Raga Merayakan Gerak

AnggunPaud - Seorang bocah perempuan di novel The Secret Garden (2009) Frances Hodgson Burnett, secara tidak sengaja telah mengabaikan kodrat ragawi masa kanak: bergerak. Ia seperti lupa bergerak selayaknya anak-anak yang ingin menyentuh angin, mengendarai burung-burung, dan menerbangkan imajinasi ke tempat-tempat yang jauh.

Bocah itu Mary Lennox. Di negeri koloni Inggris, India, ia melewatkan sebagian masa belia paling tidak membahagiakan. Ia memiliki ayah yang sibuk berkarir. Ibunya bahkan tidak menghendaki Mary lahir dan sering meninggalkan rumah menuju dunia pergaulan sosial. Mary diabaikan dan diserahkan kepada pengasuh pribumi yang terlalu sering ia maki dan teriaki. Mary benar-benar sendiri saat wabah kolera mematikan banyak orang, termasuk ayah dan ibu.

Ia pindah ke Inggris di bawah perwalian paman. Hari-hari di rumah besar dan kebun mahaluas dengan kesendirian dan keterabaian parah, Mary menyemai lagi kodrat raga masa kanak. Raga bergerak, menghirup, berjalan, berlari, melompat, dan bersahabat dengan anak-anak dan para binatang. Ia tidak sengaja lagi mengembalikan gerak-gerak yang menyelamatkan diri dari rasa murung, tirus, masam, sinis, dan sendiri.

Kita cerap, “Mary tidak tahu bahwa ini adalah hal terbaik yang bisa ia lakukan. Ia juga tidak tahu bahwa, ketika ia mulai berjalan dengan cepat atau bahkan berlari sepanjang jalan setapak dan ke ujung jalan besar, darahnya mengalir lebih cepat dan membuat tubuhnya lebih kuat dengan melawan angin yang bertiup dari padang kerangas.”

Angin seolah jelma raksasa tidak terlihat yang mempermainkan tubuh Mary, tapi memberi rona hidup pada wajah yang semula tirus dan sinis. Burnett sang pencerita berhasil membawa pembaca pada perayaan gerak anak-anak. Rumah, kebun, padang tumbuhan, atau tanah yang luas adalah wilayah terbaik mendeklarasikan raga sejak dalam pikiran dan tindakan.

Anak-anak memiliki hak bergerak sebagai ejawantah kebebasan dan kegembiraan mewaktu. Gerak jadi perlambang daya dan nilai hidup, begitu Romo Mangun menghayati keberadaan raga sehari-hari. Berjalan, melonjak, berlari, menari, adalah bahasa sebelum huruf-huruf. Di buku Ragawidya, Religiositas Hal-Hal Sehari-Hari (1995), Romo Mangun berkata “Manusia menari sejak ia lahir sebagai bayi.” Tubuh adalah bahasa.

“Dalam pembaringannya, si bayi dan kaki tangan berselaweyan asyik selaku ekspresi pernyataan hidup yang pertama, yang otentik, yang mencerminkan gerak sabda pertama: wahai, ada! wahai, hidup! wahai, gerak! wahai, tumbuh! wahai suka! wahai sedih! wahai aku! wahai mau! wahai emoh!” Gerak sering jadi bahasa spontanitas, tidak dibuat-buat, tidak terencanakan untuk merayakan ragam rasa.

Dalam ketakutan sekaligus kasih sayang, tangan mungil merangkul tubuh ibu, bapak, atau kakak demi meminta perlindungan. Raga berlarian di pematang sawah dan menyelami kecipak air sungai, sorak hidup pada perayaan gerak. Saat melihat sesuatu, anak-anak ingin menggapai, mendekati, dan menyentuh sebagai cara belajar mengerti sehari-hari atau melakoni tanpa ancaman hal-hal paling biasa.

Larasati atau Atik berjuluk ‘burung prenjak’ dalam Burung-Burung Manyar (2001), termasuk dipilih Romo Mangun sebagai representasi perayaan raga kanak. Tidak diragukan lagi bahwa Atik sering diprotes ibunya karena bertingkah seperti anak laki-laki; memanjat pohon, menggali lubang, atau berlarian menangkap laron.

Kelincahan jadi sumbu masa kanak. Kita bisa mencerap pemberontakan Atik saat para emban memanggilnya dengan sebutan “Den Rara”. Atik menanggapi, “Saya bukan Den Rara. Saya At-tik. Sudah.” Pemberontakan saleh terlontar dengan pendek saja, tapi menyampaikan kekeraskepalaan ingin terus bergerak. Latar kebangsawanan di Bogor ataupun Surakarta tidak boleh jadi kungkungan mewaktu sehari-hari. Den Rara ataupun Den Ayu sejak kebahasaan memberikan ancaman halus agar tubuh tetap diam.

Atik justru merindukan kebebasan naluriah itu lewat jalan menjalin persahabatan dengan burung-burung, Sejak belia, Atik sudah jadi penghayat gerak burung-burung, “Lalu datanglah menyusul beberapa ekor manyar, itu burung-burung yang di mana-mana sibuk membangun sarang-sarang berseni elok. Mereka menyambar dari udara dan puk-puk-puk. Tertawalah lagi Atik. Lucu burung-burung itu. Maka segeralah burung-burung tingkat rakyat jelata, si gereja dan si emprit dan burung “anak kampungan” ketilang iku pesta juga. D

Dan nah, tentu saja tak mau ketinggalan si gelatik cantik tetapi pencuri-pencuri padi yang nakal itu, dengan pipinya putih dan picinya biru hitam. Persis anak-anak lelaki di dalam sekolah dan di mana-mana, nakal dan perusak segala.” Gerak burung didefinisikan dengan manusiawi, mengembalikan pada rasa diri sebagai seorang anak. Saat memperhatikan burung-burung bertingkah, seolah tampak dari luar tidak terjadi apa-apa pada diri Atik. Namun, penghayatan pada tingkah burung-burung memasuki diri Atik dalam penciptaan rasa bertanah air nan merdeka.

Bahkan sekalipun Atik sempat gemas melihat Teto yang usil memelanting burung tapi juga pandai menirukan suara binatang apapun, sepertinya tetap ada ketidaksengajaan jatuh hati pada keusilan itu. Sebentuk keterpesonaan atas rasa urakan dan polah khas anak-anak. Tertawa Bersama Tuhan. Romo Mangun pun memberlakukan gerak demi semarak belajar di ruang paling berisiko menyuruh diam.

Majalah Bobo edisi 19 Desember 1996 menampilkan dua halaman liputan SD Kanisius Mangunan, Yogyakarta. SD Mangunan berusaha menghindari dari kesan sekolah yang sering berisiko memberlakukan larangan gerak. Tampak salah satu foto memperlihatkan Romo Mangun di antara anak-anak yang menyimak ibu guru. Rasanya tidak mungkin Romo Mangun berujar, “Sttttt”, “Diam, anak-anak”, “Duduk yang rapi” atau kata-kata sejenis yang biasa berlaku di kelas sekolah formal.

Ada kecenderungan setiap sekolah dan juga guru beranggapan bahwa gerak pada dasarnya mengganggu. Di SD Mangunan, daripada dilarang bergerak, lebih penting mengingatkan anak bertanggung jawab pada raga diri. Anak-anak bisa dan boleh bermain tanpa memberi efek samping gangguan pada peristiwa anak yang lain. Anak-anak bisa belajar bahasa sambil tertawa, menyoal angka dengan meloncat, dan ada pelajaran ngobrol sebagai pengungkapan pengalaman-kepercayaan diri berujung pada rasa selalu ingin tahu, mencari, berkelana-bergerak.

Gagasan pendidikan membebaskan raga bergerak Romo mangun mengingatkan pada pemikir pendidikan Montessori yang juga memperngaruhi Ki Hadjar Dewantara (1962) menggagas pendidikan keindonesiaan. Manifestasi gerak, termasuk lewat permainan dan musik tradisional, adalah perayaan kultural yang tidak menjauhkan anak dari ritme alam.

Gerak memiliki identitas agraris dan ekologis. “Kalau dulu masa kecil Romo begitu indah dan menyenangkan, sekarang ini seandainya Romo bisa kembali jadi anak-anak, bagaimana?” pertanyaan ini sempat diajukan tim Bobo dan dimuat pada 26 Desember 1996 edisi profil Romo Mangun. Pertanyaan dijawab Romo Mangun dengan lugu, “Hemmm...mungkin sekarang saya tidak punya waktu untuk main seperti dulu, karena sepanjang hari harus kursus ini, kursus itu, PR ini, PR itu, dan macam-macam. Wah, saya bisa loyo. Hiihhh…nggak mau ah! Saya mau jadi anak-anak lagi kalau saya menjadi anak-anak, yaitu boleh main, boleh nakal, boleh berkomentar, dan sebagainya. Tapi kalau hanya untuk dipamerkan karena saya kursus ini, kursus itu, bisa ini, bisa itu, ya saya tidak mau.”

Ada sindiran halus pada aktivitas anak-anak mutakhir yang bercap edukatif, tapi sering dijalani karena tuntutan orangtua. Orangtua justru sering menjadi perampas pertama nafas gerak dan bukan menjadi penolong merayakan raga sehari-hari. Nyaris tidak ada orangtua membanggakan anak pecicilan, banyak polah, dan bertingkah mau tahu, kecuali dengan nada resah, frustrasi, khawatir, dan kesal.

Orang tua selalu bisa membayar mahal untuk sebentuk kediaman dan ketenangan tidak mengganggu. Rasanya lebih lega anak bermain gawai atau dimasukkan ke kursusan daripada diajak ngobrol atau bermain di rumah. Bayaran lebih mahal semakin lumrah dalam aktivitas bermain di sekolah modern atau bercap alam atau tempat-tempat bermain mewah yang menyediakan aneka fasilitas yang memungkinkan anak banyak bergerak.

Menggerakkan tubuh ternyata mahal jika harus berurusan dengan pengasuhan modern yang disokong oleh ketinggian material dan kemapanan ekonomi-status sosial. Terutama bagi anak-anak yang dibentuk model hidup urban, mereka tidak bisa begitu saja bergerak alamiah karena mengalami perubahan ruang dan krisis pertalian diri dengan orang lain.

Kodrat gerak tidak membedakan anak kaya atau miskin. Raga yang dimiliki sama-sama hidup untuk menghidupi. Raga bergerak, berarti merayakan hal paling biasa di keseharian dengan kesadaran paling bersahaja mendapati kegembiraan dan makna melakukan sesuatu. Anak bergerak berarti tidak mendiamkan bumi berlalu begitu saja. Anak-anak itu sangat mungkin berani mengajak Tuhan ber-hom-pim-pah, berlari, mengumpet, dan akhirnya saling mencari-mengejutkan sembari tertawa bersama.

sumber gambar :https://www.foxnews.com

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar