tips pendidikan anak usia dini 2

 

Anda tidak harus selalu menjadi pihak yang memiliki pandangan terbaik mengenai cara membesarkan anak. Pengasuhnya mungkin sudah belajar dari pengalaman dan Anda mungkin perlu beradaptasi dengan situasi ini. Misalnya, tidak semua orang yang mengasuhnya harus membawanya bermain di taman, mengajaknya main, membacakan cerita, menidurkannya, dan seterusnya. Ada tugas-tugas yang lebih baik diberikan kepada orang tertentu. Ini semua bergantung pada banyaknya waktu yang dihabiskan setiap pengasuh dengan anak. Memang, tumpang tindih antara tugas masing-masing pengasuh biasanya tidak dapat dihindari. Tetapi, dengan membagi tugas yang berbeda kepada setiap orang dewasa yang menjaganya, anak justru akan menikmati jadwal kegiatan harian yang lebih menarik.

©Selesaikan ketidakcocokan.

Jika terjadi ketidakcocokan antara Anda dan salah satu pengasuh, atasi masalah ¡tu secepat mungkin. Anak tidak menyukai percekcokan dalam bentuk apa pun yang terjadi di antara orang dewasa.

Perbedaan Individual

Mari kita ambil contoh sederhana seperti penerapan nilai-nilai positif. Anak bungsu mungkin akan menanggapi Anda dengan sangat baik jika Anda berjanji membacakan lebih banyak cerita sebelum tidur. Ini mungkin insentif yang tepat untuk memotivasinya agar berperilaku lebih baik. Tetapi, anak sulung mungkin tidak akan termotivasi dengan 'iming-iming' tersebut. Bisa saja ia akan lebih termotivasi jika insentifnya berbentuk waktu tambahan untuk bermain dengan teman. Minat dan ciri individual anak mempengaruhi cara Anda berinteraksi dengannya. Setiap anak dalam keluarga sering kali membutuhkan pendekatan pola asuh yang sedikit berbeda.

Perbedaan Usia

Kebutuhan emosional anak berubah-ubah seiring bertambah- nya usia. Pelukan dan sedikit kata- kata yang menenangkan biasanya cukup mengembalikan kepercayaan diri balita yang merasa dikucilkan oleh temannya. Sementara dalam situasi yang sama, anak 5 tahun yang sudah lebih dewasa memerlu- kan nasihat yang jelas mengenai cara memperbaiki kemampuan bersosialisasinya atau menyelesai- kan konflik. Agar lebih efektif,

Menemukan cara yang tepat untuk mengatasi masalah emosional anak adalah salah satu aspek terpenting dalam membesarkan anak.

© Monitor perkembangan.

Jika pendekatan yang Anda gunakan untuk menghadapi salah satu sisi tingkah laku anak tidak berhasil, mungkin sudah saatnya menerima kenyataan bahwa cara tersebut tidak tepat untuk anak Anda.

 

Perhatian yang dibutuhkan anak berbeda-beda, tergantung usia, temperamen, dan lingkungannya.

pola asuh hams disesuaikan sejalan dengan pertumbuhan anak.

Perbedaan yang Dinamis

Orang tua mungkin menemukan bahwa strategi yang terbukti ampuh untuk mengatasi perilaku anak pada minggu lalu mungkin berkurang keampuhannya pada minggu ini, atau bahkan tidak berhasil sama sekali. Interaksi antara orang tua dan anak bersifat dinamis dan fleksibel. Contohnya, ketika anak menangis di malam hari, pada awalnya Anda menggendongnya, memeluknya, memberinya minum kemudian meletakkannya kembali di tempat tidur. Ini adalah pendekatan yang biasa dilakukan orang tua atas dasar rasa sayang pada anak batitanya yang terbangun di malam hari karena mimpi buruk. Minggu berikutnya, ketika ia kembali mengalami mimpi buruk, Anda pun melakukan cara yang sama. Sekali lagi, itu adalah cara yang normal.

Tetapi, situasinya sedikit berbeda jika anak terbangun di malam hari untuk ketiga kalinya. Kali ini bukan karena mimpi buruk, tapi karena ia belajar bahwa jika ia terbangun di malam hari, ia akan mendapatkan pelukan, sedikit kesempatan

bermain, dan sedikit minuman. Dengan kata lain, ia sekarang berpikir bahwa bangun di malam hari ternyata menyenangkan! Strategi yang Anda lakukan sebelumnya sekarang menjadi kurang sesuai karena akan mendorong perbuatan yang sebenarnya justru ingin Anda cegah. Sekarang, jika Anda bermain dengannya lebih lama, maka ia akan bangun lagi besok malam. Untuk itu, sekarang putuskan untuk memberikan reaksi yang tidak berlebihan jika ia terbangun di malam hari. Mungkin

Anda bisa menenangkannya tanpa mengangkatnya dari tempat tidur dan tanpa memberinya stimulasi tambahan.

Melalui proses ini, pendekatan Anda dan perilaku anak telah berbaur mengubah satu sama lain dan membedakannya dari pendekatan yang semula Anda terapkan saat ia terbangun pertama kali. Oleh sebab itu, pola asuh yang Anda terapkan harus selalu fleksibel. Sekali lagi ini merupakan bukti bahwa Anda sebaiknya menjadi orang tua yang fleksibel.

Q Gunakan penilaian Anda.

Jangan mencoba langkah tertentu hanya karena teman Anda mengatakan bahwa cara tersebut berhasil diterapkan pada anaknya. Coba pikirkan apakah cara tersebut benar-benar cocok untuk anak Anda.

Q Menerima fleksibilitas.

Jika Anda menerapkan suatu strategi untuk menghadapi tingkah laku anak secara konsisten selama beberapa minggu dan tidak terjadi perubahan, cobalah cara lain.

G Gunakan pemahaman Anda.

Saat berinteraksi dengan anak, gunakan pemahaman Anda akan hal-hal yang ia senangi dan yang tidak ia senangi, kelebihan dan kekurangannya. Ini perlu Anda lakukan untuk dapat menetapkan strategi yang sesuai.


O Tetap tenang.

Jika suatu hari Anda melihat anak bertingkah laku meledak-ledak, bukan berarti ¡a tidak normal. Cobalah untuk tetap tenang. Sebelum mulai mengkhawatirkan bahwa anak Anda tidak normal, tunggu dan perhatikan apakah tingkah laku tersebut diulangi lagi.

 

Apa Saja yang Tergolong Normal?

Pertama-tama, Anda harus menyadari bahwa kebanyakan tingkah laku anak yang normal bisa cukup sulit untuk dihadapi, dan kebanyakan tingkah laku yang sulit dihadapi normal. Coba kita lihat lebih jauh tingkah laku apa saja yang dimaksud.

Tantrum

Tantrum atau kemarahan pada balita biasanya sangat menyita tenaga. Menghadapi kemarahan anak berusia 2 tahun akan membuat Anda kehabisan tenaga, merasa pesimis, tegang, dan kha­watir. Tetapi, tantrum pada balita adalah normal. Memang betul, tantrum sulit dihadapi, menyebal- kan, dan mengesalkan. Tetapi, ini tetap saja hal yang normal.

Tantrum itu normal dan biasanya terjadi pada anak usia balita. Kenyataan bahwa kemarahan anak sampai membuat kesabaran Anda habis dan bahkan membuat Anda meledak tetap tidak berarti bahwa itu adalah tingkah laku yang tidak normal. Sebaliknya, Anda seharus- nya heran jika menemukan orang tua yang anak balitanya tidak pernah mengalami tantrum.

Menyadari bahwa luapan kemarahan anak adalah normal, tidak membuatnya semakin mudah dihadapi. Tetapi paling tidak hal itu akan meyakinkan Anda bahwa

Q Berusaha untuk berubah.

Sebagian besar tingkah laku anak biasanya berubah berkat usaha orang tua. Tetapi, jika tingkah laku buruknya benar-benar tidak bisa diubah, wajar bila Anda menganggapnya sebagai masalah serius.

tingkah laku seperti ¡ni sangat normal dialami oleh semua orang tua.

Fase Sulit

Selain ¡tu, anak juga akan melalui beberapa fase perkembangan yang lebih sulit dihadapi. Misalnya, anak bisa saja terlihat percaya diri dalam bersosialisasi di tahun-tahun pertamanya, tapi tiba-tiba berubah menjadi pemalu ketika mulai masuk ke kelompok bermain. Pada hari-hari pertama, Anda mungkin akan mengalami kesulitan menenangkan balita Anda di sana karena ia terus memeluk Anda sambil menangis, memohon agar Anda tidak meninggalkannya walaupun ia sedang bermain bersama teman-temannya. Rasa malu dan keengganannya untuk berpisah dengan Anda disebabkan oleh pergantian suasana dan ini adalah reaksi normal. Rasa malu- nya lambat-laun akan hilang dalam beberapa minggu, sejalan dengan bertambahnya rasa percaya dirinya.

Perilaku Tidak Normal

Anda bisa menanyakan dua hal untuk menentukan apakah perilaku anak tergolong normal atau tidak:

Menuliskan tingkah laku anak dalam buku harían dapat membantu Anda mengenali apakah tingkah laku anak normal atau tidak. Jika nantinya Anda berkonsultasi dengan ahli, catatan Anda akan sangat berguna.

0 Sampai sejauh mana perilaku anak mengganggu kehidupan sehari-hari dan orang lain di sekitarnya?

Semakin besar dampak perilaku anak, semakin kecil kemung- kinan perilakunya itu bisa digolongkan sebagai perilaku normal. Contohnya, beberapa anak suka memukul untuk melampiaskan kemarahannya.

Ini adalah kebiasaan normal yang harus dihentikan sejak dini. Namun, ada kebiasaan memukul yang sudah sangat mengganggu hingga orang tua sering kali menerima keluhan dari guru dan orang tua lain hingga orang tua harus membatasi kehidupan sosial si anak karena dia sudah sangat mengganggu teman-temannya. Dalam hal ini, dampak per- buatan si anak pada kehidupan

orang di sekitarnya membuat kebiasaan memukulnya sudah tidak lagi tergolong normal.

0 Apakah perbuatan tersebut juga sering dilakukan oleh anak-anak seusianya? Sebagai contoh, sangatlah normal jika anak berusia 1 atau 2 tahun memiliki boneka atau mainan lain untuk membuatnya nyaman dan biasanya ia membawa boneka itu ke tempat tidur.


Anak bahkan mungkin membawa bonekanya saat pergi berjalan-jalan.Tetapi, adalah tidak normal jika anak berusia 7 tahun tetap membawa mainan- nya ke sekolah dan menangis histeris jika tidak diperbolehkan membawanya. Tingkah laku yang tidak sesuai dengan usia tidak dapat digolongkan sebagai tingkah laku normal.

O Bicaralah dengan anak.

Anak akan merasa ¡stimewa jika Anda menunjukkan ketertarikan dan perhatian padanya. Namun, Anda juga harus ingat bahwa akan ada saat-saat ¡a lebih suka duduk diam di rumah daripada mengobrol.

Walaupun sekarang anak tidak terlalu bergantung pada Anda untuk memberinya makan, mengganti pakaian, dan memberinya rangsangan-karena ia sudah menjadi anak yang aktif, selalu bergerak, dan waspada- bukan berarti Anda bisa duduk santai dan menganggap remeh ikatan yang sekian lama sudah dibina. Anda tetap harus bekerja keras untuk menjaga ikatan yang kuat hingga anak dewasa.

Tanpa ikatan emosional yang erat, tingkah laku anak akan sulit dikendalikan. la akan menjadi anak yang tidak bisa diatur, selalu men- cari perhatian, suka mengganggu, dan selalu membantah. Tingkah laku seperti ini tidak secara otomatis menandakan kelemahan ikatan batin antara Anda dan anak, tetapi bisa diartikan sebagai kesulitan dalam hubungan orang tua-anak.

Yang Bisa Anda Lakukan

Anda bisa menjaga ikatan batin antara Anda dan anak dengan cara terus menunjukkan padanya bahwa ia sangat berarti bagi Anda dan Anda sangat menghargainya apa pun yang ia lakukan.

  • Pantau semua hal yang terjadi dalam hidupnya. Kemungkinan besar Anda masih memiliki

Menyatakan betapa sayangnya Anda padanya dan mendengarkan apa pun yang dikatakannya merupakan hal yang penting untuk di lakukan.

© Ungkapkan perasaan Anda dengan kata-kata.

Hanya karena ia sudah lebih besar, bukan berarti ia tidak lagi menyukai komentar yang Anda ungkapkan dengan kasih sayang. Katakan betapa istimewanya dirinya bagi Anda dan betapa Anda sangat menyayanginya.

jadwal yang padat meski ¡a mulai beranjak besar atau masuk sekolah dasar. Sementara itu, ¡a juga sibuk mengikuti berbagai macam kegiatan di luar rumah, seperti kursus menari, berenang, atau drama, dan menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Ini berarti Anda tidak akan selalu bersama dengannya. Itu tidak masalah selama Anda tetap menunjukkan ketertarikan ter- hadap hal-hal yang terjadi dalam hidupnya. Perubahan ini justru merupakan bukti dari kemajuan perkembangannya. Ajukanlah pertanyaan seputar keigatannya, berikan nasihat, dukung kema- juannya, puji keberhasilannya, dan dengarkan keluh kesahnya.

Dengarkan ketika ia ingin mengutarakan perasaannya.

Luangkan waktu sejenak untuk berkomunikasi dengan anak sehingga ia bisa berbicara secara bebas mengenai perasaan, pandangan, dan harapannya. Kehidupan keluarga kadang terasa begitu padat, tapi Anda tetap harus berusaha meluangkan waktu. Komunikasi yang lancar dapat menjadi perekat bagi hubungan dua arah. Anak terkadang dapat merasa enggan untuk melepaskan diri dari masa bayinya dan ia sewaktu-waktu dapat berkelakuan seperti bayi untuk menarik perhatian Anda.

Jagalah kedekatan dengan menenangkannya ketika ia sedih. la mungkin terkesan percaya diri dan mandiri. Tetapi, sebenarnya ia tetap seorang anak yang rapuh secara emosional se­lama masa kanak-kanaknya. Anak membutuhkan Anda walaupun ia terlihat sangat mandiri. Cobalah untuk berada di sampingnya saat ia sedih. Kasih sayang dan kata-kata yang menenangkan dapat membantunya melupakan rasa sedihnya. la akan kembali merasa aman karena tahu bahwa Anda ada di sisinya, dan akan selalu ada untuknya di kemudian hari.

  • Cobalah memecahkan masalah bersamanya. Anda memang harus memberinya rasa aman dan nyaman, tetapi ikatan antara Anda berdua akan semakin kuat jika Anda juga membantunya menyelesaikan permasalahan yang ia hadapi. Misalnya, jika anak sedih karena tidak punya teman, cobalah membuat rencana piknik sehingga ¡a bisa mengundang satu atau dua orang temannya. Sebuah solusi yang sederhana dan praktis untuk permasalahan yang ia hadapi akan meningkatkan keyakinannya terhadap ikatan batin antara orang tua dan anak.

© Hargai anak Anda.

Masalah-masalah kecil yang dapat ia selesaikan setiap hari adalah prestasi yang menurutnya penting. la akan lebih menghargai ikatan batin dengan Anda jika Anda menghargai perasaannya.

© Beri ia banyak pujian.

Jangan ragù untuk memberikan pujian pada setiap kemajuan yang diraihnya. la menghargai pujian Anda, tetapi cobalah untuk tidak berlebihan sehingga membuatnya mempertanyakan ketulusan Anda.

©Nikmati kegiatan bersama.

Betapa pun sibuknya Anda, cobalah tetap meluangkan waktu setiap hari untuk melakukan kegiatan bersama anak, seperti bermain kartu atau membaca buku bersama.

 

O Peraturan yang sederhana.

Semakin sederhana sebuah peraturan, semakin baik. Pertama, anak akan lebih mudah memahaminya. Kedua, tidak ada keragu-raguan atau tidak ada ruang baginya untuk mengartikan peraturan tersebut dengan caranya sendiri.

Pandangan Anda mengenai disiplin untuk anak dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti kenangan semasa Anda dibesarkan, nasihat orang tua, teman dan keluarga, serta pengamatan Anda terhadap cara-cara orang lain mengendalikan tingkah laku anaknya. Luangkan waktu sejenak untuk memikirkan berbagai sumber pengaruh tersebut. Hal ini dapat membantu Anda memahami dari mana asal pan­dangan Anda mengenai disiplin.

Model Disiplin

Sebagian besar model disiplin dapat digolongkan ke dalam beberapa kategori di bawah ini. Tetapi, kemungkinan besar model disiplin yang Anda pilih setidaknya adalah perpaduan antara dua dari ketiga teori di bawah ini:

O Orang tua memimpin.

Dengan model ini, orang tualah yang menetapkan peraturan dan tidak ada tawar-menawar. Peraturan yang telah ditetapkan tidak dapat diubah, tidak bisa dibantah, dan harus diikuti setiap saat.

© Anak memimpin. Dengan model ini, anak diperbolehkan menentukan peraturan bagi dirinya sendiri. la menetapkan sendiri batasan bagi perilakunya dan belajar melalui pengalamannya.

© Orang tua dan anak

memimpin bersama. Dengan gaya ini, peraturan dijelaskan oleh orang tua, tapi bisa

© Periksa pemahamannya.

Salah satu cara untuk memastikan apakah anak memahami sebuah peraturan adalah memintanya menjelaskan kembali peraturan tersebut. Dari caranya menjawab, Anda bisa mengetahui apakah ia benar- benar memahami maksud peraturan itu.

Sedikit fleksibilitas sering kali dibutuhkan dalam mendisiplinkan anak yang lebih besar, tetapi konsistensi dan keadilan tetap sang at penting.

Menjadikan Peraturan Sebagai Bagian Hidup

Tujuan utama Anda adalah membiasakan anak untuk memiliki disiplin diri, untuk membuat peraturan tersebut sebagai bagian dari hidupnya. Dengan kata lain, pada akhirnya ia harus mencapai suatu titik ketika ia bisa memahami sendiri semua peraturan dan menaati peraturan tersebut tanpa perintah dari Anda. Disiplin diri hanya bisa terjadi jika peraturan sudah dijelaskan pada anak. Tanpa memahami inti peraturan ‘mengapa ia harus ber- tingkah laku seperti yang diharapkan?’, mungkin ia akan menaati peraturan tersebut saat Anda mengawasinya. Tetapi, ia tidak akan menaatinya saat Anda berhenti mengawasi. Ben ia banyak pujian saat Anda melihat ia berperilaku seperti yang diharapkan tanpa harus Anda ingatkan.

dinegosiasikan sampai batas tertentu oleh si anak saat ia sudah bertambah usia.

Riset psikologis menunjukkan bahwa disiplin biasanya akan lebih efektif jika dipimpin bersama oleh orang tua dan anak. Dengan model ini, anak didorong untuk memahami maksud peraturan tersebut sejak usia dini, sekaligus memiliki wewenang dalam batas tertentu atas peraturan tersebut.

Q Berikan alasan mengapa Anda menerapkan peraturan tersebut.

Peraturan yang Anda tetapkan harus dilatarbelakangi alasan yang masuk akal. Jika Anda tidak bisa memberikan alasan yang masuk akal, maka mungkin sudah saatnya Anda berpikir untuk mengganti peraturan tersebut.

Nah, sekarang pilihlah model disiplin yang sesuai bagi Anda dan si kecil.

Berubah Sesuai Usia

Perlu diingat bahwa model disiplin yang Anda pilih akan berubah seiring perkembangan anak. Perubahan ini disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, pengala- man Anda telah bertambah dan Anda sudah mempelajari yang cocok untuk diterapkan pada anak. Kedua, pemahaman sang anak juga semakin berkembang seiring pertambahan usia. Sebagai contoh, adalah tindakan yang masuk akal apabila Anda berusaha menjelaskan pada anak yang berusia 8 tahun bahwa tingkah lakunya tidak bisa diterima. Tetapi, pendekatan seperti itu tentunya kurang sesuai untuk diterapkan pada anak yang masih berusia 18 bulan.

O Buatlah peraturan sejelas mungkin.

Anda tahu bagaimana anak harus bertingkah laku, tetapi mungkin ia sendiri tidak tahu. Jelaskan sejak awal apa yang Anda harapkan darinya. Jangan menjelaskan peraturan tersebut kemudian.

Sebagian besar orang tua semakin fleksibel dalam menerapkan disiplin sejalan dengan semakin dewasanya anak. Ini karena mereka semakin yakin akan kemampuan anak dalam mengartikan peraturan dan membuat sendiri pertimbangan yang cukup matang. Pendekatan seperti ini sebenarnya tidak masalah. Tetapi, berapa pun usia anak, ia masih membutuhkan pendekatan yang konsisten dari Anda .dalam menerapkan disiplin. la akan lebih berhasil jika terdapat stabilitas. Jadi, apabila ingin memberi kelonggaran terhadap peraturan yang mengikatnya selama ini, sebaiknya Anda melakukannya secara perlahan dan sedikit demi sedikit.

O Berikan fleksibilitas.

Hanya ada sedikit peraturan yang tidak bisa diadaptasi. Tidak ada salahnya sesekali melonggarkan peraturan, misalnya dengan mengubah jam tidurnya saat keluarga sedang merayakan acara istimewa. Jelaskan mengapa Anda melonggarkan peraturan jam tidurnya pada saat seperti itu agar ia tidak mengharapkan peraturan ini bisa dilonggarkan setiap saat.


O Beri hukuman sesedikit mungkin dan pujian sebanyak mungkin.

Lebih baik tunjukkan bahwa Anda lebih suka memberikan penghargaan daripada memberikan hukuman. Namun ingat, anak akan bereaksi lebih baik terhadap hal yang wajar daripada yang diberikan secara berlebihan.

  • Tekankan contoh tingkah laku yang baik. Daripada memarahi anak saat ia berlaku buruk, sering-seringlah memujinya saat ia berlaku baik. Misalnya, katakan padanya bahwa Anda senang melihatnya membantu teman mengerjakan pekerjaan rumah. Dukungan Anda akan membuatnya lebih bersemangat.
  • Nyatakan peraturan dengan nada positif. Peraturan yang diawali dengan kata 'Jangan...' hanya akan memberitahu anak apa yang tidak boleh ia lakukan. Nasihat seperti ini tidak menun- jukkan apa yang seharusnya ia lakukan. Peraturan bernada negatif yang diawali kata 'Jangan...' juga menciptakan suasana yang kurang menyenangkan. Jadi, hindari membuat peraturan yang diawali kata 'jangan' atau 'tidak'.
  • Tanyakan pendapat anak mengenai peraturan yang ada. Mengajaknya memahami dan merancang peraturan untuk dirinya sendiri akan membuat si kecil merasa sebagai bagian dari proses tersebut. Sejak usia 3 atau 4 tahun, Anda bisa mulai mengajaknya berdiskusi mengenai pentingnya suatu peraturan. la juga bisa mengusulkan beberapa peraturan bagi dirinya sendiri.
  • Temukan hal-hal positif setiap hari. Betapa pun melelahkannya hari Anda, temukan satu hal

Q Rangkumlah kegiatan sehari-hari.

Luangkan beberapa menit dengan anak di penghujung hari untuk melihat kembali perilakunya. Sebaiknya, lakukan ini saat Anda berdua dalam keadaan tenang dan tidak terburu-buru.

yang dilakukan si kecil hari itu yang layak mendapatkan pujian. Terkadang, mungkin hal itu sangat sulit ditemukan. Tapi, tetaplah berusaha! Mengakhiri hari dengan cara yang positif dijamin akan selalu membuat hati Anda berdua gembira.

Memukul Tidak

Menyelesaikan Masalah

Bagian dari pendisiplinan positif adalah komitmen untuk tidak memukul anak. Kekerasan fisik (yang berarti memukul, 'sehalus' apa pun) akan melukai anak, membuatnya takut, dan mengurangi rasa amannya. Setiap orang dewasa bisa saja menyiksa anak dengan menggunakan hukuman fisik agar sang anak mematuhi peraturan. Tetapi, cara seperti itu adalah penindasan, bukan disiplin!

Ada beberapa alasan lain mengapa Anda tidak perlu memukul. Pertama, memukul tidak menyelesaikan masalah. Tidak ada satu bukti penelitian pun yang menunjukkan bahwa anak yang dipukul akan berperilaku lebih baik daripada yang tidak. Bahkan sebaliknya, riset menunjukkan bahwa anak yang dipukul pada usia 4 tahun biasanya masih harus dipukul ketika mereka berusia 7 tahun. Dengan kata lain, memukul

Menemukan hal-hal yang dapat membuat Anda berdua merasa senang adalah cara yang baik untuk mengakhiri hari Anda.

dalam jangka panjang tidak akan memberikan dampak positif pada tingkah laku anak.

Setelah melampiaskan kekesalan dengan memukul, Anda akan langsung merasa bersalah dan kecewa. Tidak ada satu orang tua pun yang senang melihat anaknya menatap dengan penuh ketakutan. Ini sudah pasti tidak akan menjadi landasan yang positif untuk membentuk disiplin. Selain itu, memukul anak memberikan contoh yang buruk dan memberikan kesan bahwa kekerasan adalah hal yang bisa diterima.

Berbicara dengan Positif

Dalam mengajarkan disiplin pada anak, bahasa yang Anda gunakan berpengaruh terhadap tingkah laku dan reaksi anak. Cobalah menyampaikan kritik secara positif. Misalnya, daripada mengatakan,

‘Kamu anak yang jahat karena memukul adikmu seperti itu’, Anda bisa mengatakan ‘Ibu kaget kamu sampai memukul adikmu seperti itu. Bukankah kamu selama ini anak yang sangat menyenangkan dan baik hati?’ Dengan menempatkan tingkah laku buruknya dalam konteks pujian yang lebih umum, ia akan cenderung lebih mendengarkan dan lebih tidak bersikap defensif.

Q Jangan merasa bersalah.

Setiap orang tua pernah melakukan sesuatu terhadap anaknya yang disesali kemudian. Ingat, tidak ada orang yang sempurna! Jika Anda bereaksi berlebihan, mintalah maaf padanya. Hal ini penting bagi anak agar ia menyadari bahwa setiap orang bisa membuat kesalahan.

O Selesaikan konflik secepatnya.

Setelah suatu insiden kelakuan buruk berakhir, segeralah lupakan. Jangan tergoda untuk selalu mengungkit kembali di lain hari. Cobalah untuk selalu berpandangan positif ke depan.

©Beritahukan pada yang lain.

Ketika si kecil berkelakuan baik seharian, ceritakanlah hal itu kepada neneknya (atau kerabat yang lain) di telepon dan biarkan ia mendengarkan Anda memujinya. Biarkan ia mendengar Anda menceritakannya pada nenek (atau saudara yang lain) di telepon agar ia bisa mendengar saat Anda memujinya.


O Tumbuhkan rasa sensitif.

Mintalah anak untuk berpikir bagaimana perasaan orang lain akibat perbuatannya. Anda dapat berharap memperoleh jawaban yang lebih dari sekadar, ‘Aku tidak tahu’ seperti yang biasa ia lontarkan.

Sama halnya dengan anak berumur 2 tahun, anak berusia 8 tahun pun akan cenderung berkelit dari tanggung jawab, kecuali jika ia diajarkan berbuat sebaliknya. Agar anak memahami dan menerima konsep tanggung jawab, ia harus:

  • Menyadari bahwa setiap tingkah lakunya akan berdampak pada orang di sekitarnya dan caranya berperilaku akan menimbulkan reaksi dari orang lain.
  • Mengakui bahwa dirinyalah yang memegang kendali atas kelakuannya sendiri dan dirinyalah yang membuat pilihan untuk berperilaku dan menaati peraturan.
  • Siap mengakui akibat perbuatannya dan berusaha memperbaiki.

Bagi anak, hidup akan menjadi lebih mudah jika ia tidak harus bertanggung jawab atas perbuatannya. Tidak perlu bertanggung jawab, berkomitmen, dan berpikir sebelum bertindak. Karena itu, tidak heran jika ia lebih senang melemparkan tanggung jawab kepada Anda.

Yang Bisa Anda lakukan

Langkah pertama untuk mengajarkan anak bertanggung jawab atas perbuatannya adalah

Sekali Anda memutuskan hukuman (misalnya film kesukaannya), Anda harus tetap tegas.

O Selalu jelaskan hukuman dan penghargaan.

Jangan memberi penghargaan atau hukuman tanpa penjelasan. Anda tidak bisa terlalu yakin bahwa anak mampu melihat keterkaitan perbuatannya dengan reaksi Anda.

Seorang anak yang melakukan suatu kesalahan dengan sengaja ha rus mem a ha mi bahwa ia bertanggung jawab penuh atas perbuatannya dan juga akibatnya.

mengaitkan secara jelas perbuatannya dengan penghargaan ataupun hukuman yang diperoleh. Karena ¡tu, Anda harus menanggapi tingkah lakunya dengan cepat sesuai usianya.

Jarak waktu yang terlalu jauh antara perbuatan dengan pemberian penghargaan/hukuman bisa membuat anak gagal melihat hubungan antara keduanya sehingga ¡a tidak dapat mengembangkan rasa tanggung jawab. Sebagai patokan, jarak waktu antara perbuatan anak dan reaksi Anda tidak boleh lebih dari hitungan detik jika ia berusia

Mengingatkan Anak

Tanggung jawab selalu seiring dengan pilihan. Jadi, cobalah memberi anak semacam peringatan untuk menjelaskan akibat perbuatannya.

Lalu, ia bisa menentukan pilihan apakah ia akan menaati peraturan yang Anda tentukan. Misalnya, katakan padanya, ‘Kalau kamu menyenggol meja sekali lagi, Ibu akan menyuruhmu ke kamar.’ Lalu, jika ¡a ternyata menyenggol meja lagi, katakan padanya, ‘Seperti yang sudah Ibu peringatkan, kamu harus segera ke kamar karena kamu menyenggol meja.’ Memberikan peringatan seperti ini akan membuat anak bertanggung jawab atas perbuatannya.

2 tahun, menit jika ia berusia 4 tahun, dan jam jika ia berusia 7 atau 8 tahun.

Selalu berikan penjelasan atas penghargaan atau hukuman yang Anda berikan. la tidak bisa mulai bertanggung jawab atas perbuatannya sebelum ia mengerti alasan di balik reaksi Anda. Jangan berasumsi dalam hal ini, katakan saja apa adanya dengan jelas. Misalnya, Anda mengatakan padanya, 'Mama melarang kamu menonton film kesukaanmu karena kamu baru saja marah-marah pada adikmu,' terdengar jelas bagi Anda, tetapi mungkin tidak bagi anak. Semakin jelas Anda menerangkan keterkaitannya, semakin baik pula si kecil mencerna hubungan sebab akibat yang ada.

© Berikan hukuman sesuai porsinya.

Anak tidak akan mau belajar bertanggung jawab jika reaksi Anda terlalu berlebihan. Sebaliknya, ia akan berusaha keras untuk menutup-nutupi kesalahannya.

© Jaga agar peraturan selalu konsisten.

Salah satu keuntungan memiliki pendekatan disiplin yang konsisten dan terstruktur adalah anak akan belajar memperkirakan secara tepat reaksi yang Anda berikan terhadap kesalahan yang ia perbuat.

©Memperbaiki kesalahan.

Jika mungkin, temukan cara agar anak dapat memperbaiki kesalahannya. Misalnya, ¡a bisa minta maaf pada anak yang mainannya ia rusakkan.

O Beri simpati.

Insiden kecil bisa membuat anak kehilangan kontrol diri. Nilai ujian yang mengecewakan atau kesedihan karena tidak diundang ke pesta teman bisa membuatnya amat kesal.

Perlu diingat bahwa dalam jangka panjang, ia (bukan Anda) harus bertanggung jawab atas perbuatannya. Berarti, sebaiknya reaksi pertama Anda bukanlah menghukum si kecil secara berle- bihan bila ia melakukan kesalahan. Hal itu justru akan membuat Anda terkesan mengambil alih tanggung jawab atas apa yang telah dilaku- kannya. la harus mulai berinisiatif sendiri dan mengembangkan berbagai teknik yang berguna yang bisa ia (bukan Anda) gunakan untuk memperbaiki kemampuan pengendalian dirinya.

  • Berikan pemahaman. Ajarkan

anak untuk memahami perasaan orang lain. Ingatkan ia bahwa tingkah lakunya akan berpengaruh

Menghadapi Kemunduran

Sekeras apa pun usaha Anda untuk mengajarkan pengendalian diri pada anak, akan ada saat-saat ketika ia melupakan semua yang Anda ajarkan- ingatlah bahwa ia juga manusia biasa. Jangan terlalu mempermasalahkan kemunduran yang kadang terjadi dalam kemampuan pengendalian dirinya. Cobalah sebaik-baiknya untuk tidak bereaksi berlebihan. Kemungkinan besar, ia sama kecewanya dengan Anda karena menyadari bahwa sekali lagi ia berada dalam kesulitan karena kesalahannya sendiri. Hadapi keadaan ini dengan singkat dan cepat, lalu jangan ungkit- ungkit lagi. Dengan bertambah besarnya anak, kemunduran sementara dalam kemampuan pengendalian dirinya akan semakin jarang terjadi.

Q Gunakan taktik menunda.

Anda bisa membantu anak mengembalikan kontrol dirinya dengan menyarankan agar ia menghitung 1 sampai 10 sebelum bereaksi terhadap sesuatu. Taktik menunda ini akan memberinya waktu untuk berpikir sebelum bertindak.

 

Anak yang lebih besar juga memerlukan bantuan untuk mengendalikan tingkah lakunya. Waspadalah terhadap tanda-tanda stres yang ia pendam.

terhadap orang lain, la akan lebih terpacu untuk mengontrol dirinya jika ia benar-benar memahami bahwa kurangnya pengendalian diri berakibat negatif pada orang-orang yang ia sayangi.

  • Doronglah anak untuk berpikir. Bantu anak untuk berpikir sebelum bertindak. Ini adalah hal yang sulit dilakukan bagi anak yang aktif karena ia secara alami terbiasa untuk langsung bereaksi atas keinginannya. Berilah ia saran untuk menunggu satu atau dua detik sebelum bereaksi.
  • Monitor kemajuan.

Perhatikanlah kapan anak bersikap dewasa dan tidak begitu saja menuruti dorongan untuk segera bereaksi. Misalnya, pujilah ia ketika Anda melihatnya berhasil mengendalikan amarah saat diejek oleh adiknya.

Menghargai Peraturan di Rumah

Wajar bila Anda mengharapkan si kecil menghargai peraturan yang Anda terapkan di rumah (dengan syarat bahwa peraturan tersebut masuk akal, adil, dan beralasan). Saat anak mencoba menentang standar tingkah laku di rumah,

Q Berikan contoh yang baik.

Anda tidak bisa mengharapkan si kecil mengendalikan diri jika ia melihat Anda langsung marah saat tidak mendapatkan hal yang Anda inginkan.

tetaplah berpegang teguh pada prinsip Anda. Jangan cepat menyerah hanya karena Anda menginginkan suasana yang tenang. Tentunya kelihatan lebih mudah untuk memberikan apa yang ia inginkan, karena dengan begitu ¡a akan tenang kembali. Tapi, untuk jangka panjang, strategi ini akan berakibat buruk.

Tetapkan peraturan rumah sejelas mungkin dan tunjukkan

O Tandai hal-hal positif.

Jelaskan dampak positif dari pengendalian diri anak. Misalnya, Anda bisa mengingatkan bahwa teman- temannya akan lebih suka bermain bersamanya jika tingkah lakunya lebih tenang.

ketidaksenangan Anda bila ia melanggarnya. Jelaskan alasan untuk setiap peraturan dan dampaknya jika ia melanggar. Tunjukkan bahwa peraturan ini juga bermanfaat baginya, Misalnya, peraturan 'tidak boleh memukul' berarti juga menjamin ia tak perlu khawatir dipukul dan ditendang oleh adiknya. la akan lebih meng­hargai peraturan jika ia menyadari bahwa peraturan tersebut juga bermanfaat bagi dirinya.

O Bantu ia mencari solusi.

Jika ia berkelakuan buruk dan sekali lagi membuat dirinya berada dalam kesulitan, minta ia untuk memikirkan bagaimana situasi seperti ini bisa dihindari. la mungkin bisa mencari solusinya sendiri.

 

Tingkah Laku Buruk yang Membandel

Perilaku buruk yang dilakukan anak berulang kali bisa membuat Anda pusing. Misalnya, anak batita Anda selalu ingin menyentuh barang pecah belah atau anak Anda yang berusia 7 tahun selalu menggerutu saat diminta membereskan kamarnya. Ini semua bisa menyebabkan Anda merasa frustrasi dan jengkel.

O Siapkan daftar hukuman.

Untuk memudahkan Anda, kumpulkan daftar hukuman untuk kesalahan yang sering dilakukan, misalnya jika ia memukul adiknya, berarti ia harus tidur 10 menit lebih awal malam itu.

 

bukan dengan kemarahan Anda.

Ini sama halnya dengan orang dewasa yang tidak akan dihukum gantung hanya karena melanggar peraturan parkir walaupun pelang- garan tersebut menyebabkan gangguan lalu lintas yang serius. Anak pun tidak perlu mendapat hukuman berat untuk kesalahan kecil walaupun perbuatannya memancing kemarahan Anda. Jika reaksi Anda tidak proporsional dengan kesalahan anak, ia akan mengalami kesulitan memahami tujuan pengajaran disiplin yang Anda terapkan.

Sebisa mungkin, berikan hukuman yang temanya sesuai dengan kesalahannya. Misalnya, jika anak merusak mainan temannya karena

Maksud bukan Akibat

Anda tahu bahwa motif dari sebuah tindakan jauh lebih penting daripada hasil akhirnya. Misalnya, tidak sengaja menumpahkan semangkuk susu dan sereal di lantai adalah kesalahan yang lebih kecil dibanding dengan sengaja menumpahkan sesendok susu di lantai. Tetapi, sesuai sifat alami manusia mungkin Anda akan langsung menghukum anak karena melihat hasil akhirnya dan bukan motifnya. Coba pikirkan motif dan pandangan yang mendasari tingkah lakunya, lalu pertimbangkan faktor tersebut sebelum Anda menganggapi perbuatannya.

Anak-anak bisa sating mendorong untuk melakukan perbuatan buruk. Jadi, pastikan teman-teman anak juga memahami peraturan Anda.

© Variasikan hukuman.

Bersiaplah memadupadankap hukuman yang telah Anda siapkan. Hukuman yang kelihatannya bisa membuat anak jera pada hari itu mungkin tidak akan memiliki efek yang sama seminggu kemudian.

Pertengkaran biasanya sering terjadi, namun meminta salah satu anak atau keduanya untuk minta maaf bisa me reda kan suasana.

marah, ia harus menggantinya dengan salah satu mainannya. Jika ia mengambil permen adiknya tanpa izin, ia harus menggantinya dengan permennya. Walaupun tidak selalu bisa dilakukan, langkah ini merupakan cara yang sangat efektif.

Konsistensi

Tentu saja, Anda harus lebih fleksibel dalam menghadapi tingkah laku anak. Situasi dan konteks setiap insiden sangatlah menentukan. Selain itu, sesekali Anda harus memberi sedikit ke- longgaran, misalnya ketika tingkah laku buruk anak dipicu oleh kelakuan temannya. Tapi sebisa mungkin, cobalah untuk selalu menerapkan konsistensi dalam pendekatan yang Anda gunakan dalam pemberian hukuman.

Orang tua sering merasa kecewa melihat sang anak yang baru saja dihukum atas kesalahannya mengulangi tindakannya kembali beberapa menit kemudian. Ini dapat menimbulkan rasa tidak percaya diri dan membuat orang tua merasa bahwa pengajaran disiplinnya tidak berhasil. Mereka mulai berpikir bahwa anak tidak akan berkelakuan buruk apabila mereka sendiri adalah orang tua yang efektif. Akibatnya, keesokan

© Belajar dari orang tua lainnya.

Setiap orang tua menggunakan sistem hukuman sendiri. Anda bisa mempelajari kemungkinan lain melalui diskusi dengan orang tua lain seputar pendekatan yang mereka gunakan.

harinya saat si anak mengulangi kesalahannya, mencoba cara baru. Ketika cara itu juga tidak berhasil seperti yang diinginkan, mereka beralih lagi ke cara lain.

Berganti dari satu strategi ke strategi lain akan menghancurkan konsistensi dan mengurangi manfaat yang mungkin diperoleh dari cara yang digunakan. Beri kesempatan agar pengajaran disiplin serta pemberian penghargaan dan hukuman yang Anda terapkan bekerja. Secara umum, Anda harus terus berpegang pada strategi tertentu selama dua atau tiga minggu sebelum menyerah. Konsistensi adalah hal penting bagi anak dalam menumbuhkan pengendalian diri. la tidak bisa mencapai pengendalian diri jika Anda terus-menerus mengganti pendekatan dari hari ke hari.

©Pastikan anak memahami.

Ketika masa hukuman sudah dilalui, ajak ia bicara untuk memastikan ia mengerti bahwa masa hukuman sudah berakhir. Kembalikan suasana positif di antara Anda berdua.

 

Strateg¡: Penghargaan dan Hukuman


Pada awalnya, sebagian besar orang tua selalu tergoda untuk mengatasi tingkah laku anak dengan hukuman daripada penghargaan sebab kita lebih cepat menanggapi kelakuan buruk daripada kelakuan baik. Meskipun begitu, Anda harus berusaha untuk lebih mengutamakan penghargaan daripada hukuman.

Pro dan Kontra

Ada beberapa alasan mengapa penghargaan adalah strategi yang lebih efektif untuk menghadapi tingkah laku anak. Memberi penghargaan biasanya lebih manjur karena:

  • Anda akan lebih memusatkan perhatian pada tingkah laku baik anak.
  • Memberikan penghargaan lebih menyenangkan dan anak pun lebih senang menerimanya.
  • Hubungan Anda dan anak menjadi lebih erat.
  • Penghargaan meningkatkan rasa percaya diri anak.

Sebaliknya, pemberian hukuman akan:

  • Memusatkan perhatian hanya pada kesalahan anak.
  • Tidak menyenangkan bagi pemberi dan penerima hukuman.
  • Melemahkan hubungan Anda dan anak.
  • Mengurangi rasa percaya diri anak.

Hadiah Berwujud Barang

Anda ingin anak berlaku baik karena rasa hormat dan perhatian terhadap perasaan orang lain, bukan untuk mendapatkan penghargaan. Jika ia berlaku baik hanya untuk mendapatkan hadiah yang dijanjikan, begitu ia memperolehnya tidak ada alasan lagi baginya untuk terus bertingkah laku seperti yang diharapkan. Karena itu, para psikolog menemukan bahwa program pembentukan perilaku anak yang hanya didasari oleh hadiah berwujud barang biasanya hanya berdampak sementara dan tingkah laku buruknya akan kembali setelah pemberian hadiah dihentikan. Sebagai gantinya, cobalah mendorong anak agar berlaku baik berdasarkan keinginannya untuk mendapatkan keba- hagiaan karena telah berbuat baik pada orang lain, la akan berlaku lebih bertanggung jawab jika ia meng- hargai dirinya sendiri, orang lain, dan hubungan yang ia jalin dengan mereka. Anda bisa mencapai ini dengan lebih efektif melalui diskusi dan penjelasan, daripada memberikan barang, uang, atau hadiah lainnya. Konsep "Kepunahan"

Anda bisa secara tidak sadar mendukung tingkah laku buruk si kecil melalui reaksi Anda. Misalnya, setiap kali anak memegang suatu barang di supermarket saat berbelanja, Anda berhenti, menggendong, memperingatkannya selama beberapa detik, lalu terus menggandeng tangannya agar ia selalu berada di samping Anda.

Tanpa Anda sadari, reaksi ini sebenarnya akan mendu­kung tingkah laku buruknya. la menyadari bahwa Anda mulai memperhatikannya. la belajar bahwa dengan memegang benda-benda di supermarket, ia akan menarik perhatian Anda. Namun, apabila Anda mengabaikannya, tingkah laku buruknya bisa 'punah' dengan sendirinya. Dengan cara ini ia akan berpikir, ketidakpedulian Anda menandakan tingkah laku buruknya kurang menarik untuk Anda. Taktik seperti ini tidak selalu berhasil, tetapi bisa dicoba.

Saatnya Mengatakan 'Tidak'

Walaupun Anda berusaha sebisa mungkin untuk menghindari peraturan yang kaku atau menggunakan hukuman dan lebih menekankan pendekatan positif dalam pengajaran disiplin, ada saat-saat tertentu ketika Anda harus menerapkan peraturan dengan tegas. Saat-saat tersebut biasanya berkaitan dengan keselamatan, misalnya:

  • Anak Anda yang berusia 2 tahun akan meminum cairan dari botol yang disimpan di bawah bak cuci piring di dapur.
  • Anak Anda yang berusia 4 tahun akan mengendarai sepeda roda tiganya di jalan raya.
  • Anak Anda yang berusia 6 tahun akan memukul adiknya.
  • Anak Anda yang berusia 8 tahun mencoba bereksperimen dengan memasukkan mainan ke dalam sakelar listrik.

Prinsip Praktis

O Berikan hadiah pada waktu yang tepat.

Jangan coba-coba menghentikan kelakuan buruk anak dengan menjanjikannya hadiah jika ia menghentikan perbuatannya. la justru akan mengharapkan hadiah setiap kali ¡a melakukan kesalahan!

O Gunakan hadiah dengan tepat.

Pastikan ada saat-saat ketika Anda memberi hadiah pada anak atas tingkah laku baiknya, walaupun ¡a tidak mengharapkannya.

O Berikan hadiah yang sesuai.

Hindari memberi hadiah yang berlebihan, karena ¡a akan merasa hadiahnya jauh lebih penting daripada perbuatan yang membuatnya mendapatkan hadiah ¡tu.

o Dukung ia untuk berlaku baik tanpa iming-iming hadiah.

Sekali waktu Anda bisa memintanya melakukan sesuatu untuk Anda, tanpa menjanjikan hadiah.

O Berikan hadiah atas usahanya.

Berikan hadiah padanya semata-mata karena ia benar- benar berusaha bertingkah laku baik, tanpa melihat apakah ¡a berhasil mencapai tujuannya atau tidak.

strategi: Bagan Bintang

Bagan bintang adalah metode seder- hana yang memungkinkan pemberian insentif visual untuk perilaku baik secara teratur. Umumnya, bagan bintang terdiri dari kotak dengan satu kolom untuk masing-masing hari. Setiap kolom hari dibagi menjadi 3 bagian (pagi, siang, malam) atau dibagi berdasarkan jam (8 - 9, 9 - 10, dan seterusnya).

Bagaimana Menggunakan Bagan Bintang

Setiap kali anak bertingkah laku seperti yang diharapkan pada waktu-waktu tertentu, berikan bintang kecil untuk ditempelkan pada kotak yang telah dialokasikan untuk waktu tersebut. Rasa bangganya karena mendapatkan bintang akan mendukung tingkah laku baiknya. Langkah ini juga akan memacunya untuk terus berlaku baik demi mendapatkan bintang lebih banyak lagi pada bagannya. Bagan bintang dapat digunakan sejak usia 2 atau 3 tahun ke atas.

Kontrak Tingkah Laku

Bagi anak yang lebih besar, mungkin usia 5 atau 6 tahun, Anda bisa menggunakan kontrak tingkah laku. Kontrak yang dimaksud adalah kontrak tertulis antara Anda dan anak, yang ditandatangani oleh Anda berdua. Kontrak ¡ni berisi:

  • Komitmen yang akan diberikan anak, misalnya membereskan kamarnya setiap malam sebelum tidur.
  • Ñama orang yang menandatangani kontrak, biasanya Anda dan si kecil, serta tanda tangan Anda berdua.
  • Penghargaan atau insentif yang akan ia terima bila berhasil mencapai target yang ditentukan dalam kontrak.
  • Hukuman atau pengambilan hak yang harus dihadapi anak jika ¡a tidak berhasil memenuhi kewajibannya seperti yang tertera dalam kontrak.
  • Bagaimana pelaksanaan kontrak akan diawasi,

 

Tanya-Jawab

Apakah yang dimaksud dengan buku harían tingkah laku?

Sama seperti bagan bintang, buku harían adalah cara yang mudah untuk mencatat tingkah laku anak. Di penghujung waktu tertentu dalam sehari, tuliskan tingkah laku anak dalam buku harían secara mendetail selama periode tersebut. Lalu,

Anda bisa mendiskusikan ¡si buku harían tersebut, baik ataupun buruk, dengan anak sesegera mungkin (agar ia bisa mengingat apa yang terjadi dan mengapa ia melakukannya). Kemudian, ¡a bisa menyimpan buku hariannya untuk dibaca kapan saja.

Bukankah bagan bintang, kontrak, dan buku harían tingkah laku justru akan membuat kita harus bertanggung jawab atas tingkah laku anak, bukan sebaliknya?

Ini hanya terjadi jika Anda tidak menggunakan strategi tersebut dengan baik. Anak harus turut mengingatkan Anda untuk menempelkan bintang atau mengisi buku harían. Tentu saja, Anda harus tetap melakukannya jika ia lupa, tapi Anda harus mendorongnya untuk selalu mengingatkan Anda.

misalnya Anda bisa memutuskan untuk memeriksa kemajuan anak setiap hari.

  • Waktu dan tanggal berlakunya kontrak serta waktu dan tanggal kontrak (mungkin tidak lebih dari seminggu untuk setiap kontrak).

Jika menggunakan kontrak tertulis seperti ¡ni, satu hal penting yang harus diingat adalah Anda berdua harus menganggapnya serius. Beri ia salinan kontrak tersebut (yang bisa ia pajang di kamarnya) dan simpanlah satu salinan untuk Anda sendiri. Bicarakan dengannya setiap hari tentang tingkah laku yang tertulis dalam kontrak, berikan dorongan positif padanya setiap kali ada kesempatan. Pada akhir masa kontrak, diskusikan dengannya mengenai perlu tidaknya Anda berdua memulai kontrak baru. Anda berdua mungkin memutuskan bahwa ¡a sekarang bisa mengendalikan sendiri tingkah lakunya tanpa pengawasan tertulis.

Prinsip Praktis

O Definisikan tingkah laku baik’ dengan jelas.

Anak hams betul-betul memahami apa yang Anda harapkan darinya agar ¡a mendapatkan bintang. Penjelasan yang Anda berikan harus spesifik. ‘Duduk tenang tanpa berteriak-teriak’ akan lebih jelas baginya daripada ‘Bertingkah laku manís.’

© Pasang bagan bintang di tempat yang mudah dilihat.

Pastikan anak bisa melihat bagan tersebut dengan jelas sepanjang hari. Daripada menylmpannya dalam laci, Anda bisa menempelnya di dinding dapur atau dinding kamar tidur.

© Umumkan keberhasilannya.

Tujuan dari penggunaan bagan bintang adalah memupuk tingkah laku baik anak secara positif. Karena itu, buatlah pengumuman dan perayaan kecil setiap kali ia mendapatkan bintang. Dengan begini, anak akan semakin bangga akan keberhasilannya. Ini akan menambah pengaruh cara ini.

0 Gunakan bahasa yang positif.

Jangan menggunakan kata ‘tingkah laku buruk.’ Jika ia tidak mendapatkan bintang dalam jangka waktu tertentu, katakan padanya, ‘Sayang sekali, tapi Ibu yakin kamu bisa mendapatkan bintang lain kali.’

0 isi bagan secara teratur.

Jangan menunggu hingga malam hari untuk menempelkan bintang yang berhasil ia dapatkan di siang hari pada segmen waktu tertentu. Tempelkan bintang segera setelah ia pantas mendapatkannya.

strategi: Waktu Istirahat

Salah satu strategi yang populer digunakan untuk menanggapi kesalahan anak adalah 'waktu istirahat', yaitu me- mindahkan anak dari lokasi tempatnya berlaku buruk dan menempatkannya di area yang tenang, terpisah dari daerah konflik. Strategi ini bisa digunakan untuk berbagai macam jenis kesalahan, mulai dari yang ringan hingga berat.

Menggunakan 'Waktu Istirahat'

Cara ini efektif karena:

  • Mengurangi perhatian. Dengan memindahkan anak dari tempat kejadian, perhatian yang ia dapatkan akibat tingkah lakunya akan berkurang. Selama waktu istirahat, hanya ia yang memperhatikan dirinya sendiri.
  • Mengalihkan perhatiannya dari sumber pertengkaran. Pertengkaran anak-anak biasanya disebabkan oleh mainan atau pertikaian dengan kakak atau adik. Memindahkan ia ke tempat lain berarti juga menjauhkannya dari sumber konflik.
  • Memberikan perubahan suasana. Tingkah laku biasanya juga dipengaruhi oleh suasana. Dalam hal ini, waktu istirahat mengubah suasana fisik sehingga tingkah lakunya pun bisa ikut berubah (ini dengan sendirinya menimbulkan efek menenangkan).
  • Memberikan ruang untuk bernapas lega.

Suasana tenang saat waktu istirahat-meski sempat menegang karena konflik akan lebih membantu anak untuk tenang daripada meninggalkannya di tempat kejadian pertengkaran.

Agar lebih efektif, 'waktu istirahat' perlu digunakan di waktu yang tepat, misalnya saat ia terus-menerus bertingkah laku buruk atau melakukan hal yang menakutkan di depan orang banyak. Cara ini juga baik digunakan untuk menghentikan pertengkaran anak dengan saudara atau temannya. 'Waktu istirahat' tidak semestinya digunakan jika kejadian tersebut bukan sepenuhnya kesalahan anak, seperti

kecelakaan di toilet atau kejadian yang terjadi karena ia benar-benar kesal atau ketakutan.

Sesuai dengan Usia

Seperti strategi untuk menekan tingkah laku buruk lainnya, 'waktu istirahat' akan berhasil digunakan jika anak sudah cukup besar untuk mengetahui tujuannya. Jadi, strategi ini tidak dianjurkan untuk anak-anak di bawah usia 3 tahun.

Tanya-Jawab

Apa yang harus saya lakukan jika anak saya yang berusia 5 tahun tidak mau dipindahkan ke ruangan lain untuk 'waktu istirahat'?

Pada usía ¡ni, ¡a mungkin sudah terlalu besar untuk digendong. Memberikan paksaan fisik saat ¡a sedang marah juga tidak dianjurkan, walaupun Anda melakukannya untuk tujuan yang baik. Dengan suara yang tegas, ulangi perintah bahwa ia harus mengikuti Anda ke tempat tertentu. Jika itu juga tidak berhasil, Anda bisa mengubah tempat ia berdiri menjadi area waktu istirahat dengan memindahkan sumber konflik ke tempat lain, seperti menyuruh anak-anak lainnya untuk keluar ruangan atau memindahkan mainannya ke tempat lain.

Apakah saya boleh memeluk anak saya yang berusia 4 tahun selama 'waktu istirahat' atau sebaiknya kami duduk tenang bersama saja?

Tentu saja Anda harus memberi sentuhan fisik yang lembut dan penuh kasih sayang pada anak jika Anda rasa itu akan membantunya mengendalikan diri. Tetapi, jangan memaksanya. Anak mungkin lebih senang jika selama waktu itu ia tidak harus berkata atau melakukan apa-apa. Anda akan segera menemukan tindakan mana yang paling cocok dilakukan pada anak.

Prinsip Praktis

O Temani anak.

Jangan pernah meninggalkan anak sendirian selama ‘waktu istirahat’. Jika Anda melakukannya, Anda mengasingkannya, bukan memberinya ‘waktu istirahat.’

O Tetap tenang.

Jika kesabaran Anda habis, suasananya akan semakin runyam. Bersikaplah tegas tetapi tenang agar Anda bisa memberi contoh pengendalian diri yang bisa ia tiru.

© Pilih tempat yang tenang, bebas dari gangguan.

Tidak ada gunanya memindahkan anak, misalnya dari kamar tidurnya ke ruang keluarga saat anggota keluarga lain sedang menonton televisi.

© Tentukan batas waktu dan patuhi.

‘Waktu istirahat’ harus berlangsung paling lama beberapa menit, tanpa melihat apakah ia sudah tenang atau belum pada penghujung waktu tersebut. Jangan menunggu hingga ia benar-benar tenang karena bisa-bisa ‘waktu istirahat’ tersebut tidak ada habis-habisnya.

O Ulangi ‘waktu istirahat’ sesering yang dibutuhkan.

Bersiap-siaplah untuk melakukan hal yang sama berulang kali hingga ia menjadi lebih mudah dikendalikan. Untuk beberapa anak, efek ‘waktu istirahat’ baru dapat dilihat setelah berkali-kali diterapkan, bukan langsung.

 

Tetapi, untuk usia 3 tahun ke atas, 'waktu istirahat' cukup dapat dicerna oleh anak. Jelaskan padanya bahwa Anda memindahkannya karena ia sedang marah dan agar ¡a bisa menenangkan diri. Tekankan padanya bahwa Anda ingin agar ia mengendalikan kemarahannya dan Anda melakukan hal ini untuk membantunya mencapai tujuan tersebut.

Saat ia berusia 5 atau 6 tahun, Anda mulai melihat bahwa ancaman 'waktu istirahat' akan dapat menenangkan anak yang sedang marah. Meningkatnya pengendalian diri anak bisa memacunya untuk lebih memikirkan peringatan Anda karena ia telah belajar dari pengalamannya bahwa Anda tidak membuat ancaman belaka.

 

Serba-Serbi Kehidupan Anak


  • anak yang percaya diri
  • rutinitas
  • membuat keputusan
  • saat menjelang tidur
  • dari boks ke tempat tidur
  • kembali ke tempat tidur
  • pola makan sehat
  • menghindari pertengkaran soal makan
  • memperbaiki tata krama di meja makan
  • latihan menggunakan toilet
  • latihan malam yang menunjang
  • mencegah anak mengompol
  • jasa pengasuhan anak
  • menyesuaikan diri di kelompok bermain
  • mengatasi masalah di kelompok bermain
  • kesiapan bersekolah
  • menyiapkan anak untuk mulai sekolah
  • mendukung anak mengerjakan PR
  • menikmati hobi
  • Mengatasi rasa bosan
  • menjinakkan si pengundang bahaya
  • persaingan kakak-beradik
  • bertemu si adik bayi
  • mengurangi pertengkaran kakak-beradik
  • masalah sehari-hari


O Dukung usaha anak.

Sulit baginya untuk terus mencoba melakukan kegiatan yang membuatnya frustrasi. Bersiaplah mendukungnya. Semangat yang Anda berikan padanya dapat berpengaruh cukup besar.

Anak yang percaya diri adalah anak yang selalu tersenyum dan menikmati hidupnya semaksimal mungkin. la menghadapi segala macam tantangan setiap hari- seperti berkenalan dengan teman baru, mengambil bagian dalam permainan baru di kelas kelompok bermain, membereskan kamar tidurnya, dan mempelajari topik baru di kelasnya dengan penuh percaya diri. Padahal, bagi sebagian besar anak, hal-hal semacam itu cukup membuat mereka cemas. Riset menunjukkan, anak 5 tahun yang memiliki rasa percaya diri seperti ini kemung- » kinan besar akan tetap memiliki keyakinan yang sama saat dewasa.

 

Strategi Utama

Anda tentu senang melihat anak yang tetap percaya diri dalam menghadapi tantangan dan masalah baru. Awalnya, ia mungkin akan mengernyitkan dahi, tetapi dalam beberapa detik saja ia sudah mulai mencari jalan keluar sendiri. Walaupun solusi yang ia temukan ternyata gagal, ia langsung mencoba mencari solusi baru hingga tujuannya tercapai.

Berikut adalah beberapa strategi penting untuk membantu Anda mengembangkan rasa percaya diri pada anak:

Dengan memberikan semangat dan bantuan sederhana, Anda bisa membantu anak menikmati keberhasilannya.

O Bagilah tantangannya menjadi langkah-langkah kecil.

Sukses akan lebih mudah dicapai jika masalah yang dihadapi lebih kecil.

 

Ajarkan anak untuk membagi tantangan yang ia hadapi menjadi serangkaian langkah kecil yang bisa dihadapi satu per satu.

 

Katakan pada anak Anda betapa bangga Anda padanya saat ia mempelajari keahlian baru, seperti mengendarai sepeda roda dua.

  • Pusatkan perhatian pada kesuksesannya. Cobalah membuat anak memusatkan perhatian pada prestasinya.

Tentu saja Anda juga hams mengakui kegagalannya, tetapi jangan berlarut-larut. Lebih baik, sering-seringlah memuji keberhasilannya.

  • Bantu ia belajar dari kesalahannya. Dalam banyak kejadian, anak biasanya mengalami kegagalan karena menggunakan pendekatan yang salah saat pertama kali mencoba sesuatu. Itu hal yang biasa selama Anda terus membantunya belajar dari kesalahan dan membimbingnya menemukan langkah lain yang lebih tepat.

Tonjolkan kelebihannya.

Antusiasme anak yang percaya diri dalam memandang hidup dan keberaniannya menghadapi tantangan baru didasari keyakinan bahwa ia memiliki kemampuan untuk mencapai sukses. Karena itu, tonjolkan kelebihannya daripada terus- menerus memikirkan kekurangannya.

Bersikap Realistis

Jangan lupa bahwa betapa pun kuatnya kepercayaan diri anak, tetap akan ada hal-hal yang membatasi keberhasilannya pada usia tertentu. Salah satu tugas Anda adalah memacu keteguhan tekadnya dan pada saat yang sama menjaga agar ia tidak menentukan target terlalu tinggi yang justru akan membuatnya gagal. Misalnya, tidak ada gunanya memberi tantangan untuk memasang tali sepatu sendiri pada anak yang baru berusia 2 tahun. la belum memiliki keterampilan dan koordinasi yang dibutuhkan untuk melakukannya.

Saat anak menghadapi masalah yang jelas-jelas jauh di luar kemampuannya, katakan bahwa masalah yang ia hadapi cukup sulit untuk diselesaikan, bahkan oleh anak-anak yang lebih besar. Lalu, beri ia tantangan yang bisa ia hadapi. Anda akan melihat bahwa dengan cara itu, ia pun akan merasa puas karena telah berhasil melakukan sesuatu.

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar