Saat Tepat untuk Memberikan Nasehat

AnggunPaud -  Seringkali ada orang tua yang mengeluh karena anak-anaknya susah dinasehati. Mereka sampai merasa bosan dan menyerah karena si anak tak memperhatikan saat dinasehati, apalagi melaksanakannya. Oleh karena itu seringkali ada orang tua yang memberi nasehat dengan nada yang tinggi, menarik otot leher, bahkan bertindak otoriter atas nama disiplin.

Akhirnya apa yang dilakukan orang tua bukan lagi masuk dalam kategori menasehati, melainkan lebih tepat disebut marah-marah. Inilah yang menjadikan orang tua tidak lagi disegani oleh anak-anaknya. Kenapa orang tua sampai menggunakan nada tinggi dan marah-marah ketika memberi nasihat atau perintah kepada anak-anak?

Itu lebih karena anak-anaknya tak pernah memperhatikan dan melaksanakan apa yang dinasehatkan. Keputusasaan orang tua saat anaknya tak mengindahkan nasehatnya membuat mereka emosi dan mengeluarkan jurus pamungkasnya berupa kekerasan dan perintah otoriter. Apakah memang anak yang begitu sulit dinasehati atau kita yang kurang bisa mengambil strategi dalam menasehati? Itulah pertanyaan yang muncul ketika terjadi keluhan para orangtua.

Nah, mestinya orang tua perlu instropeksi diri. Kenapa anak-anak tak mengindahkan nasehat kita. Jangan-jangan ada hal yang tidak tepat saat kita menasehati anak. Oleh karena itu ada pertanyaan lagi, kapan saat yang tepat untuk menasehati anak? Inilah saat yang tepat orangtua dalam menasehati anak.

Pertama, nasehatilah anak saat dirinya tengah mengalami kegagalan atau merasakan akibat atas pelanggaran yang dilakukannya. Misal, ada seorang anak yang terjatuh saat dirinya menaiki sebuah kursi. Padahal orang tuanya sejak tadi sudah memperingatkan agar tidak menaiki kursi itu karena kondisinya agak rapuh. Namun si anak tak mngindahkan nasihat itu dan tetap saja menaiki kursi tersebut hingga akhirnya terjatuhlah dirinya.

Pada saat seperti ini anak tengah merasakan akibat dari perbuatannya. Mungkin dia merasakan sakit atau bahkan terluka. Biasanya saat seperti ini banyak orangtua yang kemudian tak sabar dan marah-marah. Saat anak-anak tengah merasakan sakit justru orang tua menambahnya dengan omelan dan kata-kata yang membuat rasa sakitnya bertambah. Hal ini dianggap wajar karena luapan emosi orang tua. Bahkan ada orang tua yang makin menyalahkan anak karena tak mau dinasehati. Apa yang dilakukan orang tua semacam itu sesungguhnya tidaklah tepat. Nasi sudah menjadi bubur. Anak yang terjatuh tak akan lagi bisa dikembalikan. 

Hal yang lebih bijak dilakukan orang tua adalah mengulang kembali nasehatnya setelah anak tersebut ditolong dari peristiwa tersebut. Berilah nasehat secara bijak di saat anak tengah mengalami peristiwa tersebut. Bukan dimarahi atau dipersalahkan. Menasehati di saat seperti itu cukup efektif diterima anak sehingga dia akan merekamnya dengan baik untuk waktu ke depan.

Kedua, ada waktu yang efektif juga untuk menasehati anak yakni saat tengah menyuapi makan. Saat anak-anak disuapi, terjadilah keakraban hubungan orang tua dan anak. Menyuapi makan memang umumnya dilakukan kepada anak-anak kecil. Namun demikian tidak berati anak-anak yang sudah bisa makan sendiri tidak ada kesempatan untuk disuapi oleh orang tuanya. Sekali waktu anak-anak yang sudah bisa makan sendiri pun perlu disuapi juga.

Saat seperti itu menjadi momen yang sangat efektif untuk menasehati anak-anak. Seraya makan, orangtua bisa memberikan nasehat apa saja kepada sang anak. Suasana yang akrab, damai, menyenangkan yang dirasakan anak saat itu menjadi saat yang tepat sekali untuk memberi asupan nasehat orangtua kepada mereka. Anak-anak biasanya tak akan membantah atau melawan terhadap apa yang dinasehatkan orangtua. Bahkan ia akan memperhatikan dengan seksama akan nasehat tersebut. Maka ambillah waktu seperti itu jika kita ingin berhasil menasehati anak-anak.

Ketiga, nasehatilah anak saat tengah bertamasya atau piknik. Saat bertamasya adalah saat yang menyenangkan bagi anak-anak. Suasana yang menyenangkan seperti itu akan membuat segala hal yang dinasehatkan kepada anak-anak akan diterima tanpa banyak persyaratan. Oleh karena itu manfaatkanlah saat bertamasya untuk menasehati. Hanya saja kita jangan melakukan itu secara berlebihan dan terlalu menyolok sehingga justru dapat membosankan anak-anak dan merusak suasana.

Keempat, saat anak dalam keadaan gembira. Suasana gembira memang sangat efektif untuk melakukan apa saja. Berbeda dengan suasana sedih atau duka. Dalam suasana gembira orang tua juga sangat mudah untuk memberikan nasehat. Anak-anak jarang membantah dinasehati orangtua saat dirinya tengah dalam suasana gembira. Suasana gembira dapat diciptakan oleh orang tua atau lingkungannya. Misal, saat anak baru mendapatkan hadiah, atau dirinya baru dibelikan mainan baru. Itu semua merupakan saat yang cukup menggembirakan bagi anak. Nah, saat itu pula orangtua dapat memberikan nasehatnya. Misal, seorang anak yang baru saja mendapat mobil-mobilan baru. Ia tentu sangat gembira.

Orang tua saat itu bisa memberikan nasehat yang baik. Contoh; “Mainan itu kamu rawat yang baik ya! Kalau sudah selesai kamu simpan yang baik ya! Jangat terlalu kencang ditariknya ya!” Bahkan ada nasehat yang tidak berkaitan langsung dengan mainan itu. Misal, “Sudah dibelikan mobil-mobilan bagus, kamu harus rajin belajar ya!” Dan masih banyak nasehat lainnya.

Kelima, berilah nasehat saat anak berhasil melakukan sesuatu. Satu momen yang cukup efektif pula untuk menasehati anak adalah saat anak berhasil melakukan sesuatu. Anak yang baru mendapatkan nilai seratus pada salah satu mata pelajarannya, menjadi momen yang menyenangkan dirinya. Ia telah berhasil. Saat itulah kita dapat memberikan nasehat efektif. Pujilah dahulu jika kita menjumpainya. Setelah itu berilah nasehat. Misal, ia disarankan untuk belajar lebih giat lagi.

Demikian pula kepada anak yang telah berhasil memanjat pohon. Berilah ia nasehat agar berhati-hati dan berilah nasehat bagaimana cara dirinya turun nanti. Itu momen yang sangat baik, sehingga perlu dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk menasehati anak.

Keenam, ada saat yang baik pula yakni saat anak mau tidur. Berilah ia cerita sekaligus nasehat yang baik. Banyak nasehat yang tepat untuk disampaikan saat seperti itu. Misal, agar berdoa terlebih dahulu sebelum tidur, mengingatkan cuci kaki dan gosok gigi, serta nasehat lainnya. Itu bisa disampaikan secara langsung atau pula melalui pesan cerita.

Demikianlah bahwa ada beberapa saat yang tepat untuk menasehati anak-anak kita yang cukup efektif. Masih ada saat istimewa lainnya yang dapat dimanfaatkan untuk memberi nasehat yang efektif. Orang tua harus jeli mencari saat yang tepat untuk menasehati anak agar apa yang kita sampaikan tidaklah menjadi hal yang sia-sia dan membuat anak-anak hanya merasa dimarahi saja.*

*Penulis: Riyadi,Pendidik di SDN Pangebatan Karanglewas, Kab. Banyumas, Pegiat literasi di KOMPAK.

sumber gambar :https://carilionclinicliving.com

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar