Siaga Bencana Sejak Usia Dini

    AnggunPaud - Indonesia berada di jalur cincin api atau ring of fire sehingga sering terjadi gerakan sesar yang sewaktu-waktu dapat mengalami patahan sehingga mengakibatkan gempa. Cincin Api Pasifik adalah daerah yang sering mengalami gempa bumi dan letusan gunung berapi yang mengelilingi cekungan Samudra Pasifik.

    Daerah ini berbentuk seperti tapal kuda yang mencakup wilayah sepanjang 40.000 km. Di Jalur Cincin Api Pasifik terdapatnya sekitar 400 gunung api di Indonesia, sebanyak 130 gunung di antaranya merupakan gunung api aktif yang terbentang dari pulau Sumatera menyusuri pulau Jawa kemudian menyeberang ke Bali, Nusa Tenggara hingga bagian timur Maluku dan berbelok ke utara pulau Sulawesi.

    Tak hanya gempa, Indonesia juga berpotensi terjadi bencana lain seperti, banjir, tanah longsor, tsunami, kebakaran hutan, puting beliung dan lainnya. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat di awal tahun 2018, jumlah kejadian bencana sejak Januari 2018 hingga Februari 2018 telah terjadi 513 kejadian bencana di Tanah Air. Dari sebanyak 513 kejadian bencana tersebut terdiri dari puting beliung 182 kejadian, 157 kejadian banjir, 137 peristiwa longsor, 15 peristiwa kebakaran hutan dan lahan, sepuluh kombinasi banjir dan tanah longsor, tujuh gelombang pasang dan abrasi, tiga gempa bumi merusak dan dua kali erupsi gunung api.

    Bulan September 2018 menjadi bulan yang penuh keprihatinan bagi bangsa Indonesia, belum juga peristiwa gempa bumi di Lombok, Nusa Tenggara Barat yang memakan banyak korban jiwa dan harta dapat dipulihkan , peristiwa gempa dahsyat disertai tsunami mengguncang mengguncang wilayah Kota Palu, Kabupaten Donggala dan Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah pada 28 September petang.

    Bencana gempa bumi yang diikuti tsunami di wilayah Sulawesi Tengah tersebut memakan ribuan korban jiwa, korban luka dan kerugian fisik yang begitu besar. Berkaca dari berbagai persitiwa alam tersebut, sudah sepatutnya bangsa Indonesia menjadi bangsa yang selalu peduli dan siap siaga terhadap ancaman bencana yang datang dari alam dan tidak pernah diketahui kapan akan datang.

    Tinggal di daerah rawan bencana memang memerlukan kesiapan dan kesiagaan dalam menghadapinya. Tidak cukup kesadaran tersebut muncul karena dipicu oleh kejadian bencana besar yang membuat orang menjdi merasa khawatir dan takut. Perlu pengetahuan yang selanjutnya diwujudkan dalam tindakan cepat, tepat, dan terkoordinasi untuk menanggulanginya.

   Anak-anak adalah pihak yang paling perlu mendapatkan pengetahuan kebencanaan. Setidaknya, mereka mampu menyelamatkan diri. Oleh karena itu, sangat diperlukan edukasi dan kesiapsiagaan warga sebelum terjadi bencana atau disaster preparedness, khususnya bagi anak-anak. Pasalnya, korban jiwa dalam suatu bencana lebih banyak terjadi pada anak-anak karena kemampuan mereka menyelamatkan diri, dan pengalaman terhadap bencana yang minim. Jika anak tidak memiliki pengetahuan yang cukup dalam bertindak ketika menghadapi kejadian bencana alam, maka yang terjadi anak-anak akan merasakan trauma yang mendalam dan berpengaruh pada psikologis anak.

    Pada sejumlah kejadian bencana, hak-hak anak kerap terabaikan padahal mereka temasuk golongan rentan selain para lanjut usia, kaum difabel dan ibu hamil. Anak-anak korban gempa, menurut catatan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menjadi kelompok yang menghadapi situasi trauma.

    Dalam setiap kejadian bencana KPAI menerima pengaduan masyarakat tentang anak- anak yang mengalami trauma dan kehilangan sosok orang tua karena gempa Palu. Selain itu, mereka juga tidak memiliki sarana untuk bermain dan rekreasi. Gempa juga menyebabkan anak-anak kehilangan tempat bermain, belajar dan rekreasi untuk mendukung tumbuh kembangnya menjadi generasi sehat dan cerdas, demikian catatan KPAI.

    Untuk itu, KPAI meminta pemerintah untuk memenuhi hak-hak dasar anak korban gempa serta kebutuhan primer seperti sandang, pangan, papan serta keberlangsungan pendidikan.

    Waspada Bencana Sudah sepatutnya masyarakat Indonesia dimana pun berada memiliki kepedulian dengan mengenali langkah-langkah yang harus dilakukan dalam menghadapi kejadian bencana. Catatan terpenting sebelum menularkan ilmu tentang bencana kepada anak-anak, orang dewasa harus terlebih dahulu mempelajari dan memahaminya. Beberapa anjuran terkait tindakan menghadapi ancaman yang dapat menjadi panduan baik bagi orang tua, guru, orang dewasa dan anak-anak :

Pertama, menyiapkan barang yang dibutuhkan ketika bencana datang. Menyiapkan disaster kit atau kotak siaga. Kesiagaan menghadapi bencana alam tanpa alat-alat akan menjadi tidak sempurna. Orang tua dan guru dapat memberi contoh benda-benda saja yang dibutuhkan kemudian libatkan anak untuk mengumpulkan alat-alat tersebut. Kotak siaga dapat diisi dengan makanan yang tidak mudah rusak atau basi, air, lampu senter, baterai tambahan, uang tunai, kartu identitas, pakaian cadangan, popok, pembalut, kotak P3K, alat mandi, dan masker.

Kedua, Kenali daerah sekitar tempat tinggal (apakah termasuk rawan gempa atau tidak). Orang dewasa wajib memahami dahulu sebelum mengajarkan kepada anak-anak. Sampaikan dengan simulasi melalui gambar-gambar ketika masuk ke sebuah gedung atau bangunan, perhatikan di mana letak pintu keluar, tangga darurat, perhatikan titik-titik yang aman untuk berlindung ketika gempa terjadi, seperti bagian gedung yang diberi tanda : “Tempat aman berkumpul jika terjdi gempa”. 

Ketiga, tindakan ketika gempa terjadi

- Jika berada di dalam bangunan satu lantai berusaha menyelamatkan diri dengan berlindunglah di bawah meja agar tubuh tidak terkena benda-benda yang berjatuhan. Lindungi kepala dengan apa saja, misalnya bantal, papan, atau kedua tangan dengan posisi telungkup.

- Jika berada di luar rumah segera merunduk dan lindungilah kepala, lalu bergeraklah menjauh dari gedung dan tiang menuju daerah terbuka.

- Jika berada di gedung bertingkat seperti perkantoran, pusat perbelanjaan atau di tempat umum lainnya usahakan untuk tetap tenang, biasanya kerumunan orang dalam bencana berpotensi kepanikan. Ikuti petunjuk dari petugas penyelamat. Jangan menggunakan lift ketika terjadi gempa atau kebakaran namun gunakanlah tangga darurat, lalu bergeraklah ke tempat terbuka.

- Jika berada di gunung atau pantai Gempa dapat menimbulkan longsor di gunung atau perbukitan. Jika Kamu berada di pegunungan, bergeraklah ke tempat yang aman seperti lapangan terbuka yang jauh dari daerah lereng. Gempa di bawah laut bisa menimbulkan gelombang tsunami, jika gempa itu terjadi, bergeraklah ke dataran yang lebih tinggi.

- Perhatikan juga tempat yang berbahaya jika gempa terjadi, seperti di dekat kaca, tiang atau pilar, lemari, dan lain-lain.

Edukasi tentang bencana bagi anak-anak usia pra sekolah di jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan taman kanak-kanak akan lebih banyak berupa simulasi ketimbang teori. Dan memperhatikan kearifan lokal yang berkembang di tiap-tiap daerah.

   Salah satu nilai kearifan lokal dimiliki masyarakat Aceh dalam menghadapi dan menanggulangi bencana. Smong merupakan sebuah contoh kearifan lokal yang dimiliki masyarakat Indonesia dalam mengantisipasi terjadinya bencana alam. Smong adalah bait-bait dalam permainan tradisional anak-anak di Pulau Simeuleu, Aceh yang secara tidak langsung menceritakan mengenai bencana tsunami pada tahun 2004.

    Diceritakan dalam bait tersebut bila terjadi goncangan dan diikuti oleh surutnya air laut, maka anak diharuskan pergi ke tempat tinggi, karena merupakan sebuah pertanda akan terjadinya tsunami .

    Demikian juga kearifan lokal Suku Baduy di Banten Jawa Barat dalam memahami alam dan menghadapi ancamannya melalui mitigasi ala mereka. Masyarakat Baduy banyak yang mendiami Pegunungan Keundeng di Kabupaten Lebak, Banten, merupakan salah satu suku di Indonesia yang masih mempertahankan nilai-nilai budaya dasar yang dimiliki dan diyakininya.

    Dalam menghadapi ancaman gempa bumi, seperti digambarkan Suparmini dalam jurnalnya tahun 2014 masyarakat Baduy menyiasatinya dengan membuat aturan adat atau pikukuh dan larangan dalam membangun rumah. Dalam hal ini, bahan bangunan yang digunakan adalah bahan-bahan yang lentur, seperti bambu, ijuk, dan kiray supaya rumah tidak mudah rusak. Rumah juga tidak boleh didirikan langsung menyentuh tanah. Hal ini dilakukan supaya rumah tidak mudah roboh.

    Dengan dilakukannya edukasi mengenai persiapan jika terjadi bencana alam, anak juga bisa mengingatkan orang tua mengenai hal-hal yang penting, misalnya mematikan aliran listrik atau pindah ke tempat yang lebih aman. Penting juga mengajarkan anak agar bisa mengikuti instruksi petugas jika bencana alam datang.

   Dibanding sekadar teori, anak akan lebih menyerap informasi jika dibarengi dengan praktik. Guru dan orang tua bisa bekerja sama untuk melakukan simulasi bencana alam. Selain itu, utamakan untuk memberi pengetahuan mengenai bencana alam yang lebih rentan terjadi pada wilayah kita bermukim. Yuk, ajari anak lebih peka pada alam! *

*Wiwiet Sundhari, pemerhati pendidikan

sumber foto : BKLM Kemendikbud

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar