Menghadirkan Kalimat Positif antara Orang Tua dan Anak

    AnggunPaud - Anak-anak seringkali mengetes kesabaran orangtuanya, terutama saat ia masih balita. Namun, orang tua tak perlu heran saat sering meninggikan intonasi suara agar anak-anak mau mendengarkan apa yang kita perintahkan. Pada usia balita merupakan masa dimana seorang anak menjadi sangat keras kepala. Sehingga saat ia mendengar apa yang orang tua katakan seringkali ia lebih memilih untuk mengabaikannya.

   Pada akhirnya komunikasi anak dan orang tua menjadi kurang baik. Di sinilah pentingnya orang tua menghadirkan kalimat positif yang akan membantu memperbaiki komunikasi orang tua dengan anak. Pendekatan dengan menggunakan kalimat positif juga akan membuat lebih efektif dari pada dengan kata-kata penuh kemarahan atau tuduhan. Berikut tujuh kalimat positif yang dapat dihadirkan untuk membantu memperbaiki komunikasi orang tua dengan anak saat anak tidak mau mendengarkan.

Pertama, hadirkan kata “Hayo, masih ingat apa peraturannya?”. Menghadirkan kata demikian lebih baik dari pada “Hati-hati!” atau “Stop! Jangan lakukan itu!”. Di sini terdapat sebuah ide cemerlang untuk mengganti kalimat perintah dengan afirmasi positif yang melibatkan kemampuan berpikir kritis anak. Kalimat postitif ini perlu dihadirkan sebab anak-anak biasanya merasa bosan mendengarkan perintah yang sama dan berulang dan memilih untuk mengabaikannya setelah beberapa waktu. Mungkin bagi orang tua kalimat demikian terkesan berbeda tapi sebenarnya memiliki makna yang sama. Di sini orang tua juga bisa memberikan instruksi khusus agar anak mau mendengarkan. Seperti “Masih ingat apa yang kita diskusikan tentang bermain di kamar?” atau “Pelan-pelan saja ya saat mengunyah makanan” misalnya.

Kedua, hadirkan kata “Tolong bicaranya pelan saja ya.” Kalimat tersebut lebih indah dibandingkan “Jangan berisik!” atau “Ssst… tidak boleh teriak-teriak!” Secara alamiah beberapa anak memang bersuara lebih lantang dibanding yang lain. Jadi, saat anak kesulitan berbicara lembut, orang tua dapat mengarahkan kepadanya di mana anak boleh bersuara keras (seperti saat di lapangan atau bukit misalnya) dan dimana anak diperkenankan bersuara lembut (seperti saat di perpustakaan atau saat di rumah ibadah). Keterlibatan antara sentuhan tangan, kontak mata, dan suara berbisik menjadi sangat efektif dalam menyampaikan pesan agar anak mau mendengarkan. Dari sini orang tua menjadi tahu bahwa saat ingin menenangkan anak jangan malah baik meneriakinya. Gunakan nada lebih halus sebagai gantinya dan instruksikan padanya “Tolong bicara yang lembut di masjid”.

Ketiga, hadirkan kata “Apa yang dapat kamu pelajari dari kesalahanmu?” dari pada “Nah, kan, Ibu bilang apa tadi. Seharunya kamu nurut! Jadi seperti ini kan, akhirnya!” Terkadang orang tua terus menerus mengingat kembali kesalahan di masa lalu padahal akan lebih baik saat orang tua justru memberikan motivasi pada anak untuk memperbaiki diri. Hal ini akan mendorong anak untuk berbuat lebih baik lagi dan berhati-hati terhadap perilakunya di masa depan. Misalnya, orang tua alih-alih berteriak “Malu-maluin saja kamu!” kita dapat mencoba menggantinya dengan “Apa yang bisa kita pelajari dari kesalahanmu ini?”.

Keempat, hadirkan kata “Tolong…” dari pada “Stop!” atau “Jangan lakukan itu!”. Segala bentuk komunikasi biasanya tidak dapat diterima dengan baik oleh orang-orang. Hal ini juga berlaku untuk anak-anak. Dari sini orang tua harus pandai memilih cara berkomunikasi positif sehingga tidak ada tekanan yang tak perlu pada hubungan orang tua dan anak. Orang tua dapat meminta anak untuk melakukan apa yang mereka lakukan, dari pada apa yang orang tua sendiri tidak ingin mereka melakukannya. Untuk itu, lebih baik jika orang tua mengatakan, “Tolong kamu makan di sana temani adikmu” dibandngkan mengatakan “Jangan makan di sini!”.

Kelima, hadirkan kata “Kita terlambat dan harus bergerak cepat”dari pada “Kita bakalan telat nih! Kamu buruan makannya!” Meski penting mengajari anak agar tepat waktu, penting juga memberikan kesempatan agar istirahat. Orang tua dapat mengatur beberapa waktu saja saat orang tua membiarkan anak bergerak perlahan sesuai dengan langkahnya sendiri. Namun, pastikan untuk memberitahu padanya bahwa ia harus bergegas dengan intonasi suara yang lebih lembut agar anak mau mendengarkan. Misalnya, “Om Rangga sedang nungguin kita lho! Kasihan kan kalau dia harus menunggu lama. Yuk, segera ambil tas, kita berangkat sekarang.”

Keenam, hadirkan kata “Berhenti dulu, tarik napas. Sekarang katakan pada Ibu apa yang kamu inginkan” dari pada “Stop! Jangan nasing terus!” Anak-anak akan mempelajari sesuatu dari kita. Apa yang kita lakukan di hadapan anak, maka itulah yang akan ditiru oleh anak. Sebab anak memiliki sifat imitative yang kuat. Untuk itu, saat orang tua memberikan instruksi, pastikan untuk tetap tenang dan santai sehingga anak juga akan meniru kita. Sehingga orang tua tidak perlu cemas saat anak mendapatkan energi itu dan mencerminkan perilaku yang sama. Jadi dari pada mengatakan “Stop jangan menangis! Lebih baik menggantinya dengan “Berhenti dulu, tarik napas. Sekarang katakan pada Ibu apa yang kamu inginkan”.

Ketujuh, hadirkan kata “Tidak apa-apa jika kamu ingin menangis” dari pada “Jangan nangis, ah! Kayak bayi saja!” Agar anak mau mendengarkan, ingatlah bahwa ia merspon dengan cepat saat orang tua tidak memberikan tekanan yang berlebihan padanya untuk menyembunyikan perasaan. Orang tua tidak boleh memaksa anak menjadi tidak wajar dan menyembunyikan emosinya. Sebaliknya, orang tua dapat mengajari anak untuk melewati perasaan tertentu dengan cara fokus pada kegiatan yang lebih positif. Katakan pada anak bahwa tidak apa-apa untuk mengekspresikan diri. Sebab hal demikian dapat membantu anak keluar dari perasaan sedih dan membangun harga dirinya. Untuk itu, hindari berdebat mengapa anak tidak boleh menangis. Biarkan anak meluapkan emosinya dan bersikap lembutlah dengan mendukungnya. Seperti dengan menghadirkan kalimat “Tidak apa-apa jika ingin menangis. Jangan khawatir, semuanya akan baik-baik saja. Ibu selalu ada di sini untukmu.”

    Dengan menghadirkan tujuh kalimat positif ini tidak berarti orang tua selalu bersikap lunak pada anak-anak. Orang tua hanya perlu memberi instruksi yang spesifik dan bersikap positif pada anak, meski ia sudah pernah berbuat salah. Sehingga dengan menghadirkan kalimat psotif ini akan membuat anak mau mendengarkan dan mau melakukan apa yang orang tua katakan.

sumber gambar : https://www.parenttoolkit.com

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar