Menumbuhkan Karakter Jujur pada Anak

Indonesia saat ini mengalami krisis kejujuran, hal ini dapat dilihat dari banyaknya kasus korupsi. Berawal dari kebohongan yang menjadi karakter, akhirnya menganggap sepele tindakan korupsi. Tindakan korupsi ini bersumber dari krisis kejujuran. Hal tersebut harus  ditanggulangi, agar di masa depan korupsi bisa diminimalisir.

Salah satu upaya ke arah sana adalah menumbuhkan karakter jujur sejak dini. Anak-anak yang jujur adalah asset penting bangsa, karena mereka pada saatnya akan menjadi pejabat publik, atau tokoh-tokoh yang diharapkan bisa ikut menciptakan lingkungan yang antikorupsi.

Sikap jujur sangat penting, karena merupakan fondasi utama semua karakter baik. Jujur adalah kunci kebahagiaan, karenanya jika ingin anak-anak kita berbahagia di kehidupannya, maka menanamkan sikap jujur adalah kuncinya. Orang yang suka berbohong tentu akan merusak nama baiknya, tidak disukai sesamanya, dan tidak akan dipercaya.

Tentunya kita sebagai orang tua tidak menginginkan hal tersebut terjadi pada buah hati kita. Penanaman sikap jujur harus dimulai sedini mungkin, agar anak terbiasa. Suatu hal yang menjadi kebiasaan lambat laun akan menjadi sebuah karakter yang akan terus melekat. Kita semua tahu, usia dini adalah usia emas yang sangat baik untuk menanamkan kepribadian. Pengetahuan dan pengalamann di usia dini akan tersimpan dalam memori anak yang selanjutnya akan mempengaruhi kepribadiannya hingga tumbuh dewasa.

Sebagai orang tua tentu kita mengharapkan sikap jujur menjadi fondasi hidup sang anak. Kejujuran akan menumbuhkan kepercayaan pada anak. Si anak percaya diri dan dapat dipercaya. Karenanya penting menanamkan kejujuran dalam setiap pola asuh dalam setiap pertumbuhan anak. Sebelum beranjak lebih jauh, perlu kita perjelas pengertian jujur.  

Dikutip dari buku Komisi Pemberantasan Korupsi, jujur mengarah dua hal, yaitu jujur dalam perkataan dan perbuatan. Jujur dalam perkataan berarti tidak berbohong tentang perkataan atau perbuatan orang lain; mengakui kesalahan baik disengaja maupun tidak, anak yang jujur berarti tidak takut menerima akibat perbuatannya; berkata jujur adalah menceritakan kejadian yang sebenarnya; berkata jujur harus dibarengi tindakan yang benar, misal anak mengatakan baju temannya jelek, rumah itu jelek. Tentu jujur di sini tidak tepat. Anak-anak hendaknya diajarkan berkata hal yang sebenarnya dalam konteks yang tepat.

Jujur dalam perbuatan adalah jujur berbuat yang benar, Misal, saling mengasihi, berbagi, dan tolong menolong; tidak melanggar peraturan dan tindakan curang, misal, tidak mencontek, tidak melanggar rambu-rambu lalu lintas, tidak bertindak curang dengan menyerobot antrian, dan lain sebagainya; bertindak jujur dengan tidak mengambil barang yang bukan miliknya, jujur dengan tidak melakukan perbuatan yang salah untuk mencapai tujuan, misal menyuap.

Berikut kiat menanamkan kesadaran akan pentingnya kejujuran baik perkataan maupun perbuatan pada anak yang dikutip dari buku Komisi Pemberantasan Korupsi berjudul Agar Anak Jujur.

Pertama, memberi teladan sikap jujur. Menanamkan nilai moral pada anak tidak bisa hanya melalui perintah dan larangan. Salah satunya menjadi figur teladan kejujuran bagi anak, karena perintah dan larangan tidak akan efektif tanpa dibarengi dengan teladan. Sikap jujur dalam perkataan dan perbuatan hendaknya menjadi kebiasaan pola asuh. Orang tua memberi teladan dengan sikap jujur dalam perbuatan, yaitu dengan mencontohkan perbuatan yang benar. Misal, saat berkendara orang tua tidak melanggar lalu lintas.

Jujur dalam perkataan, misal, “Kamu harus minum obat, ini upaya untuk sembuh”, ketimbang mengatakan “Ayo nak minum obat, kalo tidak ibu panggilkan polisi”. Jangan biasakan berbohong di depan anak, meski untuk kebaikan. Dengan anak menyaksikan figur orang tua yang baik, diharapkan kesadaran akan perilaku baik tersebut  akan tumbuh.

Kedua, membangun pola komunikasi yang sehat untuk menumbuhkan kejujuran; komunikasi untuk membangun citra diri yang positif. Hal ini ditunjukkan dengan bahasa tubuh, raut muka, pilihan kata yang mudah dipahami anak. Komunikasi yang positif mengembangkan kepercayaan diri anak. Anak yang memiliki kepercayaan diri yang tinggi lebih mampu menghargai dan berempati terhadap orang lain. Anak yang percaya diri biasanya berkarakter baik.

Contoh pola komunikasi yang sehat: letakkanlah bacaan atau telepon genggam, perhatikanlah anak ketika ia berbicara; dengarkan perkatan anak, jangan menginterupsi hingga ia selesai bicara; ketika mendiskusikan perilakunya, lakukan secara pribadi. Jangan membuatnya malu dengan membicarakannya di depan orang lain. Kalau Anda marah kepadanya, redakan dulu emosi Anda sebelum berbicara kepadanya. Tetap tunjukkan rasa hormat dan penerimaan, meskipun anak berbuat salah.

Ketiga, tidak langsung memarahi. Jujur dalam perkataan menjadi sulit dilakukan anak, karena anak terkadang takut dimarahi oleh orangtuanya.  Orang tua hendaknya mendorong anak untuk berkata jujur, dan jika kejujuran anak tersebut menimbulkan masalah, maka anak hendaknya diberi pengertian tentang konsekuensinya secara perlahan, jangan langsung memarahinya. Dengan memberikan pengertian akibat perbuatan tersebut, anak akan belajar bertanggungjawab atas perbuatannya. Hal ini akan menumbuhkan kesadaran pada anak arti penting kejujuran.

Keempat, mengajarkan meminta izin. Tanamkan pada anak jika si anak ingin mengambil barang yang bukan miliknya, maka hendaknya ia meminta izin terlebih dahulu. Hal ini penting, agar anak mengetahui batasan penggunaan barang miliknya dan milik orang lain. Tanamkan pengertian bahwa mengambil barang orang lain tanpa izin si empunya adalah mencuri, sedangkan mencuri adalah perbuatan tercela. Tanamkan pengertian untuk tidak sekali-kali mengambil barang yang bukan miliknya. Beri pengertian yang masuk nalar, misal, “Jika barang kamu diambil orang lain, apakah kamu akan marah? Demikian juga sebaliknya. “ Dengan pengarahan penalaran tersebut, anak akan memahami dan menyadari pentingnya kejujuran.

Kelima, apresiasi kejujuran anak. Sampaikan bahwa berbuat salah mungkin saja dilakukan oleh setiap orang. Akan tetapi yang baik adalah orang yang mengakui kesalahan dan meminta maaf. Dorong anak untuk berbuat itu, apabila anak melakukan kesalahan, tahanlah emosi Anda. Misal, jangan langsung memarahi, menampilkan raut muka geram, atau menginterogasi mereka. Hal inilah yang akan membuat anak takut mengatakan hal yang sebenarnya. Mungkin Anda bisa menanyakan “Apa yang sebenarnya terjadi?,” dari pada Anda bertanya “Mengapa?” Apabila anak sudah berkata jujur, mengakui kesalahan dan meminta maaf, hargailah upayanya. Tidak semua anak mau mengakui kesalahan sekaligus meminta maaf. Sampaikan apresiasi padanya. Misal, “Ayah bangga kamu sudah melakukannya”. Tunjukan dampak positif dari sikapnya itu, misal, “Kalau mengakui kesalahan dan meminta maaf, hati akan tenang.” Demikianlah dengan mengapresiasi kejujuran anak, tentu anak akan merasa lebih dihargai dan tidak akan takut untuk berbuat jujur.

Keenam, pemahaman konsekuensi. Beri ia pengertian bahwa yang salah adalah salah. Sampaikanlah pengertian ini dengan baik. Bila anak berbuat salah, sampaikan dampak kesalahannya atau konsekuensinya. Misal, “Apabila kamu membohongi teman, maka teman kamu akan merasa sedih dan kecewa padamu,” atau “Orang yang berbohong akan dibenci teman, dan ia tidak akan dipercaya lagi”. Dengan memahami konsekuensi tersebut, anak akan menyadari betapa pentingnya bersikap jujur.

Ketujuh, menanamkan nilai kejujuran melalui cerita atau dongeng. Cerita atau dongeng adalah salah satu cara yang paling efektif menanamkan kejujuran. Cerita tersebut bisa mengenai ketauladanan tokoh keagamaan maupun tokoh kepahlawanan kita. Penyampaian cerita atau dongeng tersebut bisa dilakukan pada waktu santai atau menjelang tidur. Media cerita yang lebih seru lagi adalah buku cerita anak bergambar. Buku tersebut menyediakan ilustrasi yang menarik, sehingga lebih digemari anak. Setelah bercerita, ajaklah anak untuk berdiskusi. Dengan berdiskusi kita dapat memasukkan nilai moral seperti tanggungjawab, kerjasama, kepercayaan, setia kawan, dan lain sebagainya. Misal melalui tokoh cerita, orang tua bisa mengajak berdiskusi tentang pentingnya sikap jujur, dampak berbuat curang, memakai barang orang lain tanpa izin, dan apa akibat dari perbuatan bohong. Demikianlah dengan bercerita semoga menjadi pengalaman literasi yang akan dikenang oleh anak, sehingga anak ingin menjadi figur yang baik seperti yang diceritakan orangtuanya. *

Laelatul Istiqomah, mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Purwokerto dan relawan Rumah Kreatif Wadas Kelir

sumber gambar : http://www.multiplemayhemmamma.com

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar