Pemulihan Trauma untuk Anak Korban Bencana

    AnggunPaud - Belasan dari ratusan kali gempa susulan masih terasa di bumi Sulawesi Tengah sejak terjadi gempa bermagnitude 7,4 di titik 27 kilometer dari timur laut Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, pada Jumat (28/9/2018). Sekitar 2.000 jiwa melayang yang kebanyakan disebabkan gelombang tsunami yang menerjang sepanjang pesisir Teluk Palu, sebagian lagi akibat tertimpa bangunan roboh akibat gempa keras di sepanjang sesar Palu-Koro dan sebagian lagi akibat likuifaksi yang menelan warga di tiga wilayah, Kelurahan Petobo, Balaroa dan Desa Jono Oge.

     Selain lebih dari 65 ribu rumah rusak dan menyebabkan hampir 75 ribu penduduknya mengungsi di 147 titik, peristiwa tersebut juga menyebabkan lebih dari 2.700 unit sekolah rusak, baik ringan sampai hancur total dan tersebar di Kota Palu, Kabupaten Donggala, dan yang lebih banyak justru di Kabupaten Sigi.

     Tidak sedikit anak-anak yang terguncang karena menyaksikan sendiri peristiwa mencekam, bagaimana rumahnya bergerak, retak-retak bahkan roboh mengubur banyak kenangan masa kecil, serta menyaksikan orang tuanya berlarian panik menyelamatkannya dan anggota keluarganya yang lain. Ada pula yang menjadi korban patah tulang dan luka berat.

    Anak lainnya lagi terpisah dari keluarganya ketika terjadi kepanikan dan kegaduhan pascagempa besar disertai gemuruh gelombang tsunami. Mungkin saja si anak baru berjalan menuju masjid untuk ikut sholat bersama teman-temannya saat peristiwa terjadi, atau sedang berlari pulang dari bermain. Si anak yang selamat ini bisa saja karena ditolong orang dewasa ke tempat yang aman atau terbawa ke pengungsian bersama orang-orang dewasa yang cemas dan ketakutan atau kebetulan memang tertinggal keluarganya yang telah berada di tempat lain.

    Posko Kemensos sempat mencatat ada delapan anak yang terpisah dari keluarganya di mana anak-anak yang sendirian ini menjadi sangat rentan terhadap penculikan, perdagangan anak atau eksploatasi anak sehingga harus segera diamankan. Juru Bicara Command Center Kementerian Sosial untuk bencana Sulawesi Tengah Adhy Karyono mengatakan, dari anak-anak yang terpisah itu sudah ada beberapa yang bertemu orang tuanya, sebagian yang lain dikumpulkan di shelter dan sedang ditelusuri keluarganya. Yang paling menyedihkan adalah ketika anak mengetahui dirinya telah kehilangan orang tua atau orang-orang terdekatnya.

    Kehilangan ini menyisakan kepedihan mendalam bagi si anak, mengubur masa kanak-kanak yang sebelumnya indah, sekaligus kehilangan tempat bergantung. Merintih terisak-isak dan menangis sambil memanggil nama orang tuanya merupakan reaksi yang biasanya diperlihatkan oleh anak-anak yang bingung, ketakutan dan merasa kehilangan. Sementara anak-anak yang masih tetap bisa berkumpul dengan keluarganya namun kehilangan rumahnya dan lingkungan sekitarnya tampak lebih tenang namun tak bisa menyembunyikan kesedihannya melihat orang tuanya cemas, kalut atau diam dalam nestapa.

    Anak-anak memang merupakan kelompok masyarakat yang paling mudah terkena trauma saat terjadi bencana semacam ini dibandingkan orang yang lebih dewasa, namun demikian mereka juga paling cepat untuk kembali pulih bila ditangani dengan tepat.

    Selain itu, gejala traumatis pada anak bisa lebih cepat hilang jika keluarga serta komunitas setempat memberi dukungan dalam pemulihan tersebut, sebaliknya anak-anak yang tidak mendapat dukungan pemulihan dari orang-orang terdekatnya seringkali mengalami gejala traumatis yang lebih lama dan berlanjut lebih dari sebulan.

    Karena itu, Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), Seto Mulyadi meminta anak-anak ini perlu segera mendapat penanganan pemulihan trauma pascabencana agar mereka bisa segera melupakan kesedihannya, segera kembali bergembira, serta merasakan kondisi di sekitarnya sudah tampak normal.

    Menurut dia, anak dengan pengalaman trauma saat bencana yang mengguncang jiwanya akan berdampak buruk pada kepribadian yang dimilikinya di masa depan kelak. Kepribadian itu misalnya, kurang percaya diri, cepat marah dan mudah meledak-ledak, tidak bisa bekerja sama, tidak percaya pada orang lain, waspada secara berlebihan, menarik diri dari lingkungan.

    Ditambah lagi potensi-potensi yang sebenarnya ada pada dirinya pun ikut meredup. Anak-anak yang menjadi korban bencana dan harus tinggal dalam pengungsian sudah pasti akan mengalami banyak perubahan pada rutinitas sehari-hari dan lingkaran sosial mereka yang biasa. Jika biasanya setiap pagi si anak mendapat sarapan dari si ibu lalu pergi ke sekolah, maka di tempat pengungsian, mungkin ia harus menahan lapar, tidak bersekolah dan juga kehilangan teman-teman bermainnya.

    Demikian pula begitu matahari sore telah menghilang, si anak hanya bisa menjejalkan diri di antara orang-orang dewasa yang cemas dan kurang dikenalnya, di bawah terpal beralas tikar dan lagi-lagi juga menahan lapar. Trauma pada anak lima tahun ke bawah, menurut National Institute of Mental Health Amerika Serikat (AS), biasanya ditampakkan dengan tanda-tanda ketakutan, menangis, menjerit, melekat terus dengan orang terdekatnya, menjadi pendiam, atau sebaliknya bergerak terus tanpa tujuan atau kembali mengompol dan mengisap jempol.

    Sedangkan untuk anak-anak di atas lima tahun ditampakkan dengan mimpi buruk, sulit tidur, perasaan hampa, kehilangan minat terhadap lingkungan sosialnya, sedih, cemas. ketakutan, atau malah mudah tersinggung, sering marah-marah, suka mengeluh, dan menjadi pengganggu, Sejumlah terapi untuk anak-anak yang terkena trauma pascabencana telah diusulkan oleh para psikolog dunia.

    Pakar psikologi AS Jeanne Segal PhD, misalnya, melihat pentingnya anak dijauhkan dari pemberitaan mengenai bencana yang terus mengingatkannya akan peristiwa menakutkan tersebut. Karena itu menonton siaran komedi lebih dianjurkan daripada menonton berita. Ia juga melihat pentingnya rasa nyaman bagi si anak dengan melakukan hal-hal yang normal yang tidak ada hubungannya dengan peristiwa traumatisnya.

- Mengajak anak bermain, menikmati apa yang menjadi hobi dan kesenangannya, serta melakukan hal-hal lain yang membuat mereka tertawa gembira, sangat dianjurkan.

- Mengajak anak berpartisipasi dalam aktivitas fisik seperti berolahraga, bermain atau menari dapat membantu membangunkan sistem saraf anak-anak terdampak trauma dari perasaan terjebak yang sering kali mengikuti pengalaman traumatis.

 - Selain itu, anak-anak ini perlu diajak melihat indahnya masa depan dengan optimisme, diajak membuat rencana untuk menangkal pandangannya bahwa masa depannya penuh ketidakpastian, suram, dan menakutkan. Mereka perlu dibantu dengan membuat dunia menjadi tampak stabil dan cerah. Sebab kejadian traumatis memang dapat mengubah cara seorang anak melihat dunia menjadi lebih gelap.

    Karena itulah optimisme sangat penting dibangun dalam pemulihan pascabencana. Optimisme juga dinilai bisa membuat anak mampu menerima keadaan dan membuatnya tergerak untuk lebih bersemangat melihat hari esok.

    Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, sudah meminta Dinas Pendidikan Sulawesi Tengah segera memanggil para guru untuk kembali membuka sekolah pada hari ke-10 setelah kejadian gempa dan tsunami di Sulteng, meski hanya sekolah di bawah tenda darurat. Karena dengan berkumpulnya anak diharapkan akan membawa rasa optimisme sekaligus membantu mempercepat pemulihan trauma anak.

Sumber gambar: https://www.antaranews.com/berita/756329/dapur-keliling-sasar-pengungsi-anak-di-palu

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar