Pentingnya Program Parenting dalam Pendidikan Anak Usia Dini

Anak adalah anugerah terindah dan amanah yang dititipkan Allah SWT kepada setiap orang tua yang harus dirawat, diasuh, dididik, dilindungi, serta diperhatikan kebutuhan gizi dan kesehatannya, sehingga anak dapat bertumbuh dan berkembang sesuai tahapan usianya.

Adalah Eglantyne Jebb (1876-1928) tokoh yang pertama memikirkan dan merumuskan hak–hak anak yang kemudian diadopsi oleh Persatuan Bangsa-bangsa menjadi Konvensi Hak-hak Anak pada 1959. Hal ini dilatarbelakangi oleh keinginannya untuk melindungi dan memperjuangkan masa depan anak. Tujuannya agar setiap anak dapat hidup, tumbuh, dan berkembang optimal.

Namun, soal hak–hak anak belum banyak diketahui masyarakat, karena kurangnya sosialisasi, sehingga seringkali terjadi pelanggaran hak–hak anak. Apa saja hak-hak anak? Ada 10 hak anak, yaitu 1) Hak atas persamaan; 2) Hak untuk memiliki nama; 3) Hak untuk memiliki kewarganegaraan; 4) Hak atas perlindungan; 5) Hak atas makanan; 6) Hak atas pendidikan; 7) Hak atas kesehatan; 8) Hak atas rekreasi; 9) Hak bermain; 10) Hak atas peran dan keterlibatan dalam pembangunan.

Sementara keluarga, menurut Ki Hajar Dewantara, merupakan lingkungan pendidikan yang pertama dan utama. Keluarga adalah tempat lahirnya benih generasi sejak dalam kandungan hingga perjalanan usia anak memasuki sekolah, sehingga sekolah turut andil menjadi tempat pertumbuhan dan perkembangan generasi tersebut.

Peran keluarga tidak dapat tergantikan oleh siapa pun, meski  anak tersebut bersekolah di sekolah ternama dengan fasilitas yang luar biasa. Keluarga yang terdiri minimal dari ayah dan ibu harus memiliki kemampuan dalam melaksanakan semua hak anak. Keluarga harus mampu menerapkan pola pengasuhan, sehingga anak mendapatkan kesempatan yang sama untuk bertumbuh dan berkembang.

Setiap anak yang terlahir harus diberi nama dan tercatat dalam dokumen resmi negara seperti Kartu Keluarga, Akta Kelahiran, dan Kartu Identitas Anak, sehingga kewarganegaraan anak dapat diakui secara resmi.

Setiap anak harus dilindungi dari kekerasan fisik dan psikis yang tentunya hal ini dimulai dari keluarga itu sendiri. Keluarga harus dapat memenuhi kebutuhan yang menjadi hak anak, seperti makanan bergizi, sehat, dan seimbang, memantau kesehatan anak secara rutin, dan  memberikan pendidikan yang layak.

Dunia anak adalah dunia bermain, sehingga anak harus mempunyai cukup waktu untuk bermain dan sesekali anak harus diajak berekreasi untuk memberikan berbagai pengalaman psikologis dan spiritual kepadanya. Namun, kenyataan yang dijumpai dalam masyarakat masih banyak keluarga yang belum memahami pentingnya peran rekreasi bagi anak, sehingga hak-hak tersebut terabaikan.

Oleh karena itu, penyelenggaraan pendidikan anak usia dini haruslah dilengkapi dengan program yang berbasis keluarga (parenting). Hal ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan keluarga dalam peningkatan gizi dan kesehatan, perawatan, pengasuhan, pendidikan dan perlindungan sesuai tahapan usia anak, sehingga adanya keselarasan antara program di sekolah dan di rumah.

Keselarasan pendidikan yang dilaksanakan di PAUD dan di rumah merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan pendidikan anak secara utuh, menyeluruh, dan terintegrasi. Oleh karena itu Program PAUD Berbasis Keluarga adalah salah satu upaya keselarasan dan keberlanjutan pendidikan yang dilakukan di rumah.

Contoh program parenting di lembaga pendidikan anak usia dini, pertama, kegiatan pertemuan orang tua, guru dan pengelola sekolah. Kegiatan ini merupakan wadah komunikasi bagi orang tua dan pengelola PAUD maupun guru. Bentuk kegiatan bisa berupa arisan, forum diskusi di media sosial seperti di grup whatsapp dan facebook, atau pertemuan rutin setiap bulan dengan beragam tujuan.

Kedua, lembaga PAUD sesekali melibatkan orang tua dalam kelas, seperti kelas mewarnai gambar, meronce, membuat kolase, dan lain-lain. Sekolah juga dapat melaksanakan perlombaan yang melibatkan ibu dan anak untuk memperingati hari–hari besar.

Ketiga, keterlibatan orang tua dalam acara bersama. Kegiatannya seperti menghadiri seminar pendidikan, atau kepngasuhan, rekreasi bersama, mengikuti beragam perlombaan di luar sekolah, dan lain-lain.

Kegiatan bermain dan belajar yang merupakan proses kegiatan pembelajaran bagi anak tidak harus selalu di dalam kelas. Sesekali kegiatan itu bisa diadakan di luar kelas, bahkan di luar sekolah. Orang tua harus dilibatkan, sehingga orang tua dapat mengetahui bagaimana perkembangan anak dan dapat mengarahkan perkembangan tersebut secara optimal.  

Keempat, pengelola PAUD sebaiknya juga menjadwalkan hari–hari tertentu di mana orangtua, pengelola, dan pendidik dapat bertatap muka dan bermusyawarah untuk membahas pertumbuhan dan perkembangan anak, masalah–masalah yang dihadapi, dan solusi untuk mengatasi setiap permasalahan. Jika perlu pengelola PAUD dapat menghadirkan seorang ahli di bidang pendidikan, kesehatan, dan kejiwaan anak. Hal ini dapat dilaksanakan melalui kemitraan dengan pihak terkait seperti puskesmas, Dinas Pendidikan setempat, dan instansi lainnya.

Keenam, sesekali pengelola PAUD dan guru mengunjungi rumah peserta didik untuk menjalin silaturahmi dan memupuk ikatan kekerabatan. Anak usia dini berada di usia terpenting dalam hidupnya. Mereka sering disebut dalam masa emas (golden age), karena mereka mampu menyerap begitu banyak informasi yang menjadi bekal hidupnya kelak untuk menjalani kehidupan di masa depan. Sehingga pemberian stimulasi dan nutrisi yang lengkap dapat membantu otak anak untuk memproses segala hal dengan baik dan optimal. Selalu mengajak berkomunikasi dengan anak dapat mendorong optimalisasi tumbuh kembang anak.

Kehadiran keluarga dalam mendampingi proses pertumbuhan dan perkembangan anak menjadi suatu hal yang sangat berharga dan tak tergantikan dengan hal apapun. Karena itu kondisi kehidupan keluarga, misal keharmonisan, kedamaian, kenyamanan, dan kesejahteraan, sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak.

Apakah kondisi ekonomi keluarga berbanding lurus dengan keharmonisan dan kedamaian di dalam keluarga? Tentu tidak. Banyak keluarga yang berkecukupan toh tak mampu membangun kehidupan keluarga yang harmonis dan damai. Sebaliknya banyak keluarga yang tergolong miskin tetapi mereka bisa hidup harmonis, damai, dan mampu mendidik anak menjadi orang yang berhasil secara akademis dan ekonomis.  

Semoga artikel ini menjadi suatu energi positif yang menularkan inspirasi bagi kita semua dalam mengantarkan buah hati menjadi pribadi yang terbaik; menajdi anak yang selalu mengobarkan semangat belajar dan berkarya, serta berkarakter mulia sehingga mampu berkontribusi bagi bangsa dan lingkungan sekitarnya. *

Sri Rahayu, praktisi pendidikan anak usia dini

sumber gambar : https://www.quickanddirtytips.com

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar