehat itu dengan istilah ora ilok sebagaimana idiom, tamsil, dan peribahasa yang diucapkan oleh orang Melayu dan suku lain yang ada di nusantara. Yang pasti, banyak perilaku baik, sikap, adat, tata karama yang terbangun sebagai nilai karakter seperti yang dirindukan bangsa Indonesia saat ini.

Dari ora ilok inilah terlahir berbagai karakter manusia yang baik. Jika kemudian ora ilok tersebut dianggap sebagai mitos yang menghambat kemajuan bangsa ini dan sekaligus hasil pemikiran manusia bodoh, maka patut dipertanyakan, hal modern mana lagi yang mampu membagun karakter bangsa ini sehingga menjadi bangsa yang berkarakter seperti halnya di zaman nenek moyang kita dulu? Tampaknya hingga saat ini belum juga kita temukan formula yang jitu. Oleh karena itu perlu kiranya kita kembali meneladani leluhur kita untuk mencari formula tersebut agar terbentuk karakter anak-anak yang luhur.

 

sumber gambar : https://www.merriam-webster.com

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar