Perhatian Dharma Wanita Persatuan Pasca Bencana Untuk PAUD

RONA wajah sukacita ratusan guru dan pegiat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) tampak berseri-seri. Pasalnya, mereka mendapat suntikan motivasi dan semangat pasca bencana alam meluluhlantakan Palu, Donggala, Sigi, dan sejumlah tempat di Sulawesi Tengah.

Kehadiran Pengurus Pusat Dharma Wanita Persatuan yang dimotori Ibu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Suyan Widati dan Ibu Dirjen Pembinaan Pendidikan Dasar dan Menengah, Ida Raudah Hamid dan dukungan Direktur Pembinaan PAUD Bapak Muhammad Hasbi tidak saja datang memberikan bantuan sarana dan prasara pendidikan. Namun, DWP Kemendikbud dan Direktorat Pembinaan PAUD juga menghadirkan trauma healing bagi para korban benca gempa bumi, tsunami, dan liquifaksi, khususnya bagi guru PAUD melalui kegiatan "Penguatan Pembelajaran bagi guru PAUD pasca bencana".

Ditengah-tengah kunjungannya ke Palu beliau masih menyempatkan diri berkunjung ke TK Aisyiyah Bustanul Athfal VII, memberikan motivasi, bernyanyi, bercerita dan memberikan bantuan utk anak2 yg bersekolah di TK tersebut.

"Saya bangga saat ini Palu dan Sulawesi Tengah sudah bangkit. Aktivitas masyarakat kembali menggeliat. Saya harapkan kedepan Palu bertambah baik pasca bencana alam yang terjadi," kata Ibu Menterii Pendidikan Suyan Widati yang juga Ketua DPP Dharma Wanita Persatuan Kemdikbud usai kunjungannya ke Palu beberapa waktu lalu.

Keterpanggilan Dharma Wanita Persatuan Kemdikbud merupakan kontribusi DWP Kemdikbud dan Ditbin. PAUD dlm penanganan psikologi pasca bencana seperti dikatakan Psikolog yang kerap memberikan pelatihan trauma healing M. Sulfan Reza menjelaskan bahwa ada kelompok masyarakat yang perlu mendapatkan perhatian khusus dalam penanganan dampak psikologis bencana alam. Kelompok tersebut adalah lansia, anak-anak, perempuan, dan penyandang disabilitas. Anak-anak membutuhkan perhatian lebih karena mereka belum memiliki kemampuan untuk mengartikulasikan perasaan. Sementara perempuan membutuhkan dukungan secara psikologis pasca-bencana karena mereka memikul beban ganda: menjalankan tugas sebagai tulang punggung keluarga (apabila suaminya meninggal) sekaligus melakukan pekerjaan-pekerjaan domestik. Mereka juga rentan mengalami pelecehan seksual dan kekerasan dalam rumah tangga.

Disamping itu dalam “Memahami Masalah Psikologis Bencana” (2007), Nathanael Sumampouw memaparkan proses mengatasi stres akibat bencana alam melalui dua konsep. Konsep pertama menjelaskan lima fase yang dialami seseorang hingga akhirnya ia menerima situasi pahit yang terjadi. Fase pertama, orang akan merasa terguncang pasca-peristiwa traumatis. Tahap berikutnya, ia akan menyangkal, marah pada peristiwa yang terjadi dan terhadap diri sendiri.

Setelah itu, ia akan merasa tak berdaya dan kehilangan gairah hidup. Setelah mengalami semua hal itu, catat Nathanael, perlahan-lahan ia akan menerima keadaan. Di titik itu, harapannya akan masa depan kembali tumbuh.

Adapun konsep pemulihan yang kedua, lanjut Nathanael, mirip permainan ular tangga: proses pemulihan bisa berlangsung secara berbeda, tergantung pada masing-masing individu. Ada banyak faktor yang bisa membuat orang segera mampu "menaiki tangga" alias bisa "pulih", di antaranya dukungan sosial dari orang lain, terjaminnya situasi yang aman dan nyaman, rasa kebersamaan dengan orang-orang sekitar, dan bantuan proses pemulihan.(eko)

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar