Kalimat Terlarang Bagi Orang tua untuk si Buah Hati

    AnggunPaud - Cara berkomunikasi antara orang tua dengan anaknya akan sangat berpengaruh dalam perkembangan kepribadian anak. Baik komunikasi dalam bentuk verbal berupa ucapan dan kata-kata, maupun komunikasi non-verbal yang terwujud dalam tindakan dan bahasa tubuh kita. Anak-anak seperti gelas yang rentan pecah. Hati mereka lawan terlukai. Perasaan anak-anak juga masih belum stabil dan tidak sekuat orang dewasa. Ketika ada yang membuatnya tidak nyaman atau tertekan, anak kita gampang merasakan sakit dan menangis.

   Oleh karena itu, kita harus benar-benar berhati-hati dalam menjaga sikap dan ucapan kita. Jangan sampai kata-kata yang keluar dari mulut kita menyakiti perasaan anak. Ucapan dan kesalahan cara kita dalam berdialog dengan anak, bisa berdampak negatif dalam pembentukan karakter dan kepribadian anak. Kalimat yang kita ucapkan di hadapan anak-anak harus benar-benar kita perhatikan. Kita harus berhati-hati dalam berucap.

   Kegiatan yang padat, atau kesibukan yang menumpuk seringkali menguras tenaga dan pikiran orang tua. Kelelahan seperti ini sering membuat suasana hati kita terganggu. Akibatnya, kita pun sering keceplosan mengucapkan kata-kata yang tidak sepantasnya dikatakan kepada anak-anak. Jangan biarkan kata-kata negatif yang kita ucapkan di hadapan anak, baik itu disengaja maupun tidak, justru membuatnya tumbuh menjadi pribadi yang penakut, pemalas, tidak percaya diri, dan berbagai karakter buruk lainnya. Ada beberapa kalimat yang sebaiknya dihindari diucapkan oleh orang tua atau guru kepada anaknya.

   Kalimat tersebut bisa berbahaya karena bisa menghambat perkembangan anak, baik dalam bidang kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Kalimat tersebut antara lain adalah sebagai berikut;

Pertama, “Adik jangan ini, yaa…, jangan melakukan itu, yaa....” dan berbagai kalimat larangan sejenisnya. Bentuk kalimat larangan-larangan ini sesungguhnya membatasi pergerakan dan pertumbuhan anak. Hal ini membuat anak lambat berkembang. Anak membutuhkan berbagai aktivitas. Anak butuh waktu bermain. Anak juga membutuhkan kegiatan yang mampu melatih keterampilan hidupnya sebagai bekal di masa depan. Kalimat seperti “Jangan kejar-kejaran, nanti jatuh. Jangan main bola, nanti baju adik kotor. Jangan main pisau, nanti tangan kakak tersayat”, mungkin memang keluar dari mulut kita karena rasa sayang dan rasa kepedulian kita agar tidak terjadi apa-apa dengan anak kita. Tetapi, jangan sampai kekhawatiran kita justru mengungkung anak. Menghambat kecerdasan anak. Membatasi pergaulan dan pergerakan anak. Lebih baik, kita berikan pemahaman saja sewajarnya. Kita bisa mengubah kata-kata larangan tersebut dengan kalimat yang lebih positif. Misalnya, “Main pisaunya hati-hati ya, Kak” dan sebagainya. Adapun seandainya jari anak terlanjur teriris pisau, kita tentu bisa lebih sigap dalam memberikan pertolongan. Biarkan anak belajar dari rasa sakitnya. Seorang ahli pedang, tentu tidak akan bisa menjadi ahli tanpa pernah teriris pedangnya, bukan? Seperti kata nasihat lama, pengalaman adalah guru terbaik.

Kedua, “Masa seperti itu saja tidak bisa?”. Kalimat ini memang bisa memacu semangat anak untuk belajar lebih giat. Namun, di sisi lain, anak-anak yang tidak tahan dengan tantangan semacam ini justru akan semakin minder karena secara tidak langsung di alam bawah sadarnya tertanam rasa ketidakmampuan dalam diri. Hal ini bisa mengurangi rasa percaya diri anak. Sebaiknya, pilihlah kata-kata yang lebih positif dalam memotivasi anak.

Ketiga, “Kalau Ibu sudah bilang A, kamu harus A”. Sebagai orang tua, tentu kita menginginkan pilihan yang terbaik untuk anak kita. Namun, jangan sampai pilihan kita justru membebani anak. Pilihan kita tidak boleh kita paksakan kepada anak. Kita harus tetap memberikan kesempatan bagi anak untuk belajar memilih. Pemaksaan kehendak berbahaya untuk kreativitas anak. Anak menjadi terbiasa dengan adanya satu-satunya pilihan yang harus ia ambil. Kebebasan memilih bermanfaat bagi anak untuk belajar mengembangkan ide, gagasan, dan kreativitasnya. Selain itu, kebebasan memilih juga melatih anak untuk menghargai perbedaan dan pendapat orang lain.

Keempat, “Makanya kalau ibu bilang hati-hati, ya harus hati-hati”. Kegiatan anak yang aktif bermain kadang membuat anak jatuh dan menangis. Kata-kata inilah yang sering terucap dari mulut kita secara spontan. Alih-alih menenangkan anak, hal ini justru membuatnya menangis lebih kencang. Ketika ia sedang menangis, anak lebih membutuhkan pelukan hangat dan uluran kasih sayang kita daripada rentetan nasihat-nasihat dan kata-kata yang terkesan menyalahkan seperti di atas. Langsung menyalahkan anak bukanlah pilihan paling bijak. Anak harus ditenangkan terlebih dahulu. Baru setelah dia tenang, kita memberikan pemahaman dan pengertian agar anak bisa belajar dari kesalahannya.

Kelima, “Kamu sih tidak seperti kakakmu, Kamu sih tidak seperti si A, kamu sih tidak serajin si B, …”, dan sebagainya. Jangan membanding-bandingkan seorang anak dengan anak lain. Setiap anak adalah unik. Setiap anak memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Anak-anak istimewa dengan bakat dan minatnya yang berbeda-beda. Kita hendaknya tidak menyamakan antara yang satu dengan yang lainnya, meskipun itu adalah kakak-adik, atau bahkan saudara kembar sekalipun. Hal itu bisa merusak dirinya yang unik. Ketika kita membanding-bandingkan mereka, anak-anak akan terpacu untuk meniru dan mengekor dengan orang yang kita bandingkan tersebut. Anak kita bisa kehilangan jati dirinya. Dan hal ini berbahaya untuk perkembangan kepibadiannya di masa depan, karena anak akan bingung dengan minat, bakat, dan arah hidup yang sesuai dengan dirinya.

Keenam, “Seharusnya kamu bisa lebih baik… Seharusnya kamu tidak segagal ini, Seharusnya kamu tidak seperti ini...”. Kegagalan adalah hal yang biasa dalam hidup. Saat anak mengalami kegagalan, hindarilah mengucapkan kalimat-kalimat yang terkesan menyalahkan, apalagi membuatnya semakin merasa gagal dan terpuruk. Hal ini bisa membuatnya semakin sedih, tertekan, dan takut untuk mencoba hal-hal baru karena takut pada kegagalan. Berilah motivasi dan dorongan agar ia bangkit dan pantang menyerah. Berikan keyakinan bahwa dia tidak sendirian, dan ada kita yang akan selalu mendukungnya dari belakang.

   Demikianlah, semoga kita semakin hati-hati dalam menjaga ucapan dan tindakan kita di hadapan anak-anak. Pilihlah kata-kata yang mengandung hal-hal positif. Sebisa mungkin kita harus berusaha untuk menghindarkan diri dari kata-kata negatif, apalagi mengandung umpatan dan kata-kata kasar. Anak-anak memiliki ingatan yang kuat. Sehingga, sebisa mungkin tanamkanlah ingatan yang baik-baik dalam pikiran anak, yang akan ia bawa sampai dewasa nantinya. Karena kata-kata kita, adalah bentuk kasih sayang yang akan menjadi pupuk bagi pertumbuhan anak*. Yogyakarta, 2018

Sumber gambar: www.bengkungmoden.com

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar