Mendikbud : “PAUD Harus Ditangani Sungguh-sungguh”

Palembang, PAUD dan Dikmas. Raut gembira tampak menyelimuti Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy kala memberi arahan di sela-sela Rakor Pelaksanaan Kebijakan dan Program Direktorat Jenderal PAUD dan Dikmas Tahun 2019 Regional 2” di Palembang (27/2). “Saya senang sekali dapat bersilaturahmi dengan Bapak-Ibu sekalian (para peserta rakor, red) di sini,” tuturnya.

Di hadapan para peserta rakor tersebut, sang Menteri pun menekankan perlunya untuk mengubah kepribadian, baik secara struktural yang dikemas melalui peraturan maupun kultural yang menyentuh kesadaran untuk melakukan perubahan. Karenanya, “Saya mohon para pelaku di bidang PAUD dan Dikmas untuk mempelajari teori yang mendasari pekerjaannya,” ujar Muhadjir.

Pak Menteri menambahkan, meski masih terjadi silang sengketa antara PAUD dan TK, namun ini justru merupakan pekerjaan besar yang harus dilakukan para peserta di lapangan. “Jadi, sebenarnya TK bagian dari PAUD,” terangnya.

PAUD sendiri dapat dikategorikan pendidikan bersifat informal dan melibatkan keluarga, sedangkan Dikmas bersifat non-formal dan melibatkan masyarakat.

Muhadjir pun turut menjelaskan bahwa nilai keluarga sejatinya tumbuh dari kebiasaan. Karenanya, perbuatan anak jangan kerap disalahkan, biarkan saja mereka memilih keteladanan. “Hal mendasar ini harus dipahami. Kebiasaan menjadi hal penting untuk membangun sikap positif,” jelasnya.

Muhadjir berkisah, dalam konteks pembangunan, negeri ini nyatanya dulu memulainya dari pemberantasan buta huruf (PBH). Ini dikarenakan saat Indonenia merdeka, 80 persen penduduknya buta huruf. “Waktu itu juga bersamaan dengan program pemberantasan malaria dan juga mendorong pertanian,” tuturnya.

Diketahui, pada 1974 negeri ini mendapat “bom minyak” yang menghasilkan penjualan signifikan hingga dipakai untuk membangun SD Inpres. Tercatat, hingga 1994 terdapat 960 ribu SD ini telah terbentuk dengan para pendidiknya yang ternyata tidak harus memerlukan jenjang pendidikan tertentu.

Hingga akhirnya, pada era pemerintahan Presiden Jokowi inilah, pemerintah turut menyadari pentingnya pendidikan usia dini melalui PAUD. “Kalau masih compang-camping ya harus dipahami, tidak apa-apa, karena kita baru membangun fondasi,” terangnya.

Meski bukan sistem persekolahan, PAUD adalah bagian dari pendidikan. PAUD adalah proses untuk mendukung keluarga agar pendidikan anak menjadi lebih terarah. “Jangan merampas anak didik PAUD dari keluarga, kita hanya membimbing,” ujar Muhadjir.

Meski demikian, tambah Muhadjir, peranan PAUD juga harus mempengaruhi sikap/pandangaan orang tua terhadap anak, terutama di wilayah yang memiliki pemahaman rendah. Ditambah lagi, “Presiden Jokowi sangat concern terhadap PAUD. Kalau PAUD ditangani dengan sungguh-sungguh, saya yakin masa depan anak akan lebih baik,” pungkasnya. (Tim Warta/AS/HP/KS)

Sumber: https://www.paud-dikmas.kemdikbud.go.id

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar