Mari Kenali Tipe-tipe Belajar Anak

Suatu hari saya saksikan seorang bapak tengah marah-marah kepada anak-anak yang dianggap membuat keributan saat berlangsung salat tarawih di sebuah musala. Anak-anak kecil itu dianggap mengganggu orang dewasa yang tengah beribadah. Maka kemudian mereka disuruh keluar dari musala itu. Mereka diminta duduk diam di bagian teras, seakan mereka tidak bermanfaat dan bahkan tidak perlu ikut salat. Yang penting mereka tenang di saf belakang.

Mengusir anak-anak yang dianggap mengganggu ibadah sesungguhnya tindakan memutus proses pendidikan anak-anak tersebut dalam hal ilmu agama. Betapa tidak, keberadaan anak di dalam masjid  bagian sebuah proses kegiatan transformasi pendidikan agama baik teori maupun praktiknya. Kegaduhan adalah suasana transformasi tersebut. Itu lebih disebabkan mereka adalah anak-anak.

Banyak orang tua yang tidak tahu, bahwa anak-anak memiliki cara belajar yang beragam. Masing-masing anak memiliki cara belajar yang berbeda dari anak yang lain. Oleh karena itu guru dan orang tua perlu  mengetahui tipe-tipe belajar.  

Pertama, tipe belajar secara visual. Mungkin kita sering menyaksikan anak-anak yang mampu mempelajari sesuatu dengan cara melihat obyek yang dipelajarinya. Ada anak yang suka belajar dengan cara melihat bendanya secara langsung atau membaca. Karena memiliki kekuatan dalam hal melihat, anak tersebut umumnya memiliki ciri cepat mengingat jika ia pernah melihat. Selain itu dia tidak mudah terganggu oleh suara maupun kegaduhan suasana. Oleh karena itu orang tua dan guru sangat penting untuk memfasilitasi mereka dalam belajar dengan cara menyediakan gambar, bacaan, benda kongkrit, warna-warni, bahkan sumber bacaan yang menarik bentuk dan warnanya. Orang tua dan guru juga perlu sering melakukan demonstrasi.

Kedua, tipe belajar dengan cara mendengarkan (auditori). Anak-anak semacam itu akan mengandalkan indera pendengarannya dalam hal mempelajari sesuatu. Mereka memiliki kekuatan dalam menghapal berbagai konsep dan lainnya. Anak-anak yang bertipe auditori pada umumnya memiliki ciri mampu mengingat dengan baik, jika mereka telah mendengarkan. Hanya kelemahannya mereka tak mampu belajar di tempat yang berisik. Mereka senang mendengar cerita atau yang dibaca orang lain, suka bercerita dan diskusi. Hebatnya mereka mampu mengulang dengan baik cerita yang didengar. Hanya kelemahannya, mereka malas membaca petunjuk, tidak suka memperhatikan lingkungan sekitarnya. Mereka juga kurang dalam hal mengarang dan menulis. Maka guru harus memilihkan metode yang tepat dalam mengajar. Metode ceramah, auditori, diskusi, bercerita biasanya cocok untuk mereka ketimbang metode lainnya.

Ketiga, tipe belajar dengan gerak (kinetik). Anak-anak yang bertipe belajar kinetik lebih mengandalkan gerakan. Gerakan itu berupa gerakan anggota tubuh atau benda-benda lain yang dilihatnya. Pelajaran dan metode belajar yang lebih banyak melibatkan gerakan di antaranya olah raga, seni tari, seni menyanyi, drama, musik, percobaan, dan lainnya. Anak-anak yang bertipe belajar kinetik memiliki ciri umum suka memperhatikan atau meniru gerakan seseorang.

Sebagai contoh, seorang anak kecil begitu asyiknya memperhatikan gerakan bibir seseorang yang tengah menghapal doa atau menyanyi. Seakan dia tidak mendengarkan apa yang diucapkan orang tersebut, tetapi lebih terfokus memperhatikan dengan seksama gerakan bibir atau mulut seseorang. Namun kenyataannya dia bisa meniru apa yang dilakukan orang tersebut. Ia lebih terkesan dengan gerakan ketimbang mendengarkan. Dengan melihat ciri secara umum anak-anak yang bertipe ini, maka hal yang perlu dilakukan untuk mereka, pengajaran dengan metode menghapal gerakan, berjalan, eksperimen, permainan dan lainnya.

Keempat, tipe global, yakni tipe anak yang dalam memahami sesuatu cenderung melihatnya secara menyeluruh; menghubungkan satu obyek dengan obyek lain. Ia merasa kesulitan jika harus belajar sesuatu secara sepotong-sepotong. Ia harus melihat dan memperhatikan dahulu setiap objek yang akan dipelajari secara global atau menyeluruh, bukan hanya sebagian-sebagian. Ini disebabkan dia memiliki kecenderungan memandang sesuatu untuk ditelaah secara detail.

Anak yang memiliki tipe belajar global memiliki ciri umum di antaranya mampu malaksanakan tugas lebih dari satu. Dia mampu bekerjasama dengan baik, sensitif dan mampu melihat permasalahan dengan baik, serta mampu mengutarakan dengan kata-kata tentang apa yang dilihatnya. Hanya saja mereka memiliki kelemahan tertentu. Pada umumnya mereka memiliki kecenderungan kurang rapi. Jika ia bekerja, banyak yang berserakan serta banyak yang dipikir.

Kelima, tipe belajar analitik, yakni gaya belajar yang cenderung ingin menelaah. Anak-anak yang memiliki gaya tersebut umumnya memiliki kecenderungan menganalisis atau mengkaji sesuatu secara rinci dan cermat. Ia biasa belajar dan melakukan sesuatu dengan sistematis, teratur, terinci, dan spesifik. Oleh karena itu, ia senantiasa berfokus pada satu masalah, senantiasa berpikir logis, konsisten, serta tidak suka melewati sesuatu yang tengah dipelajarinya.

Barangkali setiap anak memiliki kecenderungan gaya belajar lebih dari satu. Dengan memperhatikan beberapa gaya belajar di atas, maka kita dapat menarik kesimpulan bahwa anak-anak dalam belajar memiliki gaya tertentu. Ada anak yang sangat baik dalam memperhatikan saat dia diajar, ada yang tidak. Ada yang tampak belajarnya sambil lalu, ternyata ia justru mampu. Ada anak yang tidak suka mendengarkan saat diajar guru, tetapi dia suka memegang-megang benda yang dibawa gurunya. Dan bermacam-macam kelakuan mereka di kelas yang mungkin bisa mengganggu emosi guru.

Apapun kegiatan dan perilaku mereka saat belajar, namun mereka sesungguhnya tetaplah belajar. Hanya saja paradigma kita tentang konsep belajar masih dimaknai sebagai kegiatan mendengarkan guru yang tengah mengajar. Atau mereka diminta untuk meniru, menghapalkan, atau berbagai kegiatan yang sesuai dengan kehendak guru. Itu sebetulnya  keliru. Anak-anak yang dipaksa untuk duduk tenang lalu mendengarkan penjelasan guru, bisa saja mereka malah tidak berkembang dengan baik, tidak kreatif, dan  memiliki ketergantungan kepada guru maupun orang tua. Maka sudah saatnyalah kita harus memahami mereka.

Anak-anak yang tak bisa diam, dan sering dianggap membuat gaduh, atau sering dianggap mengganggu orang dewasa, sebenarnya mereka bukanlah pengganggu. Mereka sesungguhnya tengah berproses dan belajar seperti halnya mereka yang duduk tenang seperti anak-anak pada umumnya. Guru dan orang tua harus menyadari hal itu, agar anak-anak tetap bertumbuh kreatif. *

Riyadi, pendidik di SDN 1 Kediri Kecamatan Karanglewas Kabupaten Banyumas

https://www.pandatree.com

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar