Berani Jujur Tanda Anak Hebat

     AnggunPaud - ‘‘Ayo, Nak. Minum obatnya. Ini upaya kita untuk sembuh’’ kata Ibu. ‘‘Iya, Bu!’’ Balas Salwa sedang sakit kepala. ‘‘kalou sembuhkan Ibu senang, Salwa bisa bermain lagi.’’ Nasehat Ibu sambil menyodorkan obat dan air minum. ‘‘Siap Ibu !’’ Berkata yang sebenarnya dan bertindak benar adalah refleksi utama kejujuran.

    Manusia memerlukan rasa ‘‘percaya’’ pada manusia lain agar harmoni bisa terwujud dalam kehidupan social. Kejujuran menjadi tumpuan dari rasa percaya ini. Sikap dan rasa percaya perlu ditumbuhkan pada anak-anak sejak usia dini dalam pengasuhan. Dengan tumbuhnya rasa percaya, maka jujur pun bisa berkembang dalam sikap hidupnya.

    Rasa percaya dan sikap jujur sulit tumbuh pada anak-anak yang sering dihadapan pada kecurangan, perkataan bohong, atau pengkhianatan dari orang dewasa disekitarnya, terutama dari orangtuanya. Anak-anak yang tumbuh menyaksikan kecurangan-kecurangan cenderung membentuk persepsi yang salah tentang nilai moral. Hal ini lama-kelamaan bisa mengakibatkan bergesernya nilai-nilai dalam dirinya.

    Tidak jarang kita lihat orang dewasa yang berbuat curang persis di depan anak-anak, misalnya menerobos lampu merah. Apabila anak-anak tidak mengenali batas antara kecurangan dan kejujuran, mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang pragmatis dan mudah mendapat pengaruh negatif.

    Orang tua perlu duduk untuk anak dan meluangkan waktu khusus untuk menginternalisasi nilai-nilai kejujuran dalam kehidupan anak. Orang tua juga perlu mengalami bahwa anak perlu mendapat dukungan untuk berani mengatakan hal yang benar dan melakukan tindakan yang benar.

    Selain itu, anak perlu melihat contoh perbuatan jujur dalam figure orang dewasa yang dekat dengan mereka. Oleh karena itu, orangtua adalah teladan kejujuran yang paling dekat dengan anak. Ada pertanyaan muncul dengan sengaja ‘‘Mengapa kejujuran itu penting?’’. Kejujuran tidak hanya bermanfaat bagi individu, tetapi juga keluarga dan masyarakat.

   Bagi orang tua kejujuran itu penting karena menumbuhkan kepercayaan. Anak yang jujur akan tumbuh menjadi anak yang percaya diri, dapat dipercaya dan bahagia. Kemudian menginternalisasi kejujuran dalam pola pengasuhan akan menciptakan masyarakat aman, nyaman, makmur. Kehidupan yang baik akan mudah terwujud.

    Pendidikan usia dini adalah satu frase yang penting untuk menginternalisasi nilai-nilai kejujuran dalam kehidupan anak. Pengetahuan dan pengajaran yang diterima anak di masa awal kehidupannya akan disimpan dan direkam anak dan akan mempengaruhi kepribadiannya hingga ia beranjak dewasa.

    Bagi anak jujur membuat hati anak tenang. Apabila kita jujur kita tidak dikejar-kejar oleh perasaan bermasalah. Apabila kita tidak berbohong, kita tidak perlu berusaha untuk menutupi kebohongan. Berani pada diri sendiri, kita tidak perlu menutup-menutupi perbuatan yang tidak kita lakukan ketika curang. Namun, apabila kita bohong, maka kita dijauhi teman-teman. Tidak dipercaya oleh teman. Akan kehilangan nama baik. Dapat berurusan dengan hukum. Diliputi perasaan was-was. Harus menutupi kebohongan yang satu dengan kebohongan yang lain. Ini merepotkan karena kita harus mengingat kebohongan-kebohongan itu satu per satu.

    Kata Thomas Mann ‘‘Kejujuran yang menyakitkan itu lebih baik dari pada kebohongan yang membawa manfaat’’. Artinya tidak berbohong tentang perkataan yang perbuat orang lain. Membicarakan sesuatu hal yang tidak benar tentang orang lain pasti akan menyakiti hatinya. Berkata jujur berarti mengakui kesalahan yang dilakukan dengan sengaja ataupun tidak.

   Anak yang jujur adalah anak –anak yang tidak takut menerima akibat dari perbuatan yang dilakukannya. Berkata jujur adalah menceritakan kejadian yang sebenarnya. Terkadang, anak tidak menceritakan hal yang sebenarnya Karena takut dimarahi. Anak hendaknya didorong untuk berani berkata jujur, meskipun ini akan mengakibatkan hal yang tidak disukainya. Berkata jujur harus dibarengi oleh tindakan yang benar. Kadang, anak mengucapkan dengan spontan hal-hal seperti ‘‘Baju kamu jelek sekali hari ini’’ atau ‘‘ Matamu terlihatan merah?’’, bisa dikategorikan sebagai mengatakan hal yang sebenarnya, tetapi apakah tindakan itu benar?.

   Anak-anak hendaknya diajarkan untuk berkata hal yang sebenarnya dalam konteks yang benar. Bagaimana untuk menumbuhkan kejujuran? Menanamkan nilai moral kepada nak tidak bisa dilakukan hanya melalui perintah dan larangan. Menanamkan nilai moral seharusnya dilakukan dengan menumbuhkan kesadaran dalam diri anak. Nilai salah satu caranya adalah dengan menjadi figure teladan kejujuran bagi anak.

   Ki Hajar Dewantara menekankan pentingnya orang dewasa memberi keteladanan bagi anak. Ini sesuai dengan amanatnya, ‘‘Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani’’ ( didepan memberi teladan, ditengah memberi bimbingan, di belakang memberi dorongan). Pepatah lain, ‘‘Satu teladan lebih baik dari pada seribu pidato’’ menegaskan bahwa mendidik anak dengan memberikan terlalu banyak patuah seringkali tidak efektif.

    Ketika anak berbuat salah, sebaiknya orang tua tidak langsung memarahi. Apabila mengakui kesalahannya, berilah apresiasi. Tunjukan kepada anak konsekuensi dari tindakan tersebut (misalnya, Apabila dia membohongi temannya, maka temannya akan merasa sedih atau kecewa). Buatlah anak merasa bahwa sikap jujur itu menyenangkan.

    Untuk menanam nilai-nilai kejujuran dengan efektif, orangtua perlu memahami pengetahuan tentang apa itu kejujuran dan bagaimana menumbuhkannya dalam diri anak serta pengetahuan tentang cara berkomunikasi yang efektif dengan anak. Ada tiga hal yang harus diperhatikan oleh orangtua.

Pertama, komunikasi untuk membangun citra diri yang positif. Dalam komunikasi, orang dewasa harus menunjukan gestur, Bahasa tubuh, raut muka, pilihan kata, dan kata-kata yang mudah dipahami oleh anak. Komunikasi yang positif mengembangkan kepercayaan diri anak. Anak yang memiliki percaya diri yang tinggi lebih mampu menghargai dan berempati terhadap orang lain. Anak yang percaya diri biasanya berkarakter baik.

Kedua, membangun empati. Persyaratan awal untuk menumbuhkan empati pada diri anak adalah menjadi orang dewasa yang empatik dan peduli terhadap perasaan mereka. Anak yang mengerti bahwa dirinya diterima dan dipahami akan mudah untuk menerima dan memahami orang lain. Begitu juga, apabila orang dewasa menunjukan sikap tidak menghargai atau melecehkan orang lain (misalnya bergosip tentang orang lain), anak akan beranggapan bahwa sikap tersebut  benar. Menghargai oaring lain adalah dasar bagi kejujuran. Misalnya anak untuk mengidentifikasi rasa takut, serta menunjukkan empati. ‘‘Oh, suara itu terlalu keras hingga membuatmu takut ya? Itu hanya suara petir kok. Sini, Bapak peluk.’’ Atau, ‘‘Apa yang Ibu bisa lakukan untuk mengurangi rasa takutmu?’’

Ketiga, mengungkapkan perasaan dengan jujur. Anak perlu tahu bahwa perbuatannya dapat membuat oranglain merasa tidak nyaman. Apabila anak melukai Anda, baik sengaja atau tidak, Anda harus mengakui perasaan Anda dengan cara yang baik dan tidak emosional, misalnya, ‘‘Sayang, Ibu tahu kamu tidak sengaja, tapi senggolan sikumu membuat Ibu sakit.’’ Dengan mengetahui perasaan orang lain, anak berusaha mengembangkan empati.

   Kejujuran adalah sikap moral yang membutuhkan pembiasaan dalam keseharian anak. Konsisten sikap orang dewasa mendukung pembiasaan ini. Pembiasaan ini kan menumbuhkan kesadaran bahwa kejujuran itu penting. Kejujuran yang terbentuk dari kesadaran akan lebih membentuk karakter positif anak. Karakter ini akan mewarnai perjalanan hingga ia dewasa.*

*Nur Hafidz mahasiswa Institut Agama Islam Negeri Purwokerto. Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini. Relawan Pusataka Rumah Kreatif Wadas Kelir.

sumber foto:

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar