Ramadhan saatnya mengakrabkan diri dengan keluarga

AnggunPaud - Ramadhan merupakan saat yang tepat untuk meningkatkan kelekatan dan keakraban orang tua dengan anak melalui kegiatan-kegiatan positif selama berpuasa karena ada momen saat menunggu waktu berbuka dan saat sahur telah menjadi wujud kebersamaan antara sesama anggota keluarga.

Kalau pada hari-hari biasa, rutinitas ayah atau ibu yang bekerja harus tiba pada malam hari bahkan larut malam maka di bulan Ramadhan, waktu bekerja oleh pimpinan instansi atau perusahaan lebih dipercepat untuk memberikan kesempatan pulang lebih awal untuk dapat berbuka bersama keluarga. Seperti yang dikisahkan Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Rita Pranawati, saat Ramadhan biasanya keluarga lebih banyak makan bersama dibandingkan bulan-bulan lain karena waktunya bersamaan saat sahur dan berbuka.

“Ketika makan bersama saat sahur dan berbuka, orang tua dapat mengobrol bersama anak tentang beberapa hal yang selama ini jarang dibicarakan bersama. Saat sahur dan menunggu waktu berbuka merupakan waktu-waktu kebersamaan keluarga yang jarang terjadi," ujar Rita.

Orang tua diharapkan bisa memanfaatkan momen kebersamaan itu agar ibadah puasa seluruh anggota keluarga mencapai kemenangan baik secara agama maupun pengasuhan tehadap anak-anak, khususnya keluarga yang masih memiliki anak-anak di usia balita dan remaja.

Mengenalkan arti berpuasa

Pertemuan di atas meja makan pada saat berbuka dan sahur, menjadi kesempatan bagi ayah dan ibu untuk mengenalkan arti berpuasa bagi si kecil yang belum bisa menjalankan ibadah puasa secara penuh. Ayah dapat menyampaikan pesan-pesan agama yang mudah dicerna oleh anak-anak, bahkan bila perlu disampaikan dalam bentuk dongeng. Tentu saja ayah khususnya harus menguasai ilmu agama dengan lebih baik.

Tujuan dari latihan berpuasa untuk membiasakan diri semenjak kecilnya. Tentunya selama mereka mampu dan kuat melaksanakannya. Hal ini sudah dilakukan sahabat-sahabat Nabi Muhammad SAW. Mereka selalu melatih anak-anak mereka berpuasa dan memberikan hiburan dengan berbagai macam permainan untuk melalaikan mereka dari rasa lapar. Menurut Al Rubai’ binti Muawwiz, dalam riwayat Bukhari dan Muslim, "Kami sering melatih anak-anak kami yang masih kecil untuk berpuasa. Kami membawa mereka ke masjid. Kemudian kami buatkan permainan (main-mainan) dari bulu. Apabila mereka ada yang menangis karena lapar, maka kami beri­kan mainan itu, hingga waktu berbuka puasa."

Hadits ini menunjukkan bahwa hendaklah anak-anak dididik puasa sejak mereka kuat. Jika mereka ‘merengek’ ingin berbuka padahal belum waktunya, maka hiburlah mereka dengan mainan sehingga mereka terbuai. Akhirnya mereka nantinya bisa menjalankan puasa hingga waktu Maghrib.

Namun demikian, dalam mengajarkan puasa bagi pemula, Dokter nutrisi dr Rizal Alaydrus MSc menyarankan agar orang tua mengajarkan secara bertahap perlahan-lahan dan tidak memaksakan kehendak bila buah hati memang belum siap.

Ia menyarankan sebaiknya orang tua mengajarkan anak berpuasa mulai dari tiga jam, hingga berlanjut sampai penuh saat anak sudah benar-benar siap. “Ajarkan berpuasa tiga jam dulu jika umur tiga tahun, setelah itu bertahap menjadi enam jam, sembilan jam, 12 jam."

Orang tua sebaiknya tidak memaksakan kehendak agar anaknya bisa berpuasa. Disarankan anak diajarkan berpuasa ketika keinginan itu datang dari kesadaran anak sendiri. Pemenuhan nutrisi pada anak yang belajar berpuasa ditekankan pada makanan saat sahur. Anak harus makan makanan bergizi lengkap kalau perlu ditambahkan dengan susu saat sahur.

Selain itu anak juga harus tidur lebih awal dari biasanya untuk persiapan bangun sahur agar tidur anak tetap cukup. “Hanya minum susu tidak bisa jadi pemenuhan gizi. Susu hanya jadi pelengkap, tapi sebisa mungkin susu ada di menu makan anak."

Rizal sangat merekomendasikan agar sebisa mungkin anak mendapat asupan susu setelah ada makanan yang dikonsumsi sebelumnya.

Berbagi pengalaman sebagai seorang ibu yang pernah melalui masa-masa dengan anak-anak usia dini, Rita Pranawati meminta orang tua tidak mengajarkan anak untuk berpuasa dengan paksaan. "Kalau dipaksa anak malah akan menjadi trauma dan tidak mau puasa lagi. Orang tua harus melihat situasi dan kondisi anak."

Terutama, melihat kesiapan fisik dan psikologis anak ketika mulai mengajarkan anaknya berpuasa. Anak usia enam tahun hingga tujuh tahun sudah mulai bisa diajarkan berpuasa, tetapi jangan dipaksakan sehari penuh. Pasalnya, anak usia enam tahun hingga tujuh tahun biasanya belum siap nalar dan fisiknya.

Padahal, untuk bisa berpuasa sehari penuh, kematangan psikologi anak sangat menentukan. "Beri anak pemahaman tentang tujuan dari berpuasa, manfaatnya bagi kesehatan, serta sebagai rasa syukur atas nikmat Allah selama ini. Ajarkan juga pengendalian emosi saat berpuasa. Itu akan membuat anak menjadi lebih matang," katanya.

Namun, Rita mengatakan anak satu dengan yang lain berbeda. Biasanya anak bisa mulai diajarkan berpuasa pada usia enam tahun. Tetapi tidak jarang sudah anak usia empat tahun atau lima tahun sudah mulai belajar berpuasa. "Intinya tidak bisa disamakan antara anak satu dengan yang lain. Pola pengasuhan antara keluarga yang satu dengan yang lain juga berbeda," tuturnya.

Ancaman gawai

Kebersamaan yang langka antara anggota keluarga di bulan Ramadhan, pada masa kini kerap diusik oleh kehadiran gawai sehingga orang tua juga perlu kreatif membuat kegiatan-kegiatan yang baik saat menunggu waktu berbuka puasa. Orang tua dan anggota keluarga lainnya agar mengambil peran untuk tidak membiarkan anak asyik bermain sendiri menggunakan gawai.

Tidak bisa dipungkiri, kehadiran teknologi komunikasi yang semakin canggih, membuat gawai seperti bagian yang sudah melekat dalam pribadi setiap orang. Dampaknya sangat massif dan telah menyihir anak-anak mulai usia dini hingga orang dewasa kerap mengabaikan kewajibannya.

Keprihatinan yang terjadi kini adalah melihat anak-anak lebih senang menghabiskan waktu menunggu saat berbuka dengan bermain gawai telah menjadi fenomena yang terjadi dalam pola pengasuhan anak di Indonesia.

Peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia membuat pernyataan menarik, bahwa media digital di Indonesia sering digunakan sebagai alat untuk mengasuh anak. Pengasuhan seperti apa? Demi tujuan positif atau negatif?

"Kecenderungan orang dewasa, termasuk orang tua memberikan tontonan dari gawai kepada anak balitanya agar tenang dan tidak rewel,” Kata Aulia Hadi dari Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan LIPI Aulia.

Akibatnya sekitar 20 persen anak di Indonesia sudah berkenalan dengan internet dan media digital sejak balita. Selain itu orang tua juga lebih menganggap anaknya lebih paham media digital dibandingkan dirinya, hal itu membuat mereka dengan mudah memberikan anak untuk memakai gawai. Meski tidak ada ukuran baku kapan sebaiknya anak mulai dikenalkan dengan media digital, namun orang tua bisa membatasi dan mengawasi anak dalam menggunakan gawai.

Penggunaan gawai kepada anak terlalu dini dan tidak dibatasi dapat mengakibatkan kecanduan gawai, anak bisa terlambat berkomunikasi dan mata menjadi juling karena terlalu sering menatap layar. "Kalau balita bisa dimulai dengan menggunakan monitor yang bisa ditonton bersama dengan keluarga yang lain. Kita juga tidak dapat melarang dan melihat media digital sebagai suatu yang buruk, yang penting adanya pengawasan bagi anak," tambahnya.*

*Wiwiet Sundari, pemerhati masalah anak

sumber gambar : https://www.oyetimes.com

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar