Kiat Memancing Kecerdasan Berbahasa Anak

Pada saat anak belum bisa berbicara, kerap kita temui orang-orang dewasa di sekitar anak melakukan perbincangan asyik dengan mereka, mengajaknya berbicara, bersenda gurau, atau menyanyi. Apa yang dilakukan orang-orang dewasa pada bayi ini disebut dalam bahasa Jawa dengan ngudang, atau dalam bahasa Indonesia: menimang.

Ketika bayi dilahirkan di dunia, pengaktifan panca indera yang pertama kali adalah indera pendengaran. Jika dikaitkan dengan kebiasaan menimang bayi, ternyata ini sebagai salah satu stimulasi kemampuan bahasa anak pada usia dini (0-8 tahun). Ketrampilan bahasa adalah salah satu aspek perkembangan anak yang harus dimaksimalkan melalui stimulasi orang-orang di sekelilingnya, karena pada dasarnya anak usia dini merupakan homo educandum, yaitu makhluk pendidikan serta makhluk yang dapat dididik.

Proses anak-anak berinteraksi dengan orang lain, baik itu teman sebayanya ataupun orang yang lebih dewasa darinya, memainkan peran yang sangat penting bagi proses belajar bahasa dalam komunikasi bagi si kecil. Lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat, harusnya memiliki sinergi yang kompak. Peran dari perkembangan bahasa sendiri membawa dampak penting bagi keberlangsungan anak dalam bersosialisasi dengan masyarakat. Anak-anak harus menggunakan bahasa untuk berkomunikasi pada orang lain sebelum mereka bisa fokus ke dalam pemikiran mereka sendiri. Hal ini karena anak-anak akan menggunakan bahasa, bukan hanya untuk komunikasi sosial, namun juga merencanakan, memonitor perilaku diri mereka senidiri dengan caranya sendiri.

Setiap anak pasti memilki pengalaman kejadian yang menakjubkan yang pernah mereka alami ataupun mereka saksikan. “Tadi aku dibelikan ibu sepatu baru yang warnanya biru,” kata seorang anak. Ini artinya ia ingin membagi kabar bahagia yang tengah ia rasakan. Di sinilah orang-orang di sekitar perlu membantu  menstimulasi kecerdasan bahasa pada anak. Namun terkadang ada anak yang hanya menunjukkan bahasa tubuhnya untuk mencari perhatian kepada orang lain. Misal, anak berjalan lalu tiba-tiba menunjukkan tangannya yang terlilit jam tangan, ini tandanya ia sedang menunjukkan bahwa ia baru saja dibelikan jam tangan. Kejadian semacam tadi sangat bagus untuk dijadikan sarana dalam menstimulasi kecerdasan anak.

Ada lima kalimat pembuka pintu yang dapat dijadikan sarana dalam memancing kecerdasan bahasa anak, agar ia kemudian mau berkomunikasi dan bercerita. Kita sebagai orang dewasa harus berusaha membuat anak merasa terdorong untuk bercerita. Mereka akan senang jika diperhatikan, dan akan berbicara lebih banyak tentang berbagai hal yang mengesankan, bahkan berbagi ide-ide dan perasaan.

Dengan pembicaraan yang bisa membuka percakapan, anak akan merasa bahwa kita benar-benar mendengarkan dan tertarik pada apa yang tengah mereka sampaikan, dengan begitu anak akan merasa ide-ide dan pengalamannya itu penting. Dan yang perlu dilakukan oleh kita adalah mendengarkan saat anak bercerita dan menghargainya.

Berikut lima kalimat yang bisa diucapkan oleh orang di sekitar sebagai pembuka kecerdasan berbahasa kepada anak. “Bagaimana itu bisa terjadi?...”. Kalimat ini bisa digunakan saat anak baru saja mengalami sebuah kejadian, baik itu yang membuatnya senang ataupun menyedihkan, dan kalimat ini bisa digunakan saat anak sedang menceritakan kejadian secara kronologis. Bentuk kalimat penasaran dari pendengar akan menggugah keinginan anak untuk kembali menceritakan  peristiwa menakjubkan yang pernah mereka alami dan rasakan.

“Wah menarik sekali”. Kalimat ini bisa digunakan saat anak tengah merasakan kebahagiaan, karena mendapatkan sesuatu yang baru saja ia dapatkan. Anak akan senang jika ia diberi sanjungan. Kalimat menyanjung ini bisa digunakan sebagai pemantik agar anak mau menceritakan kebahagiaan yang tengah ia alami.

“Luar biasa…”. Kalimat ketiga ini bisa kita ucapkan saat anak menceritakan hal yang jarang ia lakukan dari biasanya. Kalimat ini akan membuat perasaan anak berbunga-bunga saat penyampaian kita dibarengi dengan raut wajah yang gembira.

“Mm,…hmmm….”. Kalimat ini sebagai bentuk tanggapan kita sebagai pendengar, agar anak merasa bahwa kita sedang menikmati cerita mereka. Anak akan merasa cerita mereka dihargai dengan kita memberikan respon sederhana ini.

“Benarkah…?”. Kalimat tanya ini yang jika disampaikan dengan ekspresi dan intonasi kurang percaya, akan membuat anak mencari-cari kata lain ataupun mengulangi penyataannya agar bisa meyakinkan orang lain tentang pengalamannya. Kemampuan anak dalam bercerita dan menanggapi pertanyaan dari orang dewasa ini berperan sebagai terapi pada otak anak dalam menumbuhkan dan mengembangkan kemampuan bahasa anak usia dini. Saat mendengarkan anak bercerita panjang lebar, para orang tua sebaiknya patut berbangga dengan kemampuan tersebut, karena mereka bisa jadi masuk pada kategori anak yang cerdas berbahasa.

Anak yang masuk ke dalam kategori anak cerdas berbahasa akan menunjukkan hal-hal berikut ini: 1) Anak akan senang berkomunikasi dengan orang lain baik dengan teman sebayanya ataupun orang-orang dewasa lainnya. Mereka yang senang berkomunikasi dengan orang lain juga menjadi anak yang cenderung mudah bersosialisasi dan beradaptasi dengan lingkunan sekitarnya;

2) Senang bercerita panjang dan lebar tentang berbagai pengalaman sehari-hari yang ia lihat dan ia ketahui. Berbagai hal yang membuatnya terkesan akan mereka bagikan kepada orang lain; 3) Mudah mengingat nama teman dan keluarga, tempat-tempat yang pernah ia kunjungi atau yang pernah ia dengar, atau hal-hal kecil yang pernah mereka lihat dan ketahui, bisa jadi iklan-iklan mereka akan mengingatnya;

4) Pada anak-anak, mereka akan senang membawa buku dan akan berpura-pura untuk membacanya. Ini sebagai tanda bahwa kosakata yang mereka miliki sangat memadahi untuk mereka bisa menceritakan buku dengan karangan mereka sendiri; 5) Mudah mengucapkan kata-kata, menyukai permainan kata, dan suka berkata-kata yang bisa membuat orang tertawa;

6) Suka pada cerita dan pembaca cerita. Setelah anak berusia 4-6 tahun, mereka mampu menceritakan kembali sebuah cerita dengan baik; 7) Memiliki jumlah kosakata yang lebih banyak (saat mereka berbicara) dibandingkan anak-anak lannya; 8) Suka menirukan dengan suara tulisan di sekitarnya; 9) Mampu menuliskan kalimat dengan dua kata; 10) Suka iseng membaca label pada kemasan, pamflet, ataupun spanduk-spanduk di pinggir jalan; 11) menyukai permainan yang berhungan dengan bahasa, seperti bermain tebak-tebakan kata, sambung lagu, dan lain sebagainya.

Dengan membantu membukakan pintu kecerdasan pada anak melalui lima kalimat di atas, setidaknya orang tua dan orang-orang yang ada di sekitar anak telah membantu menstimulasi pertumbuhan dan perkembangan bahasa anak dan dengan begitu orang tua akan terbantu mendeteksi tahapan kecerdasan anak. Melalui lima kalimat pembuka ini, jika anak sudah masuk dalam beberapa kriteria kecerdasan lingusitik, orang tua perlu memaksimalkan dalam menstimulasi hal lainnya seperti yang sudah disebutkan dalam kesebelas ciri-ciri di atas. *

Cesilia Prawening, relawan Pustaka Rumah Kreatif Wadas Kelir, Purwokerto

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar