Mendongeng di Era Digital

Mendongeng atau bercerita adalah sebuah tradisi yang sangat baik, yang harusnya tetap dijaga dan dilestarikan. Melalui aktifitas mendongeng secara tidak langsung orang tua ataupun guru dapat menanamkan sikap dan membentuk nilai-nilai budi pekerti yang luhur, mengenalkan perbuatan baik dan buruk, menyampaikan pesan-pesan moral.

Melalui aktifitas mendongeng ini juga akan menumbuhkan pada diri anak rasa keingintahuan untuk mencari atau menggali sendiri berbagai sumber bacaan, sehingga minat untuk bisa membaca terutama bagi anak usia dini akan termotivasi. Begitu juga dengan anak usia Sekolah Dasar, minat membaca bukunya juga akan terbentuk.

Negara kita Indonesia, sangat kaya dengan dongeng atau cerita-cerita rakyat yang melegenda dengan kearifan budayanya, yang syarat akan pesan moral yang dapat disampaikan kepada anak-anak. Contoh, di Sumatera ada dongeng Si Malin Kundang, cerita anak yang durhaka kepada ibunya, ketika sudah menjadi kaya dia tidak mau mengakui ibunya yang miskin, ibunya menangis dan berdoa kepada Allah agar anaknya dikutuk menjadi batu.

Di Jawa Barat ada dongeng Nyi Endit yang menceritakan orang kaya yang pelit, tidak mau bersedekah untuk tetangganya yang kekurangan, bahkan pengemis yang hanya meminta seteguk airpun ia usir. Dia merasa bahwa kekayaan yang ia punya adalah hasil kerja kerasnya. Dia lupa kepada Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Kaya, sang pemberi kekayaan, sehingga Allah menenggelamkan tubuh orang itu  dan kekayaannya, dalam air bah yang memancar dari tongkat yang ditancapkan seorang kakek tua peminta-minta.

Dari dua contoh dongeng itu saja kita bisa menanamkan moral atau sikap berbuat baik kepada orang tua, tidak malu mengakui orang tua, walaupun orang tua kita miskin, tidak pelit, mau berbagi dengan orang lain, dan banyak lagi contoh cerita atau dongeng lainnya.

Dongeng memiliki kekuatan luar biasa, yang dapat menggugah rasa nasionalisme rakyat suatu bangsa. Di balik bangsa-bangsa yang besar, ada dongeng atau cerita yang melegenda. Bangsa Yunani dan Romawi terkenal dengan dongeng kepahlawanan dan para dewanya, yang telah dinarasikan dalam sebuah film yang sering kita tonton di televisi.

Bangsa India terkenal dengan kisah Mahabharata dan Ramayana, yang kemudian mereka angkat ke dalam cerita film dan terkenal di dunia pertelevisian, bahkan sangat digandrungi oleh ibu-ibu pecinta sinetron di Indonesia, karena kegantengan para pemainnya.

Di Indonesia ada cerita kepahlawanan Sultan Hasanudin ataupun Cut Nyak Dien dari Aceh. Sebuah penelitian oleh David McClelland, psikolog Amerika yang terkenal dengan teori need of achievement, mengungkapkan ada korelasi yang signifikan antara dongeng yang berkembang pada suatu bangsa dengan kejayaan yang diraih bangsa tersebut. David mengatakan suatu negara yang memiliki cerita-cerita anak dengan sikap positif untuk meraih keberhasilan, menunjukkan adanya pertumbuhan ekonomi yang tinggi pula.

Karena itu sejumlah negara seperti Amerika dan Singapura melalui perpustakaannya membuat program layanan bercerita. Di Negeri Abang Sam, orang tua atau lansia meluangkan waktunya untuk bercerita kepada anak-anak yang berkunjung di perpustakaan. Di Singapura, ada program Singapura Membaca yang melibatkan 10 ribu orang tua untuk bercerita.

Bagaimanakah di Indonesia? Itulah yang menjadi tantangan kita semua. Mendongeng adalah salah satu kegiatan pelestarian budaya yang harus kita pelihara. Selain dongeng diakui menjadi cara paling ampuh dalam menanamkan budi pekerti yang luhur, dongeng juga efektif untuk menanamkan nilai-nilai moral yang baik, konsep sebab akibat bila kita melakukan sesuatu, dapat mengenalkan dunia, serta mengenalkan konsep-konsep lainnya secara menyenangkan.

Selain itu dengan mendengarkan dongeng, secara tidak langsung kosa kata anak-anak akan semakin bertambah, sehingga kemampuan anak dalam berkomunikasi dengan temannyapun semakin baik. Seringkali ketika seorang guru atau pendongeng sedang bercerita, anak-anak secara spontan akan menyela atau kadang melanjutkan dongengnya.  Padahal ia baru tahu dongeng itu ya dari guru itu.

Ini menunjukkan  bahwa ketika seorang anak mendengarkan dongeng, imajinasinya akan terstimulasi, emosinya akan larut, bahkan mereka akan ikut marah bila ada tokoh yang berbuat jahat. Mereka akan ikut sedih, bahkan menangis bila dongeng yang ia dengar sangat menyentuh hatinya. Jadi kita sebenarnya sangat mudah menanamkan rasa empati dan simpati kepada anak-anak yang konon katanya sudah mulai luntur dari adat ketimuran kita.

“Ibuku Perpustakaan Pertamaku”. Ungkapan ini memperjelas bahwa kemampuan membaca seorang anak akan lahir dari orang tua yang rajin membacakan cerita atau dongeng kepada anak-anaknya. Karena dengan rajin membaca, orang tua atau guru akan memiliki banyak dongeng untuk anak, dan sudah seyogyanya kebiasaan membaca ini harus diperlihatkan di depan mereka, karena sebenarnya anak-anak suka meniru kebiasaan orang dewasa.

Dongeng, budaya baca dan menanamkan budi pekerti yang luhur tidak bisa dipisahkan, mereka saling berkaitan. Mana mungkin seorang pendongeng bisa bercerita, jika dia tidak memiliki bahan untuk diceritakan dan tentu saja setiap ia mendongeng, hal itu tentu memiliki tujuan tertentu. Salah satunya menanamkan nilai-nilai baik yang harus dicontoh oleh para pendengar dongengnya, terutama dalam konteks ini  adalah anak-anak.

Dongeng dapat mengembangkan imajinasi anak, meningkatkan kemampuan akademik, semangat kebersamaan, mengakrabkan keluarga, melestarikan budaya dan terutama membumikan budi pekerti yang luhur, sebagai bekal anak bangsa menjadi bangsa yang kuat.

Dari mana orang tua mendapatkan bahan untuk mendongeng? Bahan dongeng itu tersebar di berbagai media, seperti buku, komik, televisi, radio, internet, dan media paling klasik: cerita orang. Tak semua buku dongeng bermutu, karena itu orang tua harus memilihkan dongeng-dongeng yang bermutu untuk anak. Setali tiga uang mutu komik. Tak semua komik bermutu dan aman untuk anak, dan karena itu orang tua harus mampu memilah dan memilih komik-komik yang bermutu, yang layak didongengkan untuk anak.

Televisi juga bisa menjadi sumber bahan mencari dongeng. Televisi banyak menyajikan dongeng-dongeng asyik yang sudah difilmkan. Dongeng-dongeng yang sudah difilmkan itu tentu lebih hidup dan lebih berwarna untuk diceritakan kembali ke anak, misal kisah 1001 Malam.

Dan yang tak kalah penting, sekarang ini aplikasi-aplikasi dongeng juga tersedia di dalam toko aplikasi digital GooglePlay. Mereka yang memiliki telepon cerdas bisa mengunggahnya dengan mudah dan sebagian gratis. Orang tua sebaiknya ikut juga bergaul dengan peranti-peranti digital yang baru. Jadi, bahan dongeng sekarang ini bisa dicari semudah menggerakkan jempol. *      

Saamah, guru TK Asih Putera, Kota Cimahi

Sumber:  Mendidik dengan Cerita oleh DR. Abdul Aziz Abdul Majid.

Bagikan Artikel Ini

Komentar (1)

  • niaramdaniati

    Saya suka tulisannya

    2019-07-12 14:25:00

Silahkan Login untuk memberi komentar