WORKSHOP MENULIS UNTUK GURU PAUD DENGAN METODE HYPNOWRITINGÂ

Jika ada yang bertanya sejak kapan manusia hidup?  Maka jawab saya adalah sejak ia mulai berani membaca dan menulis. Mengapa demikian, sebab menurut saya,  membaca dan menulis adalah fitrah manusia. Tak tanggung-tanggung, wahyu Al-Quran pertama kali turun ke bumi memberi perintah kepada Beliau untuk setidaknya dua hal, membaca dan menulis. Di sana tertulis kalimat yang sangat jelas, yakni iqra’ (bacalah!) dan al-qalam (pena). Dua kalimat ini tak perlu tafsir panjang lebar. Sekali orang baca, sudah jelas maksudnya bahwa Allah melalui Al-Quran memerintahkan kita membaca dan menulis.
Memang pengertian membaca bisa memiliki arti macam-macam. Ada yang  memaknai membaca teks, ada pula yang memahaminya sebagai membaca apa saja dalam arti yang lebih luas, seperti tanda-tanda kebesaran Tuhan di langit dan bumi. Namun semua tafsir itu bermuara pada satu titik, bahwa membaca adalah awal dari segala peradaban. Peradaban manapun tidak akan tumbuh subur jika tidak ada tradisi membaca yang hidup.
Membaca tidaklah cukup. Sebab begitu kita membaca, pemahaman yang kita dapatkan dari membaca itu biasanya akan mudah hilang. Sebab itulah, kata pena dalam terjemah Yang mengajar (manusia) dengan perantara qalam (pena), berarti jika ingin menjadi pembelajar yang kaafah (sempurna), setelah kegiatan membaca harus dilanjutkan dengan menulis. Bahkan saking pentingnya tradisi menulis tersebut, Sayyidina Ali bin Abi Thalib menasihati, ikatlah ilmu dengan tulisan.
Penulis populer Indonesia, Pramoedya Ananta Toer juga menulis dalam salah satu bukunya, “Menulis adalah bekerja untuk keabadian”. Itu artinya bahwa tulisan adalah warisan yang dahsyat untuk anak-cucu manusia ke depan. Bisa kita bayangkan, andai kata kitab itu tidak tertulis, tentu kita akan kepayahan mempelajari ajaran-ajaran suci. Jika para ulama-ulama shalih terdahulu (salafunasshalihun) tidak menuliskan hadits, tentu kita tidak akan pernah tahu apa dan bagaimana kalimat-kalimat dan akhlak dari Rasulillah SAW.  Sejarah sudah memberi petunjuk bahwa dialog peradaban antara agama dan peradaban lain terjadi, salah satunya, melalui karya tulis.
Seorang guru PAUD sebenarnya memiliki kesempatan untuk mengalami dan menikmati dunia penuh kompetisi, baik dalam kompetisi akademik maupun non-akademik. Dalam pengembangan karir akademik dituntut untuk memenuhi komtensinya sebagai guru, tetapi di satu sisi, guru PAUD juga dituntut untuk mengembangkan psikomotorik, keterampilan berekspresi, skill di bidang komunikasi, personal branding, menuangkan gagasan, ide, maupun demonstrasi ilmu pengetahuan. 
Ada dua apresiasi khusus terhadap workshop menulis guru PAUD dengan metode hypnpwriting ini: Pertama: Kegiatan ini bukan hanya latihan menulis, tetapi juga menghasilkan produk tulisan sebagai hasil karya workshop dalam bentuk buku. Buku ini ditulis sebagai hasil dalam mata pelajaran hypnowriting, dan sebagai pancingan awal adalah menulis pengalaman pribadi yang terkait dunia ke-PAUD-an. Pengalaman pribadi, yang terkait dengan aktivitas di PAUD, kemudian tulisan tersebut diedit, layouting, dan proses penerbitan. 
Kedua, aktivitas ini merupakan salah sati kegiatan literasi bagi guru PAUD, terutama dalam pembumian gerakan menulis. Hal ini sangat penting, karena membaca dan menulis merupakan sebuah perintah agama dan memiliki kekuatan hukum yang tinggi, yaitu wajib, terutama para guru.  
Menurut pakar hypnotic writing, Joe Vitale, minimal ada lima hal yang perlu diperhatikan saat kita menulis, supaya tulisan memiliki efek yang hipnotik terhadap pembaca, yaitu a) Keterlibatan pembaca, b) Pilihan, tulisan memberikan pilihan yang sama-sama menguntungkan penulis dan pembaca, c) Ego, tulisan hendaknya memuaskan ego pembaca, d) Imbalan, memberikan imbalan pada orang-orang yang mengikuti permintaan, dan e) Keingintahuan, ciptakan rasa penasaran dalam benak pembaca sejak awal.
Pada dasarnya, kegiatan workshop menulis yang dilaksanakan biasa dilakukan, tetapi ada sedikit perbedaan, yaitu pada hasil produk tulisan. Metode hypnowriting ini bukan pelatihan atau training menulis, tetapi sebuah aktivitas yang fun untuk menggiring diri sendiri agar bisa menulis dengan menyenangkan, kemudian diedit, dan siap dilayout dan dicetak menjadi buku atau karya yang lain.
Apa yang ditulis peserta ketika mengikuti workshop?, jawabnya adalah apa saja. Bisa menghasilkan ide baru, gagasan lama tetapi belum ditulis, hal-hal yang ada di sekitar, mengeluarkan uneg-uneg, rasa marah, rasa jengkel, dan lain-lain, atau mengekspresikan kebahagiaan, senang, rasa syukur, dan lain sebagainya. 
Kegiatan workshop menulis dengan metode ini membuktikan bahwa siapapun bisa jadi penulis, karena mengajak peserta workshop dengan cara yang menyenangkan dan tidak membosankan tetapi menghasilkan produk tulisan yang siap diterbitkan.
Kegiatan bersama yang enjoy dalam kegiatan workshop metode hypnowriting ini, trainer semula hanya ngobrol dan bercerita yang menyenangkan, bercerita para penulis sukses, para pejuang yang berhasil karena menulis, sampai pada kesadaran peserta bahwa ternyata semua orang bisa jadi penulis yang hebat.
Selain itu, dalam kegiatan ini seluruh peserta mendapat keuntungan untuk tes kekuatan memori, itupun dengan nuansa menyenangkan. Bahkan para peserta terkadang tidak terasa bahwa dirinya dites. Keuntungan dari tes ini tentu sangat bagus, karena jika seseorang mengetahui kemampuan dan kekuatan memorinya masing-masing, akan bisa diarahkan kepada kegiatan kepenulisa lebih lanjut. 
Teknik berikutnya dari tes memori, para peserta juga akan mengetahui tema yang cocok dan pas untuk ditulis pada saat itu. Karena peserta menulis sesuatu yang dekat di hati nurani pada saat itu, yang ditemukan ketika tes memori. Orang akan kesulitan referensi ketika menulis tema yang jauh, misalnya menulis tentang Amerika, padahal belum pernah ke sana. Dengan tes kekuatan memori ini, peserta bisa mendapatkan tema yang terdekat saat mengikuti workshop, artinya ketika keluar dari arena workshop peserta memiliki pengalaman bagaimana mengidentifikasi tema-tema terdekat dengan dirinya.
Workshop menulis ini, peserta juga akan mengetahui gaya belajar/menulisnya, yang dimungkinkan mereka belum mengetahui. Karena setiap orang memiliki gaya belajar masing-masing, memiliki mood yang berbeda antara peserta satu dengan yang lain. Maka, ketika mengikuti workshop ini peserta mendapatkan informasi bagaimana menciptakan mood, karena yang terjadi kebanyakan orang adalah menunggu mood. Kenapa tidak menulis?, jawaban umum adalah menunggu mood, padahal mood tidak bisa ditunggu, tetapi harus diciptakan.
Kemudian, pada akhir kegiatan adalah saat action. Peserta sudah terhibur dengan permainan edukatif, menemukan tema sesuai hati, mengetahui dan memanfaatkan mood menulis, maka saatnya menuangkan dan mengekspresikan ide terdekat ke dalam tulisan, sesuai dengan gaya menulisnya masing-masing.
Melalu program workshop hypnowriting, diharapkan guru PAUD memiliki kesiapan untuk menulis, kemudian diarsipkan dalam sebuah penerbitan, baik berbentuk artikel atau buku, setidaknya ada dua pelajaran penting. Pertama, menulis ternyata bukanlah pekerjaan yang sulit. Jika ada usaha dan kerja keras, setiap orang bisa menjadi penulis. Kedua, menerbitkan buku ternyata tidak harus menunggu tua. Sejak masih aktif sebagai guru, bahkan anak-anak kita sudah bisa menerbitkan buku. Tentunya pengalaman ini akan menjadi kenangan sekaligus motivasi yang tak mudah dilupakan oleh para penulisnya di masa-masa yang akan datang. 

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar