Menanamkan Kesederhanaan Sejak Dini

  AnggunPaud - "Ayah, Sepatu Saya rusak!’’ keluh Salwa. ‘‘Coba lihat, barang kali bisa diperbaiki.’’ Kata Ayah ‘‘Ini Yah, rusaknya tidak terlalu parah, Apakah besok saya bisa berangkat sekolah dengan memakai sepatu Yah?’’ tanya Salwa. ‘‘Tentu saja bisa, yang penting kamu rajin belajar.’’ Jawab Ayah.

   Fenomena di atas membuktikan sebuah masalah kecil dapat diatasi dengan sederhana. Anak perlu tahu, hal-hal masalah kecil yang membuat anak putus sekolah itu karena kurangnya asupan kebutuhan tidak terpenuhi, lalu tidak memadai. Makanya anak tidak semangat ketika ingin mencari hal-hal yang baru. Namun, ada kalanya orang tua perhatian seperti saat anak akan berangkat ke sekolah.

  Sepatu rusak, orang tua tidak bisa membeli tetapi dapat memperbaikinya. Orang tua yang seperti ini disebut punya keterampilan hidup. Di sisi lain ada salah satu problem dalam keluarga. Karena persoalan hidup keluarga adalah ketidakmampuan dalam menyelesaikan persoalan diri sendiri. Dalam keluarga, anak sering kali dimanja, dituruti semua keinginan. Bahkan jika tidak dituruti anak akan nangis, semua benda-benda disekitarnya berantakan. Bagaimana anak bisa mandiri, hidup sederhana, semangat belajar. Hal ini menjadi pekerjaan rumah untuk orang tua agar lebih hati-hati untuk memperhatikan anaknya.

  Kita bisa belajar sifat sederhana dari tokoh pahlawan pada tahun 1970, yaitu Bung Hatta dan rombongan mengunjungi Tanah Merah, Irian Jaya, tempat ia sempat dibuang oleh kolonial Belanda. Di Irian Jaya, Bung Hatta disodori amplop berisi uang. Uang tersebut sebenarnya bagian dari biaya perjalanan Bung Hatta yang ditanggung pemerintah. Namun, Bung Hatta menolaknya. "Uang apa lagi...? Bukankah semua ongkos perjalanan saya sudah ditanggung pemerintah? Dapat mengunjungi daerah Irian ini saja saya sudah bersyukur. Saya benar-benar tidak mengerti uang apa lagi ini?" kata Bung Hatta.

   Bung Hatta juga mengatakan bahwa uang pemerintah pun sebenarnya adalah uang rakyat. "Tidak, itu uang rakyat, saya tidak mau terima. Kembalikan," tegas Bung Hatta. Ketegasan Bung Hatta perihal tecermin pada hal yang sederhana. Pada suatu ketika, Bung Hatta menegur sekretarisnya karena menggunakan tiga lembar kertas kantor Sekretariat Wakil Presiden untuk mengirim surat pribadi.

   Menurut Hatta, kertas itu adalah aset negara yang merupakan uang rakyat. Hatta pun mengganti kertas tersebut dengan uang pribadinya. Keteladanan yang muncul membuat orang-orang percaya bahwa Bung Hatta adalah orang yang cerdas dan sederhana. Selain kita mengetahui sejarah Bung Hatta, kita bisa menerapkan kepada anak-anak. Sikap sederhana anak-anak bisa terlihat secara kasat mata, dan biasanya anak akan melihat dari orang terdekatnya yaitu keluarga.

   Keluarga sederhana adalah keluarga yang memenuhi segala kebutuhan pokok hidup sehari-hari, biaya pendidikan, dan lain-lain serta tidak memaksakan untuk memiliki sesuatu sebatas keinginan semata. Sesungguhnya menerapkan anak hidup sederhana ini, jika dilihat dari perekonomian saat ini masih belum baik. Antara pengeluaran dan pemasukan masih belum seimbang. Hidup sederhana memang lebih mudah diucapkan daripada dilaksanakan, namun prinsip utama dalam menerapkan pola anak hidup sederhana adalah mulai dari diri dan keluarga sendiri. Lalu bagaimana mengajarkan anak hidup sederhana. Berikut ini ada beberapa hal yang harus diperhatikan orangtua kepada buah hati untuk mengajari bagaimana anak bisa hidup sederhana:

Pertama, berhemat dan menabung. Berhemat bukan berarti mendidik anak bersikap pelit terhadap dirinya sendiri maupun pada orang lain. Berhemat lebih bermakna menggunakan sesuatu secara bijaksana sesuai kebutuhan. Tidak menggunakan secara berlebihan sehingga mendatangkan hal yang mubazir. Salah satu aplikasi sikap hemat adalah melatih anak menabung sejak dini. Tidak harus menabung di bank kalau tidak memungkinkan. Menggunakan celengan buatan atau yang dibeli di pasar pun bisa untuk menabung uang. Atau membuat dari bekas kaleng susu, misalnya. Maka anak akan terbiasa menyisihkan sebagian uang jajannya untuk hari esok.

Kedua, menggunakan benda atau alat secara bijaksana. Menghargai uang berarti mendidik anak menggunakan uang tersebut secara bijaksana. Membeli sesuatu karena memang dibutuhkan. Jika ada pakaian atau perlengkapan sekolah yang masih bisa dipakai, kenapa harus beli yang baru hanya karena gengsi-gengsian.

Ketiga, kreatif mencari alternatif pengganti. Hal ini berlaku dalam hal memenuhi kebutuhan dalam keluarga. Jika misalnya daging sapi mahal, tak ada salahnya menggantinya dengan daging ayam yang lebih murah harganya. Dan begitu seterusnya. Begitu pula dalam membeli kebutuhan perangkat komunikasi. Jika belum bisa beli ponsel gadget yang lebih canggih dan mahal, kenapa tidak menggantinya dengan yang sederhana, tahan lama dan harga terjangkau? Dan, masih banyak lagi contoh sederhana dalam hidup anak dalam kreativitas mencari alternatif pengganti alat atau sarana yang dibutuhkan.

Keempat, Menyesuaikan keinginan dan kemampuan. Ini langkah nyata yang tak kalah pentingnya ditanamkan pada anak. Memiliki sesuatu benda atau materi perlu juga disesuaikan dengan kemampuan. Keinginan seseorang tanpa batas namun kemampuan seseorang terbatas. Kesenjangan antara keinginan dan kemampuan sering membuat orang pusing dan bertindak nekad.

Kelima, membedakan keinginan dan kebutuhan. Mendidik anak bersikap dan bertindak sederhana dalam keluarga dimulai dari kemampuan menelaah, membedakan antara keinginan dan kebutuhan. Mana yang dirasakan sebagai kebutuhan dan mana pula yang hanya bersifat keinginan semata. Sederhana itu memang bersifat relatif. Sulit mencari tolok ukur yang pas tentang hidup sederhana. Begitu pula dalam penerapan anak-anak di lingkungan keluarga. Masing-masing keluarga memiliki cara dan gaya tersendiri. Namun demikian mendidik anak untuk hidup sederhana pada umumnya adalah menanamkan sikap dan perilaku yang tidak berlebihan dalam kehidupan. Bersikap apa adanya, alamiah, tidak boros dan mubazir.

   Lima poin sebagai kunci untuk dibenahi dari fenomena anak yang rajin semangat belajar tidak putus sekolah walaupun orang tuanya tidak bisa membelikan sebuah sepatu baru atau yang lain. Tetapi orang tua harus mempunyai kreativitas mencoba untuk memperbarui.

   Ada pepatah dari H. Agus Salim yang teringat perkataan Kaman, Leiden is Lijden, ‘‘memimpin adalah menderita’’. Penderitaan bukan tidak punya uang untuk membelikan sepatu untuk anak. Tetapi penderitaannya ditunjukan dalam hidup sederhana kadang-kadang mendekati serba kekurangan dan kemiskinan, rumah mewah atau setidaknya salah satu yang terbagus di ingkungan. B

Anak-anak kita patut ditanamkan sifat sederhana, karena proses sederhana anak akan lebih baik, keren dan harmonis jika ditanamkan sejak kecil. *

*Nur Hafidz mahasiswa Institut Agama Islam Negeri Purwokerto, studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini- Pegiat Literasi Rumah Kreatif Wadas KeliR

 

sumber gambar :https://www.shutterstock.com

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar