Kiat Mengasah Bakat Anak

Kecerdasan, ketrampilan, serta kreatifitas anak tidaklah datang begitu saja. Semua itu membutuhkan pendampingan, meskipun sejak lahir anak mempunyai bakat tersendiri. Tetapi apabila bakat tersebut tak diasah, tentunya bakat tersebut tidak akan muncul, apalagi berkembang. Perkembangan anak dalam mengasah kreatifitasnya membutuhkan proses yang tidak sebentar. Lingkungan penyumbang terbesar dalam perkembang anak terutama lingkungan keluarga. Karenanya pendidikan keluarga hendaknya dioptimalkan, karena menjadi awal pengantar utuk masa pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya.

Sudah banyak diketahui bahwa masa terbaik dalam pertumbuhan kecerdasan anak adalah usia dini atau usia di bawah lima tahun (balita) yang dikenal dengan sebutan masa emas (golden age). Karenanya masa-masa ini jangan sampai terlewatkan, karena perkembangan otak sedang tumbuh dengan pesat. Tentunya pertumbuhan tersebut didukung dengan stimulan, jika tidak, tentu pertumbuhan dan perkembangannya menjadi terhambat atau tidak pada semestinya. Di sinilah lingkungan keluarga yang diwakili peran orang tua sangat penting dalam merangsang pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan anak.

Berikut beberapa upaya yang bisa dilakukan orang tua dalam membangun lingkungan keluarga yang baik untuk pertumbuhan dan perkembangan anak.

Pertama, ciptakan suasana yang nyaman dalam keluarga. Bangunlah suasana yang senyaman mungkin dalam ruang keluarga Anda. Jangan perlihatkan keletihan, kekesalan, bahkan masalah yang seharusnya tidak dikonsumsi anak. Sehingga anak merasa orang tuanya sangat menyayangi mereka. Lebih penting dari itu, anak akan merasa nyaman dan tentunya betah bermain di rumah. Ciptakanlah suasana rumah seperti slogan “Rumahku Surgaku”.

Kedua, memberi teladan. Dalam bergaul dengan anak, tentunya teladan menjadi sebuah hal yang sangat penting. Semua yang dilakukan orang tua akan ditiru anak tanpa saringan baik dan buruk. Hal ini karena anak dalam masa meniru belum mampu memahami baik dan buruk. Teladan tersebut seperti sikap jujur, lemah lembut, berkata baik (maaf, terima kasih, tolong, permisi) dan berbagai tingkah laku yang membangun pribadi yang baik bagi anak.

Ketiga, bersikap bersahabat dan responsif. Kedua sikap ini sangat penting untuk menunjukkan perhatian orang tua pada anak. Di masa usia dini, anak biasanya sering bertanya ini itu, bahkan pertanyaan itu berulang. Hal ini karena rasa ingin tahunya tinggi, maka sikap orang tua harus selalu terbuka dan penuh responsif terhadap keingintahuan anak. Jangan pernah bosan untuk menjawab pertayaan mereka, meskipun pertanyan itu berulang. Selanjutnya sikap bersahabat yang lain bisa ditunjukkan dengan tidak memarahinya. Apabila anak melakukan kesalahan, jangan langsung memarahi mereka. Hal ini akan menghambat perkembangan otak anak. Jika anak melakukan kesalahan, maka ajarilah ia untuk meminta maaf atau bentuk pertanggungjawaban yang sesuai dengan usia si anak. Berilah pengertian bahwa apa yang dilakukan itu salah dan berilah arahan utuk berhati-hati serta tidak mengulangi kesalahan tersebut.

Sikap bersahabat lainnya bisa ditunjukkan melalui perhatian kita dengan menanyakan aktifitas anak. Misal, menanyakan aktifitas bermain dengan teman-teman di lingkungannya atau mungkin yang sudah bersekolah di Pendikan Anak Usia Dini (PAUD), atau Tamak Kanak-Kanak (TK). Tentunya dengan pertanyan ini, anak akan bercerita banyak hal. Manfaatnya adalah menambah kecerdasan bahasanya dan merefleksikan pemahamannnya.

Keempat, ciptakan suasana belajar. Pertama, berilah contoh pribadi belajar, seperti aktifitas membaca. Hal ini tentu akan memancing keingintahuan anak sebenarnya apa yang sedang dibaca orangtuanya. Selanjutnya manfaatkan utuk mengajari anak membaca dimulai dengan membacakan buku. Hal ini penting agar anak lebih akrab dengan buku tentunya. Selanjutnya carilah waktu santai untuk membaca atau sebelum tidur biasakan mendongeng sebagai pengantar tidur mereka.

Selanjutnya menciptakan suasana belajar bisa dengan mengajak anak ikut serta dalam kegiatan rumah. Misal, menyiram tanaman, memasak dan berbagai hal yang diminati anak. Jangan cegah mereka untuk ikut mengerjakan sesuatu, tetapi tentunya ada kontrol utuk ikut serta dalam aktifitas tertentu. Misal, memasak, maka jangan berikan ia pisau, Anda bisa menggantinya dengan sendok untuk memotong tempe misalnya. Orang tua tentunya bisa mengukur apa yang boleh disentuh anak dalam rangka belajar.

Kelima, bermain bersama. Sesekali orang tua mengajak anak bermain bersama. Misal, ikut bermain lego, puzzle, tebak-tebakan dan beragam permainan lainnya. Orang tua juga bisa membingkai belajar dengan bermain. Misal, bermain kertas lipat atau menempel, menggunting dan lain sebagainya. Aktifitas tersebut sangat bermanfaat untuk perkembangan motorik halus mereka.

Keenam, eksplorasi. Jangan cegah anak melakukan sesuatu yang mereka inginkan selama hal tersebut tidak membahayakan mereka. Berilah kesempatan pada anak untuk bereksplorasi. Misal, bermain pasir, tanah, atau membuat sesuatu di dapur. Banyak orang tua yang terlalu mengkhawatirkan kemungkinan buruk yang akan terjadi pada anak, ketika mereka dibebaskan bermain. Misal, melarang anak bermain air hujan, karena mengkhawatirkan kesehatan anak. Padahal hal itu tidak perlu dilarang. Dalam bermain air hujan, anak akan memperoleh kegembiraan. Dan bila pun toh kemudian anak masuk angin, itu dengan mudah diobati. Pada intinya berilah ruang sebebas-bebasnya pada anak untuk mencoba, selagi hal itu positif.

Ketujuh, apresiasi. Tidak kalah penting adalah memberikan apresiasi dari apa yang mereka lakukan. Tentunya hal ini akan sangat membahagiakan anak. Penghargaan tersebut bisa dalam bentuk hadiah barang, uang, rekreasi, atau didahulukan dari pada saudara yang lain (misal dalam memimpin berdoa atau hal sederhana lainnya). Sistem apresiasi bisa dilakukan dengan pengumpulan poin yang mana bila mencapai poin tertentu, anak akan mendapat hadiah. Poin tersebut diberikan bila anak melakukan salat, membaca, belajar, atau mampu menghapal doa, menyanyikan suatu lagu dan lain sebagainya.

Apresiasi yang lain bisa diberikan, bila anak membantu mengerjakan sesuatu, atau melakukan sesuatu yang bisa dinilai wah untuk anak seusianya. Sikap apresiasi ini akan mendorong anak melakukan kebaikan. Ya pada awalnya anak akan melakukan sesuatu, karena ia menginginkan sebuah apresiasi. Tetapi pada saatnya nanti ia akan memahami untuk melakukan sesuatu tanpa mengharapkan apresiasi. Tentunya dalam usia tertentu, anak akan mengukur apakah apresiasi tersebut masih bisa ia terima atas apa yang mereka lakukan. Jauh lebih penting anak akan berusaha mendapatkan sesuatu setelah ia melaksanakan sesuatu, sehingga apa yang ia peroleh sesuai dengan kerjakerasnya.*

Laelatul Istiqomah, relawan Rumah Kreatif Wadas Kelir, Purwokerto

sumber gambar : https://cafe.nowaroos.com

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar