Ajari Anak Kritis Menerima Informasi

      AnggunPaud - Di era digital sekarang ini, kita mudah sekali mendapatkan berbagai informasi baik dengan media cetak maupun media massa. Mulai dari informasi kesehatan, kecantikan, budidaya, hingga pendidikan dapat mudah di dapatkan kapan dan dimana saja. Fenomena ini memang hal yang menguntungkan untuk banyak orang. Tapi tahu kah anda dalam menikmati era digital ini justru kita dituntut untuk lebih pandai dan krirtis dalam mencerna setiap informasi yang kita dapatkan. Bagi yang notabene orang dewasa saja sering kali kurang cermat dalam menilai sebuah informasi, apa lagi anak-anak?

   Sikap cerdas, kritis dan peka terhadap lingkungan sekitar adalah sikap dasar yang harus dimiliki anak agar selalu berada dalam kebenaran, dan untuk tumbuh menjadi pribadi yang cerdas kritis dan peka terhadap lingkungan tidaklah dapat diajarkan dalam waktu satu atau dua tahun saja. Sikap ini perlu ditanamkan sejak dini oleh madrasah pertamanya, orang tua.

    Tentu saja tidak menghilangkan bantuan lain dari pihak lingkungan sekolah dan masyarakat. Lalu bagaimana pendidikan yang tepat untuk mengajari anak untuk tetap setia pada kebenaran? Mengutip dari salah satu pakar pendidikan anak, Heru Kurniawan, S. Pd, M.A, yang mengatakan “Cara terbaik mendidik anak adalah dengan mendidik anak orang lain”, untuk menumbuhkan karakter dan pribadi yang baik pada anak maka kita harus membentuk karakerter dan pribadi teman sebayanya, atau lingkungan masyarakatnya.

   Pernyataan tersebut sejalan dengan pemikiran Prof. Dr. J Sudarminta, S. J. “Walaupun keluarga dan sekolah berusaha melindungi anak-anak dari pengaruh buruk kebohongan publik, pengaruh buruk itu akan tetap merasuki mereka jika mereka tetap melihatnya di dalam masyarakat langsung”.

    Pemahaman kebenaran bukan lah hal yang dapat datang dengan sendirinya dan dengan waktu yang singkat kepada anak. Lalu kapan waktu yang tepat untuk mengajarkan kebenaran pada anak?. Dalam hal ini, mereka harus di pupuk sejak dini tentang kebenaran. Mereka tidak akan langsung tahu tentang kebenaran hanya dengan pengalaman-pengalaman mereka. Justrus sebaliknya saat bibit kebohongan yang sudah masuk ke dalam diri anak sejak dini. Maka, mereka akan melakukannya terus dan terus hingga dewasa dan menjadi kebiasaan.

   Masalahnya adalah saat anak berusia 1-5 tahun dan mereka melakukan suatu kebohongan sering kali orang tua menganggap remeh hal ini, dan berpikir "ahh, tidak apa-apa, namanya juga anak-anak", jika anda termasuk orang tua yang seperti ini, maka anak anda secara tidak langsung akan berpikir "baiklah berbohong sekali tak apa, aku masih kecil", dan terus-menerus seperti itu.

   Hingga pada saat dia dewasa, dia akan terbiasa dengan hal-hal kebohongan dan membela kebohongan itu. Lalu bagaimana baiknya? Baiknya adalah, kurangi hal-hal menyepelekan kebiasaan-kebiasaan negatif itu. Saat anak berbuat salah jangan langsung membiarkan lantaran dia masih kecil. Tapi cobalah untuk tetap memberi peringatan dan pengertian yang dapat dia pahami bahwa itu tidak boleh dilakukan, salah, hingga mereka berpikir untuk tidak melakukannya lagi. Dan, berilah hadiah berupa pujian atau sikap yang membuat anak senang di saat anak sudah berani mengakui kesalahannya pada anda.

   Untuk mengajak anak setia pada kebenaran ada beberapa pribadi yang harus anda tanam sejak dini, yaitu :

Pertama, jujur. Sikap jujur adalah pribadi dasar yang wajib anda tanamkan pada anak sejak dini. Banyak sekali kasus seorang anak yang takut jujur lantaran takut dimarahi orang tuanya, kejadian seperti inilah yang nantinya menjadi bibit-bibit anak menjadi ‘suka bohong’. Saat anak-anak berani mengungkapkan kesalahannya, ajaklah ia bicara dengan baik dan tanyakan alasan ia melakukan kesalahan itu, lalu beri peringatan dan pengertian konsekuensi apa yang dia dapat saat melakukan kesalahan itu.

Kedua, sabar. Sering sekali seorang anak berbuat kasar saat menginginkan sesuatu lantaran tidak langsung mendapatnya seperti memukul, berteriak, hingga menjambak orang tua mereka. Saat anak seperti ini, jangan terbawa emosi anak dengan memarahi atau memukulnya balik. Misalnya saat anak meminta dibelikan sebuah mainan dan anda sedang mengerjakan suatu hal yang tidak bisa ditinggalkan, genggam tangan mereka dan beri pengertian alasan mereka belum bisa mendapatkannya. Buat kesepakatan pada anak, jika mereka mau menunggu dengan sabar, maka ia akan mendapatkannya.

Ketiga, kritis. Di era globalisasi ini anak-anak perlu dibekali pribadi yang krtis sejak dini, jangan sampai terbawa arus informasi yang belum tentu kebenarannya, dan membawa mereka pada pola tingkah laku yang tidak baik. Orang tua dan orang dewasa di sekitarnya agar menjadi contoh untuk mengajarkan kepada anak-anak agar memiliki kepekaan untuk mencari tahu tentang kebenaran sebuah informasi. Mereka perlu diajarkan untuk rajin bertanya dan tidak mudah percaya pada informasi dari teman atau dari sumber yang belum jelas. Anak-anak perlu diajarkan untuk peka terhadap lingkungan sekitarnya dan kembali anak dapat melakukan tindakan tersebut bila terdapat contoh yang baik di sekitarnya.

Keempat, rendah hati. Anak sering sekali disebut sebagai cerminan orang tuanya. Hal ini didasari karena setiap saat anak melihat dan mencontoh perilaku orang tuanya. Jadi, untuk membentuk pribadi rendah hati pada anak mulailah mencontohkan sikap yang mencerminkan rendah hati sederhana seperti membukakan pintu untuk orang tua, membantu teman-teman yang sedang kesulitan menyumbangkan pakaian untuk para korban bencana, dan biasakan mengucapkan kata terimakasih setelah ditolong dan maaf saat berbuat salah. Buatlah pengertian bahwa menjadi rendah hati dengan membantu orang lain bukanlah kelemahan. Menurut Steve Mesmer, salah satu aspek dari rendah hati adalah sosial. Ketika kita mengajarkan anak bahwa mereka berharga dan berbakat, serta bakat mereka berguna untuk teman-temannya, pandangan anak mengenai diri mereka sendiri dan dunia akan berubah.

sumber gambar : http://bahaiblog.net

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar