Bermain Pasir Itu Menyenangkan

    AnggunPaud - Pada waktu kegiatan pembelajaran, ada seorang anak bernama Ali yang tidak terdengar suaranya, di saat teman - temannya asyik berseru “ Bunda, bunda, bunda.....” . Bermaksud untuk mendapatkan perhatian dari Bunda. Perhatian dan kasih sayang dari seorang pendidik yang sering disapa dengan sebutan bunda mampu memotivasi diri anak, anak lebih percaya diri, serta dapat meningkatkan kemandirian anak.

    Oleh sebab itu, anak – anak saling memperebutkan perhatian bunda. Berbeda dengan Ali yang bersikap tidak seperti biasanya. Ali justru nampak tenang dengan sebuah gadget yang baru saja direbut dari ibunya. Ali tengkurap sambil memegang gadget dengan sangat asyik. Tidak mau diganggu, meskipun berkali – kali ibunya membujuk Ali. Dengan memberikan berbagai alasan. Seperti, “ nanti dimarahi bunda, lho” kata ibu kepada Ali. Bujukan apapun ternyata tidak membuat Ali melepaskan gadgetnya, walau di dalam kelas. Yang mana, hal tersebut akan membuat anak – anak tertuju kepadanya, Ingin bergabung dengan Ali untuk bermain gadget.

   Sebelum terjadi, Bunda mendekati Ali, kemudian mengajaknya keluar untuk bermain pasir. Tanpa terpaksa Ali memberikan gadget pada ibunya. Bermain gadget ternyata sudah menjadi kebiasaan Ali saat di rumah. Dan kebiasaan tersebut akan dilakukan saat melihat ibunya memegang gadget. Meskipun anak laki – laki, Ali nampak tidak begitu energik seperti anak lainnya. Mungkin disebabkan anggota tubuhnya yang kurang bergerak sehingga kemampuan motoriknya tidak berkembang dengan optimal.

   Ali mudah sekali merasa lelah untuk berjalan, dengan seringnya Ali minta digendong oleh ibunya saat berangkat atau pulang sekolah. Dan sering merasa lelah melakukan kegiatan – kegiatan yang melibatkan motorik halusnya, seperti menggambar, menebalkan, meronce atau mewarnai. Saat kemampuan motorik anak tidak mendapatkan stimulasi, perkembangannya menjadi tidak optimal dan dapat mempengaruhi kemampuan lain yang dimiliki. Misalnya, anak yang tidak percaya diri karena tidak mampu berlari dengan cepat seperti teman – temannya, menjadikan anak tersebut tidak mau melakukan kegiatan mengurutkan angka. Walaupun sebanarnya anak mampu melakukannya.

   Tidak jarang para orang tua yang menghendaki anaknya untuk bermain gadget. Karena, dengan gadget, anak akan lebih tenang tidak lagi mengganggu orang tuanya, rumah tidak berantakan, anak – anak merasa nyaman di rumah, meskipun sebenarnya, anak tidak membutuhkan gadget tersebut. Anak lebih membutuhkan kasih sayang dan perhatian dari orang di sekitar dan bahkan anak sesungguhnya lebih suka bermain dengan alam.

   Anak akan lebih senang bermain menggunakan kemampuan fisiknya. Sangat disayangkan saat kemampuan fisik tidak distimulasi sejak dini. Karena, saat anak terbiasa bermain gadget, maka selain berpengaruh terhadap perkembangan fisik anak, yakni anak menjadi pemalas karena jarang bergerak, serta sering meluapkan kemarahan dengan aktivitas fisik, seperti memukul ibunya atau menangis dengan keras disaat keinginannya tidak dipenuhi. Apapun yang menjadi keinginannya harus dipenuhi saat itu juga. Tidak mau menunggu walau sebentar.

   Sikap yang tidak seharusnya dimiliki oleh seorang anak, melekat dalam diri karena seringnya membatasi ruang gerak anak. Tidak sedikit orang tua yang menghendaki anak – anaknya bermain dengan lumpur, tanah, pasir atau mainan lainnya yang membuat badan kotor, rumah berantakan, serta melibatkan diri bermain dengan anak. Itulah, keasyikan sebenarnya. Seperti Ali, yang awalnya nampak sangat menikmati permainan pada gadget ibunya, namun Ali berikan gadgetnya begitu saja saat bunda mengajak Ali bermain pasir. Hal ini menandakan bermain pasir itu lebih menarik dan mengasyikkan bagi Ali. Baru mendengar ajakan bunda saja Ali sudah mau melepaskan gadgetnya.

   Ternyata benar, Ali enggan beranjak dari pasir. Ali dan teman – temannya begitu asyik bermain pasir meski di bawah terik mentari yang begitu menyengat. Tanpa pepohonan yang dapat sedikit melindungi dari panas mentari. Kemampuan apa sajakah yang dapat dikembangkan saat bermain pasir?

- Meningkatkan kemampuan motorik kasar anak. Anak akan mampu berjalan dengan seimbang saat lingkungannya memberikan stimulasi dengan baik. Seperti dengan bermain pasir yang memberikan kebebasan anak untuk melatih kemampuan berjalannya diwaktu naik turun gundukan pasir yang ada. Tanpa harus dipaksa untuk berjalan, karena anak melakukannya dengan kemauannya sendiri. Serta tidak membahayakan bagi diri anak. Sehingga anak akan terus mencoba lagi dan lagi, meskipun kadang terjatuh. Dan membuat baju serta badannya kotor. Pengalaman anak saat terjatuh akan memberikan energi positif terhadap kemampuan mentalnya, dalam melatih anak untuk bangkit saat mengalami kegagalan. Bak anak yang terjatuh berkali – kali saat belajar naik sepeda, maka anak akan dapat bersepeda dengan baik. Begitupula anak yang terjatuh di pasir, berkali – kali anak bangkit. Hingga anak mampu berjalan dengan hati – hati agar tidak terjatuh.  Akhirnya, anak mampu berjalan dengan baik.

- Melatih kemampuan motorik halus anak. Biasanya para orang tua menghendaki anak – anaknya untuk dapat menulis atau menyelesaikan tugas yang melibatkan motorik halusnya dengan baik. Dan tidak jarang pula yang sering mengukur hasil karya anak dengan hasil karya orang dewasa. Hal ini membuat anak enggan melakukan aktivitas yang demikian. Berbeda saat bermain pasir, anak dengan mudah melatih kelenturan jari – jari ototnya. Tanpa merasa lelah, motorik halusnya terus distimulasi dengan cara, memasukkan pasir ke dalam gelas, menekan – nekan pasir sampai membalikkan gelas dan membentuk bangunan – bangunan dengan pasir. Begitu asyik bukan?.

Mengembangkan Daya Imajinasi anak. Saat berbagai macam bentuk dibuat, seperti bangunan istana, kue – kue ulang tahun, dan sebagainya. Anak – anak akan menemukan berbagai aksesoris yang dapat digunakan untuk melengkapi bentuk – bentuk tersebut. Seperti, menggunakan bunga, daun , lidi , batu – batu kecil dan korek api. Hingga menyerupai bentuk aslinya.

Melatih kemampuan bersosial anak. Pada umumnya anak usia dini tidak mudah untuk bergaul. Seperti Ali yang yang jarang sekali mau bermain dengan temannya. Ali lebih suka menyendiri dan bermain dengan gadget. Akan tetapi, disaat bermain pasir, Ali mau bermain dengan teman – temannya, mau berbagi mainan, serta nampak begitu ceria. Kemampuan bersosialnya mulai berkembang. Seakan bukan Ali yang pendiam. Sebuah keasyikan bermain dalam pembelajaran, benar – benar memotivasi anak dalam mengembangkan kemampuan yang dimiliki.

Melatih anak dalam mengungkapkan bahasa. Ketika bermain pasir, Ali menceritakan sesuatu yang dibuat dengan begitu antusianya. Seperti, saat itu selain istana yang dibuat, Ali juga membuat makam, dengan menggali pasir kemudian diberi beberapa batu kecil. Ali menceritakannya dengan detail. Padahal hari – hari biasanya, Ali tidak banyak bicara. Begitu pula dengan teman – temannya yang saling bercakap – cakap tentang hasil karyanya.

Meningkatkan kreativitas anak. Saat anak – anak saling menilai hasil karyanya masing – masing, serta berlomba – lomba untuk menciptakan hasil karya yang paling baik. Pada saat itulah anak – anak akan mengadu kreativitas, diantaranya menemukan berbagai solusi dalam menghasilkan sebuah karya. Dan tidak hanya itu, biasanya akan terjadi sebuah konflik, seperti berebut tutup toples karena, hasil karya yang dibentuk temannya lebih bagus dari buatan Ali. Dengan pancingan dari bunda, maka Ali dan teman – temannya akan menemukan solusinya. Bagaimana agar semuanya dapat memakai tutup toples tersebut. Kesempatan anak dalam mencari solusi inilah yang akan mengembangkan kreativitas dan kecerdasan anak. Melatih anak mengucapkan rasa syukur terhadap Tuhan YME Nampak seperti bangunan gedung megah, berlapiskan bebatuan yang tersusun begitu indah. Satu demi satu pasir yang dicetak dengan sebuah gelas plastik berdiri mengelilingi dan membentuk bangunan. Ali merasa senang, berhasil membuat bangunan dan menghiasinya dengan bebatuan kecil. Bunda mengajak Ali untuk mengucapkan Alhamdulillah. Ali juga berhasil membantu teman – temannya menyusun cetakan – cetakan tersebut. Mulai dari hal kecil itulah, anak – anak dapat mengucapkan Alkhamdulillahi robbil’aalamiin sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Mengenal konsep bilangan. Ajaklah anak – anak untuk mengenal konsep bilangan dengan menghitung pasir yang sudah berhasil dicetak. Anak – anak begitu antusias dalam menghitung. Sebagai persiapan anak dalam mengenal lambang bilangan. Yang akan memudahkan anak dalam mengembangkan kemampuan berhitungnya Mengenalkan lambang bilangan Anak dapat mengenal lambang bilangan melalui bermain pasir, buatlah angka pasir. Rasa penasaran anak – anak membuat rasa ingin tahunya semakin tinggi, terutama Ali yang awalnya pendiam. Saat itulah ajak anak – anak untuk menggambar bentuk angka mulai dari yang mudah seperti, angka satu dan seterusnya. Dengan bertahap dan dilakukan berulang kali sampai anak bisa. Serta sambil mengajak anak untuk bercakap – cakap. Sehingga anak – anak semakin asyik dalam bermain pasir. Pada akhirnya akan mudah diingat dan tersimpan dalam memori jangka panjang. Anak tidak mudah lupa lambang bilangan atau angka, serta menumbuhkan kecintaannya dalam berhitung. Kelak ketika dewasa anak akan menyukai pelajaran matematika.

Mengenalkan huruf. Selain lambang bilangan, bermain pasir juga dapat digunakan sebagai media untuk mengenalkan huruf. Dengan membuat huruf pasir, menggambar garis dan membentuknya menjadi huruf p misalnya. Atau dengan menyiapkan selembar kertas yang bergambar huruf p, kemudian berilah pelekat pada huruf p tersebut dan taburi pasir pada huruf p.

Melatih anak untuk bersikap sabar. Di tengah keasyikan anak – anak bermain, terkadang ada juga yang membuat anak – anak merasa putus asa. Seperti, ketidak berhasilan dalam membuat huruf atau mencetak pasir, namun karena bermain pasir dilakukan dengan bersenang – senang, maka dapat melatih anak untuk bersikap sabar. Pada akhirnya anak akan mencoba lagi, meski harus mencobanya berulang kali. Meski terlihat bermain – main, namun sebenarnya anak sedang belajar. Belajar yang menyenangkan dan terus memberikan motivasi dalam diri masing – masing anak. Seperti Ali yang saat ini sudah mau berangkat sekolah sendiri, lebih mandiri, tidak lagi ditunggui oleh ibunya. Sudah mulai jarang bermain gadget, mau mengikuti kegiatan pembelajaran bersama teman – temannya, bersikap sabar, serta mudah bergaul. Rasa percaya diri Ali meningkat, Ali mau menyanyi di depan bunda dan teman – temannya. Ali makin sering berkomunikasi dengan bunda. Bercerita tentang kegiatannya saat di rumah, pengalamannya yang menyenangkan serta mulai mengikuti teman – temannya saat berseru “ Bunda..., bunda..., bunda...”. Ali tidak pernah lagi memukul ibunya, serta lebih aktif bermain dengan teman – temannya. Ibu Ali sangat senang melihat perubahan sikap Ali. Dan mendukung Ali dengan tidak menungguinya pada saat di sekolah. Anak banyak belajar melalui bermain.*

*Yuli Kismawati, Guru KB Qothrun Nada Sokawera

sumber gambar : https://www.5minutesformom.com

Bagikan Artikel Ini

Komentar (1)

  • ida munfarijah

    wah ternyata bermain pasir itu banyak manfaatnya ya

    2019-07-26 00:06:00

Silahkan Login untuk memberi komentar