Pendidikan Seksualitas Anak Berkebutuhan Khusus

     AnggunPaud -  Orang tua dan guru memiliki kontribusi untuk terciptanya hubungan yang baik. Karena pada dasarnya baik guru maupun orang tua menginginkan agar anak-anak dapat berkembang dengan optimal dan mampu mandiri di kemudian hari. Sehingga kuncinya adalah kita harus memberikan apa yang di butuhkan oleh mereka karena kebutuhan setiap anak berbeda-beda. 

    Begitupun dengan kebutuhan mereka yang lainya. Pentingkah pendidikan seksualitas itu? Rata-rata orang akan merasa bingung jika di tanya tentang pendidikan seksualitas oleh anak-anaknya dan masih ada perasaan terganggu ataupun malu untuk menjelaskannya.

    Namun demikian, pengeathuan tentang seksualitas sangat dibutuhkan khususnya bagi anak-anak dengan kebutuhan khusus yang rawan sekali terkena pelecehan seksual. Karena itu, penting untuk mendapatkan pendidikan seksualitas. bnyak yang berpikir jika pendidikan seksualitas itu harus diajarkan ketika sudah akil baligh, tapi sebenarnya pemikiran itu kurang tepat karena sebenarnya pendidikan seksualitas itu perlu diajarkan ketika anak masih bayi bahkan sejak lahir.

    Karena arti seksualitas yang sebenarnya adalah jenis kelamin. Contohnya adalah ketika anak kita lahir hal yang pertama kali di tanyakan adalah “anaknya laki-laki atau perempuan bu?”. Dan pendidikan seksualitas itu berkaitan erat dengan kebersihan. Contohnya adalah mengapa anak laki-laki harus di khitan.

   Terjadi salah kaprah ketika anak telah melakukan kesalahan orang tua baru memberikan penjelasan. Karena itu ketika anak sudah mulai bertanya tentang pendidikan seksualitas maka orang tua wajib menjelaskannya. Sebab yang dikhawatirkan adalah jika ketika orang tua tidak mau menjelaskan anak akan bertanya terhadap orang lain yang salah.   

    Ketika kita memberi pengarahan dan penjelasan kepada anak maka kita harus sabar dan dengan kehati-hatian. Belajar mengenai pendidikan seksualitas itu bukan hanya ketika berada di sekolah akan tetapi belajar itu bisa dimana saja, bisa di rumah atau di tempat umum, dan sebagainya.

    Sebelum kita mengajarkan pendidikan seksualitas kepada mereka hal yang pertama kali harus kita lakukan adalah kita harus membuat kesepakatan dengan anak, contohnya mereka hanya boleh membicarakan atau menanyakan hal ini hanya kepada bapak atau ibu saja. Hal itu untuk menghindari hal-hal yang tidak di inginkan. Anak-anak Berkebutuhan Khusus (ABK) harus tahu perbedaan antara laki-laki dan perempuan dari perbedaan jenis kelaminnya.

    Karena ternyata masih banyak Anak Berkebutuhan Khusus yang belum paham tentang jati diri mereka laki-laki atau perempuan. Sehingga kita harus memberi tahu perbedaan antara laki-laki dan perempuan, perbedaan peran laki-laki dan perempuan, perbedaan dan perubahan anggota tubuhnya. Jadi seksualitas itu bukan tentang hubungan suami istri, melainkan pendidikan seksualitas itu adalah tentang kesehatan.

   Contohnya “Kalau kamu sudah beranajk dewasa maka kamu produksi keringatmu akan lebih banyak maka kamu harus sering mandi ya agar badannya bersih dan tidak bau dan mandi itu di anjurkan 2 kali dalam satu hari." Dan ketika kita sedang membicarakan tentang pendidikan seksualitas kepada anak-anak berkebutuhan khusus kita juga harus melihat usia mereka dan tergantung juga dengan pertanyaan yang mereka ajukan.

    Dan harus selalu di ingat bahwa sebelum kita memberikan pelajaran seksualitas pada Anak Berkebutuhan Khusus di sekolah pun maka kita harus membuat kesepakatan dulu dengan mereka. Contohnya “ Anak-anak ibu akan mengajarkan pelajaran yang serius, jadi kalian tidak boleh menertawakan dan harus serius ya dan ini hanya boleh di bahas di kelas ini setelah diluar ini sudah tidak oleh di bahas lagi”. Jika ada anak yang bertanya “bu asalku dari mana ya?” yang pertama kita harus tanyakan dulu maksud dari pertanyaan anak ini itu apa, setelah kita tahu arah pertanyaan anak menjurus kemana maka baru kita jawab pertanyaan mereka. Karena orang tua yang nantinya akan mengajari mereka maka sudah seharusnya orang tua harus mempelajari terlebih dahulu.

    Pada anak usia 4 – 6 tahun yang belum bisa toilet training memiliki peluang resiko besar mengalami pelecehan seksual. 40% dari anak – anak Berkebutuhan Khusus (ABK) yang mengalami hambatan intelektual mengalami pelecehan seksual bahkan oleh orang yang dikenal. Karena itulah pentingnya mengajarkan pendidikan seksualitas pada Anak Berkebutuhan Khusus sedini mungkin. Bagaimana cara memulainya ?

Pertama adalah hilangkan rasa Tabu dan Malu. Memang untuk memulai hal itu tidaklah mudah tapi jangan sampai hal itu menghalangi kita untuk menjelaskannya kepada mereka. Sebelum mereka bertanya kepada orang yang salah. Sedini mungkin ajarilah anak untuk mandi sendiri, memakai baju sendiri, toilet training, ajari juga mereka ketika berada di toilet umum dan sebagainya. Apa yang harus diajarkan pada Anak Berkebutuhan Khusus ? Pada Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) kita harus menjelaskan dengan jelas karena jika tidak maka mereka akan bingung. Ajarilah mereka tentang Ruang lingkup :

• Perkembangan manusia: yaitu perkembangan tubuh manusia dan perubahanya dari bayi sampai besar

• Kebersihan Pribadi - Kebersihan diri harus di ajarkan ejak dini karena pelecehan seksual paling sering terjadi karena anak belum bisa toilet training secara mandiri sehingga hal itu di manfaatkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab. - Ajarkan anak untuk mandi sendiri,sikat gigi sendiri dan toilet training sendiri. - Ajarkan anak tentang masalah kesehatan, contohnya sudahkah anak bisa mengatakan “ saya pusing bu”, “ saya sakit perut bu”, dan mengatakan perasaan lain yang mereka rasakan jika belum maka kita harus ajarkan.

• Ajarkan Anak mengenai daerah pribadinya dan daerah umum. Contohnya ajarkan mereka tentang daerah mana yang boleh di di lihat oleh diri sendiri dan mana yang boeh di lihat oleh orang lain.

• Perlindungan diri Kita harus ajarkan tentang bentuk – bentuk perlindunan diri kapan harus teriak, kapan harus lari dan sebagainya. Prinsip dasar dalam memberikan pengajaran agar lebih efektif adalah jika anak perempuan maka harus ibu yang membelajari dan jika anak laki laki maka Ayah yang harus membelajari.*

*Intan Subekti- Guru di SMP Permata Hati Purwokerto

sumber gambar : https://www.drmaggiedavis.com/services/special-needs-children/

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar