Membaca Lantang dalam Kegiatan Bercerita

   AdminPaud -  “Suaranya kucing!” ucap saya di depan anak-anak. “Meooong…!” serentak anak-anak menjawab. “Suaranya kambing!” dengan lantang saya kembali berkata. “Mbeeek…!” sambil tertawa mereka menirukan suara kambing. “Kucing dan kambing, dua binatang yang sudah lama bersahabat” saya berkisah sambil memegang buku cerita.

   Kembali saya meminta anak-anak untuk menirukan suara kedua binatang tersebut dan anak-anak melakukan dengan senang. Begitu seterusnya disela-sela membaca cerita saya akan membaca dengan suara lantang hingga cerita usai dibacakan. Walau dengan durasi singkat dapat membuat anak-anak senang.

   Kegiatan bercerita sederhana dengan suara lantang dilakukan karena metode ini lebih menarik anak-anak dan bertujuan untuk meminimalisir kejenuhan saat mendengarkan cerita. Seperti umumnya anak, ia adalah makhluk kecil yang tidak bisa diam. Selalu bergerak dalam belajar dan menemukan hal-hal baru di lingkungan mainnya. Oleh karena itu sebagai pendidik harus jeli dalam menemukan ide-ide agar anak dapat fokus saat berkegiatan. Bercerita merupakan salah satu metode dalam memberikan pesan atau informasi yang dilakukan secara lisan.

   Hal ini dapat dilakukan dengan alat peraga langsung atau atau peraga tidak langsung salah satunya dengan membaca buku. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam bercerita untuk anak usia dini adalah :

Pertama, sesuaikan dengan usia dan perkembangan, bakat dan minat anak. Cerita harus sederhana dan singkat namun tetap mengandung nilai-nilai moral dan keagamaan, sosial dan kepekaan perasaan sehingga anak akan tersentuh.

Kedua, guru harus mampu menguasai situasi saat bercerita. Oleh karena itu hal yang pertama dilakukan adalah mengkondisikan anak agar mau mendengarkan cerita yang akan dibacakan baik dengan nyanyian atau permainan yang bertujuan menggiring anak dapat berkonsentrasi.

Ketiga, membuat senyaman mungkin kondisi anak saat mendengarkan cerita, bisa dilakukan dengan duduk melingkar di karpet atau lainnya.

Keempat, saat menghadapi situasi anak yang mulai gaduh atau tidak nyaman karena bosan, guru mulai menuturkan atau membacakan cerita dengan suara lantang dengan intonasi, mimik wajah serta gerakan tubuh sewajarnya.

Kelima, akhiri kegiatan membaca cerita dengan pertanyaan sederhana dan meminta anak untuk menceritakan kembali isi cerita yang sudah dibacakan. Hal ini untuk mengetahui kemampuan anak dalam memahami maksud cerita dan menggali kemampuan bahasa anak. Ayah Bunda dapat melakukan kegiatan bercerita secara fleksibel dimanapun berada.

   Saat di rumah kegiatan bercerita dapat dilakukan saat anak akan tidur siang atau tidur malam. Saat bermain bersama anak-anak di halaman rumah bahkan dapat dilakukan saat di dapur ketika menemani orang tua memasak. Pilihlah cerita ringan dan sederhana, karena sesungguhnya dalam kegiatan bercerita yang terpenting adalah nilai-nilai moral yang akan ditanamkan pada anak. Beberapa manfaat kegiatan bercerita antara lain :

1. Dapat melatih anak bagaimana menjadi pendengar yang baik, menghormati orang lain saat berbicara.

2. Dapat membantu anak dalam mengasah kemampuan mengingat sesuatu yang disampaikan atau yang didengarnya.

3. Dapat melatih fantasi dan imajinasi anak terhadap hal-hal yang diceritakan, berfantasi mengenai jalan cerita dan mampu berfikir secara simbolik sehingga anak mampu menghubungkan sesuatu akibat atau peristiwa, dengan demikian kecerdasan kognitifnya semakin berkembang dengan baik.

4. Dapat melatih konsentrasi anak. Dengan berkonsentrasi anak mampu menerima dan menyimpan informasi tentang apa yang diceritakan dan mampu menceritakan kembali dengan bahasa yang sederhana.

5. Dapat menumbuhkan kemampuan bahasa anak melalui kegiatan tanya jawab sederhana.

6. Menanamkan nilai-nilai dan pesan moral terhadap cerita yang dibacakan. Kaitannya dengan bercerita dengan lantang, bagi orang tua atau guru merupakan salah satu aktifitas kegiatan yang bertujuan agar anak dapat lebih mudah menangkap dan memahami informasi dari sebuah cerita.

Membaca lantang dalam kegiatan bercerita mampu mengalihkan perhatian anak saat mereka merasa bosan atau jenuh saat menyimak jalannya cerita yang dibacakan. Jika dilakukan sejak dini manfaat membaca lantang dalam kegiatan bercerita akan menimbulkan dampak antara lain :

1. Lebih menyenangkan dalam membangun informasi yang disampaikan orang tua atau guru.

2. Secara tidak langsung orang tua atu guru mengenalkan cara membaca pada anak-anak secara langsung. Bagaimana anak mencerna kata maupun kosa kata yang diucapkan pembaca.

3. Membantu dalam mempercepat penyerapan huruf, kosa kata atau kalimat sederhana. Sehingga ini dapat membantu meningkatkan perkembangan kebahasaan anak.

4. Menumbuhkan anak suka buku dan suka membaca. Seperti dipahami bersama untuk menumbuhkan rasa suka terhadap buku pada anak hendaknya dengan cara-cara yang menyenangkan. Dari membiasakan membaca lantang saat kegiatan bercerita anak akan merasa penasaran dengan isi buku yang baru saja dibacakan, kesan yang timbul adalah anak tidak merasa dipaksa untuk membaca. Inilah salah satu cara mengembangkan minat awal anak terhadap buku.

5. Dapat dilakukan kapan dan di mana saja, yang penting konsisten dilakukan orang tua atau guru. Harus diperhatikan juga rasa nyaman anak saat kegiatan membaca lantang berlangsung, jika tidak jangan berharap anak menjadi fokus saat menyimak cerita.

6. Membangun dan menumbuhkan ketrampilan literasi melalui pengenalan bunyi, intonasi dan cara membaca yang benar. Demikian juga dengan kemampuan mendengar, berbicara, membaca dan menulis. Dengan menyimak cerita yang dibaca lantang anak akan belajar mendengar, belajar berbicara dari apa yang didengar, membaca huruf atau kata, dan mencoba menuangkan dalam tulisan sederhana. Hingga saat usia dewasa anak sudah terbiasa dengan ketrampilan literasi ini.

7. Membantu mengembangkan kemampuan kebahasaan anak, yakni tentang kosa kata bahasa buku yang dibacakan.

8. Membangun kedekatan orang tua. Dengan seringnya orang tua membacakan buku dengan lantang, anak akan merasa terbiasa mendengar suara orang tua. Dari pembiasaan ini hubungan anak dengan orang tua akan mengalirkan energi positif di mana orang tua adalah model yang akan selalu ditiru baik ucapan atau prilakunya. Kedekatan anak dengan guru akan tumbuh, dan mempermudah dalam memberikan pengalaman bermain anak. Anak mudah diarahkan karena sudah terbina hubungan batin yang lekat. Semoga bermanfaat *

*Sikhah, Guru Taman Kanak Kanak Pertiwi Bobosan Purwokerto Utara Banyumas

sumber gambar : http://ps172grade3.blogspot.com

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar