Manfaat Bermain Puzzle untuk Anak

Anak-anak sangat menyukai permainan dengan alat maupun tanpa alat. Ada banyak alat permainan yang disukai anak-anak, salah satunya puzzle. Puzzle adalah alat permainan yang terdiri dari kepingan-kepingan gambar yang terpotong-potong yang terdiri dari 4-6 potong yang terbuat dari bahan karton, kayu, atau spon tebal dan apabila disusun akan menjadi sebuah gambar yang utuh.

Sebagai bentuk permainan yang ramah anak, bermain puzzle memiliki banyak nilai edukatif. Tingkat kesulitan dalam bermain puzzle disesuaikan dengan usia dan perkembangan anak. Puzzle sederhana hanya terdiri dari empat sampai enam kepingan puzzle. Sedangkan puzzle untuk anak usia dini yang lebih rumit bisa mencapai enam sampai enam belas kepingan puzzle.

Ada berbagai macam bentuk gambar yang ada dalam permainan puzzle, disesuaikan dengan macam-macam tema, dan pola serta keunikan lainnya. Bermain puzzle membutuhkan kejelian dan ketelitian bagi anak yang akan memainkannya. Seringkali permainan puzzle tidak bertahan lama, karena kurang disiplinnya anak-anak dalam memainkannya.

Puzzle yang sudah dibongkar berbentuk potongan-potongan gambar apabila tidak langsung disusun rapih membentuk gambar, seringkali  potongannya hilang satu per satu, apabila dimainkan oleh banyak orang dan tidak ada yang membimbing. Misal, Edo bisa menyusun puzzle dengan rapih, namun teman lainnya hanya bisa membongkar potongan puzzle dan belum bisa memasangnya kembali, kemudian puzzle tersebut tidak dikembalikan lagi ke tempatnya. Akibatnya satu per satu potongan puzzle hilang, karena terbawa tukang sampah atau alasan lain. Akibatnya banyak orang tua yang lebih memilih mainan selain puzzle, karena dianggap tidak awet dan merepotkan. Padahal apabila kita dapat membimbing anak dalam bermain puzzle dan menyediakan tempat menyimpan yang mudah dijangkau anak-anak, permainan puzzle akan sangat membantu perkembangan anak usia dini.

Pertama, bermain puzzle melatih kesabaran dan ketekunan anak. Menyusun potongan-potongan gambar dan merangkainya menjadi sebuah gambar yang utuh dapat melatih kesabaran dan ketekunan anak. Berani mencoba-coba memasangkan potongan gambar di tempat yang sesuai, akan melatih kesabaran anak dan sebagai orang tua kita akan dapat melihat sampai di mana keberaniannya mencoba hal-hal baru.

Kedua, bermain puzzle dapat meningkatkan koordinasi mata dan tangan. Gambar, bentuk dan warna yang ada pada puzzle akan dapat membantu anak dalam meningkatkan koordinasi gerak mata dan tangan. Sebagai orang tua kita dapat melatih anak meletakkan potongan puzzle ke tempatnya lagi secara bertahap.

Untuk tahap pertama, apabila puzzle itu terdiri dari 6 keping, latihlah anak untuk mengambil dua keping dulu untuk dibongkar. Apabila sudah bisa, kita bisa menambahnya menjadi empat keping dan seterusnya sampai anak bisa membongkar semua kepingan-kepingan gambar dan memasangkan kembali ke tempatnya. Hal ini secara otomatis akan membantu anak dalam meningkatkan koordinasi mata dan tangan saat anak memainkan puzzlenya.

Ketiga, mengembangkan kemampuan motorik halus. Kegiatan menyusun puzzle dengan mengambil dan meletakkan potongan puzzle pada tempatnya, akan membantu perkembangan kemampuan motorik anak untuk persiapan menulis, menggambar, memakai sepatu sendiri, dan makan sendiri. Dalam hal ini diawali dengan bimbingan orang tua kepada anak, saat anak belum berani memainkan puzzle dan menyusunnya sendiri sambil terus dimotivasi.

Keempat, bermain puzzle meningkatkan kemampuan berpikir dan kognitif anak. Permainan puzzle yang terdiri dari berbagai macam bentuk, warna dan ukuran akan membantu anak berpikir dalam mengenal macam-macam bentuk yang terdiri dari kepingan-kepingan untuk disusun menjadi utuh kembali.

Kelima, bermain puzzle dapat membantu malatih anak memecahkan masalah. Anak akan mengamati kepingan-kepingan gambar atau bentuk yang akan disusun, sehingga membentuk menjadi sebuah gambar yang sempurna dan utuh kembali. Anak akan berpikir kreatif dengan terus mencoba dengan berbagai cara, Dengan hal ini, kemampuan dan kepandaian anak akan terlihat dari seberapa lama sang anak menyelesaikan masalahnya.

Keenam, bermain puzzle memperkuat daya ingat anak. Menyusun kepingan puzzle ke tempat yang tepat agar tersusun menjadi sebuah bentuk gambar yang utuh, memerlukan konsentrasi dan daya ingat. Misal, menyusun puzzle dengan tema binatang peliharaan seperti burung atau ayam. Sebelum melepas kepingan-kepingan puzzle, alangkah baiknya anak kita ajak mengingat letak mata, hidung, mulut, badan dan kaki burung, sehingga dengan mengingat letak kepingan-kepingan puzzle tersebut, anak dapat menyusun kembali kepingan-kepingan puzzle tersebut ke tempat yang benar.

Semakin sering anak membongkar dan memasang kepingan-kepingan puzzle menjadi bentuk utuh dengan benar, maka daya ingat dan konsentrasi anak semakin berkembang. Orang tua sebaiknya selalu mengingatkan anaknya dalam bermain puzzle untuk diletakkan kembali ke bentuk yang utuh dan menyimpannya kembali ke tempat yang mudah dijangkau anak-anak, sehingga apabila di lain waktu anak akan memainkannya kembali, mereka akan dengan mudah dan cepat menemukannya.

Ketujuh, melatih anak berpikir sesuai logika. Anak-anak secara tidak langsung sedang bermain melatih logika mereka. Contoh, “ada puzzle kendaraan yang terdiri dari 6 kepingan bentuk. Saat bermain puzzle, anak akan dilatih berpikir sesuai logika di mana letak ban pada gambar kendaraan, bagaimana anak harus meletakkan gambar bagian-bagian kendaraan sesuai posisinya. Ban tentunya harus diletakkan di bagian bawah, Kaca atau jendelanya bus di sebelah atas, dan lain sebagainya. Semakin sering anak dilatih menyusun puzzle, kemampuan logika matematikanya secara otomatis akan berkembang.

Kedelapan, bermain puzzle membantu meningkatkan daya konsentrasi anak. Menyusun kepingan-kepingan puzzle menjadi bentuk yang utuh, memerlukan daya ingat dan konsentrasi yang penuh. Fokus pada kepingan-kepingan untuk disatukan kembali menjadi sebuah bentuk, sangat membutuhkan konsentrasi anak dalam memainkannya. Terlebih jika gambar yang ada pada puzzle mempunyai tema yang bervariasi,  misal puzzle suasana pasar. Semakin banyak kepingan gambar yang disusun, semakin melatih anak berfokus dan berkonsentrasi pada gambar yang disusunnya menjadi puzzle yang utuh.

Dari delapan manfaat di atas, orang tua hendaknya selalu memberikan motivasi kepada anak untuk dapat menyelesaikan kepingan-kepingan puzzle. Tentunya sebelum memerintahkan anak untuk dapat bermain puzzle, orang tua sebaiknya mengetahui cara mengembalikan potongan-potongan puzzle itu menjadi bentuk yang utuh. Puzzle memang permainan yang mengasyikkan sekaligus mendidik, dan orang tua memang harus memperluas wawasannya sehingga mampu memilihkan jenis permainan yang mendidik bagi anak. Salah satunya ya puzzle ini.   *

Siti Munfarijah, M.Pd., Kepala TK Diponegoro 146 Purwokerto Barat

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar