Pengaruh Pendidikan Terhadap Tumbuh Kembang Anak

Sejak lahir manusia pada dasarnya telah belajar, bahkan ketika masih dalam kandungan mereka telah belajar. Lingkungan pendidikan pertama tempat anak belajar adalah keluarga (primay group) yang merupakan lingkungan pendidikan informal. Pengaruh keluarga dan lingkungan (pendidikan nonformal/informal) dalam pembentukan pribadi anak adalah diketahui dan diakui secara universal, namun mereka perlu dibimbing ke arah perkembangan yang optimal melalui jalur pendidikan formal yang berbentuk taman kanak-kanak (TK) dan/atau raudlatul athfal (RA), taman penitipan anak (TPA),kelompok bermain (KB), satuan PAUD sejenis (SPS) dan PAUD berbasis Keluarga (PBK).

Lembaga ini meneruskan pembinaan sekaligus mengemban amanat orang tua yang dasar-dasarnya telah diletakkan di dalam lingkungan keluarga serta menerima tanggung jawab pendidikan berdasar kepercayaan keluarga. Selain itu, lembaga pendidikan ini tidak saja memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk lebih jauh mengembangkan tingkah lakunya, tapi juga menambah semangat ke arah terbentuknya tingkah laku sosial, kecakapan serta keterampilan-keterampilan (Hakim, 1996).

Seperti diketahui, kemajuan masyarakat berpikir jauh ke depan tentang pendidikan, memotivasi mereka untuk mempersiapkan anak sejak dini dengan memasukkannya ke lembaga pendidikan anak usia dini. Namun demikian, hal itu bukanlah satu-satunya alasan, kecenderungan yang terjadi sekarang disebabkan oleh karena kesibukan orang tua atau pun keterbatasan kemampuan dan pengetahuan mereka dalam mendidik anak-anak. Di samping itu, ada pula sikap orang tua yang sekedar mengikuti trend yang sedang digandrungi walau dengan cara memaksakan diri, dsb.

Meskipun demikian, mereka berharap bahwa anak-anak dapat berkembang, baik kognitif, afektif maupun psikomotoriknya, sehingga bisa berprestasi pada jenjang pendidikan berikutnya. (Isya, 2005). Kecenderungan itu, telah mendorong bermunculannya lembaga-lembaga pendidikan anak usia dini baik formal maupun nonformal, tidak hanya di kota-kota besar, melainkan di pelosok-pelosok desa. Saat ini terdapat berbagai bentuk lembaga pendidikan anak usia dini di Indonesia, seperti: taman kanak-kanak (TK) dan/atau raudlatul athfal (RA), taman penitipan anak (TPA),kelompok bermain (KB), satuan PAUD sejenis (SPS) dan Pendidikan Anak Usia Dini Berbasis Agama seperti taman kanak-kanak Islam (TKI), taman kanakkanak Islam terpadu (TKIT), taman pendidikan Al-qur’an (TPA) dan ta’limul qur’an lil aulad (TQA), home schooling, dsb.

Mengingat kondisi masyarakat Indonesia, yang memiliki tingkat sosial dan tarap hidup yang berbeda-beda, maka tidak heran apabila kebanyakan dari mereka terutama yang berpendapatan rendah beranggapan, bahwa pendidikan anak usia dini tidak terlalu penting (mengingat biayanya juga mahal), ijazahnya tidak dijadikan syarat untuk memasuki jenjang pendidikan berikutnya, yaitu sekolah dasar dan/ atau sederajat.

Hal itu di antaranya yang menimbulkan perbedaan kemampuan pada siswa kelas I sekolah dasar yang terlebih dahulu mengikuti pendidikan anak usia dini (formal) dengan yang tidak mengikutinya (nonformal/informal). Perbedaan lain dapat dilihat dari segi cara bersosialisasi baik dengan guru maupun dengan teman sebayanya, cara menerima materi pelajaran, cara menyelesaikan tugasnya, dll. Kajian Literatur Pendidikan Anak Usia Dini Dalam hal ini terdapat beberapa ahli yang mengemukakan pendapatnya tentang pendidikan, Driyarkara (1980) dalam Mikarsa, menyatakan, pendidikan adalah upaya memanusiakan manusia muda. (Mikarsa, dkk, 2007).

Pandangan senada dikemu-kakan Winkel bahwa pendidikan ialah bantuan yang diberikan oleh orang dewasa kepada orang yang belum dewasa agar ia mencapai kedewasaan. (Winkel, 1991). Pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah. Sehingga orang tua tidak boleh menganggap bahwa pendidikan anak hanyalah tanggung jawab sekolah. Pendidikan merupakan suatu usaha manusia untuk membina kepribadiannya agar sesuai dengan norma-norma atau aturan di dalam masyaratakat. Setiap orang dewasa di dalam masyarakat dapat menjadi pendidik, sebab pendidik merupakan suatu perbuatan sosial yang mendasar untuk petumbuhan atau perkembangan anak didik menjadi manusia yang mampu berpikir dewasa dan bijak.

Orang tua sebagai lingkungan pertama dan utama dimana anak berinteraksi sebagai lembaga pendidikan yang tertua, artinya disinilah dimulai suatu proses pendidikan. Sehingga orang tua berperan sebagai pendidik bagi anak-anaknya. Lingkungan keluarga juga dikatakan lingkungan yang paling utama, karena sebagian besar kehidupan anak di dalam keluarga, sehingga pendidikan yang paling banyak diterima anak adalah dalam keluarga. Balson (1999:17) menyatakan bahwa untuk memahami anak dan jasmaninya, kecerdasan, kehidupan sosial serta perkembangan emosinya, menuntut bahwa orang tua perlu memiliki pengetahuan tentang tingkah laku sedemikian hingga mereka dapat menyesuaikan keputusan-keputusan mengenai anak-anak mereka dan dapat bertindak dalam cara yang ditata untuk mendorong perkembangan anak. Anak-anak belajar dan tumbuh dalam tiga lingkungan yang sangat berpengaruh, yaitu: keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Terdapat keterkaitan yang kuat antara tiap lingkungan dalam memberi pengaruh positif untuk anak-anak, keluarga, dan sekolah, ketika sekolah dapat menjangkau para orang tua dan secara aktif melibatkan orang tua untuk mendukung dan mendorong anak-anak mereka dalam belajar dan berkembang. Keluarga sebagai lembaga pendidikan memiliki beberapa fungsi yaitu fungsi dalam perkembangan kepribadian anak dan mendidik anak dirumah, serta fungsi keluarga/orang tua dalam mendukung pendidikan di sekolah. Untuk dapat menjalankan fungsi tersebut secara maksimal, orang tua harus memiliki kualitas diri yang memadai, sehingga anak-anak akan berkembang sesuai dengan harapan. Artinya orang tua harus memahami hakikat dan peran mereka sebagai orang tua dalam membesarkan anak, membekali diri dengan ilmu tentang pola pengasuhan yang tepat, pengetahuan tentang pendidikan yang dijalani anak, dan ilmu tentang perkembangan anak sehingga anak dapat tumbuh maksimal dan optimal.

penulis Dody hermawan gambar dan artikel diambil dari berbagai sumber

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar