Bahaya Pelibatan Anak dalam Kegiatan Kampanye

Entah apa yang dipikirkan orang tua ketika mereka membawa serta anak-anak berusia lima tahun ke bawah dalam kegiatan kampanye. Tak jarang kita menyaksikan ada orang tua yang mengendarai sepeda motor dan memboncengkan anaknya yang mengenakan atribut suatu partai. Sambil berteriak-teriak, si orang tua  menggelorakan yel-yel tertentu seraya berjoget-ria, tanpa memperhatikan kondisi si anak.  

Komisi Pemilihan Umum telah melarang pelibatan anak-anak dalam kegiatan kampanye maupun kegiatan lain yang terkait dengan pemilihan umum. Ada pertimbangan tertentu sehingga aturan itu dikeluarkan. Ada banyak pengaruh negatif bagi anak-anak ketika dia mengikuti kegiatan semacam itu. Undang-Undang Nomor 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak sudah disusun dengan maksud untuk memberikan perlindungan, keselamatan, kenyamanan, dan hak anak-anak. Pelibatan anak-anak dalam kegiatan kampanye atau kegiatan sejenisnya yang semestinya diperuntukkan bagi orang dewasa berarti telah melanggar undang-undang tersebut.  

Lalu mengapa orang tua tidak boleh melibatkan anak-anak dalam kegiatan kampanye? Berikut ini  alasannya. Pertama, keselamatan anak-anak terancam. Kegiatan kampanye  sangat berisiko tinggi. Meskipun hakekat kampanye adalah menyosialisasikan program dari kandidat peserta pemilu, namun siapa bisa menjamin bahwa kegiatan itu akan berlangsung aman dan damai? Apalagi jika kegiatan tersebut berlangsung di tempat terbuka, bukan di sebuah ruang gedung yang dibatasi pesertanya.

Fenomena yang ada sejauh ini banyak sekali pelanggaran saat terjadi kampanye, baik pelanggaran yang bersifat fisik maupun non fisik. Saat kampanye sangat rentan terjadi pergesekan antara peserta kampanye maupun antar pendukukung kandidat lain. Beruntung jika gesekan tersebut hanya bersifat non fisik. Bagaimana jika pergesekan itu meluas ke tindakan anarkis dan menyangkut fisik? Ini sangat berbahaya bagi anak-anak.

Bayangkan saja, ketika anak berada di tengah-tengah keributan saat dia diajak mengikuti kegiatan kampanye oleh orang tua. Mereka bukan saja akan menyaksikan pergolakan, bahkan bisa menjadi sasaran atau korban. Siapa yang akan menjamin keselamatan jiwa mereka? Keselamatan anak-anak mestinya adalah tanggung jawab orang tua. Namun ketika orang tua sendiri yang mendekatkan ancaman tersebut kepada anak-anak, lalu bagaimana mereka dapat menjamin? Oleh karena tugas orang tua adalah melindungi anak-anak, maka pencegahan dan perlindungan kepada anak yang paling jitu adalah tidak membawa atau melibatkan anak-anak dalam kegiatan kampanye.

Kedua, kesehatan anak-anak terancam. Ketika anak-anak dilibatkan dalam kegiatan kampanye, maka besar kemungkinannya mereka akan terancam kesehatannya. Betapa tidak, anak-anak kecil yang diikutkan dalam konvoi kampanye, ia akan banyak terkena polusi asap kendaraan. Ini sangat berbahaya bagi kesehatan mereka, khususnya untuk kesehatan Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA). Demikian pula polusi yang diakibatkan oleh debu dan kotoran lainnya. Selain pernafasan, ancaman lain adalah penyakit yang disebabkan oleh cuaca yang panas atau angin. Anak-anak yang dibawa ke kegiatan kampanye akan terkena angin dan panas yang kadang tidak terpikirkan orang tua. Ini sebenarnya membahayakan anak-anak. Oleh karena itu apapun alasannya, orang tua mestinya menyadari akan semua ancaman itu.

Ketiga, psikis anak terancam. Menghadapi situasi keramaian, keributan, bahkan mungkin saja terjadinya bentrokan yang mengarah kekerasan bagi orang tua barangkali bukan menjadi hal yang mengejutkan, namun bagaimana jika anak-anak yang menghadapinya? Keramaian dan keributan bagi sebagian anak yang memiliki kejiwaan yang masih lemah sangat memungkinkan membuat si anak tidak mampu menghadapinya. Ini sangat berbahaya, karena dapat memengaruhi kejiwaan mereka.

Keempat, anak dapat terpengaruh oleh kekerasan. Dalam kegiatan kampanye, sangat mungkin anak-anak akan menyaksikan berbagai kekerasan yang bentuknya bermacam-macam, seperti berteriak-teriak dengan nada tinggi, suara kendaraan yang menderu-deru, wajah-wajah beringas, pakaian yang tidak teratur, bahkan musik yang terlalu keras. Jika kondisi semacam itu disaksikan anak-anak, tentu akan berpengaruh terhadap kejiwaan mereka.

Kelima, emosi anak akan terganggu. Sama seperti hal di atas, bahwa segala hal yang ditampilkan oleh peserta kampanye memiliki kecenderungan mengarah ke kekerasan. Apalagi ketika kampanye tersebut berlangsung di lapangan atau di jalan umum. Pengendalian emosi para peserta kampanye sangat lemah ketika mereka bertemu dengan masa yang begitu banyak. Hal kecil pun bisa saja menjadi besar ketika mereka merasa bertemu kawan yang memiliki kesamaan pandangan dan kepentingan. Anak-anak juga sangat lemah dalam pengendalian emosi. Oleh karena itu banyak hal yang disaksikan tak dapat disaringnya dengan baik. Ketika anak-anak menyaksikan hal yang menakutkan, mengancam jiwanya, bahkan merasa kurang nyaman, maka mereka akan bereaksi segera.

Hanya saja reaksi mereka seringkali disalurkan lewat cara menangis, karena kemampuan untuk bereaksi lainnya sangat rendah. Sayangnya orang tua banyak yang kurang memahaminya. Ketakutan mereka yang diungkapkan lewat tangis seringkali diterjemahkan dengan keinginan terhadap sesuatu. Akhirnya orang tua seringkali hanya berusaha untuk menghentikan tangisnya dengan cara mengalihkan perhatian atau memberikannya sesuatu yang menjadi kesukaannya. Anak-anak yang menangis karena ketakutan seringkali cukup dihentikan dengan memberikan es krim, makanan, atau mainan yang disukainya. Memang tangis anak itu bisa berhenti, namun trauma mereka atas ketakutannya sesungguhnya tidaklah hilang. Akibatnya ketika es krim telah habis atau mainannya sudah membosankan, maka ia akan kembali menangis. Ini karena rasa takutnya tak bisa dengan cepat dapat disembuhkan. Padahal dalam kampanye hal-hal yang menakutkan anak-anak sangat besar peluangnya terjadi. Oleh karena itu orang tua mestinya berpikir sampai ke arah itu, jika memang merasa sayang kepada anak-anak.

Keenam, hubungan sosial anak akan terganggu. Anak-anak yang dilibatkan dalam kegiatan kampanye dapat berpengaruh dalam hubungan sosialnya. Saat mereka menyaksikan orang berteriak-teriak, kemungkinan si anak akan merasa bahwa orang itu tengah marah. Hal ini disebabkan anak-anak belum mampu menerjemahkan segala bentuk bahasa kampanye, baik itu bahasa lisan maupun bahasa isyarat yang terkait dengan mimik maupun gerakan tubuh lainnya. Artinya komunikasi anak dengan orang lain pun seperti terputus, sehingga akan mempengaruhi hubungan sosialnya. Ketika anak kembali ke rumah bertemu dengan keluarga atau dengan teman-temannya, maka dapat saja ia menerapkan yang telah disaksikannya saat mengikuti kampanye.

Demikianlah bahwa banyak sekali efek negatif yang dapat muncul pada anak ketika mereka dilibatkan dalam kegiatan kampanye. Mengingat akhir-akhir ini kondisi dan situasi negeri ini tengah memasuki masa kampanye, maka sebaiknya orang tua bertindak bijak. Jangan sekali-sekali orang tua mengajak atau melibatkan anak-anak dalam kegiatan tersebut apapun alasannya. Selain dilarang oleh undang-undang, dengan tidak melibatkan anak-anak dalam kampanye artinya, kita sudah menyelamatkan anak dari risiko fisik maupun pengaruh psikis. Semoga kita dapat menjadi orang tua yang bijak. *

sumber gambar : https://www.pinterest.com

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar