Dari Raja Kecil, Belajar Jaga Keselamatan Anak

     AnggunPaud - Ingat kasus Raja, anak berusia sekitar tiga tahunan dari Muara Baru, Penjaringan, Jakarta Utara yang diketemukan tewas di dalam sebuah mobil pada tanggal 20 Oktober yang lalu? Sungguh sangat tragis nasibnya. Ia diketemukan terbujur kaku di dalam mobil setelah seharian dicari. Diduga tewasnya Raja kecil itu akibat kehabisan oksigen di dalam mobil tersebut. Raja terjebak di dalam mobil dan tak mampu keluar.

   Hal yang sangat disayangkan adalah mengapa anak sekecil itu akhirnya masuk ke dalam mobil dan tidak diketahui oleh siapa pun termasuk kedua orang tuanya. Orang tak menyangka bahwa anak tersebut ternyata berada di dalam mobil yang tengah di parkir tak jauh dari tempat tinggalnya dan terkunci di dalamnya. Padahal anak tersebut sudah sempat dilaporkan diculik.

   Kasus tersebut sungguh sangat penting dijadikan cermin bagi para orang tua, bagaimana kita harus menjaga, mengawasi, dan melindungi anak-anak agar mereka tak menjadi korban seperti halnya si Raja kecil. Sebab bagaimana pun ketika peristiwa seperti itu terjadi maka orang tua yang akan kehilangan sekaligus dipertanyakan dan dipersalahkan. Orang tua dianggap teledor dalam mengawasi anak-anak yang mestinya harus dijaga keselamatan jiwanya. Maka, ketika peristiwa semacam itu telah terjadi, apa pun alasan oran tua, tak cukup untuk membela diri.

   Peristiwa itu memang sudah berlalu, namun ada beberapa pelajaran penting yang dapat dipetik para orangtua. Pelajaran penting tersebut diantaranya adalah sebagai berikut;

Pertama, betapa lemahnya pengawasan anak dari orang tua. Kasus atau peristiwa yang menimpa anak-anak sepanjang ini tercatat sangat seringkali terjadi. Tiga anak yang terjebak di kamarnya dalam peristiwa kebakaran di Bogor beberapa waktu yang lalu, itu diakibatkan karena anak-anak tersebut bermain tanpa pengawasan orang tua. Bahkan saat itu di dalam rumah tersebut tidak ada orangtua atau orang dewasa satu pun. Pada saat yang berbeda, kasus terjepitnya anak di tangga eskalator berulang-ulang terjadi. Kasus anak yang tenggelam di sungai atau di kolam, bukan cerita sekali dua kali, melainkan berkali-kali. Begitu pula kasus lain yang menimpa anak-anak, semua lebih diakibatkan dari kurang terjaga dan terawasinya anak-anak. Mereka terbiarkan bermain tanpa pengawasan orang tua atau orang yang lebih dewasa. Anak-anak yang kurang pengawasan dalam bermain atau melakukan kegiatan, memiliki risiko yang lebih tinggi dalam hal keselamatan jiwanya dibanding dengan mereka yang selalu dalam pengawasan. Hal itu dikarenakan oleh minimnya pengetahuan mereka tentang risiko sebuah tindakan. Berbahaya atau tidak, mereka tak pernah memikirkannya. Yang pasti, apa yang mereka lakukan semata-mata karena gerakan hati dan pikiran untuk mengikuti rasa ingin tahunya. Maka tak bisa dipersalahkan ketika resiko kemudian harus ditanggungnya.  Oleh karena itu orangtua mestinya dapat mencegahnya.

Kedua, perlunya orang tua mengantisipasi bahaya yang mengancam anak-anak. Pelajaran kedua yang dapat kita petik adalah pentingnya kita mengantisipasi hal yang dapat mengancam jiwa anak-anak kita. Meminimalisir ancaman terhadap anak harus dilakukan orang tua. Ada banyak hal yang dapat mengancam jiwa anak-anak. Hal yang dimaksud, antara lain; kendaraan, api, air, senjata, benda tajam, lubang, ketinggian, dan benda-benda atau kondisi lain yang berbahaya. Hal-hal di atas merupakan benda atau kondisi yang dapat membahayakan keselamatan anak-anak sehingga sedapat mungkin harus dijauhkan atau dihindarkan dari mereka. Yang sering terjadi justru orang tua tak memikirkan hal itu. Mereka acap kali membiarkannya sehingga sering menjadi penyebab terjadinya kasus yang tak diinginkan.  Tidak meletakkan sumber api, tidak meletakkan senjata atau benda tajam sembarangan, menutup kubangan di sekitar rumah, atau menutup lubang yang berbahaya, adalah hal yang dapat dilakukan orangtua untuk menghindari resiko itu.

Ketiga, menghindarkan beberapa hal yang dapat menjebak anak-anak. Ada banyak tempat atau benda yang dapat menjebak dan sangat membahayakan anak-anak. Contoh ; kamar, gudang, gua, peti, lemari, mobil, serta benda-benda lain yang sering didekati anak dan memiliki kemungkinan menjebak. Anak-anak yang masuk ke dalam sebuah kamar seringkali terkunci di dalamnya sehingga mereka tak bisa keluar tanpa bantuan orang dewasa. Anak-anak juga sering terjebak masuk ke lubang, gorong-gorong, atau gua. Kubangan yang tergenang air juga seringkali menjadikan penyebab kasus kematian anak. Demikian pula peti, lemari, bahkan mobil yang semestinya pintunya terkunci ternyata karena keteledoran orang tua, bisa dimasukinya hingga menjebak dan mematikan. Tempat-tempat semacam itu mestinya harus dihindarkan dari anak-anak. Usahakan tempat semacam itu dijauhkan dari anak-anak supaya dapat mengurangi risiko.

Keempat, memberikan bekal pengetahuan cara mengatasi masalah yang dihadapi anak. Satu hal yang sangat penting, anak-anak perlu sekali mendapat bekal pengetahuan mengatasi permasalahan atau menghadapi bahaya yang mengancamnya. Sayangnya jarang orang tua yang suka membekali pengetahuan tentang bagaimana cara menghadapi masalah atau bahaya. Pernahkah kita menjelaskan kepada anak tentang tulisan yang sering dijumpai pada kaca kereta api tentang petunjuk saat keadaan darurat? Pernahkah kita menjelaskan tentang keberadaan benda pemukul semacam palu yang terdapat di dekat kaca bus? Pernahkah kita menjelaskan makna petunjuk “Jalur evakuasi” yang tertulis di gerbong kereta api, jalan, gedung-gedung, atau bangunan tertentu? Rasanya jarang terlintas dalam pikiran kita untuk menjelaskan hal itu kepada anak-anak. Keberadaan tulisan atau alat penyelamat seakan hanya tulisan tak bermakna. Kapal-kapal laut menyediakan pelampung dan sekoci, pun tak pernah dijelaskan keberfungsiannya. Sekali waktu mestinya kita harus menjelaskan apa yang kita baca atau yang kita lihat. Kita harus menjelaskan kepada anak-anak apa yang harus dilakukan saat ada bahaya atau keadaan darurat. Itu semua dimaksudkan untuk meminimalisir resiko yang harus ditanggung anak-anak khususnya. Maka penting dijelaskan apa yang harus anak-anak lakukan saat menghadapi bahaya dengan pengetahuan sederhana yang dapat dilakukan anak-anak. Misalnya, saat ia diculik, maka ajari dirinya untuk berteriak, menggigit, atau meronta. Saat terjebak di kamar, bekali alternatif keluar, misal melalui jendela, atau apa saja. Bukan hanya terfokus pada pintu saja. Saat menghadapi kebakaran, maka berilah bekal untuk mencari alternatif penyelamatan diri. Begitu pula saat keadaan darurat lain. Anak-anak harus diajari bagaimana memiliki inisiatif sebisanya. Misal saat terjebak dalam mobil maka ia dapat mencari segala benda yang ada di dalam mobil untuk memecahkan kaca, dan lain-lain. Kelima, menjelaskan berbagai fasilitas penyelamatan diri saat keadaan darurat. Sesungguhnya sudah banyak disediakan berbagai hal guna penyelamatan diri saat orang menghadapi bahaya. 

Keenam, melakukan simulasi sederhana saat mengalami bahaya. Sekali waktu memang perlu orang tua mengajak anak untuk melakukan simulasi bagaimana cara mengatasi permasalahan saat keadaan bahaya atau darurat. Anak-anak perlu melakukan semacam percobaan mengatasi masalah saat dirinya terjebak di kamar atau di sebuah parit sempit, atau gorong-gorong misalnya. Mereka bisa diajak pula melakukan simulasi saat berada di dalam mobil yang terkunci. Bahkan anak-anak harus mencoba melakukan penyelamatan diri saat terjadi gempa atau bahaya lainnya. Pelajaran dan simulasi seperti itu penting dilakukan agar anak mengetahui dan dapat melakukan penyelamatan diri saat menghadapi peristiwa atau keadaan yang serupa. Dengan begitu ada usaha penyelamatan yang bisa dilakukan anak sehingga dapat sedikit meminimalisir dirinya menjadi korban. Semua itu tentu harus dibekali dengan pengetahuan dasar penyelamatan dan jaminan keamanan dari orangtua. Pendampingan orang dewasa harus selalu ada karena hal itu lebih penting.

      Demikian beberapa hal penting yang dapat dipetik dari kasus Raja yang meninggal di dalam mobil beberapa waktu yang lalu. Semoga peristiwa seperti itu tak akan terulang lagi menimpa anak-anak kita. Sesungguhnya itu semua hanyalah tindakan preventif untuk mencegah bahaya terhadap anak-anak kita. Hal yang lebih penting adalah pengawasan dan penjagaan orangtua dari segala bentuk ancaman apa pun. Orang tua adalah pengawas, penjaga, pelindung dan penyelamat anak-anak yang paling utama. Sehingga tenggung jawab orangtua harus selalu ada.

sumber gambar :https://apkpure.com

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar