Manfaat Kegiatan Menanam

Kegiatan menanam tanaman sayur, buah atau bunga bisa menjadi media pendidikan bagi anak usia dini. Manfaat kegiatan menanam banyak sekali. Terlebih lagi jika anak–anak menanam sampai  menikmati hasil tanamannya sendiri. Bayangkan dalam menanam tanaman tomat, misal. Anak–anak akan dilatih mulai dari menyiapkan media untuk menanam, menyemai benihnya, menunggu pertumbuhan sembari merawat dan menjaga kesehatannya, sampai akhirnya si anak memanen lalu memakannya.

Kegiatan menanam ini tentu akan sangat mengesankan sekali. Apa saja manfaat kegiatan menanam bagi pembangunan karakter anak? Berikut uraian manfaatnya.

Pertama, membangun sikap kerja keras. Dalam menyiapkan media, anak–anak akan memahami tentang arti kerja keras, mulai dari menyiapkan tempat untuk menanam seperti, mengumpulkan gelas bekas minuman, kemudian melubangi gelas serta memasukkan  tanah atau sekam bakar ke dalam gelas bekas minuman, sampai benih tomat atau tanaman lainnya ditanam dalam media tersebut. Awalnya, anak–anak akan mengeluh, namun lama kelamaan anak– anak akan merasa senang dan tidak lagi merasa lelah. Saat itulah kerja keras mulai tertanam dalam diri masing–masing anak.

Kedua, membangun kerja sama. Anak usia dini pada umumnya sulit untuk melakukan kerja sama. Biasanya pengasuhan orang tua yang sering melatarbelakangi hal tersebut, sehingga, anak–anak lebih condong untuk bersaing dari pada bekerja sama. Yang pada akhirnya, anak tidak mampu menyelesaikan tugasnya sendiri, kemudian meminta bantuan orang tua ataupun gurunya.

Di dalam kegiatan belajar menanam, anak–anak memiliki kesempatan yang luas untuk menjalin kerja sama dengan temannya. Seperti, membagi tugas agar kegiatan menanam dapat dilakukan dengan baik dan dapat selesai. Misal, ada anak yang menyiapkan tempat menanam, ada yang menyiapkan media ataupun menanam benih serta merapikan gelas yang sudah ditanam, sehingga kerja sama akan terbentuk dan dapat menjadikan anak memiliki sikap saling menghargai. Anak–anak memiliki kesempatan untuk merambah dunianya melalui kegiatan menanam. Anak–anak mulai memahami arti penting kerja sama, bahwa suatu pekerjaan akan cepat selesai saat dilakukan secara bekerja sama.

Ketiga, membangun rasa sayang pada ciptaan Tuhan. Biasanya anak–anak akan sulit untuk memahami apa itu kasih sayang. Namun, dengan belajar menanam akan memudahkan anak belajar tentang arti kasih sayang. Melalui kegiatan menyiram tanaman setiap pagi dan sore hari, akan membangun rasa sayang terhadap sesama makhluk ciptaan Tuhan.

Keempat, belajar tentang tanggung jawab. Kegiatan menanam juga menanamkan sikap tanggung jawab, karena anak–anak diajak bertanggungjawab untuk merawat tanaman hingga tanaman dapat tumbuh dengan subur. Karena tanaman milik bersama, maka dalam mengemban tanggung jawab, anak–anak akan saling mengingatkan, jika ada anak yang lupa tidak menyiram tanaman misalnya.

Kelima, menumbuhkan sikap peduli. Saat anak–anak merasa memiliki, dan memahami bahwa setiap makhluk hidup saling membutuhkan, maka sikap peduli akan terbentuk di dalam diri anak. Anak–anak menjadi senang berbagi makanan, minuman atau mainannya, sehingga mereka tidak lagi bertengkar ataupun menangis dan mengadukannya kepada orang tua, yang akan memperbesar permasalahan terhadap sesama orang tua.

Keenam, membangun sikap jujur.  Saat menanam suatu tanaman,  anak–anak dapat diarahkan untuk menanam tiga benih. Ketika ada anak yang mengambil lebih dari tiga benih, maka hal itu jelas akan terlihat saat tanaman mulai tumbuh tinggi, serta tidak subur, karena terlalu banyak benih yang dimasukkan. Di situ, mau tidak mau, anak harus meminta maaf, kemudian akan berjanji untuk tidak mengulanginya kembali.

Sekecil apapun kebohongan pasti akan terungkap, sehingga membantu anak–anak untuk memahami betapa merugikannya tindakan berbohong; sehingga sikap jujur akan terbangun dan menjadi fondasi yang kuat di dalam diri anak.

Ketujuh, membangun sikap disiplin. Latihan disiplin dapat dibangun saat menyiram tanaman di pagi dan sore hari, di mana anak akan mengetahui akibat bila tanaman tidak disiram, sehingga anak akan menyiramnya dengan rutin; hingga tanaman dapat tumbuh dengan subur. Ini pelajaran tentang sebuah pekerjaan, yang jika dilakukan dengan disiplin, akan membuahkan hasil yang maksimal. Melalui hal kecil tersebut, anak akan belajar disiplin dalam semua hal.

Kedelapan, membangun pengetahuan tentang proses mendapatkan sesuatu. Banyak anak yang tumbuh manja, karena keinginannya selalu dipenuhi oleh orangtuanya. Untuk itu, dalam kegiatan  menanam, anak–anak akan belajar tentang berbagai pengetahuan, antara lain mengenal proses mendapatkan sesuatu. Dalam hal ini,  anak–anak harus berusaha untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkannya, sehingga muncul pertanyaan–pertanyaan seperti, “begini ya, saat kita ingin makan”, “kalau tidak ada petani, kita tidak bisa makan nasi” dan lain sebagainya.

Pengetahuan–pengetahuan terbentuk saat anak–anak memperoleh pengalaman yang berkesan. Kemudian, saat anak–anak merasa lapar, anak harus memanen dan memasak sayur terlebih dahulu baru kemudian mereka bisa makan. Bagaimana pun rasanya, anak-anak in sha Allah akan menikmatinya. Begitulah, anak akan memahami bahwa sesuatu yang dilakukan dengan kerja keras akan menghasilkan hal yang luar biasa, dan sesuatu yang mudah didapatkan tanpa kerja keras, maka kuranglah maknanya.

Kesembilan, meningkatkan rasa percaya diri. Menanam memberikan kebebasan terhadap anak–anak dalam mengeksplorasi lebih jauh pengetahuannya, yang tidak lain akan meningkatkan kecerdasan anak. Apabila kecerdasan meningkat, maka rasa percaya diri juga akan meningkat. Dengan rasa percaya diri, anak akan mampu menunjukkan hasil karya, serta melatih anak menjadi produktif. Perkembangan seorang anak dapat terhambat oleh rendahnya sikap percaya diri.

Demikianlah beberapa manfaat dari menanam. Melalui kegiatan menanam, kemampuan sosial anak semakin meningkat, begitu pula dengan pengetahuannya, sehingga anak–anak akan memiliki keterampilan sikap yang baik. Mereka tidak lagi akan mengganggu temannya, suka bersikap jujur, patuh dan taat pada orang tua, suka berkata santun, mau mengakui kesalahannya, mau bekerja sama, tidak mudah putus asa dan memiliki kepedulian yang tinggi, serta tidak lagi ingin terlihat menonjol di hadapan teman atau gurunya, dan tidak akan mudah terpengaruh oleh lingkungan.

Bagaimana jika Anda tidak memiliki tanah yang luas untuk bercocok tanam? Tidak perlu khawatir, karena kegiatan menanam bisa dilakukan dengan cara hidroponik. *

Yuli Kismawati, guru

sumber gambar : http://zannymedia.com.au

 

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar