Orang Tua Wajib Dukung Bakat Anak

      AnggunPaud - Gegap gempita perhelatan akbar Asian Games 2018 berakhir setelah Wakil Presiden Jusuf Kalla, menutup secara resmi ajang olahraga bergengsi di kawasan Asia itu. Indonesia berhasil meraih 31 medali emas, 24 perak dan 43 perunggu serta menduduki posisi ke-4.

     Capaian para atlet Indonesia tersebut tentu tak akan pernah pupus dalam ingatan, terlebih bagi atlet yang telah menyumbangkan prestasi internasionalnya. Namun apa yang diraih Indonesia masih tertinggal dari China yang berhasil menduduki posisi pertama dengan raihan medali emas terbanyak dari 44 negara peserta Asian Games.

    Seluruh peserta Asian Games tak bisa mengelak, jika China dengan ratusan medali yang dibawa pulang ke negaranya menunjukkan negara ini berhasil mencetak para juara. Apa rahasianya? Negara tirai bambu ini punya cara yang sangat disiplin sehingga bisa mencetak atletnya dengan prestasi internasional. Pembinaan atlet di China ternyata sudah dimulai sejak kelas 4 SD.

    Saat di bangku sekolah dasar,  siswa yang tertarik pada olahraga bisa memilih program penjurusan olahraga. Demikian halnya jurusan lainnya juga sudah dimulai sejak usia sekolah dasar. Secara umum sekolah di China menerapkan 40 persen pelajaran biasa dan 60 persen sesuai dengan jurusan yang di minati. Apa yang terjadi di China itu memang belum lazim di pendidikan Indonesia. Karena penjurusan dilakukan saat di sekolah lanjutan atas dan sebatas penjurusan akademik.

    Sementara sekolah kejuruan baru mencetak sumber daya manusia siap kerja belum mencetak prestasi. Namun demikian kompetisi di Indonesia bisa diikuti siswa mulai sekolah dasar hingga sekolah berkebutuhan khusus dari jenjang SD hingga SLTA. Sebut kompetisi yang dilakukan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan seperti Olimpiade Sains Nasional (OSN), Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN), Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N), Gebyar PKPLK, Lomba Keterampilan Siswa (LKS) untuk SMK. Serta ajang kompetisi yang diadakan pihak lainnya dengan bidang yang berbeda.

   Dari ajang ini sebagian bisa meneruskan prestasinya ke jenjang internasional. Setiap peserta di ajang kompetisi yang melibatkan antar negara tentunya telah melalui perjalanan panjang, mulai seleksi lokal kemudian regional hingga internasional. Hal itu merupakan upaya yang tidak mudah untuk bersaing dari berbagai negara. Karenanya bisa mengharumkan nama bangsa adalah salah satu kebanggaan tersendiri.

    Menorehkan prestasi dan diakui tingkat dunia atau berprestasi internasioal adalah impian setiap anak bangsa yang berkompetisi bidang apa pun. Di sisi lain setiap prestasi yang tercipta harus ditebus dengan kerja keras. Anak yang punya prestasi internasional pada umumnya telah menempa dirinya sejak usia belia. Perjalanan panjang itu tentu tak mungkin dijalankan anak tanpa bimbingan orang tua. Dengan kata lain anak berprestasi ada orang tua yang selalu mendukung.

    Namun adakalanya ada orang tua yang beruntung memiliki anak berbakat, orang tua seperti ini tinggal mendukung sepenuhnya dengan usaha yang tidak merepotkan. Bagaimana orang tua mengetahui bakat anak dan bagaimana seharusnya orang tua mengarahkan bakat itu? Sebuah artikel pada laman alodokter.com menyebutkan untuk mengetahui bakat anak yaitu dengan memperhatikan kebiasaan dan kesukaannya. Dari kebiasaan atau kesukaan itu secara tidak langsung menunjukkan minat atau bakat anak.

   Tugas orang tua adalah memperhatikan aktivitas sesering mungkin. Bukan tidak mungkin kebiasaan anak yang jika terus diasah merupakan potensi meraih prestasi. Selanjutnya orang tua perlu melakukan hal-hal seperti membiarkan anak mengekplorasi kemampuan yang dimiliki, membangun komunikasi positif, menempatkan anak di posisi terdekat, memberikan waktu yang cukup untuk bersosialisasi, mengikutkan anak pada beberapa perlombaan, mengajarkan anak untuk bekerja keras serta memberi kebebasan anak untuk memilih. Semua itu bisa dilakukan orang tua untuk mengetahui bakat anak.

   Memiliki anak berprestasi menjadi kebanggaan yang tak ternilai bagi orang tua. Seperti pasangan Aimee Dawis dan Kinggo Srijaya Pradjonggo yang Juli 2018 lalu menerima kabar anak sulungnya Putri Aimee Dawis (14) berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah kompetisi internasional World Scholar’s Cup dengan membawa pulang 14 medali. Bagi Aimee dan Srijaya, Putri adalah permata yang sinarnya sudah mereka ketahui sejak kecil.

   “Putri waktu umur 5 tahun datang ke saya bawa buku dan minta dibacakan,” cetus Aimee. Bakat berkompetisi Putri sudah mereka rasakan bahkan sebelum Putri duduk di bangku sekolah. Srijaya sebagai ayah memperhatikan putrinya yang suka tantangan. “Putri itu suka dengan tantangan. Dan setiap tantangan, Putri harus selalu menang,” ungkap ayah Putri.

    Menurut Aimee, ibu Putri, anak sulungnya usia 5 tahun sudah memiliki displin tinggi.Sejak dini, menurut Aimee, Putri sepertinya sudah punya pemikiran jika ingin melakukan sesuatu harus terjadwal. Sehingga suatu waktu, Putri yang masih di bawah 5 tahun datang pada ibunya sambil bawa jam. “Putri minta dipasang alarm. Katanya ia harus atur besok mau apa saja.  "Kalau mau sukses harus displin buat jadwal,” tutur Aimee menceritakan Putri kecilnya yang sudah menunjukkan perilaku istimewa.

    Apa yang dilakukan Aimee dan Putri itu merupakan langkah tepat yang sedang menggali atau membiarkan anak mencoba berbagai hal-hal yang positif. Karena dengan cara tersebut akan membantu anak bisa menemukan bakat-bakat yang terpendam di dalam dirinya. Aaimee tak sedikit pun melarang aktivitas anaknya. Ia sadar sebagai orang tua, tak mau menekan ataupun membatasi kegiatan anak.

    Dengan menghalangi anak untuk mengeksplorasi kemampuan yang dimilikinya justru nantinya anak tidak bisa memaksimalkan menemukan bakat-bakat terpendam di dalam dirinya. Aimee pun hanya perlu mengawasi segala kegiatan anak. Suatu saat jika ada hal yang disukai anak maka orang tua bisa mengarahkannya lebih lanjut.

Komunikasi gali bakat anak

    Adakalanya anak tidak tahu bagaimana mengomunikasikan bakatnya sehingga banyak orang tua yang kurang menyadarinya. Semisal dalam keseharian anak biasa saja terlihat tanpa ada yang menonjol. Maka orang tua bisa mencari jalan lain untuk melihat bakat anak yaitu saat kondisi anak sedang dalam keadaan terdesak atau terancam.

    Mengapa begitu? Karena biasanya dengan kondisi terdesak membuat kemampuan yang dimiliki selama ini  muncul. Cara ini banyak dilakukan para orang tua agar bisa mengetahui bakat terpendam dalam diri anak. Misalnya saja, memberikan anak pekerjaan rumah dalam jangka waktu yang mendesak. Kondisi ini bisa membuat anak mencoba berpikir cepat untuk menyelesaikan tugas-tugas yang dimilikinya.

   Cara lain untuk mengetahui bakat anak yaitu orang tua harus benar-benar punya kedekatan. Kedekatan itu bukan hanya saat anak berada di rumah, lebih dari itu, orang tua bisa mengamati anak saat bermain atau bersosialisasi dengan teman-temannya. Kemampuan bersosialisasi juga merupakan bakat yang harus diapresiasi. Karena bakat tidak selalu berkaitan dengan prestasi akademik atau olahraga. Tetapi meliputi pula  kecakapan saat berkomunikasi dan berinteraksi dengan banyak orang.

Sering berkompetisi

   Beruntung Aimee dan Srijaya memiliki anak seperti Putri yang bisa menunjukkan bakatnya sejak dini. Sebagai bentuk dukungan orang tua pada anak, pasangan yang memiliki dua anak ini kemudian memberikan pengalaman berkompetisi dengan mengikuti berbagai lomba. Apa yang dilakukan Aimee dan Srijaya, sangat membantu Putri menyalurkan semangat pantang menyerah.

   Terbukti dari mulai masuk pendidikan dasar Putri menorehkan prestasi yang membanggakan. Prestasi pertama yang diraih Putri saat usia 7 tahun adalah Excellent Award in Science Chinese Spelling Competition – 1st Place. Sejak memenangkan kompetisi tersebut, hampir setiap tahun Putri mengikuti berbagai lomba dan meraih prestasi.

   Prestasi Putri terakhir adalah saat ia bersama Erin dan Nadya sesama teman sekolah berhasil membawa 38 medali dari ajang World Scholar’s Cup yang diikuti ribuan pelajar dari ratusan negara Juli 2018 lalu. World Scholar’s Cup merupakan kompetisi berbahasa Inggris yang melakukan serangkaian lomba seperti, debat, membuat presentasi dengan tema-tema yang telah ditentukan.

   Putri dan tim harus bersaing dengan negara-negara besar di dunia dan berhasil mengumandangkan nama Indonesia di ajang tersebut sebagai peraih medali. Hal itu tentu membanggakan bukan hanya bagi kedua orang tua Putri, tetapi membanggakan sekolah dan bangsa ini.

   Sisi utama yang dipetik dari mengikuti banyak kompetisi karena hasil lomba bisa menjadi indikator bagi orang tua peminatan atau bidang yang disukai anak. Artinya, perlombaan yang memiliki pencapaian tertinggi menunjukkan kemampuan anak lebih dominan pada hal tersebut. Hal yang penting bagi orang tua untuk diketahui adalah ketika mengikutkan anak pada perlombaan sebaiknya jangan memberi target yang terlalu besar yang hanya akan membuat anak menjadi tertekan.

   Dampingi anak ketika mengikuti perlombaan dengan memberikan banyak penguatan positif yang dapat menguatkan anak. Sebagai seorang ayah, selain terus mendampingi dan mendukung kegiatan anaknya, Srijaya menanamkan kepada Putri agar siap berkompetisi termasuk memotivasi diri untuk terus berkompetisi.

   “Karena hidup itu sendiri adalah kompetisi. Jadi saya bilang ke Putri supaya dia terus memacu dirinya untuk menjadi yang terbaik,” ungkap Srijaya yang menilai Putri bukan hanya memiliki kemampuan bahasa, tetapi juga suka bisnis dan matematika. Selain melecut semangat anak untuk terus melakukan yang terbaik, Srijaya juga menanamkan agar setiap usaha yang dilakukan harus dikerjakan secara sungguh-sungguh dan tidak mudah putus asa. Srijaya juga memberikan filosfi hidup yang bisa menjadi pegangan bagi Putri untuk melakuka hal positif sebaik mungkin.

    “Hidup itu kadang menang,kadang kalah. Yang penting tidak menyerah apapun yang terjadi.Memiliki jiwa pemenang adalah kunci dari keberhasilan. Dan jiwa pemenang tidak pernah menyerah,” ungkap Srijaya yang selalu mendorong Putri agar selalu menjadi yang terbaik. Tak heran dengan dukungan orang tua seperti itu, Putri menjadi termotivasi. Srijaya berusaha mengingatkan terus pada Putri agar selalu mewujudkan impian.

    “Harus mimpi besar. Harus kerja keras, apapun profesi dalam hidup, harus berkompetisi dengan diri sendiri. Supaya pastikan setiap hari lebih baik dari kemarin,” tegas Srijaya. Srijaya menyadari dirinya memosisikan sebagai penyemangat bagi Putri. Sehingga Putri tidak merasa terbebani dengan apa yang dilakukannya. Srijaya mengaku tidak pernah memaksakan kehendaknya kepada anak.

   “Sebagai orangtua tugas saya mengayomi anak. Saya mendudukkan anak sepenuhnya pada keinginanya. Apapun yang terjadi,tugas kami sebagai orang tua mengarahkan seperti maunya anak. Kalau tidak, maka Putri tidak akan bahagia dan akan menyalahkan dirinya jika tidak mendapatkan apa yang dia mau,” jelas Srijaya.

   Srijaya boleh jadi merupakan orang tua ideal bagi pengembangan bakat anak. Selain selalu mendorong anak berbuat yang terbaik buat diri anak sendiri, ia juga memberikan kebebasan anak dalam menentukan langkah. Dalam kamus hidup Srijaya tidak membatasi anak bercita-cita. “Berpikir terbaik apapun itu sekecil-kecilnya.Mimpi Putri tidak boleh ada batas. Paling penting adalah menjadi terbaik untuk dirinya sendiri,” ucap Srijaya. *

*Aliefien, pemerhati pendidikan

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar